Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 3 October 2015

Biografi Akbar Tanjung Latar Belakang dan Pendidikan Perjalanan Politik Pengalaman Internasional

Biografi Akbar Tanjung - Latar Belakang dan Pendidikan
Akbar Tandjung dilahirkan di desa Sorkam, Tapanuli Tengah, 14 Agustus 1945 silam. Desa Sorkam berada pada titik sekitar 30 km dari kota Sibolga, Tapanuli Tengah Sumatera, Utara. Desa Sorkam terletak di wilayah pesisir Tapian Nauli, yang dalam bahasa Batak berarti “tempat pemandian yang indah”". Mereka yang berasal dari wilayah ini sering menyebut dirinya sebagai orang pesisir. Umumnya,  penduduk Desa   Sorkam   memeluk   agama   Islam   dan   berasal   dari   suku Batak. M. Deden Ridwan, Membangun Konsensus: Pemikiran dan Praktek Politik Akbar Tandjung, 2003, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, Hal-51


Nama, lengkapnya ialah Djanji Akbar Zahiruddin Tandjung, namun lebih populer dipanggil Akbar Tandjung saja. Nama, itu diberikan ayahnya sebagai realisasi dari khaul, seat istrinya hamil tua. Bermula dari berita radio yang mengumumkan bahwa tentara Jepang untuk Asia Tenggara yang berpusat di Rangoon (Yangoon), Birma  (Myanmar), mengundang Soekarno-Hatta.

Tentara Jepang ber anji kepada kedua tokoh tersebut akan segera, memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Mungkin karena Jepang sudah tabu akan kalah melawan tentara sekutu, setelah Hirosima dan Nagasaki dibom Amerika. Serikat tanggal 8-9 Agustus 1945. Jepang perlu mengambil hati rakyat Indonesia. Janji tentara Jepang itu berulang kali disiarkan, sehingga. rakyat Indonesia mengetahuinya, termasuk Zahiruddin, ayah Akbar Tandjung. Karena semangat pergerakannya, Zahiruddin berkhaul, jika nanti Indonesia merdeka, dan istrinya melahirkan is akan memberikan name si anak, Djanji Akbar. Nama. itu baru diberikan ketika Indonesia diproklamirkan merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Yang mana arti nama tersebut adalah Janji Maha Besar.39

Dia lahir dari keluarga besar yang dikenal sangat religius, disiplin dan toleran. Akbar Tandjung adalah anak ke-13 dari 16 orang bersaudara (8 orang laki-laki dan 8 orang perempuan).

Ayah Akbar Tandjung bernama Zahiruddin Tanjung dan. ibunya Siti Kasmijah. Ayah Akbar Tandjung adalah seorang pedagang kain, getah dan rempah- rempah yang sukses dan sangat terkenal di Tapanuli Tengah dan bahkan kota Medan melalui perusahaan bernama Marison. Namun, Akbar tidak mewarisi jejak orang tuanya sebagai seorang pengusaha sukses. la malah menempuh pilihan hidup lain dengan ter un kedunia politik praktis.

Disamping berdagang, Zahiruddin, juga aktif menjadi sash seorang   pengurus Muhammadyah di desa Sorkam. Tentu saja, tidak aneh, dengan Tatar belakang organisasi Islam seperti itu keuarga Zahiruddin tampak sangat rasional dan peke& keras, terutama, ditunjukkan dalam spirit wirausaha. Bagi Zahiruddin, setiap profesi apapun yang telah dipiih anak-anaknya selalu ditekuni sungguhsungguh. Mereka sadar bahwa esensi kehidupan adalah memiih; mengubur kepribadian lama lalu mengusung kepribadian  baru.  Resiko   sebuah   pilihan  hidup   beserta.   implikasi-implikasi teknisnya ke depan benar-benar telah diperhitungkan secara matang. M. Deden Ridwan. Op.Cit. Hal.51-52

Masa kecil di Sorkam memberi bentuk karakter Akbar Tandjung. Sebuah keadaan yang dialaminya semasa kecil menjadi pengalaman tak terlupakan baginya. Hingga kelas tiga Sekolah Rakyat (SR), Akbar Tandjung menghabiskan usianya di Sorkam. Ia menempuh pendidikan di SR Muhammadiyah. Orangtuanya  yang menetap dan membuka usaha di Sibolga membuat Akbar hidup berpisah dengan orangtuanya. Make, saat masa kecil di Sorkam itu, is diasuh oleh tantenya dari pihak ibunya. (http://tokohblogspot.com/2005/07/akbar-tandjung-dunia-politik-sudah.html), diakses pada 19 Januari 2009

Akbar Tandjung sudah menjadi anak yatim pada usia tujuh tahun. Zahiruddin Tandjung, sang ayah, meninggal pada tahun 1952, pada saat itulah Akbar Tandjung muai memasuki masa-masa sulit. Seat itu, Akbar Tandjung baru berusia tujuh tahun. Sebuah usia yang sangat rentan untuk menerima kenyataan pahit kehilangan tulang punggung keluarga. Akbar pun harus prihatin hidup dengan prang tea tunggal. Dia dibesarkan oleh sang ibu dengan bantuan dan bimbingan kakak-kakaknya. Karen itu, Akbar harus hidup berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti kakaknya. Dia  menjadi terbiasa dengan suasana yang berubah-ubah tanpa direncanakan. Dengan sendirinya dia pernah merasakan suasana pedesaan sebelum akhirnya hidup dalam kancah kultur perkotaan. M. Deden Ridwan, Op.Cit. Hal.56

Dengan bimbingan ibunya Siti Kasmijah, Akbar Tandjung mengalami   masa- mesa kesulitan ekonomi setelah ditingga ayahnya. Namun keadaan itu tidak berlangsung lama. Seiring per alanan waktu, kakak-kakak Akbar pun mulai beranjak dewasa dan berpenghasilan. Dato Usman, kakak sulung Akbar, melanjutkan usaha ayahnya sehingga kesuitan ekonomi sedikit demi sedikit mulai pudar. Suasana kesenangan dan kesulitan ini pun tampaknya telah membentuk karakter Akbar dalam pergauan dan hubungan sosial. Sehingga, tidak mengejutkan bila, kemudian Akbar dikenal sebagai seorang humaris dan suka “berkorban”.

Pada 28 Juni 1986, Siti Kasmijah, sang ibu, meninggal. Berbeda dengan sang ayah yang dikebumikan di Desa Sorkam, Tapanuli Tengah Sumatera. Utara, almarhumah sang ibu di makamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir,Jakarta.

Ketua DPR RI periode 1999-2004 ini memulai pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) Medan. Pernah juga mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah Sorkam Tapanuli Selatan. Dari Medan Akbar hijrah  ke Jakarta, setamat SR. Di Ibu Kota ini Akbar melanjutkan pendidikannya. SMP Perguruan Cikini Jakarta dan SMA Kanisius Jakarta adalah sekolah tempat Akbar menempuh pendidikan lanjutannya.

Pendidikan dasar dan menegah akbar agaknya merupakan dimensi lain yang merupakan telah mewarnai pedalanan hidupnya. Dia pernah mengikuti sekolah dasar Nasrani di Medan dan SMA Katolik, Kanisius, di Jakarta. Dalam konteks ini, Akbar Tandjung dari kecil dan menginjak dewasa sudah bergaul dengan kelompok masyarakat yang berdimensi luas, bukan hanya dengan orang Islam saja, tetapi dengan mereka yang berkeyakinan lain. Ini berarti sikap pluralis Akbar tidak sekedar wacana teoritis, melainkan sejak anak-anak benar-benar sudah melekat dalam prakt ik praktis kehidupan sehari-hari sebagai hasil pergumulannya dengan reaistis sosial- kultural yang heterogen. Pergauan dengan non-muslim, bagi Akbar Tandjung, bukan masalah aneh. Ia telah menjadi bagian dari visi hidupnya. Baginya hal ini tentu memberikan  dimensi  tersendiri  dalam  proses  pergaulan  sosial, sikap  hidup    dan pilihan-pilihan poitik dikemudian hari.43

Dengan berbagai dimensi sosial yang melekat dalam dirinya, Akbar beranjak memasuki usia dewasa. Pada 1964, Akbar Tandjung melanjutkan studi di Fakultas Tekhnik Universitas Indonesia (UI). Dalam waktu yang sama Akbar bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam. Perihal alasannnya masuk HMI ini, Akbar menjelaskan  bahwa,  ketika  menjadi  mahasiswa  sering  ditawari   formuir-formulir seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI dan  lain-lain. Kebetulan banyak teman-teman Akbar yang masuk menjadi anggota HMI, dan akhirnya dia pun merasa cocok di HMI. Disinilah dia menemukan sekolah lain yang telah mendewasakan dan membentuk kepribadiannya. Karakter organisasi ini telah mewarnai kesadaran dan perilaku politiknya. Kepercayaan Akbar pada HMI sebagai organisasi kader hingga kini tetap tampak. Sebab di benak Akbar, HMI telah membuktikan sejak dulu kala selalu berada dibarisan depan tatkala panggilan bangsa menyerunya. Bagi  Akbar,  HMI  merupakan  salah  satu  guardian  terpenting     dari moralitas bangsa yang plural.  Ibid

Biografi Akbar Tanjung

Selain itu Akbar Tandjung juga aktif dalam gerakan mahasiswa melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI- UI) dan LASKAR AMPERA Arief Rahman Hakim. Berikutnya, tahun 1967-1968, Akbar terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Lalu pada 1968, Akbar aktif dalam Dewan Mahasiswa UI dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UI sebagai Ketua.


Perjalanan Politik Akbar Tandjung

Akbar Tandjung memiliki karir politik yang terbilang mulus sejak muds hingga saat ini. Kiprahnya terbilang komplet sebagai politisi. Sejak mahasiswa ia menjadi aktivis HMI. Tak mengherankan jika ia pernah memegang jabatan    puncak dalam organisasi mahasiswa tersebut.

Akbar Tandjung terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI periode 19711974 di Kongres Nasional X HMI yang berlangsung 3-12 Oktober 1971 di Palembang,  setelah menyisihkan saingan utamanya Ridwan Saidi. la menggantikan Nurcholis Madjid, ketua umum PB HMI periode 1969-1971. Sebelumnya Akbar Tandjung menjabat sebagai Ketua. Cabang HMI Jakarta (1969-1971), dan banyak terlibat di dalam ketata negaraan di Indonesia, antara lain di Komite Anti Korupsi (KAK), dan Mahasiswa Menggugat.

Perjalanan karir politik Akbar Tandjung sarat dengan aktivitas yang cukup menarik untuk diambil hikmahnya. Salah satu diantaranya, sikapnya yang cukup berani selaku ketua Umum PB HMI memperingatkan Presiden Soeharto yang ketika itu mempunyai kekuatan yang sangat kuat. Sebagai contoh, didalam Konferensi Persnya menjelang tutup tahun, Jumat 28 Desember 1973 di Jakarta, dimana is telah memperingatkan bahwa situasi ketika itu cukup serius, dan pemerintah perlu segera mengadakan perbaikan-perbaikan. Jika tidak, maka gerakan mahasiswa akan semakin membesar. PB HMI khawatir jika gerakan mahasiswa mengarah kepada pemberontakan pemerintah secara inkonstitusional. Walaupun PB HMI belum  melihat ada usaha-usaha untuk menjatuhkan Presiden Soeharto. Apa yang dikemukakan oleh Akbar Tandjung itu menjadi kenyataan, karma terbukti belum satu bulan sejak  konferensi persnya digelar  telah terjadi peristiwa 15  Januari 1974   atau lebih dikenal dengan sebutan peristiwa "Malari". Ketika itu mahasiswa   mengadakan beberapa tuntutan, dan melakukan long march dari kampus UI di Salemba menuju kampus Tri Sakti di Grogol, tetapi oleh oknum tertentu kesempatan itu telah dimanfaatkan sehingga terjadi pembakaran atas sejumlah pertokoan, mobil dan sebagainya. Oleh pemerintah ketika itu mahasiswa dituduh sebagai dalang kerusuhan itu. Evendhy M. Siregar, Op.Cit. Hal. 15-16

Didalam  konferensi  persnya  menurut  Akbar,  HMI  menolak    perombakan pemerintah secara inkonstitusional dan ketika itu tetap mempercayai kepemimpinan Presiden Soeharto. Selain itu, diharapkannya, agar Presiden mengadakan penyegaran terhadap pare menterinya sehingga tercipta inti kekuatan ABRI dan cendekiawan yang berakar di kalangan rakyat. lbid,

Kesibukannya sebagai Ketua Umum PB HMI tak membuatnya menutup mata untuk aktif di organisasi lainnya. Maka, pada 1972, Akbar ikut mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI,  PMKRI,  PMII, GMNI, HMI) dengan nama Kelompok Cipayung. I

Berikutnya, pada 1973, Akbar ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Bersama sejumlah tokmoh pemuda seperti David Napitupulu, Cosmas Batubara, Zamroeni, Soerjadi, dan lain-lain, Akbar Tandjung menandatangani "Deklarasi Pemuda" yaitu deklarasi berdirinya KNPI, 23 Juli 1973. Di organisasi  ini dia  menjabat  sebagai salah seorang  ketua  (1974-1978) sedangkan

Ketua Umumnya adalah David Napitupulu. Setelah itu, Akbar Tandjung terpilih sebagai Ketua Umum KNPI periode kedua (1978-1981). Tanggal 28 Juni 1978,  is ikut Serta menandatangani “Deklarasi Pandaan” yaitu deklarasi berdirinya Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), sebuah ormas basis pemuda Golkar. Dan selanjutnya, pada 1978-1980, Akbar didaulat menjadi Ketua DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI). Disamping aktif di KNPI, is juga aktif merintis penggalangan kekuatan pemuda didalam tubuh Golkar.

Sejak 1977, Akbar sudah memasuki organisasi social politik itu. Menurutnya, kenapa is masuk Golkar, karena Organisasi ini lebih siap menjalankan cita-cita Angkatan 66'. Namun keputusannya masuk Golkar banyak dipertanyakan, mengingat Akbar adalah seorang aktivis pemuda Islam tetapi tidak memilih atau masuk partai politik Islam. Namun menurutnya, is sudah berkonsultasi dengan pendiri HMI, Prof. Lafran Pane  di Yogyakarta,  dan ternyata  Prof.  Lafran Pane  mendukung    tindakan Akbar, karena menurutnya HMI memang didirikan untuk kepentingan bangsa. lbid, Ha1.132

Dan dua tahun kemudian is terpilih menjadi Wakil Sekjen DPP Golkar untuk periode tahun 1983-1988. kiprah selanjutnya, selepas kedudukan wakil sekjen is langsung menjadi Anggota Dewan Pembina Golkar pada tahun 19881993, dan memuncak pada jabatan Sekretaris Dewan Pembina Golkar pada tahun 1993-1998. seperti   diketahui,   posisi   Dewan   Pembina   yang   sangat   menentukan   arah dan perkembangan Golkar. Jadi is masuk kedalam lingkaran kekuasaan. Akbar Tandjung, (ed.Hajriyanto Y. Tohari), Moratorium Politik: Menuju Rekonsiliasi Nasiona,
2003, Jakarta: Golkar Press, Ha1.331-332

Dalam perjalanannya, nama Akbar kian menjulang ketika is duduk di kursi DPR/ MPR RI. Rentang waktu antara 1997-2004 Akbar malang melintang di kursi wakil rakyat itu. Dimulai pada 1977-1988, Akbar menjadi Anggota FKP DPR RI mewakili Propinsi Jawa Timur. Lalu pada 1982-1983, posisinya melesat naik sebagai Wakil Sekretaris FKP DPR RI. Berikutnya, pada 1987-1992, karirnya merambah ke kursi MPR RI dengan posisi sebagai Sekretaris FKP-MPR RI dan Anggota Badan Peker a MPR RI. Di posisinya ini ia bertahan hingga periode berikutnya, 1992-1997.

Karirnya di pemerintahan terns merangkak naik pada tahun-tahun berikutnya. Dari posisinya sebagai Sekretaris di FKP MPR RI, selanjutnya Akbar duduk sebagai Wakil Ketua FKP MPR RI dan Wakil Ketua PAH II, pada, 1997- 1998.

Dari kursi wakil rakyat, selanjutnya Akbar melenggang ke pusat kekuasaan. Pengalamannya di lembaga pemerintahan dimulai pada 1988-1993. Pada rentang waktu ini Akbar duduk sebagai Menteri Negara Pemuda, dan Olah Raga di Kabinet Pembangunan V.

Berikutnya, pada, 1993-1998, Akbar duduk sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat, yaitu pada, Kabinet Pembangunan VI. Pada 1998, meskipun hanya beberapa bulan, Akbar Tandjung terpilih kembali menjabat sebagai Menteri Negara  Perumahan  Rakyat   dan  Pemukiman  dalam   Kabinet   Pembangunan  VII.

Kejatuhan Presiden Soeharto tidak berarti menamatkan karir Akbar Tandjung, malahan dia semakin menempati posisi strategic, oleh Presiden Habibie ia dipilih menjadi Menteri Negara Sekretaris Negara 23 Mei 1998 hingga 10 Mei 1999.

Di masa, reformasi, saat Golkar dijadikan salah satu sasaran caci dan hujatan masyarakat, Akbar Tandjung turut dalam bursa pencalonan Ketua  Umum Golkar yang telah menjadi partai politik. Tanggal 11 juli 1998 ia terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar dengan Paradigma Baru.

Segenap karir dan pengalaman panjang organisasi Akbar, barangkali tak terlalu berlebihan jika, seperti dilansir Denny JA dalam situs www.lsi.co.id, saat ini'tak ada figur politik yang sehebat Akbar Tandjung. Terlebih jika itu semata dilihat dari leadership dan kapabilitas memimpin partai. Akbar, tulis situs itu lebih lanjut, memimpin Golkar di saat yang sulit. Bahkan dirinya sendiri terkena kasus hokum. Kesediannya berkorban untuk kasus Bulog jilid 2, serta kerajinannya turn ke daerah, membuat Golkar dapat bertahan. (httP:// www.isi. co. id html), diakses pada 19 Januari 2009.

Pada Pemilu 1999, melalui daerah pemilihan DKI Jakarta, Akbar Tandjung terpilih sebagai anggota Legislatif di DPR RI peiode 1999-2004. Karier politiknya nyaris sempurna ketika Partai Golkar, sebagai partai terbesar kedua di DPR , mencalonkan dirinya menjadi presiders RI. la mengundurkan diri dari pencalonan tersebut. Sebagai gantinya, Akbar terpilih menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Pengalaman Internasional Akbar Tandjung

Kiprah Akbar di berbagai organisasi meluas hingga ke jalur internasional. Pengalaman internasionalnya dimulai pada tahun 1972. Pada tahun ini Akbar mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement of State USA yang berlangsung selama tiga bulan.

Lalu pada 1974, Akbar kembali dengan pengalaman internasional lainnya. Pada tahun ini Akbar mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia (World Assembly of Youth) di Nakhadka, Rusia. Pada 1988, Akbar memimpin Delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga se-Dunia di Moskow. Dua tahun berikutnya, tahun 1990, Akbar memimpin Delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malindo), di Kuala Lumpur.

Tahun 1995, Akbar mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FL4,BCI), di Paris, Perancis. Setelah satu tahun dari Paris, pada 1996, Afrika menjadi tempat pengalaman internasional Akbar berikutnya. Di negara ini Akbar mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika.

Pengalaman internasionalnya berlanjut di Hanoi saat mengikuti KTT ASEAN pada 1998. Satu tahun berikutnya, Yordania menjadi tempat pengalamannya berikutnya. Pada 1999, Akbar memimpin Delegasi untuk Mengikuti Sidang International Parliament Union (IPU) di Yordania, Oktober.

Pada 2000, Akbar memimpin Delegasi pada Sidang  Inter-parliamentary Union (IPU) di Jakarta. Pada tahun yang sama Akbar memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Singapura. Tahun 2001, Akbar memimpin Delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di NewYork. Juga memimpin Delegasi pada  Sidang AIPO di Thailand pada tahun yang sama. Dan, pada 2002, Akbar memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.

Daftar Pustaka Makalah Biografi Akbar Tanjung

Biografi Akbar Tanjung Latar Belakang dan Pendidikan Perjalanan Politik Pengalaman Internasional Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment