Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Komunikasi Kelompok Deskriptif Perspektif Fungsi dan Proses Menurut Para Ahli

Pengertian Komunikasi Kelompok adalah merupakan dasar semua interaksi manusia dan untuk semua fungsi kelompok. Setiap kelompok harus menerima dan menggunakan informasi dan proses-proses yang terjadi melalui komunikasi. Eksistensi kelompok tergantung pada komunikasi, pada pertukaran informasi dan meneruskan (transmitting) arti komunikasi.


Komunikasi kelompok (group communication) termasuk komunikasi tatap muka (face to face) karena komunikator dan komunikan berada dalam situasi saling berhadapan dan saling melihat.

Sama dengan komunikasi antarpesona, komunikasi kelompok pun menimbulkan arus balik langsung. Komunikator mengetahui tanggapan komunikan pada saat sedang berkomunikasi sehingga, apabila disadari bahwa komunikasinya kurang atau tidak berhasil, ia dapat segera mengubah gayanya.

Antara komunikasi kelompok dengan komunikasi antar pribadi sebenarnya tidak perlu ditarik suatu garis pemisah. Baik komunikasi kelompok maupun komunikasi antar pribadi melibatkan dua atau lebih individu yang secara fisik berdekatan dan yang menyampaikan serta menjawab pesan-pesan baik secara verbal maupun nonverbal. Akan tetapi, komunikasi antar pribadi biasanya dikaitkan dengan pertemuan antara dua, tiga atau mungkin empat orang yang terjadi secara sangat spontan dan tidak berstruktur, sedangkan komunikasi kelompok terjadi dalam suasana yang lebih berstruktur di mana para pesertanya lebih cenderung melihat dirinya sebagai kelompok serta mempunyai kesadaran tinggi tentang sasaran bersama. Komunikasi kelompok lebih cenderung dilakukan secara sengaja dan umumnya para pesertanya lebih sadar akan peranan dan tanggung jawab mereka masing-masing.(Goldberg, 1985:8-9)

Titik berat perhatian komunikasi kelompok adalah pada gejala komunikasi dalam kelompok kecil tentang bagaimana caranya untuk dapat lebih mengerti proses komunikasi kelompok, memperkirakan hasilnya serta lebih meningkatkan proses komunikasi kelompok.

a. Komunikasi Kelompok Kecil
Suatu situasi komunikasi dinilai sebagai komunikasi kelompok kecil  (small group communication) apabila situasi komunikasi seperti itu dapat diubah menjadi komunikasi antarpersona dengan setiap komunikan.

Dengan perkataan lain, antara komunikator dengan setiap komunikan dapat terjadi dialog atau tanya jawab. Dibandingkan dengan komunikasi antarpersona, komunikasi kelompok kecil kurang efektif dalam mengubah sikap, pendapat, dan perilaku komunikan, karena diri tiap komunikan tidak mungkin dikuasai seperti halnya pada komunikan komunikasi antarpesona.

Dibandingkan dengan komunikasi kelompok besar, komunikasi kelompok kecil lebih bersifat rasional. Ketika menerima suatu pesan dari komunikator,  komunikan menanggapinya dengan lebih banyak menggunakan pikiran daripada perasaan. (Effendy, 2004:8)

Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lainnya. Komunikasi kelompok kecil oleh banyak kalangan dinilai sebagai tipe komunikasi antar pribadi karena: Pertama, anggota- anggotanya terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka. Kedua, pembicaraan belangsung secara terpotong-potong; semua peserta bisa berbicara dalam kedudukan yang sama, dengan kata lain tidak ada pembicara tunggal yang mendominasi situasi. Ketiga, sumber dan penerima sulit diidentifikasi. Dalam situasi seperti ini, semua anggota bisa berperan sebagai sumber dan juga sebagai penerima.

Tidak ada batas yang menentukan secara tegas berapa besar jumlah anggota suatu kelompok kecil. Biasanya antara 2-3 orang, bahkan ada ynag mengembangkan sampai 20-30 orang, tetapi tidak lebih dari 50 orang. (Cangara, 2007:33)


b. Komunikasi Kelompok Besar
Suatu situasi komunikasi dinilai sebagai komunikasi kelompok besar (large group communication) jika antara komunikator dan komunikan sukar  terjadi komunikasi antarpersona. Kecil kemungkinan untuk terjadi dialog seperti halnya pada komunikasi kelompok kecil.

Pada situasi komunikasi seperti itu para komunikan menerima pesan yang disampaikan komunikator lebih bersifat emosional. (Effendy, 2004:9)


Proses-proses Komunikasi Kelompok

Ada beberapa alasan tentang hal-hal yang terjadi apabila individu-individu berinteraksi dalam kelompok kecil. Salah satunya adalah karena banyak kejadian yang timbul pada saat bersamaan, sehingga sulit bagi seorang yang berpartisipasi dalam suatu kegiatan untuk dapat memahami kejadian-kejadian yang berlangsung begitu cepat serta saling berkait dan bertumpang tindih. Alasan lain ialah kemungkinan individu belum dilengkapi dengan konsep-konsep untuk mengartikan setiap gejala yang ada, atau mungkin ada, tetapi belum dilengkapi dengan persyaratan-persyaratan konseptual yang memungkinkan individu melihat keseluruhan proses melalui sebagian komponen yang ada. Oleh karena itu, strategi yang harus dilakukan mencakup dua segi, yaitu:
  1. Kita harus mencoba mengisolir beberapa proses yang sederhana dan mudah dimengerti dari sekian banyak proses-proses yang timbul secara simultan dalam komunikasi kelompok.
  2. Kita harus menggunakan beberapa istilah yang akan memudahkan kita mengorganisir pengamatan.


Dalam suatu penyelidikan lain, Scheidel dan Crowell memberi perhatian khusus pada kejadian-kejadian umpan balik (feedback events) yang terjadi dalam diskusi kelompok kecil. Dengan mengartikan kejadian-kejadian umpan balik sebagai “kejadian di mana komentar yang dilontarkan salah satu peserta (X) setelah diikuti oleh komentar yang dilontarkan peserta lain (Y), kemudian langsung diikuti lagi oleh komentar peserta pertama (X),” Peneliti-peneliti ini mendapatkan  bahwa lebih kurang sepertiga dari keseluruhan interaksi terdiri dari kegiatan umpan balik. Pada saat terjadinya umpan balik, prosesnya ditandai oleh komentar tetapi tanda persetujuan atau komentar yang diarahkan pada aspek yang tidak terlalu penting akan isi diskusi. Proses umpan balik seolah-olah tidak mendorong anggota untuk mengubah tujuan atau memperbaiki cara berpikir maupun melahirkan ide-ide.

Beberapa penjelasan tentang penelitian hubungan (contiguity research) kiranya perlu dikemukakan pada titik ini.

Pertama, orientasi peneliti hubungan adalah menguraikan proses komunikasi kelompok dengan cara mengkategorikan pernyataan atau ucapan-ucapan anggota kelompok ke dalam berbagai “kelas” atau “tipe”. Pola hubungan yang berkaitan di antara berbagai kelas serta ucapan verbal kemudian dianalisis.

Kedua, gambaran yang secara random dan tidak dapat diduga dari proses komunikasi kelompok  yang timbul dalam penelitian hubungan tidak akan  selalu cocok dengan penelitian yang telah menganut orientasi atau tingkatan analisis yang berbeda.

Ketiga, walaupun ada kemungkinan bahwa kelas-kelas atau kategori-kategori ucapan anggota kelompok tidak berhubungan secara sistematis satu sama lain, paling tidak proses komunikasi kelompok agak lebih sistematis dan lebih dapat diperkirakan apabila seseorang mengubah tingkatan analisisnya untuk memusatkan perhatian pada fase-fase yang dilalui kelompok  dalam mendiskusikan suatu masalah. (Goldberg, 1985:20-25)


Karakteristik proses komunikasi kelompok:
  1. Komunikasi kelompok merupakan suatu proses sistemik
    Proses itu terjadi dalam suatu sistem. Komponen-komponen dari sistem yang dimaksud adalah: konteks-situasional, komunikator, pesan, penerima, dan pola interaksi yang muncul ketika suatu kelompok berkomunikasi. Untuk memahami pesan-pesan atau pola interaksi tersebut, haruslah dipahami sikap, nilai-nilai, dan keyakinan komunikator, konteks di mana kelompok yang bersangkutan berkomunikasi, orientasi cultural dan linguistik kelompok, dan serangkaian faktor psikologis.
  2. Komunikasi kelompok adalah bersifat kompleks.
    Kompleksitas itu disebabkan oleh:
    • dimensi sistemik yang mempengaruhi komunikasi kelompok berfungsi secara simultan. Jadi ketika seseorang berkomunikasi dalam kelompok, maka kebudayaannya, situasi dan tatanan psikologis, semuanya berinteraksi dan memberi saham bagi diskusi yang berlangsung
    • pengaruh dari faktor-faktor tersebut bila kita berinteraksi. Suatu saat mungkin sikap mental kita paling berpengaruh dalam arus komunikasi, di saat selanjutnya mungkin konteks atau sejumlah tradisi kultural atau ritual yang mendominasi interaksi yang berlangsung saat itu.
  3. Komunikasi kelompok adalah bersifat dinamik.
Komunikasi kelompok terjadi dalam suatu jangka waktu tertentu. Kemampuan kita untuk saling tergantung adalah ditentukan oleh pertukaran pesan yang berkesinambungan. Kita mengucapkan sesuatu dan memberi respon pada hal tersebut. Lantas melalui umpan balik kita belajar mengenai perasaan orang terhadap sikap dan nilai-nilai kita.

Singkatnya, komunikasi kelompok dapat dirumuskan sebagai suatu persepsi bersama, motivasi, dan pencapaian tujuan. Namun begitu, sifat esensial komunikasi kelompok adalah interdependensi. Anggota kelompok adalah saling mempengaruhi satu sama lain, dan juga sampai derajat tertentu saling mengontrol dan mengendalikan. (Nasution, 1990:27-28)

Kelompok adalah sekumpulan orang-orang yang terdiri dari dua atau tiga orang bahkan lebih. Kelompok memiliki tujuan dan aturan-aturan yang dibuat sendiri dan merupakan kontribusi arus informasi di antara mereka sehingga mampu menciptakan atribut kelompok sebagai bentuk karakteristik yang khas dan melekat pada kelompok itu. Kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat mengatur sirkulasi tatap muka yang intensif di antara anggota kelompok, serta tatap muka itu pula akan mengatur sirkulasi komunikasi makna di antara mereka, sehingga mampu melahirkan sentimen-sentimen kelompok serta kerinduan di antara mereka.

 Pengertian Komunikasi Kelompok

Fungsi Komunikasi Kelompok

Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup:
  1. Fungsi hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya.
  2. Fungsi pendidikan, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja untuk mencapai dan mempertukarkan pengetahuan. Fungsi pendidikan tergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok, serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompok membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya.
  3. Fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya memersuasi anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
  4. Fungsi problem solving, kelompok juga dicerminkan dengan kegiatan- kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahan masalah menghasilkan materi atau bahan untuk pembuatan keputusan.
  5. Fungsi terapi. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Obyek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnya. Tentunya, individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalah membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. (Bungin, 2006:172)



Bentuk-bentuk Komunikasi Kelompok

Komunikasi Kelompok Deskriptif


Para ahli komunikasi kelompok menunjukkan tiga kategori kelompok yang besar, yaitu:
1. Kelompok Tugas: Model Fisher
Aubrey Fisher meneliti tindak komunikasi kelompok tugas, dan menemukan bahwa kelompok melewati empat tahap: orientasi, konflik, pemunculan, dan peneguhan. Pada tahap pertama, setiap anggota berusaha saling mengenal, saling menangkap perasaan yang lain, mencoba menemukan peranan dan status. Ini adalah tahap pemetaan masalah. Pada tahap kedua, konflik terjadi peningkatan perbedaan di antara anggota. Masing-masing berusaha  mempertahankan posisinya. Terjadinya polarisasi dan kontroversi di antara anggota kelompok. Tindak komunikasi pada pendirian masing-masing, dan biasanya menghubungkan diri dengan pihak yang pro dan kontra. Pada tahap ketiga, pemunculan (emergence) orang yang mengurangi tingkat polarisasi dan perbedaan pendapat. Di sini, anggota yang menentang usulan tertentu menjadi bersikap tidak jelas. Tindak komunikasi umumnya berupa usulan-usulan yang ambigu. Pada tahap keempat, Peneguhan para anggota memperteguh consensus kelompok. Mereka mulai memberikan komentar tentang kerja sama yang baik dalam kelompok    dan memperkuat keputusan yang diambil oleh kelompok. Pernyataan umumnya bersifat positif dan melepaskan ketegangan.

2. Kelompok Pertemuan: Model Bennis dan Shepherd
Pada tahun 1946, Kurt Lewin secara tidak sengaja menemukan dasar-dasar yang merintis munculnya kelompok sensitivitas. Pada tahun 1960-an muncul kelompok pertemuan untuk pengembangan diri. Pada tahun 1970-an para peneliti menemukan bahwa kelompok pertemuan bukan saja dapat  membantu pertumbuhan diri, tetapi juga mempercepat penghancuran diri. Beberapa peneliti mencatat adanya kerusakan psikis akibat kepemimpinan kelompok yang merusak. Seperti kita ketahui, orang memasuki kelompok pertemuan untuk mempelajari diri mereka dan mengetahui bagaimana mereka dipersepsi oleh anggota yang lain. Banyak model yang dikemukakan, tetapi di sini kita akan mengambil model Bennis dan Shepherd, yang uraiannya kita kutip dari Cragan dan Wright (1980).

Model ini mengatakan ada dua tahap dalam kelompok pertemuan, yaitu:
  1. Kebergantungan pada otoritas
  2. Kebergantungan satu sama lain.


3. Kelompok Pentadar: Model Chesebro, Cragan, dan McCullough
Pada tahun 1960-an di Amerika muncul gerakan emansipasi wanita yang radikal. Mereka membentuk kelompok-kelompok yang menggerakkan kelompok wanita yang menentang masyarakat yang mendominasi pria. Diskusi kelompok mereka ikut serta menumbuhkan gerakan Women’s lib. Model mereka ini kemudian digunakan oleh gerakan radikal lainnya. Tahun 1978 dunia dikejutkan dengan bunuh diri missal 900 orang anggota Kuil Rakyat dari Pendeta Jimmy Jones. Gerakan   ini   pun   menggunakan   komunikasi   kelompok   untuk menimbulkan kesadaran pada anggota-anggotanya. Pada tahun 1970 James Chesebro, John Cragan, dan Patricia McCullough melakukan studi lapangan di Minnesota tentang gerakan revolusioner kaum homoseksual. Dari penelitian inilah mereka merumuskan empat tahap perkembangan kelompok penyadar, yaitu:
  1. Kesadaran diri akan identitas baru
  2. Identitas kelompok melalui polarisasi
  3. Menegakkan nilai-nilai baru bagi kelompok
  4. Menghubungkan diri dengan kelompok revolusioner lainnya.

Komunikasi Kelompok Perspektif

Berdasarkan uraian di atas, komunikasi kelompok dapat dipergunakan untuk menyelesaikan tugas, memcahkan persoalan, membuat keputusan,  atau melahirkan gagasan kreatif, membantu pertumbuhan kepribadian seperti dalam kelompok pertemuan, atau membangkitkan kesadaran sosial politik. Tidak terlalu salah kalau kita katakan bahwa komunikasi kelompok berfungsi sebagai katup pelepas perasaan tidak enak sampai pembuat gerakan revolusioner, sejak sekedar pengisi waktu sampai basis perubahan sosial. Berbagai komunikasi kelompok ini menurut formatnya dapat diklasifikasikan pada dua kelompok besar: privat dan publik (terbatas dan terbuka). Kelompok pertemuan (kelompok terapi), kelompok belajar, panitia, konferensi (rapat) adalah kelompok privat. Panel, wawancara terbuka (public interview), forum, simposium termasuk kelompok publik.

Di sini kita akan mempergunakan format diskusi dari Cragan dan Wright (1980): meja bundar, simposium, diskusi panel, macam-macam forum, kolokuium, dan prosedur parlementer. Dari sini kita menguraikan langkah-langkah rasional yang merupakan sistem agenda pemecahan masalah. (Rakhmat, 2001:175-180)

Daftar Pustaka Makalah Komunikasi Kelompok

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sears, David O. 1994. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana.

Nasution, Zulkarimein. 1990. Prinsip-Prinsip Komunikasi untuk Penyuluhan. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Goldberg, Alvin A. dan Carl E. Larson. 1985. Komunikasi Kelompok, Proses- Proses Diskusi dan Penerapannya. Jakarta: Universitas Indonesia.

Effendy, Onong Uchjana. 2004. Dinamika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Pengertian Komunikasi Kelompok Deskriptif Perspektif Fungsi dan Proses Menurut Para Ahli Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment