Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 4 October 2015

Biografi Susilo Bambang Yudhoyono Masuk Akabri dan Menjadi Tentara, Masa Pelajar, Anak, Militer, Politik, Konflik.

Biografi Susilo Bambang Yudhoyono - Masa Kanak-Kanak Susilo Bambang Yudhoyono lahir di Desa Tremas , tepatnya 12 kilometer dari kota Pacitan, Jawa Timur pada saat seusai adzan dzuhur 9 September 1949. Susilo adalah anak tunggal dari pasangan bapak R. Soekotjo dan Ibu Siti Habibah. Namun walaupun sebagai anak tunggal, Susilo bukanlah sosok anak yang manja dan berkecukupan. Ayahnya adalah seorang tentara yakni sebagai  Komando Rayon Militer (Danramil) yang bertugas di kota Pacitan dan sering berpindah- pindah tempat tugas. Sehingga pada saat kelahirannya, Susilo tidak ditemani ayahnya karena harus bertugaswww.seasite.niu.edu/indonesian/oenic/05oktober.htm/akses 23 Januari 2009. Oleh karena itu, Susilo tinggal bersama pamannya, Sasto Suyitno yang menjadi Lurah Desa Ploso, Pacitan. Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya menjaga dan merawat Susilo.

Susilo Bambang Yudhoyono pada masa kanak-kanaknya dipanggil dengan sebutan “sus” oleh orang tuanya,adalah anak yang penuh dengan limpahan kasih sayang dari orang tuanya. Arti nama “Susilo Bambang Yudhoyono” sendiri diberikan oleh ayahnya yang bermakna “kesatria santun yang memenangi setiap peperangan”. Tidaklah mengherankan bahwa nama tersebut sangat berhubungan dengan profesi ayahnya sebagai pembantu letnan satu (peltu) dalam militer. Ayahnya  mengharapkan Susilo dapat meneruskan bakat kemiliteran darinya.

Seperti pembawaan anak tunggal pada umumnya, ia harus menjaga penampilannya agar tetap menarik. Dan tidak heran hal tersebut terbawa hingga ia dewasa. Menurut teman-temannya, Susilo tidak hanya anak yang terjaga penampilannya, namun tindak-tanduknya juga terjaga, sopan dan menunjukkan perhatian kepada orang lain.

Susilo kecil pada masa kanak-kanaknya adalah seorang  anak  yang memiliki bakat di bidang seni. Ia dikenal sebagai penulis puisi, cerpen, pemain teater dan pemain Band. Susilo sangat senang mengikuti berbagai kegiatan kesenian seperti melukis, bermain peran dalam teater dan wayang orang.  Beberapa karya puisi dan cerpennya sempat dikirimkan ke majalah anak-anak  pada masa itu, seperti Majalah Kuncung. Sedangkan  aktivitas  bermain  band masih dilakukannya hingga tingkat satu Akabri Darat sebagai seorang pemain  bass dan gitar. Disamping kesenian, Susilo juga menyukai dunia olahraga seperti bola voli, travelling, jogging (jalan kaki), bersepeda dan berkendaraan. Olahraga lain yang sampai saat ini masih beliau lakukan adalah bela diri.

Sebagai seorang anak yang mendapat perhatian lebih dari orang tuanya, Susilo merupakan anak yang suka membaca. Berbagai jenis buku semasa kecil hingga beranjak remaja merupakan makanan bagi hobinya. Bahkan ia sering diledek oleh teman-temannya karena sampai remaja jarang memiliki teman  wanita, karena terlalu seringnya berkutat dengan buku setiap akhir pekan. Membaca buku adalah hobi yang sangat ia cintai hingga memasuki jenjang remaja dan kuliah. Baginya hobi membaca buku adalah hal yang tidak ternilai harganya dalam menimba ilmu pengetahuan di masa muda.

Semasa kecil, Susilo dikenal sebagai anak desa yang cerdas dan pintar bergaul. Kala itu, postur tubuhnya kurus tinggi dan berkulit kuning bersih. Ia tumbuh dan berkembang di bawah kuatnya pengaruh pendidikan orang tuanya. Sang ayah lebih menekankan kepada sifat pekerja keras dan disiplin, sedangkan ibunya lebih kepada iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa D.Danny H.Simanjuntak, Loc.cit.,Hal.25.

Walaupun  Susilo  adalah  anak  yang  menyukai  kesenian  dan    olahraga ataupun buku, ternyata cita-citanya sangat berbeda dengan hobinya tersebut. Susilo kecil selalu bermimpi dan berita-cita ingin menjadi seorang prajurit seperti sang ayah. Dan cita-cita inilah yang menghantarkan Susilo untuk giat untuk belajar dalam pendidikannya.

Dalam menempuh pendidikannya, Susilo belajar di Sekolah Rakyat Gajahmada (sekarang SDN Baleharjo I) di Desa Purwoasri, Kecamatan Kebon Agung, Pacitan. Disekolahnya, ia dikenal sebagai murid yang cerdas dan berprestasi. Susilo lulus dari sekolah dasar pada tahun 1962, dengan berpredikat sebagai siswa yang memiliki nilai terbaik disekolahnya di masa itu. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Pacitan. Sekolah tersebut adalah SMP satu-satunya sekaligus merupakan sekolah favorit anak-anak di kota Pacitan. Di sekolah inilah Susilo muai menempah dirinya, tumbuh menjadi reaja yang lebih matang. Ia banyak belajarsoal budaya, sosial, olahraga,  teater,  melukis  bahkan  menulis artikel.  Ia juga  terlibat  aktif di  Pijar

Sena-Kompi Peger Lor, dalam ranka mencari pelarian anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) Ibid., Hal. 26

Susilo kemudian melanjtkan jenjang  pendidikannya  di  Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 271 Pacitan. Semasa SMA, Susilo dikenal sangat menonjol dalam sejumlah bidang pelajaran, terutama matematika. Jika guru matematika mereka berhalangan mengajar, maka Susilo  dipercaya untuk tampil di depan kelas sebagai “guru” matematika pengganti bagi teman-temannya. Saat menginjak sekolah menengah atas, ia membentuk klub bola voli bernama klub Rajawali bersama teman-temannya. Kegemarannya bermain bola voli terkadang membuat ia lupa akan masa remaja nya untuk bersenang-senang diluar.

Di bangku SMA juga, Susilo mengasah kemampuannya dalam bidang musik. Kala itu, ia dikenal sebagai pemain gitar bass disekolahnya, kadang-  kadang Susilo juga bertindak sebagai vokalis khusus untuk lagu sedih dan sendu. Ia juga membentuk Band-nya dengan nama Band Gaya Taruna. Susilo terus mengasah segala kemampuannya termasuk mempersiapkan diri untuk meraih cita- cita menjadi seorang tentara sedari kecil Diakses pada http://www.seasite.niu.edu/indonesian/oenic/05oktober.htm/ pada 23 Januari 2009


Masuk Akabri dan Menjadi Tentara

Setelah lulus SLTA pada tahun 1968, ia sangat tertarik untuk melanjutkan pendidikannya di bidang militer seperti ayahnya. Namun, karena terlambat mendaftar masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), Susilo sempat  menjadi mahasiswa Tehnik Mesin Institut 10 November Surabaya


(ITS). Tetapi menjadi seorang mahasiswa tidak berlangsung lama karena Susilo lebih memilih masuk ke Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Malang, Jawa Timur. Di Malang, ia dapat lebih leluasa melanjutkan mimpinya sebagai seorang tentara untuk kembali mempersiapkan diri masuk Akabri. Tahun 1970, Susilo masuk dalam penerimaan Akabri di Magelang, Jawa Tengah setelah lulus dalam penerimaan akhir di Bandung. Baginya, dalam hidup ini tidak ada yang serba kebetulan. “Menjadi perwira TNI adalah disamping suatu kesyukuran, tetapi hakikatnya adalah pilihan dan sekaligus kehormatan”, seperti yang ditulisnya dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Akademi Militer Magelang berjudul “Kepada Almamater”.

Setelah belajar di sekolah Akabri di Magelang. Di lembaga pendidikan kemiliteran ini, kepribadian dan intelektualitas Susilo Bambang  Yudhoyono sangat menonjol. Itu ditandai dengan diraihnya berbagai penghargaan atas prestasinya seperti Bintang Kepribadian “Kartika Tanggon Kosala” (tahun 1970,1971 dan 1972), Bintang Intelek “Kartika Ati Tanggap” (tahun 1971-1972) dan Prestasi Tertinggi Gabungan Mental, Fisik dan Intelek “Tri Sakti Wiratama” tahun 1973.

Dan akhirnya Susilo menamatkan pendidikan militernya dengan lulusan terbaik AKABRI DARAT pada tahun 1973 dan memperoleh penghargaan tertinggi Bintang Adhi Makayasa. Presiden Soeharto menyerahkan dan menyematkan langung lencana itu kepadanya. Selain meraih prestasi terbaik, ditahun keempat pendidikan militer inilah cintanya bersemi pada Kristiani Herawati (Ani),  putri Mayjen Sarwo  Edhi Wibowo.  Hal ini disebabkan  jabatan sebagai Komandan Divisi Korps Taruna membuatnya harus melapor pada Sarwo Edhi yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Akabri.

Kisah cinta antara Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herawati berlanjut dan mendapat restu dari kedua pihak orang tuanya. Namun dalam perjalanannya, mereka tidak segera menikah. Hal ini disebabkan Susilo harus mengikuti pendidikan di pusat pendidikan militer Rangers School dan Airborne School di Fort Benning, Georgia Amerika Serikat. Sementara Ani harus  mengikuti ayahnya, Sarwo Edhi untuk tugas sebagai Duta Besar Indonesia di Korea Selatan.  Susilo  akhirnya  menikah dengan Ani pada tanggal 30 Juli   1976.

Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhi Baskoro Yudhoyono Ibid

Secara terperinci, Susilo Bambang Yudhoyono menempuh pendidikan se bagai Berikut :

  1. Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia  tahun 1973.
  2. American Language Course, Lackland Texas Amerika Serikat tahun 1976.
  3. Airborne and Ranger Course, Fort Benning Amerika Serikat tahun 1976.
  4. Infantery Officer Advanced Course, Fort Benning Amerika Serikat tahun 1982-1983.
  5. Jungle Welfare School, Panama tahun 1983.
  6. Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman tahun 1984.
  7. Kursus Komando Batalyon tahun 1985.
  8. Sekolah Komando Angkatan Darat tahun 1988-1989.
  9. Command and General Staff College, Fort Leavenwort Kansas Amerika Serikat.
  10. Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri Amerika Serikat.
  11. Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2004 Diakses pada http://www.pemiluindonesia.com/profile/susilo-bambang-yudhoyono.html/pada 23 Januari 2009

Aktif Dalam Militer

Prestasi sebagai lulusan terbaik membuat Susilo memuluskan karirnya di bidang militer. Dan setelah meraih prestasi terbaiknya, Susilo meraih pangkat Jenderal TNI pada tahun 2000. sepanjang masa itu, ia mengikuti serangkaian pendidikan dan pelatihan di Indonesia dan di luar negeri. Antara lain, Seskoad dimana pernah pula ia menjadi dosen serta Command and General Staff College  di Amerika Serikat. Dalam tugas militernya, ia menjadi komandan pasukan diantaranya, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad, kemudian menjadi Panglima Kodam II Sriwijaya dan Kepala Staf Teritorial TNI.

Selain di dalam negeri, ia juga bertugas pada misi-misi luar negeri. Seperti ketika menjadi Commander of United Nations Military Observers dan Komandan Kontingen Indonesia di Bosnia Herzegovina pada 1995-1996. Setelah mengabdi sebagai perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) sepanjang 27 tahun, ia mengalami percepatan masa pensiun maju 5 tahun ketika menjabat menteri di tahun  2000.   Atas  pengabdiannya  di   bidang   militer,   ia   menerima  24  tanda kehormatan dan bintang jasa, diantaranya Satya Lencana PBB UNPKF, Bintang Dharma dan Bintang Maha Putra Adipurna. Atas jasa-jasanya yang melebihi panggilan tugas, beliau menerima bintang jasa tertinggi di Indonesia, yaitu  Bintang Republik Indonesia Adipurna Diakses pada http://www.solusihukum.com/tokoh/tokoh10.php/pada 23 Januari 2009


Secara terperinci karir militer Susilo Bambang Yudhoyono adalah  sebagai berikut :

  1. Lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) tahun 1973 dengan predikat penghargaan Adhi Makayasa sebagai murid lulusan terbaik dan juga mendapat predikat Tri Sakti Wiratama yang merupakan prestasi tertinggi gabungan mental, fisik dan intelektual.
  2. Memulai karir  militer  di  Dan  Tonpan  Yonif  Linud  330 Kostrad pada tahun 1974.
  3. Belajar di Airborne School dan US Army Rangers, di Fort Benning Amerika Serikat dan mengikuti kursus di American Language Course di Texas.
  4. Karir Militer berlanjut di Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad pada tahun 1976.
  5. Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad tahun 1977.
  6. Paban Muda Sops SUAD tahun 1981-1982.
  7. Belajar di Infantery Officer Advanced Course, di Fort Benning Amerika Serikat tahun 1982-1984.
  8. Belajar di On The Job Training In 82-nd Airborne Division Amerika Serikat  pada tahun 1983.
  9. Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman pada tahun 1984.
  10. Kursus Komando Batalyon dan meniti karir di Komandan Sekolah Infanteri tahun 1983-1985.
  11. Dan Yonif 744 Dam IX Udayana tahun 1986.
  12. Paban Madyalat Sops Dam IX Udayana tahun 1988.
  13. Belajar di Sekolah Komando Angkatan Darat dan belajar di US Command and General Staff College periode 1988-1989.
  14. Bekerja sebagai Dosen Soskoad Korspri Pangab tahun 1989-1993.
  15. Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad tahun 1993-1994.
  16. Asops Kodam Jaya tahun 1994-1995.
  17. Danrem 072 Pamungkas Kodam IV Diponegoro tahun 1995.
  18. Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia- Herzegovina taun 1995-1996.
  19. Kasdam jaya, Pangdam Sriwijaya dan Ketua Bakorstanasda tahun 1996.
  20. Kepala Angkatan Bersenjata dan Staf Urusan Sosial dan Politik tahun 1997.
  21. Letnan Jenderal dan Kassospol ABRI tahun 1998.
  22. Jenderal TNI tahun 2000.

Karir militernya terhenti sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI) dengan pangkat Jenderal. Dan ia kemudian pensiun dari kemiliteran pada 1 April 2001 oleh karena pengangkatannya sebagai menteri sekaligus menandai  masuknya Susilo di kancah politik dan meninggalkan dunia militer    yang selama ini  membesarkan  namanya.  Susilo  menutup  lembaran karir militernya dengan segudang prestasi dan sekaligus memulai kiprahnya di dunia pemerintahan.


Masuk Dalam Kancah Politik

Susilo Bambang Yudhoyono yang dikenal dengan gaya  bicara  yang tenang, sistematis, penampilan yang rapi dan berwibawa serta kata-kata nya yang mencerminkan wawasan berfikirnya yang luas, adalah sosok yang posisinya patut diperhitungkan pada peta kepemimpinan nasional. Karir militer yang selama ini dijalani oleh Susilo terhenti dengan adanya tawaran untuk masuk dalam dunia politik dan pemerintahan. Para pengamat politik memberinya julukan “Jenderal yang Berfikir” karena sosoknya sebagai tentara militer sangat berwibawa, tenang, sistematis dan mencerminkan wawasan berfikir yang luas. Setelah masuk dalam dunia politik, Susilo menabat sebagai Menteri di pemerintahan Abdurrahman Wahid. Dan seterusnya dalam era kepemimpinan Megawati, Susilo  tetap dipercaya sebagai Menteri. Walaupun dalam perjalanannya, ia terpaksa mundur dari jabatan tersebut.

1. Dipercaya KH Abdurrahman Wahid
Semua diawali ketika hasil Pemilu 1999 menetapkan KH. Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4 periode 1999-2004 D.Danny.H. Simanjuntak,Ibid.,Hal.17. Saat itu, nama dan figur Susilo praktis mulai muncul ke permukaan karena banyak yang merekomendasikan Susilo untuk terlibat dalam pemerintahan dengan kondisi sosial politik Indonesia saat itu pasca tergulingnya rezim orde baru.

Kala itu, presiden Abdurrahman Wahid langsung melamar Susilo  untuk ikut bergabung ke dalam barisan Kabinet Pemerintahannya sebagai Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben). Saat itu, Susilo tidak langsung mengamini tawaran Presiden Abdurrahman Wahid tersebut, karena Susilo masih menyisakan cita-citanya untuk menjadi seorang Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Namun berkat sejumlah pertimbangan penting, serta anjuran dari sang ayah, R. Soekotjo, Susilo pun akhirnya setuju untuk bergabung dalam Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada waktu itu, Susilo masih aktif adalam menjalankan tugas militernya sebagai perwira tinggi berbintang tiga (Letnan Jenderal) di lingkungan TNI. Karenanya, demi menerima tawaran dari Presiden Abdurrahman Wahid tersebut, Susilo terpaksa meminta pensiun dini yaitu 5 tahun lebih awal dari dinas militernya.

Meski kala itu tidak memiliki keahlian serta pengetahuan di dalam bidang pertambangan, Susilo tetap berusaha memberikan kinerja ter baik. Di awal masa jabatannya   sebagai   Mentamben,   Susilo   melakukan   berbagai   upaya   untuk memberantas pengoplosan dan penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Dalam perjalanannya, Susilo hanya sebentar saja menjabat sebagai Mentamben. Presiden Abdurrahman Wahid kemudian mempromosikan Susilo untuk menduduki posisi Menteri Koordinator Politik Sosial Keamanan (Menko Polsoskam), menggantikan Wiranto yang saat itu dinonaktifkan. Di lini baru ini, Susilo cenderung mulai belajar  banyak dalam memahami konstelasi  perpolitikan dalam negeri. Dan disadari atau tidak, di tahap ini juga Susilo mulai menimba segudang ilmu serta pengalaman dalam dunia politik Ibid.,Hal.18

Diawal Susilo menjabat sebagai Menko Polsoskam, hubungan antara DPR dan Presiden Abdurrahman Wahid sedang berada pada titik terendah. Ketegangan tersebut berawal dari mencuatnya kasus Buloggate dan Bruneigate. Presiden Abdurrahman Wahid ditengarai ikut terlibat dalam usaha pencairan dana Bulog, serta dinilai tidak konsisten dalam memberikan keterangan mengenai bantuan Sultan Brunei. Akibatnya Presiden Abdurrahman Wahid dinilai tidak memberikan keterangan yang sebenarnya pada DPR maupun masyarakat, terkait masalah  yang dihadapi Ibid.,Hal.19

Atas persoalan tersebut, DPR melayangkan memorandum hingga dua kali berturut-turut kepada Presiden Abdurrahman Wahid, yaitu meminta pertanggungjawaban presiden mengenai penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Sebelumnya, untuk  mengakhiri ketegangan  dengan  DPR,  Presiden  Abdurrahman  Wahid berencana akan mengeluarkan Dekrit Presiden yang bermaksud membubarkan DPR dan kembali  melakukan pemilihan umum.

Disinilah masa-masa sulit bagi Susilo Bambang Yudhoyono, saat Presiden Abdurrahman Wahid harus terus berseteru dengan DPR. Kondisi politik tanah iar, terutama Jakarta, sangat tidak menentu. Istana dan Senayan menjadi dua titik yang salaing bertentangan saat itu. Susilo Bambang Yudhoyono se bagai Menko Polsoskam dituntut untuj mendinginkan suhu politik yang sedang memanas, ter masuk menemukan jalan tengah atas persoalan yang dihadapi  bangsa Indonesia.

Pada 28 Mei 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan  Maklumat Presiden, yang berisikan perintah untuk mengambil tindakan serta langkah khusus demi menegakkan ketertiban, keamanan dan hukum dalam waktu yang secepat-cepatnya. Dan Maklumat Presiden itu ditujukan kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah kalangan sempat mencurigai bahwa Susilo akan melakukan tindakan represif untuk memburu dan menyingkirkan lawan-lawan politik Presiden Abdurrahman Wahid. Publik juga mensinyalir kalau pemberian Maklumat Presiden tersebut sebagai usaha Presiden Abdurrahman Wahid dalam menyelamatkan posisinya se bagai Presiden.

Posisi Presiden Abdurrahman Wahid rupanya tidak seperti yang diharapkannya. Meskipun sudah mengeluarkan Maklumat Presiden, tetapi perkembangan kondisi saat itu tetap kian menyulitkan Abdurrahman Wahid. Karena DPR akhirnya menggelar Sidang Pleno pada 30 Mei 2001, untuk mengevaluasi pelaksanaan Memorandum II yang dilayangkan kepada Presiden Abdurrahman  Wahid.  Pada  sidang  tersebut,  akhirnya diperoleh keputusan agar

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) segera menyelenggarakan Sidang Istimewa MPR. Dan itu artinya, posisi Abdurrahman Wahid sudah diujung tanduk. Sebab kuat dugaan bahwa Abdurrahman Whid akan dilengserkan bila Sidang Istimewa MPR digelar.

Merasa terdesak, Abdurrahman Wahid pun memunculkan sejumlah spekulasi atas kondisi yang belakangan terjadi. Disebut-sebut, Susilo Bambang Yudhoyono tidak berusaha mengamankan posisi Abdurrahman Wahid. Alhasil pada 1 Juni 2001, Abdurrahman Wahid meminta Susilo untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menko Polsoskam. Sebelumnya Abdurrahman Wahid sempat memberi tawaran kepada Susilo untuk memilih sebagai Menteri Perhubungan atau Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Namun oleh Susilo, tawaran tersebut ia tolak serta mengambil keputusan bulat untuk mengundurkan diri dari Kabinet.

Tidak sampai dua bulan berselang setelah pengunduran diri Susilo Bambang Yudhoyono, Abdurrahman Wahid lengser dari kursi kepresidenannyaIbid.,Hal.21. Pada 23 Juli 2001, MPR memutuskan untuk memberhentikan Presiden Abdurrahman Wahid. Sesuai konstitusi yang berlaku, MPR kemudian  mengangkat dan menetapkan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, dan menetapkan Hamzah Haz sebagai Wakil Presiden.

2. Konflik dengan Megawati
Setelah dilantik sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri langsung menyusun sejumlah nama yang bakal menduduki posisi Menteri dalam Kabinet pemerintahannya. Nama Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak luput dari perhatian Presiden Megawati. Dan akhirnya hal itu terbukti saat Susilo mendapat kesempatan kembali untuk ikut terlibat dalam dunia politik dengan diangkat menjadi MenkoPolkam oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.  Kehadiran  Susilo dalam lingkungan Kabinet kerja Megawati disebut-sebut oleh sejumlah pihak sebagai strategi Presiden Megawati dalam membina hubungan baik antara Istana dengan markas TNI Cilangkap Ibid.,Hal.22

Asumsi tersebut setidaknya dapat dibenarkan, karena selama Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Menko Polkam, hubungan antara Istana dan Cilangkap di era Presiden Megawati terbilang relatif baik. Artinya, hampir tidak pernah terjadi perbedaan yang sangat prinsipil antara Istana dan Cilangkap pada masa itu. Terutama dalam penentuan sejumlah kebijakan nasional, yang jelas berkaitan erat dengan masalah militer atau pertahanan negara. Lebih dari itu, kehadiran Susilo juga dianggap sebagai “ikon” penting, yang dapat “mengukuhkan” dukungan penuh TNI terhadap pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam menangani masalah keamanan  negara saat itu.

Hampir tiga tahun, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi orang penting dalam Kabinet Gotong Royong Megawati. Seiring itu pula, Susilo memperoleh banyak pelajaran sekaligus pengalaman dalam dunia politik. Dan selama itu  pula, hubungan antara Susilo dan Presiden Megawati Soekarnoputri terjalin cukup baik hubungannya, baik dalam hubungan pribadi maupun institusionalnya. Namun disayangkan, ketika menjelang akhir masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Susilo dan Megawati mulai menghadapi konflik politik dan “perang psikis”. Rencana Susilo Bambang Yudhoyono menuju kursi RI-I  kala  itu, dikabarkan sebagai pemicu utamanya. Secara politis Megawati  menilai bahwa, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pembantu presiden, jelas bersikap kurang “etis” terhadap dirinya. Karena, Susilo tidak pernah membicarakan tentang niatnya itu kepada Presiden Megawati Soekarnoputri, tetapi justru menyampaikannya ke sejumlah media.

Konflik dingin antara Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono bermula pada akhir tahun 2003 dan memasuki awal tahun 2004, tepatnya pada Januari hingga Februari 2004. Saat itu, Susilo mulai tidak dipanggil dalam berbagai rapat atau proses pengambilan keputusan serta kebijakan di bidang politik dan keamanan dalam negeri. Sementara itu, pemerintahan Megawati tengah sibuk mempersiapkan agenda pemilihan umum, baik pemilihan presiden dan wakil presiden maupun pemilihan legislatif. Karena agenda itu  dianggap  sebagai agenda   krusial   dan       baru   pertama   kali   dilaksanakan   sepanjang    sejarah terbentuknya negara ini, maka pemerintah perlu bekerja keras dalam mempersiap kan segala sesuatunya  Ibid.,Hal.29

Presiden Megawati saat itu berkoordinasi dengan sejumlah lini seperti Menteri  Pertahanan,   Menteri Dalam   Negeri,   Menteri  Luar   Negeri,  Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Sekretaris Negara, Panglima TNI, Kepala Polri, Jaksa Agung serta Kepala badan Intelijen Negara. Ironisnya, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) justru tidak dilibatkan. Padahal, jelas-jelas seluruh lini kabinet yang disebutkan tersebut masih berada dalam wilayah koordinasi Menko Polkam. Dan yang paling penting saat itu Menko Polkam telah ditunjuk sebagai koordinator pengamanan pemilihan umum.

Tidak hanya hal itu, Susilo juga tidak diikutsertakan dalam kunjungan beberapa pejabat pusat ke daerah Nanggroe Aceh Darussalam yang kala itu hangat dengan kasus separatisme Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Padahal sudah jelas bahwa Susilo Bambang Yudhoyono adalah Ketua Badan Pelaksana Harian Penguasa Darurat Militer Pusat.

Saat Susilo sedang melakukan kunjungan kerja ke China, Presiden Megawati Soekarnoputri justru menggelar rapat di lingkungan kementrian politik dan keamanan (Polkam). Pertemuan yang digelar pada 25 Februari 2004 diadakan untuk membahas persiapan pemilihan umum di sejumlah daerah. Tanpa sepengetahuan Susilo Bambang Yudhoyono, melalui rapat tersebut, Presiden Megawati menginstruksikan sejumlah pejabat di jajaran polkam untuk berkeliling ke sejumlah daerah guna memantau kematangan persiapan pelaksanaan pemilihan umum. Mereka adalah Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Polri Jenderal Pol. Da’i Bachtiar serta Kepala  Badan Intelijen Nasional (BIN)  Hendro Priyono.  Pada saat  itu,     Susilo kelihatan   lebih   banyak   menahan   diri.   Ia  cenderung lebih  memilih  diam, ketimbang  harus  membuat suasana perselisihan menjadi semakin keruh.

Dalam situasi tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono tidak lagi bisa menjalankan tugasnya sebagai Menko Polkam secara utuh dan efektif, maka timbul inisiatif untuk membangun komunikasi langsung dengan Presiden Megawati Soekarnoputri Ibid.,Hal. 32. Pada 9 Maret 2004, Susilo mengirimkan surat kepada Presiden Megawati yang isinya ingin menanyakan sekaligus meminta kejelasan mengenai posisinya sebagai Menko Polkam. Melalui surat itu pula,  Susilo berharap dapat bertemu langsung dengan Megawati, guna membahas sejumlah permasalahan serta konflik yang berkembang. Namun, Presiden Megawati   justru tidak memberikan tanggapan ataupun jawaban atas surat Susilo tersebut, baik secara lisan maupun tulisan.

Kondisi tetap tidak jelas sementara kinerja dan pola koordinasi di tingkat Kabinet kian tidak menentu serta menimbulkan ketegangan terutama  di lingkungan menteri-menteri polkam. Sejumlah opini yang berkembang saat itu menyebutkan, Susilo Bambang Yudhoyono kian terdesak  untuk  segera mengambil sikap. Karena sepertinya kondisi saat itu, jelas tidak memungkinkan Susilo Bambang Yudhoyono untuk tetap  bekerja sebagai Menko Polkam.

Dalam situasi yang demikian, melalui sejumlah pertimbangan, akhirnya Susilo Bambang Yudhoyono mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari barisan Kabinet Gotong Royong. Pada 11 Maret 2004, Susilo mengirimkan surat pengunduran diri secara resmi kepada Presiden Megawati. Dan dihari yang  sama,

Susilo Bambang Yudhoyono langsung menggelar konferensi pers di  kantor Menko Polkam sehubungan untuk memberikan penjelasan serta klarifikasi tentang keputusan pengundurkan diri tersebut.

Setelah mengundurkan diri dari Kabinet Megawati, Susilo mulai  menyusun strategi politik bersama Partai Demokrat. Sejumlah pendekatan terhadap kekuatan-kekuatan politik yang dianggap besar, mulai gencar digalang Susilo Bambang Yudhoyono .Ibid.,Hal.33 Banyak kalangan yang beranggapan  bahwa, Susilo bakal “bermain” tanpa beban di pemilihan umum 2004. Bagaimana tidak, hingga ia meninggalkan jabatan sebagai Menko Polkam di Kabinet Megawati, hampir tidak ada catatan “miring” yang disisakan olehnya selama mengemban tugas.

Bahkan banyak pihak yang mengatakan bahwa pengunduran diri Susilo Bambang Yudhoyono adalah sebuah strategi untuk memenangkan hati rakyat menjelang pemilu 2004. Karena Susilo sendiri telah mengumumkan akan mencalonkan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia 2004 mendatang sekaligus memberikan sinyal bahwa Susilo Bambang Yudhoyono siap untuk kembali bertarung di arena politik selanjutnya.

Biografi Susilo Bambang Yudhoyono
Dari perolehan suara dalam pemilihan calon wakil presiden dan hasil polling publik dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 2001, menyebutkan nama Susilo Bambang Yudhoyono memiliki popularitas  tersendiri.


Hasilnya adalah beberapa orang diantaranya Vence Rumangkang yang kala itu adalah sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) menyatakan dukungannya untuk mengusung Susilo Bambang Yudhoyono ke kursi presiden.

Dan agar cita-cita itu terlaksana, jalan satu-satunya adalah mendirikan partai politik. Perumusan konsep dasar dan platform partai sebagaimana yang diinginkan oleh Susilo dilakukan oleh Tim Krisna Bambu Apus dan selanjutnya tehnis administrasi dirampungkan oleh Tim yang dipimpin oleh Vence Rumangkang sendiri. Juga terdapat diskusi-diskusi tentang perlunya berdiri sebuah partai untuk mempromosikan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden.

Pada tanggal 12 Agustus 2001 pukul 17.00 diadakan rapat yang dipimpin langsung oleh Susilo sendiri di Apartemen Hilton. Rapat tersebut diadakan untuk membentuk tim pelaksana. Pada tanggal 19 Agustus 2001, Susilo memimpin langsung pertemuan yang merupakan cikal bakal pendirian Partai Demokrat. Selanjutnya, pada tanggal 20 Agustus 2001, Vence Rmangkang dibantu oleh Drs. Sutan Bhatoegana  berupaya  mengumpulkan  orang-orang  untuk merealisasikan pembentukan sebuah Partai Politik Diakses pada http://www.demokrat.or.id/index.php?option=com_content&task= view&id=6&Itemid=12/pada 23 Januari 2009

Untuk menjadi sebuah Partai yang disahkan oleh Undang-Undang Kepartaian, dibutuhkan minimal 50 orang sebagai pendirinya, namun pada prakteknya diperoleh sebanyak 99 orang sebagai pendiri partai Demokrat. Filosofi angka 99 diartikan sebagai sambungan makna tanggal dan bulan kelahiran sang penggagas, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono yang lahir pada tanggal 9    bulan 9. Dan pada tanggal 9 September 2001, dihadapan Notaris Aswendi Kamuli SH, Partai Demokrat didaftarkan sebagai bukti pendirian Partai.

Kepengurusan Partai Demokrat pun disusun dan disepakati bahwa kriteria Calon Ketua Umum adalah Putra Indonesia asli, kelahiran Jawa dan beragama Islam. Sedangkan Calon Sekretaris jenderal adalah dari luar pulau Jawa dan beragama Kristen. Ketua Umum terpilih adalah Prof. Dr. Subur Budhisantoso dan Sekretaris Jenderal adalah Prof. Dr. Irsan Tandjung serta Bendahara Umum  adalah Vence Rumangkang. Partai Demokrat selanjutnya didaftarkan di Departemen Kehakiman dan HAM RI pada tanggal 10 September 2001 sekaligus menandai  awal  kiprah  “kendaraan  politik”  Susilo   Bambang  Yudhoyono    ini berkembang dan menyusun kinerja untuk memenangkan Susilo dalam bursa  Calon Presiden pada pemilu 2004 Ibid

Partai Demokrat sendiri berpijak pada ideologi demokrasi, dimana kedaulatan adalah memang ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memiliki kekuasaan dalam suatu pemerintahan secara demokratis. Partai Demokrat menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat dan keadilan bagi rakyat Indonesia. Tidak hanya kesejahteraan saja yang menjadi tujuan pencapaian ideologi Partai, keanekaragaman budaya, agama, suku maupun etnis adalah hal yang paling dijunjung tinggi pula didalamnya.

Sebagai seorang tentara, Susilo bangga dengan apa yang telah diajarkan oleh militer dalam banyak aspek, yaitu tugas, kehormatan dan negara. Militer merupakan  sebuah  pendidikan  yang  ingin  ia bagikan  pengalamannya   kepada orang lain. Memiliki latar belakang militer justru dapat membantu, bukan menghambat pembangunan bangsa.

Berdasarkan pengalaman sebagai menteri dalam pemerintahan Indonesia, beberapa tugas para pemimpin militer adalah mengantisipasi dan membuat perhitungan yang matang atas situasi yang ada. Memilih tindakan terbaik yang paling memungkinkan dan mengambil keputusan, mengarahkan, mengawasi serta mempertimbangkan resiko yang telah diperhitungkan dan memimpin orang-orang mencapai misi yang mereka berikan. Dimana semua tugas ersebut menurutnya, sesuai dan dapat diterapkan dalam memimpin dan mengatur organisasi non-militer bahkan sebuah bangsa sekali pun.

Oleh karena itu, Susilo Bambang Yudhoyono sendiri merupakan tokoh politik yang memiliki ideologi Demokrat sejati, ia membukt ikan dirinya bahwa Partai yang diusungnya adalah Partai yang mengakui dan menjunjung tinggi nilai- nilai Demokrasi berdasarkan pancasila. Selain seorang Demokrat sejati, ia tidak pernah terlepas dari ideologi militernya pula sebagai seorang Jenderal. Oleh karena itu, sebagai seorang Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang Jenderal yang berfikir dalam gaya militernya.

Menurutnya, mencoba menjalankan sebuah pemerintahan yang kompleks seperti Indonesia, dibutuhkan berbagai penyesuaian politik, yaitu sebuah kepemimpinan yang mampu menghadirkan keseimbangan dan kepemimpinan yang penuh pertimbangan dan moderat. Pendidikan militer yang diperolehnya menurutnya telah mengajarkan pengendalian diri dan kehati-hatian.

Susilo berterima kasih atas latar belakang militer itu, memberi idealisme baginya. Kemiskinan dan penderitaan merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari, seperti yang ia alami semasa kecil, dimana ia dibesar kan berdasarkan pengharapan. Dan militer dengan prinsip-prinsip komando serta misi pelayanan jasanya merupakan salah satu pendorong utama idealisme Susilo Bamba ng Yudhoyono.

Demi memuluskan langkahnya, Susilo bersama Partai Demokrat terus menggalang kekuatan politik, seiring itu juga popularitas dirinya di mata masyarakat kian melambung tinggi. Sampai-sampai melampaui kepopuleran  Partai Demokrat itu sendiri. Kepopuleran Susilo inilah yang justru mendongkrak nama besar Partai Demokrat, sehingga menjadi salah satu Partai yang cukup disegani dan diperhitungkan kala itu. Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono secara aktif terlibat dalam penyelenggaraan sejumlah kampanye Partai Demokrat. Kampanye yang dilangsungkan adalah dalam rangka menggalang kekuatan untuk menghadapi kompetisi politik di Pemilihan Umum Legislatif pada 5 April 2004. Peran dan kehadiran Susilo Bambang Yudhoyono dalam beberapa kampanye tersebut, diharapkan dapat memberi pengaruh besar terhadap jumlah perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu Legislatif 2004.


Kemenangan Dalam Pilpres 2004

Usaha Susilo Bambang Yudhoyono bersama Partai Demokrat, tampaknya memang berbuah manis. Pada pemilu Legislatif 2004 yang diikuti 24 Partai Politik,  Partai  Demokrat  memperoleh  8.455.225 suara  atau  7,45%,   sekaligus mendapatkan 57 kursi di DPR-RI. Menurut sejumlah kalangan, perolehan jumlah suara tersebut termasuk prestasi gemilang untuk ukuran Partai yang relatif muda. Apalagi terjun pada pemilu Legislatif 2004 merupakan pengalaman pertama kali bagi Partai Demokrat. Berdasarkan urutan hasil perolehan suara, Partai Demokrat menempati posisi kelima dari lima besar Partai pemenang pemilu 2004, yaitu:

  1. Partai Golkar dengan 24.480.7 57 suara (21,58%) mendapat 128 kursi.
  2. Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan dengan 21.026.629 suara (18,53%) mendapat 109 kursi.
  3. Partai Kebangkitan Bangsa dengan 11.989.564 suara (10,57%) mendapat 52 kursi.
  4. Partai Persatuan Pembangunan dengan 9.248.764 suara (8,15%) mendapat 58 kursi.
  5. Partai Demokrat dengan 8.455.225 suara (7,45%) mendapatkan 57 kursi.

Sementara pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden secara langsung yang diselenggarakan pada 5 juli 2004. berdasarkan sejumlah ketentuan, akhirnya hanya ada lima pasangan calon yang diusung oleh sejumlah partai yang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), dianggap layak dan memnuhi syarat untuk mencalonkan pasangan  kandidatnya. Mereka adalah:

  1. H. Wiranto, SH dan Ir. H. Salahuddin Wahid (dicalonkan oleh Partai Golkar).\
  2. Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH. Ahmad Hasyim  Muzadi (dicalonkan oleh PDI-P).
  3. Prof.Dr. HM. Amien Rais dan Dr. Ir. H. Siswono YudoHusodo (dicalonkan oleh PAN)
  4. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Yusuf Kalla (dicalonkan oleh Partai Demokrat, PBB dan PKPI)
  5. Dr. H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc (dicalonkan oleh PPP).

Persaingan menuju kursi kepresidenan cukup ketat, aroma kompetisi untuk menggaet sebanyak-banyaknya hati rakyat sangat jelas terlihat pada pemilhan presiden dan wakil presiden secara langsung putaran pertama. Peta politik yang tadinya sudah mulai terbentuk pada pemilu legislatif, drastis berubah. Pasangan calon yang tadinya diprediksikan bakal meraup suara terbanyak, justru di luar dugaan. Hasil perolehan jumlah suara pada pemilu putaran pertama,  menunjukkan tidak ada pasangan calon yang berhasil meraup suara lebih dari   50%. Menurut aturan yang berlaku, harus dilakukan pemilu putaran kedua. Hal ini terlihat pada perolehan suara pada pemilu presiden dan wakil presiden putaran pertama, berikut ini:

  1. H. Wiranto, SH dan Ir. H. Salahuddin meraih 26.286.788 suara (22,15%).
  2. Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi meraih 31.569.104 suara (26,61%).
  3. Prof.Dr. HM. Amien Rais dan Dr. Ir. H. Siswono YudoHusodo meraih 17.392.931 suara (14,66%).
  4. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Yusuf  Kalla meraih 39.838.184 suara (33,57%).
  5. Dr. H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc meraih 3.569.861 suara (3,01%).

Dengan demikian, pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung putaran kedua harus dilaksanakan. Dua pasangan calon yang maju berikutnya adalah pasangan Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH. Ahmad hasyim Muzadi  dan H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Yusuf Kalla.

Pemilihan presiden dan wakil presiden putaran kedua digelar pada 20 September 2004. Jauh-jauh hari, kedua pasangan calon yang bakal  bertarung mulai menyusun sejumlah strategi jitu untu memenangkan pertarungan politik ini. Apalagi kedua pasangan calon adalah orang yang pernah berseteru yaitu Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Maka, aroma persaingan menuju puncak kursi presiden pun berlanjut dan semakin panas. Dan setelah melalui proses penghitungan suara, akhirnya diperoleh hasil yang akan menetukan arah tujuan bangsa Indonesia sekaligus menjadi kelangsungan estafet kepemimpinan di Indonesia.

Pasangan calon H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Yusuf Kalla keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 62.266.350 atau sebanyak 60,62%, dibandingkan dengan pasangan calon Hj. Megawati Soekarnoputri  dan   KH.   Ahmad   hasyim   Muzadi   yang     harus   puas dengan 44.990.704 suara atau sebanyak 39, 38%. Dengan perolehan tersebut, Susilo mendapatkan kemenangan yang gemilang untuk menjadi penguasa Indonesia dengan beralih kembali kedunia politik menjadi seorang Presiden, setelah sempat mengundurkan diri dari dunia politik dan pemerintahan.


Presiden Republik Indonesia

Setelah kemenangan gemilang dalam pemilu presiden dan wakil presiden 2004, kini Susilo Bambang Yudhoyono tengah berada di puncak kekuasaan. Ia menjadi orang nomor satu di negeri ini, melalui usaha dan perjuangan politik yang terbilang cukup panjang serta berliku di tahun 2004 silam. Dan setelah mengucapkan janji dan sumpah Presiden dan Wakil Presiden bersama  Yusuf Kalla dalam pelantikannya, Susilo resmi menjadi orang yang paling berkuasa di Indonesia dan dituntut untuk melakukan perubahan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Kepresidenan Republik Indonesia merupakan kantor politik tertinggi di kepulauan Indonesia. Jabatan sebagai presiden juga mengemban tanggung jawab yang sangat besar yang akan mengarahkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dan dihadapkan dengan situasi tersebut, janji-janji kampanye yang didengungkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla dituntut untuk terealisasi. Janji-janji kampanye itu, antara lain:

  1. Memperkuat demokrasi dan penegakan hukum.
  2. Memajukan kemakmuran.
  3. Mempromosikan tata kelola pemerintahan yang baik.
  4. Menjaga keamanan.
  5. Memberantas korupsi.
  6. Menyelesaikan konflik.
  7. Mengangkat Indonesia di dunia internasional.

Dimulai dengan 100 hari pemerintahannya, Susilo menerapkan langkah- langkah taktis pergerakan dalam bidang politik dan ekonomi. Setelah membentuk Kabinet Indonesia Bersatu, Susilo bersama para Menteri-menterinya acapkali melakukan rapat Kabinet guna membahas masalah-masalah urgent dan pokok yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat itu diantaranya adalah upaya untuk menurunkan bahan pokok dan BBM akibat laju inflasi.

Selain itu, Susilo kembali menggerakkan badan-badan pemerintah untuk aktif dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Salah satunya adalah kembali aktifnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan dibuktikan mulai diusutnya berbagai kasus-kasus korupsi yang merugikan bangsa dan rakyat Indonesia. Dalam prakteknya, banyak para pejabat negeri yang mulai mendapat sorotan dari media untuk diadili karena tersangkut kasus korupsi. Banyak pula kalangan yang mengacungkan jempol pada kinerja Susilo Bambang Yudhoyono dari kebijakan pemberantasan korupsi ini. Namun banyak juga yang menyayangkan kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dan Bahan  Bakar Minyak (BBM) hingga menyulitkan rakyat.

Namun keamanan dan ketertiban tercipta tatkala bencana Tsunami yang merugikan warga Aceh pada 24 Desember 2004, yaitu ketika upaya perdamaian menjadi  solusi     bagi  gerakan  separatisme  di Aceh,  Gerakan  Aceh   Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia. Upaya tersebut disambut meriah oleh warga Aceh pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang telah lama mengharapkan upaya perdamaian dan ketentraman di bumu serambi mekah. Banyak kalangan pula menganggap hal itu adalah hal yang menunjukkan prestasi bangsa Indonesia di tengah kondisi krisis ekonomi yang dialami saat itu.

Perang melawan terorisme sebagai bukti menjaga kemanan dan stabilitas negara ditunjukkan dalam upaya pencarian kelompok-kelompok teroris. Salah satunya ketika pemerintah berhasil menangkap tempat persembunyian Dr. Azhari, salah satu gembong teroris yang telah melakukan berbagai pemboman di Indonesia. Masalah Papua yang terbilang rumit, namun tetap masih dapat diselesaikan. Seperti di Aceh. Masalah Papua memerlukan dialog dalam upaya membangun kepercayaan dan mendapat solusi. Untuk itu, dibentuk Majelis  Rakyat Papua (MRP) dan pemberian Otonomi Khusus (otsus) bagi masyarakat Papua. Peningkatan upaya pembangunan terfokus pada pendidikan, pelayanan kesehatan, pangan, keamanan dan infrastruktur.

Tahun 2005 menurut Susilo adalah tahun yang paling sulit dalam pemerintahannya. Bencana alam di berbagai pulai seperti Jawa dan Sulawesi adalah hal yang perlu untuk segera ditangani oleh pemerintah. Meningkatnya harga minyak dunia hingga diatas 120 USD per barrel membuat pemerintah membuat kebijakan yang kontroversial dengan memotong subsidi minyak dan berarti kenaikan harga bahan bakar minyak dan pastinya harga bahan makanan ikut merangkak naik. Namun, peletakan suatu jaringan pengaman sosial dilakukan untuk     melindungi    kaum  miskin  dari  dampak  resesi  ekonomi  ini.   Bantuan

Langsung Tunai (BLT) merupakan salah satu program sosial masyarakat yang dilakukan terhadap 15 juta penduduk Indonesia setiap bulan dalam jang ka waktu tertentu. Dan ia juga mengakui bahwa pemotongan subsidi minyak dan penyesuaian harga minyak dengan harga internasional bukanlah kebijakan energi yang populer sepanjang jabatannya sebagai presiden. Dan banyak kalangan juga menyesalkan keputusan Susilo ini dan bertanya-tanya, mengapa sampai ia melupakan janji politiknya untuk menyejahterakan rakyat.

Namun, bagi Susilo kondisi krisis sekalipun harus dihadapi dengan tenang, terencana dan memasti kan bahwa rencana itu dipahami dan dijalankan  oleh semua pihak. Dalam krisis, yang penting adalah mencari ide-ide baru dan selalu melakukan   improvisasi   serta   menggunakan   dan   memperkuat   sistem  untuk menangani krisis. Menurut Susilo, “kita adalah pemegang kendali berbagai krisis”Dr. Susilo Bambang Yudhoyono.,Loc.cit.,Hal. 331. Keinginan Susilo Bambang Yudhoyono bagi Indonesia adalah ingin Indonesia dipandang sebagai suatu negara yang terbuka, demokratis, toleran, modern dan damai.

Indonesia baginya, dengan segala cobaan dan deritanya selama kurun waktu 10 tahun terakhir adalah negara yang memiliki kisah transformasi terbesar di dunia. Karena selama pemerintahannya, Susilo melihat Indonesia adalah bangsa yang tengah bergerak maju dan ia percaya bahwa sesuatu yang mustahil dapat diubah menjadi sesuatu yang mungkin Ibid.,Hal. 332

Daftar Pustaka Makalah Biografi Susilo Bambang Yudhoyono

Biografi Susilo Bambang Yudhoyono Masuk Akabri dan Menjadi Tentara, Masa Pelajar, Anak, Militer, Politik, Konflik. Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Koreksi: Bintang Intelek “Kartika Ati Tanggap” (tahun 1971)waktu Tk II/Sersan Taruna, masih AKABRI UMUM dan DARAT,beliau mendapat Kartika Ati Tanggap II/Perak, Kartika Ati Tanggap I/Emas diraih oleh Taruna Laut.

    ReplyDelete