Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 2 October 2015

Pemanasan Global dan Perubahan Iklim - Dampak Rumah Kaca dan Emisi Karbon

Pemanasan Global dan Perubahan Iklim - Bumi adalah tempat tumbuh dan berkembang berbagai spesies makhluk hidup termasuk manusia didalamnya. Alam dan makhluk hidup secara natural membentuk keseimbangan, sinergi, homeostatis, rantai makanan, dan daur hidup. Segala sesuatunya berhubungan di alam dan saling melengkapi satu sama lain. Namun, manusia kadang lalai bahwa bumi ini tidak dihuni sendiri oleh mereka, banyak spesies, flora dan fauna yang semuanya berbagi ruang kehidupan dengan manusia. Kuncoro Sejati, Global Warming, Food, and Water Problems, Solutions, and The Changes  of World Geopolitical Constellation (Pemanasan global, Pangan, dan Air Masalah, Solusi, dan Perubahan Konstelasi Geopolitik Dunia, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 2011. Hal 7.


Pemanasan global ditandai dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (Green House Gases). Gas rumah kaca adalah gas-gas yang terdapat di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca pertama sekali ditemukan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier, seorang matematikawan dan fisikawan Perancis pada tahun 1824. “Jean Baptiste Joseph Fourier”, http://id.wikipedia.org/wiki/Jean_Baptiste_Joseph_Fourier, diakses pada 20 Oktober 2013.


Dampak Rumah Kaca

Istilah  efek  rumah  kaca  awalnya  diambil  dari  cara  menanam       yang digunakan petani di daerah/negara yang memiliki empat musim. Petani tersebut menanam sayuran di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu ruangan agar tetap hangat.  Sinar  matahari  yang  masuk  dipantulkan  oleh benda-benda permukaan dalam rumah kaca tersebut, saat dipantulkan, sinar tersebut berubah menjadi energi panas berupa sinar inframerah, selanjutnya energi panas tersebut terperangkap dalam rumah kaca dan tidak bercampur dengan udara di luar yang dingin. Maka suhu dalam rumah kaca akan lebih tinggi daripada suhu di luar rumah kaca.Abdul Razak, “Kajian Yuridis Carbon Trade dalam Penyelesaian Efek Rumah Kaca”, Makalah Etika dan Kebijakan Perundangan Lingkungan,  Yogyakarta,  Universitas  Gajah Mada, 2008. Hal 7-8. Sama halnya dengan atmosfer bumi, fungsinya sama dengan rumah kaca yang digunakan oleh petani dalam becocok tanam. Menurut Protokol Kyoto, Gas-gas rumah kaca tersebut terdiri dari : Carbon Dioxide (CO2), Methane (CH4), Nitrous Oxide (N2O), Sulphur Hexafluoride (SF6), Hydro Fluoro Carbon   (HFC), Perfluorocarbon (PFC). “Protokol Kyoto”, Loc. Cit.

Gas rumah kaca sebenarnya sangat dibutuhkan oleh semua makhluk di bumi, karena tanpa gas rumah kaca maka bumi akan menjadi sangat dingin. Suhu rata-rata bumi adalah 15° Celcius, bumi sebenarnya telah lebih panas 33° Celcius dari suhunya semula. Jika tidak ada gas rumah kaca, suhu bumi hanya  -18° Celcius sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. “Pemanasan Global”, Loc. Cit.

Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami, tetapi dapat juga timbul karena aktivitas manusia. gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau, dan sungai. Karbon dioksida (CO2) yang timbul dari berbagai proses alam seperti letusan vulkanik, pernapasan hewan dan manusia (yang menghurup oksigen (O2) dan melepaskan karbon dioksida  (CO2)),  juga  pembakaran  material  organik.  Karbon   dioksidadapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap oleh tanaman  untuk proses fotosintesis. Abdul Razak, Kajian Yuridis Carbon Trade dalam Penyelesaian Efek Rumah Kaca, Op. Cit, hal. 11.

Matahari merupakan sumber energi bagi bumi. Sebagian besar energi tersebut adalah radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika  energi ini tiba di permukaan bumi, energi ini akan berubah dari energi cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi.

Permukaan bumi menyerap sebagian panas dan memantulkan sisanya ke luar angkasa. Sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya  memicu  naiknya  suhu  rata-rata  dipermukaan  bumi  maka   terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah  perubahan iklim secara global. Haneda, “Hubungan Efek Rumah Kaca Pemanasan global dan Perubahan Iklim”, 2004. Sebagaimana dimuat dalam http://www.scribd.com/doc/137891172/Efek-Rumah-Kaca-1, diakses pada 5 November 2013.

Sumbangan gas rumah kaca juga diberikan oleh aktivitas internal bumi, juga aktivitas manusia. Aktivitas internal bumi ternyata menimbulkan dampak terhadap bumi itu sendiri. Contoh proses vulkanik gunung berapi yang menyebabkan pemanasan global adalah letusan Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda yang terjadi pada 26-28 Agustus 1883. Letusan Gunung Krakatau sangat dahsyat. Gunung Krakatau yang pada mulanya merupakan pulau vulkanis yakni Pulau Krakatau, pada tahun 1883 Pulau Krakatau terangkat ke atas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, batu, pasir, dan debu, kemudian terlempar dengan kekuatan yang sangat amat dahsyat mencapai ketinggian troposfer, bahkan sampai sangat mungkin sampai pada ketinggian stratosfer. Hal ini dikarenakan material vulkanik tidak hanya jatuh di Selat Sunda tetapi sampai ke daerah-daerah lain. Bahkan debu (abu) vulkanik setelah berbulan-bulan masih menutupi atmosfer Eropa. Konon, setelah lewat dari 6 bulan, sebagian debu (abu) vulkanik jatuh di daratan    Eropa.Wisnu Arya Wardana, Dampak Pemanasan global, Op. Cit. Hal. 55-56. Pada saat debu (abu) vulkanik Krakatau melayang-layang di atmosfer, terjadilah lapisan “selimut abu” mengungkung bumi. Jadilah Pemanasan global pada tahun 1883 yang disebabkan aktivitas internal bumi.Ibid. Hal. 59.

Sedangkan sumbangan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia menurut hasil laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2007, secara umum kontributor emisi gas rumah kaca ini dapat dibagi menjadi tujuh kategori. Lebih dari seperempat emisi gas rumah kaca dihasilkan dari produksi listrik dan panas (26%). Sementara itu kegiatan industri menyumbang seperlima bagian (20%). Proporsi yang hampir mirip jika dibandingkan dengan gabungan emisi transportasi (13%) dan bangunan (8%). Deforestasi atau penebangan hutan di negara-negara berkembang juga menyumbanang hampir seperlima bagian (17%). Kegiatan perkebunan, terutama yang menghasilkan gas metan    (methane) mewakili 13% emisi global, dan sampah yang juga menghasilkan gas  metan hanya 3%. Araund Bohre, Nick Eyre, dan Nicholas Howarth, Carbon Markets An International Bussiness Guide, London, Earthscan, 2009, hal. 8.
Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi  fosil/BBF (Bahan Bakar Fosil). Bahan  bakar  fosil  merupakan  bahan  bakar  yang  terbentuk  dari  proses  alam      seperti dekomposisi anaerobik dari sisa-sisa organisme termasuk fitoplankton dan zooplankton yang mengendap ke bagian bawah laut (atau danau) dalam jumlah besar, selama jutaan tahun. Bahan bakar fosil merupakan sumber daya tak terbarukan karena proses pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun, sedangkan cadangan di alam habis jauh lebih cepat daripada proses pembentukannya. Seiring dengan perkembangan zaman, jumlah penduduk dunia juga terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, sehingga peningkatan akan kebutuhan energi tidak dapat dihindarkan lagi. Saat ini, hampir semua kebutuhan energi yang manusia gunakan diperoleh dari konversi sumber energi fosil, misalnya energi untuk pembangkit listrik, industri dan berbagai macam alat-alat transportasi. Lihat: Intisolar, “Dampak Pemakaian Energi Fosil”, sebagaimana dimuat dalam: http://www.intisolar.com/news/dampak_pemakaian_energi_fosil.html, diakses pada 24 Februari 2014.) Pengguna terbesarnya adalah negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dan lain- lain. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera- negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara  berkembang meski  tidak besar,  ikut  juga  berkontribusi  dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrialisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. “Efek Global Warming Terhadap Perubahan Iklim”, sebagaimana dimuat dalam http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1589--efek-global-warming-terhadap-perubahan-iklim, diakses pada 6 Januari  2013.

Pemanasan Global Dampak Rumah Kaca

Berdasarkan kronologis sejarah pemanasan global dimulai dari tahun  1841. Saat itu ilmuwan Jean Baptiste Joseph Fourier menulis tentang pemanasan bumi di surat kabar “Milwaukee Sentinel and Wisconsin Farmer” pada 4 Desember 1841. Namun saat itu pemanasan bumi dianggap sebagai suatu perkembangan positif bagi kehidupan manusia.

Pada tahun 1894 mulai banyak tulisan di surat kabar yang memberitakan tentang revolusi industri, seperti dimuat dalam “The Daily Mail North Western” dan di “The Daily Nebraska State Journal”.Divisi Penerbitan dan Dokumentasi PPLH Seloliman Malang Science Research  Institution, Ada Apa Dengan Ozon?, Mojokerto, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, 2007, hal. 29. Pada zaman ini peradaban manusia menemukan momentumnya ketika muncul revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap, lampu dan telepon. Manusia kemudian menciptakan mesin- mesin yang memudahkan hidupnya. Industrialisasi memberi banyak kebaikan sehingga pertumbuhan populasi manusia mulai meningkat pesat. Namun para ilmuwan mencatat periode ini menjadi titik awal polusi lingkungan dan proses industrialisasi. Proses industrialisasi merupakan bagian dari proses modernisasi dimana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat hubungannya dengan inovasi teknologi. Dalam industrialisasi ada perubahan filosofi manusia dimana manusia mengubah pandangan lingkungan sosialnya menjadi lebih kepada rasionalitas (tindakan didasarkan pada pertimbangan, efisiensi, dan perhitungan). Menurut para peneliti ada factor yang menjadi acuan industrialisasi, mulai dari lingkungan politik dan hukum yang menguntungkan untuk dunia industry dan perdagangan, bisa juga dengan sumber daya alam yang beragam dan melimpah, dan juga sumber daya manusia yang cenderung rendah biaya, memiliki kemampuan, dan dapat beradaptasi dengan pekerjaannya. Sebagaimana dimuat dalam “Industrialisasi”, http://id.wikipedia.org/wiki/Industrialisasi, diakses pada 24 Februari 2014.

Mulai dari jaman revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfer telah meningkat. Peningkatan gas-gas ini menyebabkan kemampuan atmosfer untuk menahan panas menjadi lebih besar. Sulfat aerosol, yaitu polutan udara yang umum ditemui, mendinginkan atmosfer dengan merefleksikan kembali radiasi cahaya dari matahari ke luar angkasa. Tetapi senyawa sulfat ini  mempunyai siklus umur yang pendek di atmosfer.

Para ilmuwan berasumsi bahwa pembakaran dari bahan bakar fosil dan beberapa aktivitas manusia yang memicu dan menjadi penyebab utama meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Respirasi dari tanaman dan proses dekomposisi bahan organik melepaskan karbon diokasida sepuluh kali lebih banyak dari yang mampu dihasilkan oleh aktivitas manusia, tetapi selama berabad-abad pelepasan karbon diokasida ini diimbangi dengan penyerapan karbon dioksida oleh vegetasi terestial dan laut. Keseimbangan ini terganggu disebabkan adanya pelepasan tambahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Bahan Bakar Fosil (BBF) dibakar sebagai sumber energi untuk menggerakan hampir seluruh peralatan manusia. Meningkatnya kegiatan agrikultural, penggundulan hutan, dibukanya area kosong sebagai tempat pembuangan, produksi  industri,  dan  pertambangan  juga  meningkatkan  emisi  dengan bagian yang cukup signifikan. Forum Hijau Indonesia, “Menyingkap Kebenaran Pemanasan Global”, 2012, sebagaimana dimuat dalam https://www.facebook.com/ForumHijauIndonesia/posts/321688517922252, diakses padaAgustus 2013.

Tahun 1913-1914 ilmuwan Swedia Laureate Svente Arrthenius memprediksi iklim bumi akan memanas secara perlahan. Seperti dikutip dalam Washington Post tanggal 23 Maret 1913, Arrhenius memprediksi perubahan ini akan terjadi ribuan tahun yang akan datang.

Tahun 1949-1950 seorang peneliti bernama GS Callendar menulis di Koran “The Nebraska State Journal” pada tanggal 23 Oktober 1949, bahwa efek gas rumah kaca adalah diakibatkan oleh ulah manusia. Respon dari para ilmuwan saat itu adalah mengembangkan cara baru untuk mengukur iklim bumi.

Tahun 1950-1970 pengembangan teknologi baru membawa kekhawatiran lebih besar tentang pemanasan global dan efek rumah kaca. Sejumlah studi menunjukkan tingkat karbon dioksida di atmosfir terus meningkat setiap tahunnya dan sarat tentang bahaya polusipun semakin meningkat.Divisi Penerbitan dan Dokumentasi PPLH Seloliman Malang Science Research  Institution, Ada Apa Dengan Ozon?, Op. Cit. Hal. 29-31.

Manusia telah mulai menyadari masalah pemanasan global ini  merupakan masalah global yang perlu dibicarakan secara serius di tingkat internasional.  Tahun 1972 dilaksanakan konfrensi lingkungan hidup pertama di Stockholm, Swedia. Pada pertemuan ini menghasilkan pendirian United Nations Environment Programme (UNEP),UNEP merupakan organisasi utama PBB di bidang lingkungan hidup, yang pada dasarnya melakukan  pemantauan  dan  penelitian  secara  ilmiah  pada  tingkat  global  dan  regional    serta memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah. UNEP juga melakukan kemitraan dan dukungan kapasitas pada tingkat nasional dengan tujuan untuk mengangkat isu lingkungan dalam pembangunan. Baca: Ella Syafputri, “Indonesia Usul UNEP Diperkuat”, 2013, sebagaimana dimuat dalam http://www.antaranews.com/berita/359758/indonesia-usul-unep-diperkuat, diakses pada 3 Januari 2014. Maurice Strong dari Kanada mengetuai konferensi dan akan ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif UNEP yang pertama.Fitria, “Kejadian Penting Perlindungan Lingkungan Dunia 1945 – 2002”, 2013, sebagaimana dimuat dalam http://lingkungan.net/2013/04/kejadian-penting-perlindungan-lingkungan-dunia-1945-2002/, diakses pada 3 Januari 2014.

Pertemuan lingkungan hidup ini lah yang menjadi cikal bakal pertemuan- pertemuan  selanjutnya untuk membahas  masalah  lingkungan  global   terutama masalah pemanasan global. Bagian ini hanya membahas sejarah pemanasan global. Sedangkan konferensi-konferensi internasional terkait pemanasan global secara rinci akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Daftar Pustaka Makalah Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Pemanasan Global dan Perubahan Iklim - Dampak Rumah Kaca dan Emisi Karbon Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment