Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Hadhanah (Pemeliharaan Anak) Definisi Dalam Hukum Islam Setalah Orang Tua Bercerai

Pengertian Hadhanah (Pemeliharaan Anak) Dalam Hukum Islam adalah Perceraian bukanlah halangan bagi anak untuk memperoleh hak pengasuhan atas dirinya dan kedua orang tuanya, satu hal yang menjadi ketakutan besar bagi seorang anak adalah perceraian orang tua, ketika perceraian terjadi anak akan menjadi korban utama. Orangtua yang bercerai harus tetap memikirkan bagaimana membantu anak untuk mengatasi penderitaan akibat perpisahan orang tuanya. Orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab untuk membayarkan hak-hak anak keturunan mereka. Namun, tidak jarang tugas seperti itu menjadi terputus baik atas kehendak suami istri, maupun diluar kehendak mereka. Suatu perceraian, khusus pada cerai hidup meskipun bisa melegakan hati dua belah pihak, tetapi sudah pasti merupakan pengalaman pahit bagi sang anak.


Setelah bercerainya kedua orangtua tentunya akan adanya hak hadhanah terhadap si anak baik kepada si ibu maupun ayahnya berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan oleh hakim. Hadhanah merupakan kebutuhan atau keharusan demi kemaslahatan anak itu sendiri, sehingga meskipun kedua orang tua mereka memiliki ikatan atau sudah bercerai anak tetap berhak mendapatkan perhatian dari kedua anakanya.
Hadhanah adalah kegiatan mengasuh, memelihara dan mendidik anak hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri. Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Presindo, Jakarta, 2004, hal.113

Hadhanah menurut bahasa adalah Al- Janbu berarti erat atau dekat, sedangkan menurut istilah memelihara anak laki-laki atau perempuan yang masih kecil dan belum dapat mandiri, menjaga kepentingan anak, melindungi dari segala yang membahayakan dirinya, mendidik rohani dan jasmani serta akalnya supaya si anak dapat berkembang dan dapat mengatasi persoalan hidup yang akan dihadapinya. Hakim Rahmat, Hukum Perkawinan Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2000, hal.224

Pengertian diatas selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh sayyid sabiq bahwa hadhanah adalah melakukan pemeliharaan anak yang masih kecil, laki- laki ataupun perempuan atau yang sudah besar belum mumayyiz tanpa kehendak dari siapapun, menjaga dari sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani dan rohani agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawabnya. Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Juz 8, Al-Ma’aruf, Bandung, 1984, hal.179 

Berdasarkan pengertian diatas  hadhanah  merupakan  pemeliharaan  anak dari   sejak mengandung sampai melahirkan anak di waktu masih bayi yang tentunya memerlukan belaian kasih sayang seorang ibu yang akan menghangatkan dengan kasih sayangnya. Namun disamping itu sendiri para fuqoha mendefinisikan hadhanah sebagai berikut :
  1. Fuqaha Hanifah
    Hadhanah merupakan salah satu usaha mendidik anak yang dilakukan orang yang mempunyai hak mengasuh. Huzaemah T Yanggo, Fiqh Anak, Al-Mawardi, Jakarta, 2004, hal.101 
  2. Ulama Syafi’iah
    Hadhanah merupakan mendidik orang yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri dengan apa yang bermaslahat baginya dan memeliharanya dari apa yang membahayakan meskipun orang itu telah dewasa. Ibid


Ulama fiqh mengatakan hadhanah merupakan suatu kewenangan untuk merawat dan mendidiknya anak yang belum mumayiz bahkan orang dewasa akan tetapi kehilangan akalnya. Sehingga ulama fiqh mengatakan yang lebih utama untuk mengasuh anak adalah kaum wanita. S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah, Pustaka Amani, Jakarta, 2002, hal.322

Dalam pemeliharaan anak terjadi kerancuan terhadap perwalian, oleh karena itu harus dibedakan antara pemeliharaan dan perwalian. Abdul Manan  dalam  artikel  mimbar hukum,Abdul Manan, Op.cit, hal.66  mengemukakan perwalian jika kekuasaan dicabut dari kedua orang tuanya, maka berdasarkan pasal 50 ayat (1) Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Pelaksanaan penguasaan anak akan diurus oleh wali yang ditunjuk. Jadi perwalian itu terjadi akibat dari pencabutan orang tua (onderlyke macht) terhadap anak-anaknya. Bahkan terjadi ketika orang tua sudah meninggal dunia maka harus ada perwalian yang bertanggung jawab yang meliputi diri pribadi dan harta benda yang berada dalam perwaliannya.

Dalam hal ini pengertian hadhanah dan perwalian jangan sampai rancu dalam mengartikannya, Hadhanah merupakan suatu kewenangan untuk memelihara dan mendidik anak yang masih kecil yang belum bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan tentunya mengasuh anak orang yang sudah dewasa akan tetapi kehilangan akalnya atau idiot. Sedangkan perwalian yaitu pelaksanaan penguasaan anak baik diri pribadi dan harta benda yang akan dijalankan terhadap orang yang bertanggung jawab.

Hukum pemeliharaan anak itu sendiri yaitu hukumnya wajib, sebagaimana wajibnya masih dalam ikatan perkawinan, lain halnya apabila terjadinya sebuah perceraian antara keduanya sehingga harus ditentukan hak hadhanah, sehingga dibutuhkan biaya hidup dalam pemeliharaan anak.

Faktor untuk kecakapan atau kepatutan untuk memelihara anaknya maka harus ada syarat- syarat tertentu, yaitu : Ibnu Qasim, Tausyih Ala Ibnu Qasim, Al-Hidayah, TT, Surabaya, hal.234-235
  1. Berakal   sehat,   karena   orang   gila   tidak   boleh   menangani   dan   menyelenggarakan hadhanah.
  2. Merdeka, sebab seorang budak kekuasaannya kurang lebih terhadap anak dan kepentingan terhadap anak lebih tercurahkan kepada tuannya.
  3. Beragama Islam, karena masalah ini untuk kepentingan agama yang ia yakini atau masalah perwalian yang mana Allah tidak mengizinkan terhadap orang kafir.
  4. Amanah.
  5. Belum menikah dengan laki- laki lain bagi ibunya.
  6. Bermukim bersama anaknya, bila salah satu diantara mereka pergi maka ayah  lebih berhak karena untuk menjaga nasabnya.
  7. Dewasa, karena anak kecil sekalipun mumayyiz tetapi ia butuh orang lain  untuk  mengurusi dirinya.
  8. Mampu mendidik, jika penyakit berat atau perilaku tercela maka membahayakan jiwanya. Musthafa Kamal Pasha, Chalil, Wahardjani, Fikih Islam, Citra Karsa Mandiri, Yogyakarta, 2002, hal.304
Pengertian Hadhanah

Sedangkan dalam KHI pada pasal 156 juga mengatur tentang hadhanah  pada  perceraian:
  1. Anak yang belum mumayyiz dipelihara oleh ibunya kecuali  telah  meninggal  dunia,  maka kedudukannya diganti oleh;
    • Wanita- wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu,
    • Ayah,
    • Wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah,
    • Saudara- saudara perempuan dari anak yang bersangkutan,
    • Wanita- wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ibu,
    • Wanita- wanita sedarah menurut garis samping ayah.
  2. Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih  untuk  mendapatkan  hadhanah  dari  ayahnya atau ibunya.
  3. Apabila pemegang hadhanah tidak dapat menjamin keselamatan jasmani  dan  rohani  anak meskipun tercukupi biayanya, maka atas permintaan kerabat yang juga mempunyai hak yang dapat menuntut ke pengadilan untuk memindahkan hak hadhanah.
  4. Biaya hadhanah tangung jawab ayah sekurang- kurangnya sampai dewasa dan dapat mengurus sendiri 21 (dua puluh satu) tahun.
  5. Apabila ada perselisihan PA dapat memutuskan berdasarkan a, b, c dan d.
  6. Pengadilan dapat pula mengingat kemampuan ayahnya pada penetapan jumlah biaya untuk memelihara dan pendidikan anak.


Adapun hikmah hak memelihara anak menurut Ali Ahmad Al- Jurjawi dilihat dari 2 segi:
  1. Tugas laki- laki dalam urusan penghidupan dan masyarakat berbeda  dengan  tugas  wanita, perhatian seorang ibu terhadap anaknya lebih tepat dan cocok untuk memelihara anaknya.
  2. Seorang ibu mempunyai rasa kasih sayang yang lebih besar terhadap anaknya dari pada seorang ayah dan curahan hati tercurah lebih untuk anaknya.


Dasar dari pada hukum pemeliharaan anak itu sendiri yaitu hukumnya wajib, sebagaimana wajibnya masih dalam ikatan perkawinan, lain halnya apabila terjadinya sebuah perceraian terjadi diantara keduanya sehingga harus ditentukan hak hadhanah, sehingga dibutuhkan biaya hidup dalam pemeliharaan anak.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 2:233 yang berbunyi :
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian  kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian.  apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan  permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

Dalam ayat tersebut menjelaskan bagaimana ibu menyusui adalah hak ibu mendapatkan nafkah bagi si ibu dan terutama anaknya, karena bapak berkewajiban mencukupi sandang dan pangan. Mereka dibangsakan atas nama bapak dan pemberian nafkah itu juga hendaklah sesuai dengan kelayakan si wanita dalam lingkungannya, sehingga ia tidak mengalami kesulitan dalam bentuk pelayanan apapun cara-cara penuaiannya.

Ayah dan ibu sebaiknya saling berbagi dalam susah dan kebahagiaan terhadap anak dan menjadikan anak yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa tanpa menelantarkan dan menyusahkan si anak tanpa di beri hak hadhanah yang hanya mementingkan hal pribadi dan apapun itu mengenai kebutuhan anak harus diperhatikan demi kebaikan dan kelangsungan pertumbuhannya baik dari segi jasmani maupun rohaninya.

Daftar Pustaka Makalah Hadhanah (Pemeliharaan Anak) Dalam Hukum Islam

Pengertian Hadhanah (Pemeliharaan Anak) Definisi Dalam Hukum Islam Setalah Orang Tua Bercerai Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

1 comments: