Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 13 October 2015

Pengertian Bilyet Giro Fungsi Tujuan Dasar Hukum dan Keuntungan Pengguna daripada Cek

Pengertian Bilyet Giro adalah Menurut SK Direksi Bank Indonesia No. 28/32/KEP/DIR tahun 1995, yang dimaksud dengan Bilyet Giro adalah surat perintah nasabah yang telah distandadisir/dibakukan bentuknya kepada bank penyimpan dana untuk memindah bukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebut namanya pada bank yang sama atau berlainan.


Dari definisi ini dapat diketahui unsur-unsur Bilyet Giro, yaitu:
  1. Bahwa bentuk bilyet giro telah dibakukan/diseragamkan dengan keluarnya SE BI No. 4/670 tahun 1972.
  2. Pembayaran dengan Bilyet Giro merupakan pembayaran secara pemindahbukuan dari bank penyimpan dana milik penerbit kepada bank penerima dana milik pihak lain yang namanya disebut dalam Bilyet Giro ini.
  3. Bilyet Giro tidak dapat dibayar secara tunai dan hanya dapat dibayarkan kepada orang yang namanya sudah tercantum dalam Bilyet Giro tersebut, sekalipun bank penerima dana dapat bank yang sama maupun bank yang berbeda.
    Pembayaran dengan Bilyet Giro, antara pihak pembayar sebagai penerbit dan pihak penerima masing-masing harus sebagai nasabah suatu bank, baik bank sejenis maupun berbeda, Bilyet Giro juga dapat dialihkan kepada orang lain.


Para pihak yang terlibat dalam peredaran Bilyet Giro adalah:
  1. Penerbit, yaitu pihak yang telah menerbitkan Bilyet Giro. Penerbit harus mempunyai rekening giro pada suatu bank (disebut bank tertarik).
  2. Bank tertarik, yaitu bank yang mempunyai dana di bawah pengawasannya guna kepentingan penarik.
  3. Pemegang, yaitu pihak yang memegang Bilyet Giro pada saat menawarkan di bank tertarik.


Syarat Formal Bilyet Giro

Sama halnya dengan surat-surat berharga lainnya, maka Bilyet Giro juga harus ada syarat formalnya. Adapun syarat-syarat formal dalam Bilyet Giro antara lain:


  1. Nama dan Nomor Bilyet Giro
    Nama dan nomor seri Bilyet Giro harus tercantum dalam Bilyet Giro. Nomor seri Bilyet Giro berguna untuk memudahkan kontrol bagi bank apakah Bilyet Giro yang diserahkan kepada pemilik dana sudah diterbitkan sebagai mestinya dan sudah diterima.
  2. Nama Bank Tertarik
    Nama bank tertarik harus tercantum dalam Bilyet Giro.Hal ini menunjukkan bahwa penerbit adalah tersebut di mana dana sudah tersedia paling lambat pada saat amanat itu berlaku.
  3. Perintah Tanpa Syarat Pemindahbukuan
    Perintah yang jelas dan tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atas beban rekening penerbit. Dana tersebut harus tersedia cukup pada saat berlakunya amanat yang terkandung dalam Bilyet Giro itu.Perintah pemindahbukan itu harus tanpa syarat, artinya perintah pemindahbukuan itu tidak boleh diikuti dengan syarat
  4. Nama dan Nomor Rekening Pemegang.
    Pemegang adalah pihak yang memperoleh pemindahbukuan dana  sebagaimana diperintahkan oleh penerbit kepada bank tertarik. Agar dana dapat dipindahbukukan maka nomor dan nama rekening pemegang harus tertulis .
  5. Nama Bank Penerima
    Bank penerima adalah bank yang menatausahakan rekening pemegang. Bank penerima ini ada dua kemungkinannya, yaitu bank tertarik sendiri atau bank lain. Jika bank bank tertarik berarti pemindahbukuan itu hanya terjadi antar rekening nasabah pada bank yang sama. Tetapi apabila bank penerima itu  bank lain, maka pemindahbukuan itu terjadi antar rekening dan antar bank, dan pemindahbukuannya melalui lembaga kliring.
  6. Jumlah Dana yang Dipindahkan
    Jumlah  dana  yang  dipindahkan  ditulis  dalam  bentuk  angka  maupun huruf selengkap-lengkapnya. Dalam hukum wesel dan cek ada ketentuan, jika terdapat seleisih antara yang ditulis dalam angka dan yang ditulis dalam huruf m, yang dipakai adalah yang ditulis dalam huruf. Demikian juga dalam Bilyet Giro ketentuan Pasal 8 Ayat (1) Surat Keputusan Direksi bank Indonesia No. 28/32/Kep/Dir tahun1995 tentang Bilyet Giro.Alasannya adalah kemungkinan perubahan tulisan dalam huruf lebih sulit dibandingkan dengan perubahan angka.
  7. Tempat dan Tanggal Penarikan
    Tempat ini penting untuk mengetahui dimana perbuatan itu dilakukan.Tempat penarikan biasanya juga tempat dilakukan pembayaran, yaitu penyerahan bilyet giro kepada pemegang.Penyebutan tanggal penarikan juga penting sehubungan dengan tanggal efektif. Jika tanggal efektif tidak disebutkan,  maka tanggal efektif adalah tanggal penarikan.
  8. Tanda Tangan Penerbit
    Tanda tangan penerbit diikuti dengan nama jelas dan/atau dilengkapi dengan persyaratan pembukaan rekening. Tanda tangan penerbit adalah mutlak  adanya guna menentukan bahwa penerbit terikat dengan perbuatan hukum pemindahbukuan dana sebagai pemenuhan perjanjian (perikatan dasar) antara penerbit dan pemegang Bilyet Giro.
  9. Tanggal Efektif
    Pencantuman tanggal efektif merupakan syarat alternatif, artinya boleh dicantumkan dan boleh tidak dicantumkan.Namun jika dicantumkan maka tanggal    efektif    harus    dalam    tenggang waktu    penawaran.    Jika tidak dicantumkan maka tanggal efektif sama dengan tanggal penarikan. Dalam angka IV Surat Edaran Bank Indonesia nomor 2/10/DASP tanggal 8 Juni 2000 menentukan bahwa bank tertarik wajib menolak apabila suatu Bilyet giro tidak memenuhi persyaratan formal tersebut.
Pengertian Giro

Dasar Hukum Bilyet Giro

Dasar hukum pengaturan Bilyet Giro adalah sebagai berikut:
  1. Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998: “Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan mengunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan”
  2. Surat Edaran Bank Indonesia No. 4/670/UPPB/Pb tanggal 24 Januari 1972 yang disempurnakan dengan:
    • Surat Keputusan Direksi No. 28/32/KEP/DIR tanggal 4 Juli 1995
    • Surat Edaran No. 28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995
    • Surat Edaran No. 2/10/DASP tanggal 8 Juni 2000
    • Surat Edaran Bank Indonesia No. SE 12/8/UPPB tentang cek/bilyet giro kosong tanggal 9 Agustus 1979.


Menurut SEBI No. 4/670 UPPB/PbB tanggal 24 januari 1972, syarat- syarat formal giro bilyet sebagai berikut:
  1. Nama bilyet giro dan nomor seri
  2. Perintah yang jelas tanpa syarat untuk memindahbukukan sejumlah atas dana atas beban saldo penarik
  3. Nama dan tempat bank tertarik yang dituju perintah tersebut
  4. Nama pihak yang harus menerima pemindahbukuan dana, jika dianggap perlu alamatnya
  5. Jumlah dana  yang dipindahkan, baik dalam angka maupun huruf
  6. Tanda tangan penarik atau cap/stempel badan usaha jika penarik merupakan suatu perusahaan berbentuk badan usaha
  7. Tempat dan tanggal penarikan
  8. Tanggal mulai efektif berlakunya amanat/perintah dalam Bilyet Giro
  9. Nama bank tempat pihak yang harus menerima dana pemindahbukuan tersebut memelihaara rekening, sepanjang nama bank si penarik diketahui oleh  penarik.


Fungsi dan Tujuan Bilyet Giro

Bilyet Giro merupakan surat berharga, dimana surat tersebut merupakan surat perintah nasabah kepada bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan pada pihak penerima yang disebutkan namanya baik pada bank yang sama ataupun bank yang berbeda. Dalam Bilyet Giro terdapat tanggal efektif atau jatuh tempo yaitu selama 70 hari dengan demikian terdapat dua tanggal dalam teksnya yaitu tanggal penerbitan dan tanggal efektif. Sebelum tanggal efektif tiba, Bilyet Giro sudah dapat diedarkan sebagai alat pembayaran, tetapi tidak dapat dipindahtangankan melalui endosemen karena tidak terdapat klausula yang mnunjukkan cara pemindahannya.  Citrasa, "Pengertian Cek (Cheque) & Bilyet Giro",Melalui http://citrasayangmama- mandelacitra.blogspot.com/2012/06/cek-merupakan-salah-satu-sarana-yang.html, Diakses tanggal 7 Juni 2014.

Penggunaan bilyet giro semakin hari semakin meningkat bahkan dapat diperkirakan melampaui penggunaan warkat lainnya. Semakin tingginya penggunaan Bilyet Giro sebagai alat pembayaran tidak diiringi dengan pengaturan secara tegas, hal ini berbeda dengan cek sebagai alat pembayaran giral yang telah diatur dalam KUHD. Mengingat fungsi Bilyet Giro sebagai surat perintah nasabah kepada   bank untuk   memindahbukukan   sejumlah   dana   dari   rekening  yang bersangkutan kepada pihak penerima di bank yang sama atau di bank lain sangat bermanfaat sebagai alat pembayaran, dirasakan pentingnya ketentuan dan pengaturan mengenai prosedur penggunaan secara tegas dalam undang-undang.


Keuntungan penggunaan Bilyet Giro daripada cek,

yakni:
  1. Bilyet Giro dapat post dated, artinya dapat diberi tanggal lebih terhadap tanggal penarikannya. Pada Bilyet Giro terdapat tanggal penarikan dan terdapat pula tanggal efektif, yakni tanggal mulai berlakunya perintah pemindahbukuan yang tercantum dalam Bilyet Giro tersebut. Selama tanggal efektif belum jatuh waktu, maka pemindahbukuan tidak akan dilakukan, yang tidak melebihi 3 (tiga) tahun sejak tanggal penerbitan ;
  2. Tanggal Penerbitan adalah tanggal diterbitkannya surat perintah pemindahbukuan;
  3. Bilyet Giro dapat dibatalkan setiap saat selama belum jatuh tanggal efektifnya atau belum dilaksanakan amanatnya oleh tertarik .
  4. Karena formulir Bilyet Giro telah distandarisasikan bentuknya oleh BI, sehingga bila dilihat selintas bentuknya sama seperti cek (bahkan ada yang menamakan Bilyet Giro sebagai giro cek);
  5. Walaupun menurut ketententuan Bilyet Giro tidak dapat dipindahtangankan atau dialihkan hak tagihnya kepada pihak lain, tetapi kenyataannya penarik suatu Bilyet Giro sering tidak mencantumkan nama penerima dan nama bank dimana penerima dana mempunyai rekening. Sehingga BG sering kali dialihkan begitu saja hak tagihnya kepada pihak lain;
  6. Bilyet Giro sebagai warkat kliring, yaitu dapat diperhitungkan melalui  kliring antar bank, sehingga mudah bagi pemegangnya untuk mencairkan dananya.


Ketentuan No. 1 SEBI No. 4/670/UPPB/PbB tahun 1972 mengenai pengertian bilyet giro telah memberikan gambaran bahwa Bilyet Giro tidak dapat dialihkan atau dipindahtangankan dari tangan ke tangan maupun melalui endosemen. Ketentuan ini juga ditegaskan dengan pernyataan yang terdapat pada bagian belakang lembaran Bilyet Giro yang memuat kata-kata endosemen/penyerahan tidak diakui”, dengan demikian jelas bahwa Bilyet Giro tidak dapat dialihkan. Tentunya kita sudah mengetahui bahwa endosemen adalah suatu pernyataan memperalihkan suatu hak menagih atas surat piutang dari orang yang disebut dalam surat sebagai berhak menagih kepada penggantinya. M. Bahsan, Giro dan Bilyet Giro Perbankan Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005. hal. 39

Apabila surat perniagaan tersebut mudah pengalihannya, yang mana cukup dilakukan dengan penyerahan fisik dari surat perniagaan atau dengan endorsement maka surat tersebut tergolong ke dalam surat berharga, sedangkan apabila sulit pengalihannya harus secara cessie, maka surat tersebut tergolong ke dalam surat yang berharga.Di samping itu, dari syarat formil Bilyet Giro tercermin bahwa pemindahbukuan pada Bilyet Giro dilakukan atas nama, hal ini tercantum dalam syarat formil yang mengharuskan agar dicantumkannya nama pihak yang harus menerima pemindahbukuan dana dan jika perlu beserta alamatnya.

Jadi jelas dari sini terlihat bahwa pembayaran bilyet giro dilakukan atas nama, bukan atas unjuk, artinya hanya yang namanya tercantum di dalam Bilyet Giro itu sebagai penerima yang berhak menerima pembayaran melalui pemindahbukuan.  Selain itu, pada syarat formil Bilyet Giro menyebutkan  bahwa harus tercantum nama bank di mana penerima Bilyet Giro mempunyai rekening giro, sepanjang nama bank/penerima diketahui oleh penerbit. Jadi syarat ini boleh tidak dicantumkan dengan anggapan bahwa penerbit menyetujui dananya dipindahkan ke bank mana saja atas nama penerima.

Pada prakteknya, kedua ketentuan di atas telah memberikan celah bagi  para pengguna bilyet giro untuk mengalihkan bilyet giro ini. Pengalihan bilyet  giro ini hanya dimungkinkan apabila nama penerima dan namabank di mana pihak penerima mempunyai rekening belum dicantumkan dalam bilyet giro tersebut.

Dalam praktek biasanya bilyet giro sengaja diterbitkan oleh penerbit dengan tidak mencantumkan nama penerima dan nama bank penerima  memelihara rekening gironya. Apabila kondisi ini terjadi, maka ini memungkinkan pihak yang pertama menerima bilyet giro dari penerbit untuk mengalihkan bilyet giro ini kepada pihak lain dan biasanya pihak yang mengalihkan bilyet giro ini membubuhkan tandatangan dan cap/stempel pada bagian belakang bilyet giro tersebut yang membenarkan bahwa bilyet giro itu berasal dari dia dan dia akan bertanggung jawab terhadap pihak yang menerima pengalihan apabila terjadi sesuatu hal yang menghambat pembayaran terhadap bilyet giro tersebut misalnya terjadi bilyet giro kosong.

Setelah terjadi pengalihan ini, pengalihan berikut masih dimungkinkan sepanjang nama penerima dan nama bank penerima pada bilyet giro tersebut belum terisi, namun biasanya pengalihan hanya terjadi sekali saja karena pada dasarnya pengalihan dalam bilyet giro adalah tidak diperkenankan dan biasanya pengalihan hanya terjadi di antara orang-orang yang sudah kenal dekat atau saling percaya. Abdul Marhainis Hay. Hukum Perbankan Di Indonesia. Pradnya Pramita, Jakarta,  1995, hal. 18

Apabila penerima terakhir bilyet giro ini hendak menuntut pembayaran terhadap bilyet giro yang diterimanya, maka penerima ini baru mencantumkan namanya dan nama bank yang akan menerima dana pemindah bukuan  dalam bilyet giro ini. Dalam hal ini, bank tertarik tidak perlu melakukan pengecekan apakah pengisian bilyet giro dilakukan oleh penerbit sendiri atau orang lain, karena telah ada ketentuan yang membenarkan pengisian bilyet giro oleh orang lain selain dari pada penerbit sendiri.

Bilyet giro itu tetap sah adanya walaupun pengisiannya dilakukan oleh orang lain selain penerbit asalkan terdapat tandatangan yang sah dari penerbit dalam bilyet giro tersebut dan apabila terdapat pengisian yang sifatnya merupakan suatu perubahan amanat, maka perubahan itu haruslah disahkan oleh penerbit  yang bersangkutan yang ditandai dengan adanya tanda tangan sah dari penerbit di dekat penulisan perubahan tersebut.

Namun perlu diperhatikan bahwa terdapat kelemahan untuk mendeteksi kebenaran pihak yang melakukan pengalihan karena dalam pengalihan tidak ada keharusan untuk mencantumkan identitas dari pihak pengalih seperti Kartu Tanda Penduduk, sehingga tidak ada dasar specimen untuk pencocokan tanda tangan. Dan hal ini akan menyulitkan apabila timbul permasalahan di kemudian hari. Hal inilah yang menyebabkan pengalihan hanya sering terjadi diantara orang-orang yang telah saling percaya.


Dafftar Pustaka untuk Makalah Bilyet Giro

Pengertian Bilyet Giro Fungsi Tujuan Dasar Hukum dan Keuntungan Pengguna daripada Cek Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment