Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 5 October 2015

Biografi Amien Rais Riwayat Hidup dan Visi Pendidikan, Biodata Latar Belakang Pemikiran Politik

Biografi Amien Rais “Saya seorang demokrat. Saya tidak akan melakukan revolusi. Saya kira, demokrasi tidak bisa ditegakkan dengan tetesan darah ataupun sodok-menyodok di antara bangsa sendiri. Saya adalah seorang yang antikekerasan, antibrutalisme, dan antiaksi-aksi yang destruktif dan tidak bertanggung jawab.” (M. Amien Rais) M.Najib & Kuat S, Amien Rais sang Demokrat, Cet.1. Jakarta: Gema Insani Press, 1998. hal.17.

Sifat-sifat  jujur,  istiqamah,  dan  berani  melakukan amar  ma’ruf nahi munkar yang dimilikinya ini, tidak lepas dari hasil bimbingan ibundanya: Ny.Hj. Sudalmiyah, seorang aktivis Aisyiyah Surakarta serta guru agama di SGKP (Sekolah Guru Kepandaian Putri) Negeri dan SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) Aisyiyah Surakarta. Ibunya sangat menekankan disiplin dan rasional, baik dalam hal adapt maupun  agama, dan terkadang terkesan “galak” di mata anak-anaknya.

Lewat ibunya itulah Amien mulai menyadari konsekuensi dan resiko melakukan amar ma’ruf nahi munkar sejak kecil. “Saya dulu dididik oleh ibu untuk beramar ma’ruf. Menurut beliau, untuk melakukan amar ma’ruf itu tidak ada resikonya. Orang yang tidak setuju pun tidak marah. Akan tetapi, kalau nahi munkar, banyak resikonya,”  kata  Amien.  Laki-laki kelahiran  Solo,  26  April 1944  ini,  adalah anak kedua dari enam bersaudara. Kakak sulungnya, Fatimah Rais, Adiknya, masing- masing, Abdul Rozaq Rais (kini Kepala Sekolah MAM Mualimin Solo), Siti Aisah Rais, Achmad Dahlan Rais, dan Siti Asiah Rais. Umumnya mereka taat beragama. Ibid., hal.18.

Intelektual dan kritis wacana politik di Indonesia. Banyak orang yang berkata dan berpendapat bahwa Amien “pakar suksesi’ dan “penyuara keadilan sosial” yang berani mengkritik berbagai wajah kesenjangan dan ketidakadilan sosial yang dinilai merupakan bagian dari “ bencana nasional” yang kronis. Karena itu, dihadapan berbagai bentuk syirik politik ia anjurkan untuk bangsa Indonesia untuk melakukan tobat nasional. Baginya, sikap kritis itu bukan sesuatu yang luar biasa karena aturan Islam menyuruhnya kritis. “Qulil-haqqa walau kaana murra ‘nyatakanlah kebenaran meski terasa getir’,” begitulah hadits yang sering dikutipnya.

Atas semua itu Amien dinobatkan majalah Ummat sebagai “tokoh 1997” dan kemudian ia juga mendapat penghargaan berupa UII Awards dari Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta atas komitmennya menempuh perjuangan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.70 Sebagai intelektual Islam dan sekaligus ilmuwan politik, ia merupakan kolumnis yang tergolong produktif dalam menuangkan gagasan- gagasannya.

Amien antara lain telah menelurkan sejumlah karya seperti Cakrawala Islam, Keajaiban Kekuasaan, Moralitas Muhammadiyah, Visi dan  Misi  Muhammadiyah, dan lain-lain. Hingga kini Amien merupakan satu diantara segelintir pakar di Indonesia  yang  mendalami  masalah  Timur  Tengah.  Pakar  dari  Universitas Gajah

Mada tersebut, kini juga menjadi intelektual pertama yang duduk di pucuk pimpinan Muhammadiyah, Organisasi keagamaan “modernis” terbesar di Indonesia.

Udara Muhammadiyah sudah dihirup Amien sejak kecil. Amien mengenyam pendidikannya di sekolah-sekolah Muhammadiyah, dari TK hingga SMA. Karena bersekolah di sekolah Muhammadiyah, maka secara otomatis ia pun aktif di organisasi-organisasi kepemudaan Muhammadiyah, termasuk organisasi kepanduan Hizbul Wathon (pandu/ pramuka muhammadiyah). Semasa mahasiswa, Amien aktif di Himpunan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dia terpilih sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta, ayah dari lima anak ini diangkat menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah di Jakarta dalam Sidang Pleno PP Muhammadiyah.  Ibid., hal.19.

Lewat sidang Tanwir Muhammadiyah di Solo 29-31 Desember 1994, laki-laki kelahiran Solo 26 april 1944 ini secara aklamasi dikukuhkan menjadi ketua pimpinan pusat (PP) Muhammadiyah, sampai digelarnya Muktamar ke 43 di Banda Aceh 1-5 Juli 1995. Sebelumnya sejak 8 juli 1994 Amein menjadi pejabat ketua PP sehubungan dengan meningggalnya Prof. K.H Ahmad Azhar Basyir M.A pada tanggal 28 juni 1994. kemudian pada Muktamar Muhammadiyah di Aceh tahun 1995 Amien terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah.M.Amien Rais, Membangun Politik Adiluhung. Op Cit., hal. 16. Alumnus Fisipol UGM yang menjadi ketua jurusan Hubungan Internasional dan Pengajar di program Pasca Sarjana (S-2) UGM ini memang punya nama dikalangan ilmuwan. Amien lulus dari Universitas Perjuangan,UGM pada tahun 1968. kemudian gelar Masternya diperolehnya dari Universitas Norte Dame Indiana di AS tahun 1973, dengan tesis tentang politik luar negeri Mesir dibawah Anwar Sadat yang dekat dengan Moskow. Dari Universitas ini juga ia menggondol sertifikat studi tentang Soviet dan Eropa Timur. Sebelum meraih gelar doctor ilmu politik di Universitas Chicago AS, dengan disertasi The Moslem Brother  hood  in  Egypt,  its  Rise,  Demise  and Resurgence  (1981),  Ia  melakukan penelitian selama setahun di Mesir. Selama menyelesaikan doktor itulah Ia sempat menjadi mahasiswa luar biasa di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Ibid, hal 16.

Dari kampus UGM, memang cukup banyak suara vokal dan kritis yang kedengaaran sampai jauh. Tapi sosok Amien rais, menyeruak secara khas di antara irama keras ‘langgam’Yogyakarta. Amien bukan saja intelektual yang punya predikat pengamat masalah timur tengah; tetapi sebagai aktivis gerakan masyarakat  yang aspek terjangnya kadang menimbulkan pasaraan was-was, misalnya oleh sebagian mahasiswa ataupun koleganya di kampus ia pernah dicap sebagai ‘ekstremis’ karena keIslamannya yang kental. Bahkan ia juga pernah sempat dikaitkan dengan sebuah gerakan subversif, sehingga ketua jurusan Hubungan Internasional, Fisipol UGM ini pada waktu itu sampai merasa perlu mengeluarkan ‘senjata’ untuk memperjelas posisinya di mata pemerintah bahwa ia alumnus Lemhanas.

Kehidupan bermasyarakat anak kedua dari enam bersaudara dari orangtua aktivis Muhammadiyah ini memang penuh warna. Doctor ilmu  politik  dari universitas Chicago, AS ini bukan saja Ketua pimpinan pusat Muhammadiyah,  sebuah organisasi masyarakat yang berbasis umat sangat besar, tetapi juga menjadi salah seorang yang ikut membidani kelahiran ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) yang dinilai sangat dekat dengan kepentingan pemerintah. Seperti  kita tahu Amien merupakan salah seorang dari 49 orang penandatanganan pendirian ICMI di Malang, Desember 1990. dalam kepengurusan ICMI Amien antara lain telah duduk sebagai Ketua Dewan Pakar dan Asisten I Ketua Umum. Itu masih ditambah   dengan jabatan sebagai Direktur Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK).Ibid,.

Siapapun tahu, kekentalan Amien Rais sebagai warga Muhammadiyah tak perlu diragukan. Walaupun tinggal di lingkungan kepatihan Solo yang dominan islam “abangan”, Amien dibesarkan dikeluarga Muhammadiyah yang taat memegang  ajaran Islam. Ayahnya Suhud Rais (alm). Lulusan Muallimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya adalah Pegawai Departemen Agama di Solo dan pengurus Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah Cabang Surakarta. Ibunya Ny.Sudalmiyah, sekitar 20 tahun menjadi ketua Aisyiyah Surakarta, Organisasi wanita Muhammadiyah. Kakeknya Wirya Soedarmono adalah pendiri Muhammadiyah di Gombong jawa tengah.

Anak kedua dari enam bersaudara ini mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah Solo mulai dari pendidikan TK sampai SMU. Amien sendiri  pernah mengenang bahwa seandainya pada tahun 1962 dulu sudah ada Universitas Muhammadiyah, ia pasti tidak jadi masuk UGM. Di antara berbagai jabatan dengan menjadi pengajar Fisipol UGM, pernah sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah, pemberi ceramah dan orasi ilmiah di berbagai forum diskusi, toh Amien bukanlah jenis orang yang sibuk diburu waktu dan sulit ditemui  seperti  “birokrat-birokrat kecil” yang kini banyak bermunculan di kampus-kampus. Diantara berbagai kesibukannya ia membuka “Warung Solo Muslim Chinese Food’ dekat rumahnya di gandok (Condongcatur, Depok, Yogyakarta).Warung tersebut dikelola istrinya Kusnariyati Sri Rahayu yang dinikahinya 9 Februari 1969. Lima anak mereka 3 laki- laki, dan 2 perempuan, semuanya diberi nama yang ada kenangan mendalam baginya atau kandungan istilah islam dalam kitab Al-Quran, yaitu Ahmad Hanafi, Hanum Salsabillah, Ahmad Mumtaz, Tasmin Fauzia, dan Ahmad Baihaqi.


Latar Belakang Pemikiran Politik Amien Rais

Karakteristik pemikiran politik Amien Rais lebih banyak dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap tauhid, mengingat beliau juga sebagai cendekiawan Muslim modernis. Pemikiran Amien Rais yang berbasis pada konsep tauhid ini mempunyai kemiripan dengan pemikiran politik Abul A’la al-Maududi, yang menyatakan bahwa asas terpenting dalam Islam, termasuk dalam hal politik, adalah tauhid. Korelasi konsep antara keduanya jelas terkonstruksi dalam perspektifnya bahwa kekuasaan atau kedaulatan tertinggi hanya milik Allah.

Pengaruh  pemikiran  al-Maududi  dan  beberapa  pemikir  Islam  Timur Tengah yang lain seperti Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Sayyid Quthb, Ali Syari’ati dan Hassan al-Banna terhadap pemikiran politik Amien Rais sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar.Umaruddin Masdar, Op Cit., hal 98. Hal ini bukan saja karena  pemikiran-pemikiran  politik modernis Islam itu telah banyak diadopsi oleh Muhammadiyah, komunitas dimana Amien dibesarkan dan mengabdi di dalamnya, tetapi juga karena pengamatannya ketika ia menjadi mahasiswa luar biasa di Universitas al-Azhar terhadap gerakan dan pemikiran kaum modernis Islam di Timur Tengah itu kemudian melahirkan ikatan batin yang cukup dalam dan apresiasi tersendiri dalam pemikiran dan pribadi Amien Rais.  Adalah  wajar jika  pengamatan  dan  apresiasinya  itu  kemudian  mempunyai pengaruh yang tidak bisa dikatakan kecil terhadap bangunan pemikirannya secara umum Ibid., sehingga Amien tampak begitu apresiatif terhadap pemikiran-pemikiran politik, terutama tentang teori politik Islam.

Bahkan dibanding dengan al-Maududi, “kedekatan batin” Amien Rais tampak lebih condong kepada Ali Syari’ati, seorang aktifis di Gerakan Sosial Penyembah Tuhan yang berpandangan bahwa sistem sosio-ekonomi Islam adalah sistem sosialisme ilmiah yang didasarkan pada monoteisme (tauhid). Ini setidaknya tampak dari semangat Amien Rais dalam menerjemahkan buku-buku karya Ali Syari’ati yang beredar di Indonesia, yang sebagian besar merupakan hasil terjemahan Amien Rais. Mereka juga mempunyai latar belakang yang hampir sama, yaitu sama-sama “orang kampus”, yang dikenal produktif dalam tulis menulis dan sebagai petualang politik yang  radikal.   Hanya   saja,   Amien berangkat   dari  basic  politik,   sedangkan  Ali berangkat dari sastra.Ma’mun Murod Al-Brebesy, Op Cit., hal 207.

Berbagai gagasan pemikiran Amien yang serba Islam atau berdasarkan paradigma IslamDeddy Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim, Op Cit., hal 219. terkait dengan lantangnya ia menolak ide sekulerisasi Caknur. Sebab, menurut Amien, Islam dan sekularisasi adalah dua hal yang tidak bisa dipersatukan. Tesis sekularisasi manganjurkan agar agama menjauhkan diri dari politik, dan begitu pula sebaliknya. Padahal dalam pandangan Amien antara agama dan politik justru saling bersatu, dan satu sama lain tak bisa dipisahkan. Karenanya, Amien berpendapat bahwa “Sekularisme-moderat maupun sekularisme radikal tidak memiliki tempat dalam agama Islam”.Ibid., hal 113.

Oleh karena itu, pemikiran politik Amien juga dekat dengan figur umat Islam Indonesia yang amat dikaguminya adalah sosok M. Natsir, disamping Amien memang Natsirin dan keturunan Masyumi asli, seperti yang dikutip Ma’mun Murod al-Brebesy. Sebagaimana halnya bahwa Natsir sendiri juga menolak tajam sekularisme dan pemikiran Barat (kapitalisme, liberalisme) lainnya. Lewat pandangan tauhid, maka manusia dibebaskan dari mitologi-mitologi, sehingga segala sesuatu selain Allah, termasuk juga kepemimpinan dalam masyarakat, menjadi sasaran sikap, telaah dan kajian terbuka.

Pemahaman tauhid seperti ini oleh Amien Rais dipopulerkan dengan istilah tauhid sosial. Munculnya konsep tauhid sosial ini tampaknya lebih dimaksudkan untuk menjelaskan berbagai problematika sosial umat yang menurut pandangan Amien Rais telah mulai meninggalkan ajaran tauhid, khususnya tauhid sosial. Makna tauhid adalah pengesaan akan keberadaan Allah, maka makna tauhid sosial adalah dimensi sosial dari tauhid itu sendiri, yang tidak lagi mengenal diskriminasi manusia atas dasar pertimbangan etnis, suku, agama, adat istiadat, bahasa dan termasuk  agama. Sebagai masyarakat muslim yang mempercayai Islam sebagai agama pembebasan (religious of liberation), yaitu membebaskan masyarakat manusia dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan, maka menurut Amien Rais kita harus  tetap mengupayakan terealisasinya tauhid sosial. Ibid., 203-205.

Berangkat dari gagasan tauhid sosial ini, berbagai kritik dan pemikiran politik Amien Rais tampaknya banyak dibangun. Kritiknya yang pedas dan lugas yang selama ini banyak dilontarkannya, apakah itu menyangkut persoalan hukum, politik, dan ekonomi, tampaknya banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan tauhid sosial-nya. Begitu juga karakteristik pemikiran politiknya, baik tentang ideologi, negara ataupun demokrasi, tampaknya juga banyak dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap tauhid sosial.


Sebenarnya, jauh sebelum tuntutan reformasi menggelinding sosok Amien rais sudah mulai dikenal lewat tulisan dan ulasannya yang kritis di media massa. Diwaktu kuliah sikap kritisnya itu telah menghantarkannya memperoleh “Zainal Zakes Award 1967”, yakni sebuah hadiah jurnalistik bagi mahasiswa yang kritis. Namun kiprahnya yang lebih nyata di belantara politik Indonesia, bermula ketika ia   “melempar    bola” suksesi, sesuatu yang kala itu merupakan kata keramat, masalah politik yang sangat sensitif, bahkan cenderung dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.

Keberaniannya membuka “istilah asing bagi telinga rakyat” dari kamus politik Indonesia itu, menurut pengakuannya, tak lebih karena tanggung jawab intelektualnya, keprihatinannya dan komitmennya sebagai warga Negara. Ia berharap agar masalah suksesi yang tadinya tabu dibicarakan, dapat berkembang menjadi wacana politik, sekaligus sebagai saluran bagi pendidikan politik rakyat. Sejak itu, disaat tuntutan reformasi yang dipelopori mahasiswa kian kuat, lembaran-lembaran media massa hampir selalu diramaikan dengan sosok dan ungkapan-ungkapannya yang lugas. Memang, mendengarkan ungkapan Amien Rais sama dengan membaca pikiran dan pesan-pesan yang kritis, jujur dan terus terang. Bahkan, beberapa orang menilainya sebagai tidak njawani (seperti lazimnya orang jawa). Ketika memimpin Muhammadiyah, organisasi sosial keagamaan yang bercorak modernis itu, ia sudah sering mengkritik berbagai bentuk kesenjangan dan ketidakadilan sosial dengan lantang. Menurutnya, hal itu merupakan akibat dari “syirik politik” yang dilakukan rezim Soeharto. Dan ketimpangan serta ketidakadilan itu, telah menjadi “bencana nasional” yang kronis. Karenanya Amien menyerukan bangsa Indonesia untuk melakukan tobat nasional.

Nasionalisme Amien dan sikap demokratisnya ia tunjukkan ketika bersama pendeta DR. S.A.E. Nababan dan DR J.M Pattisna, datang memenuhi undangan Dewan Nasional Gereja AS. Kedatangannya itu dalam rangka memberikan kesaksian di  depan  kongres  AS  tentang  isu pelanggaran  HAM  yang  terjadi  di    Indonesia.

Indonesia disorot kongres AS karena serangkaian peristiwa kerusuhan dan pembakaran rumah-rumah ibadah. Peristiwa tersebut membuat kongres AS berencana melakukan pemungutan suara atas RUU yang diajukan anggota kongres Frank Wolf dan senator Arlen Specter, yang dimaksudkan mengembargo Indonesia.

Atas kenyataan ini Amien harus memberikan kesaksian yang jujur dan terbuka. Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa peristiwa tersebut merupakan akumulasi penderitaan dan kekecewaan masyarakat atas “penindasan politik” pemerintah selama ini. Jadi itu bukanlah watak dasar rakyat Indonesia. Kiprah politiknya dipertegas lagi , saat bersama kawan-kawannya dari MARA (Majelis Amanat Rakyat) ia mendeklarasikan partai Amanat Nasional (PAN). Pendeklarasian PAN sendiri menimbulkan sedikit surprised, sebab sebelumnya Amien pernah menyatakan bahwa ia  tidak  akan mendirikan  dan  memimpin  partai  politik.  Ia  akan  tetap memimpin muhammadiyah sampai tahun 2000, seperti amanat Muktamar Aceh tahun 1995.(Kompas 8 Juli 1998). Sidarta Gautama & Aris Boediono, Moralitas Politik dan Pemerintah Yang Bersih. Jakarta PT.RajaGrafindo Persada,1999. hal.8-13.

Dalam perkembangan berikutnya, ada arus kuat yang didesaknya untuk mempertegas kiprah politiknya lewat sebuah institusi partai. Saat itu tersiar kabar bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan partai persatuan pembangunan. Akan tetapi, karena ada perselisihan pendapat yang tak bisa dipertemukan diantara elit PPP dalam merespon maksud Amien rais tersebut, ia memutuskan untuk mencabut niatnya dan mendirikan partai baru. Pendirian partai baru PAN ini mungkin dapat dibaca memuluskan langkahnya menjadi calon presiden.

Kesediaannya menjadi calon presiden ini, bahkan sudah diutarakannya sejak Soeharto masih berkuasa. Banyaknya kebijakan politiknya kian menunjukkan sosok pribadinya sebagai seorang demokrat. Artinya ia tidak bersikeras untuk memaksakan kehendak.

Ketika hajatan nasional sidang istimewa digelar 10-13 november 1998, dan beberapa pihak berupaya menggagalkannya, Amien bersikap untuk mempersilahkan sidang istimewa meski dengan beberapa catatan. Juga komprominya soal kedudukan ABRI di DPR. Menurutnya jatah kursi ABRI di DPR dapat dikurangi secara  bertahap, hingga akhirnya dihapuskan sama sekali. Demikian pula usulan partainya untuk membuka wacana Negara federasi, sebagai salah satu alternative bentuk  Negara Indonesia. Meski hal itu hanya dimaksudkan sebagai wacana diskusi bersama tak urung banyak pihak yang mengkritik gagasan tersebut. Untuk menghindari perselisihan yang kian tajam, akhirnya Amien bersikap untuk tidak meneruskan wacana Negara federasi sebagai diskusi terbuka.

Biografi Amien Rais

Ditengah berlangsungnya sidang istimewa pada bulan November 1998, Amien menyambut baik gagasan mahasiswa, yang berupaya mempertemukan dirinya dengan tiga tokoh lainnya, yaitu KH Abdurrahman Wahid (gusdur), Megawati Soekarno putri dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Pertemuan keempat tokoh tersebut akhirnya menghasilkan sikap politik yang terangkum dalam “Deklarasi Ciganjur”. Pada saat debat politik capres yang digagas oleh BEM UI, Rabu (8/6), hanya Amien Rais yang hadir. Dalam kesempatan tersebut, Amien didaulat menandatangani kontrak politik yang berisi "tujuh tuntutan rakyat". Isi dari kontrak politik itu adalah (1) Adili Soeharto sesuai hukum tanpa rasa  benci,  (2) Tegakkan supremasi hukum dan   tolak militerisme, (3) Hapuskan budaya KKN, (4) Pendidikan murah dan berkualitas, (5) Kendalikan harga sembako, BBM, dan listrik, (6) Tingkatkan kesejahteraan buruh, tani, nelayan, dan guru, dan (7) Kemandirian bangsa dan tegakkan budaya demokrasi. Oleh karena merasa kontes politik tahun 1999 yang berbeda dengan 2004, maka Amien membentuk tim sukses dalam sebuah lembaga bernama The Amien Rais Center. Dana yang diperlukan untuk kampanye Amien Rais - Siswono ini diperkirakan mencapai Rp 140 milyar hingga Rp 160 milyar. Sebagian besar dana kampanye berasal dari sumbangan simpatisan. Saat menghadiri silaturahmi nasional kader Muhammadiyah dan Aisyiah di Kampus UMY, Yogyakarta, Amien meminta warga Muhammadiyah untuk berjuang secara sungguh-sungguh dalam pemilihan presiden nanti. Ia meminta penduduk dari pintu ke pintu untuk melakukan kampanyenya. Amien yakin penduduk tidak bakalan marah jika didatangi dan diberi brosur,   kalender,   pin   atau   stiker   dalam   rangka   kampanye   "Amien   Rais  for President". Ibid.

Dari Seorang Pengagum, Hingga Dijuluki “Natsir Muda”

Semasa masih sekolah tepatnya pada saat SMP, Amien mempunyai kegiatan penting di Hisbul Wathon (HW). Yaitu sebuah lembaga kepanduan di lingkungan Muhammadiyah. Amien sudah mengikuti HW sejak SD. Tempat berlatih kegiatan tersebut di halaman Masjid Kepatihan Wetan. Di SMP, keterlibatannya dengan HW semakin dalam. Di antara teman-temannya,  Amien tampak menonjol. Tahun    1959, tokoh organisasi Masyumi yang juga mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir berkunjung ke Solo. Amien saat itu kelas tiga SMP, ia dipilih untuk membaca Al- Quran dalam upacara menyambut Natsir. Waktu itu Amien memakai seragam HW.

Ibu Amien sangat bangga karena beliau memang pengagum Pak Natsir. “Ibu ingin saya seperti Pak Natsir,” tutur Amien. Apalagi sampai akhirnya Amien dipilih menjadi pandu menyambut Pak Natsir. Amien mengaku dapat menunaikan tugas menyambut Natsir dengan baik. HW telah melatihnya untuk punya rasa percaya diri, keberanian dan kekesatriaan dalam menghadapi berbagai keadaan.  Kepanduan HW itu  merupakan  faktor  penting  dalam  membangun  hidupnya.Zaim Uchrowi, Mohammad Amien Rais Memimpin dengan Nurani. Jakarta: TERAJU, 2004. hal 31- 32.    Sosok  M.    Natsir merupakan  salah  satu figur  rujukannya  disamping  Amien  juga  sangat   apresiatif kepada Sayyid Qutb, Maududi, Ali Shari’ati Deddy Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim. Op. Cit., hal 211. yang kurang lebih banyak mempengaruhi pemikirannya. Komitmen Amien terhadap keadilan sosial memang dipengaruhi beberapa hal, termasuk kenyataan sosial politik bangsa yang diselaminya dari kacamata seorang pakar politik dan juga dari suara hati seorang intelektual Islam yang selalu berobsesi pada upaya terciptanya keadilan yang semata-mata dilihat dari ajaran agama. Tak heran kalau visi keislaman Amien yang tumbuh dalam didikan keluarga Muhammadiyah itu, sedikit banyak juga mempengaruhi sikap Amien yang dalam pemikirannya tampak sangat kritis bahkan cenderung anti terhadap Barat lebih khusus terhadap Orientalis.

Sikap kritis Amien terhadap Barat, agaknya dapat dipahami mengingat rembesan-rembesan ideologis Barat  yang sangat penetratif terhadap kaum   muslimin selama ini. Rembesan visioner Barat yang sangat berpengaruh terhadap umat Islam dimulai ketika terjadi proses kolonialisme dan imperialisme Barat terhadap berbagai kawasan dunia Islam. Akibat yang menimpa umat Islam benar-benar menusuk perasaan Amien. Ibid., hal 111.

Sikap kritis Amien terhadap segala sesuatu yang “berbau” Barat itu  sebenarnya tak begitu mengherankan. Apalagi mengingat figur umat Islam Indonesia yang amat dikagumi Amien itu adalah Natsir. Tentang hal ini, Cak Nur pun bahkan sempat berkomentar: “Dia itu sangat Natsiris.”Ibid., hal 112. M. Natsir, tokoh Masyumi yang terkemuka itu, seperti kita tahu, selain sebagai seorang figur yang kritis terhadap penyimpangan demokrasi pada rezim Soekarno, menurut Yusril Ihza Mahendra,Yusril Ihza Mahendra, Combining Activism and Intellectualism dalam Studia Islamika, 1995, dalam Deddy Djamaluddin Malik. Ibid.,juga merupakan sosok ulama yang sanggup mengkombinasikan dua hal: Aktivisme dengan Intelektualisme. Pada diri Natsir tampak sosok seorang aktivis islam yang amat tajam kritik-kritiknya terhadap pemikiran Barat alias para orientalis atau pun yang kini dikenal sebagai “Islamisis” itu. Dan, Amien muda begitu mengagumi sosok Natsir yang kritis terhadap Barat ini.

Tampaknya M. Amien Rais sangat banyak mewarisi ilmu, semangat dan nafas perjuangan M. Natsir. Semula Nurcholis Madjid alias Cak Nur sempat disebut sebagai “Natsir Muda”. Namun, ketika ia mulai melancarkan ide “sekularisasi”nya yang menghebohkan itu, cap “Natsir muda” untuk Cak Nur mulai tanggal. Sebab gagasan sekularisasi  itu  sendiri dianggap  bertentangan dengan nafas  dan semangat perjuangan M.Natsir yang sangat intens sekali memperhatikan Islam. Hubungan yang akrab antara Amien dan Natsir itu sudah diketahui umum. Kalangan keluarga Bulan Bintang pun tidak ada yang menyanggah bahwa Amien Rais adalah tokoh yang seolah-olah sudah menjadi “anak” dari M. Natsir.

Secara intelektual maupun dari nafas perjuangan, gerak langkah Amien adalah sangat dekat dengan Natsir. Amien Rais pun tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa dia berdarah Masyumi, “saya memang Natsirin dan keturunan Masyumi asli”. Dia mengakui, M. Natsir adalah guru, ayah dan juga seorang panutan yang sangat dihormatinya. M. Amien Rais, Sikap Kami. Surabaya: Pustaka Anda, 1999. hal 180-182.


BIODATA

Nama : Prof. Dr. H.M. Amien Rais Tempat/tgl.lahir : Solo, 26 April 1944
Istri : Kusnariyati Sri Rahayu Anak :
1. Ahmad Hanafi
2. Hanum Salsabiela
3. Ahmad Mumtaz
4. Tasnim Fauzia
5. Ahmad Baihaqy

Pendidikan:
- SD Muhammadiyah, Solo, 1956
- SMP Muhammadiyah, Solo, 1959
- SMA Muhammadiyah, Solo, 1962
- Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1968
- Sarjana Jurusan Hubungan Internasional, Fisipol UGM, Yogyakarta, 1969
- M.A. dari University of Notre Dame, USA, 1974
- Mahasiswa luar biasa, Departemen Bahasa, Universitas Al-Azhar, Mesir 1979
- Ph.D. dari University of Chicago, USA, 1981
- Post Doctoral, George Washington University dan UCLA, USA, 1988 - 1989

Pengalaman Kerja:
- Dosen Fisipol UGM, Yogyakarta, 1969-1999
- Direktur Pusat Pengkajian dan Studi Kebijakan Politik, 1988
- Ketua Dewan Direktur PPSK Yogyakarta, sejak 1989
- Ilmuwan Senior BPPT, 1991
- Senior Scientist Menristek/BPPT, 1991 - 1995
- Dewan Redaksi Harian Umum Republika, 1992
- Guru Besar Fisipol UGM Yogyakarta, sejak 1998
- Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, 1999 - 2004

Pengalaman Organisasi :
- Ketua Penelitian dan Pengembangan AIPI, 1985
- Staf Ahli Majalah Luar Negeri Deparlu, 1985
- Pengurus Muhammadiyah Yogyakarta, 1985
- Wakil Ketua Muhammadiyah, 1991
- Asisten I Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, 1991 - 1995
- Pejabat Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 8 Juli 1994
- Anggota Dewan Riset Nasional Kelompok V, 1994-1999
- Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (HMI), 1995-1997
- Ketua Dewan Pakar ICMI, 1995-1997
- Ketua Umum PP Muhammadiyah, 1995-1998
- Pendiri Majelis Amanat Rakyat, 14 Mei 1998
- Pendiri/Ketua Umum PAN, 23 Agustus 1998 - sekarang

Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Utama dari Presiden BJ Habibie, 14 Agustus 1998
- Gelar Kanjeng Pangeran dari Keraton Kesultanan Surakarta, 28 September 2003

Karya Hasil Penelitian:
- Prospek Perdamaian Timur Tengah 1980-an (Litbang Deplu RI)
- Perubahan Politik Eropa Timur (Litbang Deplu)
- Kepentingan Nasional Indonesia dan Perkembangan Timur Tengah 1990-an (Litbang Deplu)
- Zionisme: Arti dan Fungsi (Fisipol, UGM)

Karya Buku-buku, diantaranya:
- Orientalisme dan Humanisme Sekuler, Salahuddin Press, Yogyakarta, 1983.
- Politik dan Pemerintahan di Timur Tengah, PAU-UGM
- Tugas Cendekiawan Muslim (terjemahan Ali Syariati), Salahuddin Press, Yogyakarta, 1985.
- Cakrawala Islam, Antara Cita dan Fakta, Mizan, Bandung, 1987.
- Timur Tengah dan Krisis Teluk, Amarpress, Surabaya, 1990
- Keajaiban Kekuasaan: Bentang Budaya, PPSK,Yogyakarta, 1994.
- Moralitas Politik Muhammadiyah, Pena, Yogyakarta, 1995.
- Tangan Kecil, UM Jakarta Press, Jakarta, 1995.
- Demi Kepentingan Bangsa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996.
- Refleksi Amien Rais, dari Persoalan Semut Sampai Gajah, Gema Insani Press Jakarta, 1997
- Suksesi dan Keajaiban Kekuasaan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.
- Melangkah Karena Dipaksa Sejarah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.
- Membangun Kekuatan di Atas Keberagaman, Pustaka SM,Yogyakarta, 1998.
- Tauhid Sosial, Formula Menggempur Kesenjangan, Mizan, Bandung, 1998.
- Membangun Politik Adiluhung: Membumikan Tauhid Sosial, Menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, Zaman Wacana Mulia, Bandung, 1998.
- Suara Amien Rais, Suara Rakyat: Gema Insani Press, Jakarta, 1998.
- Amien Rais Sang Demokrat, Gema Insani Press, Jakarta, 1998.

Biografi Amien Rais Riwayat Hidup dan Visi Pendidikan, Biodata Latar Belakang Pemikiran Politik Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment