Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Perilaku Manusia Macam Faktor yang Mempengaruhi Hubungan dengan Sikap

Pengertian Perilaku manusia adalah berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia, sedang dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian, perilaku merupakan perwujudan dari adanya kebutuhan. Perilaku dikatakan wajar apabila ada penyesuaian diri yang harus diselaraskan peran manusia sebagai makhluk individu, sosial dan berketuhanan.


Karakteristik perilaku ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Perilaku terbuka adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat Bantu. Perilaku tertutup adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu, misalnya berpikir, sedih, berkhalayal, bermimpi, dan takut.

Perilaku atau perbuatan manusia tidak terjadi secara sporadis (timbul dan hilang pada saat-saat tertentu), tetapi selalu ada kelangsungan kontinuitas antara satu perbuatan dengan perbuatan berikutnya. Perilaku manusia tidak pernah berhenti pada suatu saat. Perbuatan yang dulu merupakan persiapan perbuatan yang kemudian dan perbuatan yang kemudian merupakan kelanjutan perbuatan sebelumnya.

Tiap-tiap perilaku selalu mengarah pada suatu tugas tertentu. Hal ini tampak jelas pada perbuatan-perbuatan belajar atau bekerja, dan juga pada perilaku lain yang nampaknya tidak ada tujuannya, misalnya pada hewan. Usaha dan perjuangan pada perilaku manusia berbeda, karena yang diperjuangkan adalah sesuatu yang dipilih dan ditentukannya sendiri. Manusia tidak akan memperjuangkan sesuatu yang sejak semula memang tidak diperjuangkannya. Manusia mempunyai aspirasi yang diperjuangkan, sedangkan hewan hanya berjuang untuk memperoleh sesuatu yang sudah diberi oleh alam. (Purwanto, 1998:10-12)

Faktor yang mempengaruhi Perilaku Manusia

  1. Keturunan
    Keturunan diartikan sebagai pembawaan yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Keturunan sering disebut pula dengan pembawaan atau heredity. Pengaruh faktor keturunan bagi perilaku diperlukan pengembangan pada masa pertumbuhannya. Dalam keturunan terdapat beberapa azas, yaitu:
  2. Azas reproduksi, yaitu kecakapan dari ayah atau ibu tidak dapat diturunkan kepada anaknya karena kecakapan merupakan hasil belajar tiap individu.
  3. Azas variasi, yaitu penurunan sifat dari orang tua pada keturunannya terdapat variasi baik kualitas maupun kuantitas.
  4. Azas regresi filial, yaitu adanya penyusutan sifat-sifat ornag tua yang diturunkan kepada anaknya.
  5. Azas jenis menyilang, yaitu apa yang diturunkan kepada anak mempunyai sasaran menyilang. Ibu akan menurunkan lebih banyak sifatnya pada anak laki- laki dan ayah akan menurunkan lebih banyak sifatnya pada anak perempuan.
  6. Azas komfromitas, yaitu setiap individu akan menyerupai ciri-ciri yang diturunkan oleh kelompok rasnya.


2. Lingkungan
Lingkungan sering disebut miliu, environment atau juga disebut nurture. Lingkungan dalam pengertian psikologi adalah segala apa yang berpengaruh pada diri individu dalam berperilaku. Lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan dan kehidupan manusia. Lingkungan dapat digolongkan:
  1. Lingkungan manusia
    Yang termasuk ke dalam lingkungan ini adalah keluarga, sekolah dan masyarakat, termasuk di dalamnya kebudayaan, agama, taraf kehidupan, dan sebagainya.
  2. Lingkungan benda, yaitu benda yang terdapat di sekitar manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia yang berada di sekitarnya.
  3. Lingkungan geografis. Latar geografis turut mempengaruhi corak kehidupan manusia. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai mempunyai keahlian, kegemaran, dan kebudayaan yang berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah yang gersang.

Pengaruh lingkungan pada individu meliputi dua sasaran yaitu: Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial dan lingkungan membuat wajah budaya bagi individu. Dengan lingkungan dapat saling mempengaruhi perilaku manusia sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.

Individu menjadi pusat dari lingkungan, sehingga dalam berhadapan dengan lingkungan tersebut memungkinkan timbulnya peranan lingkungan bagi individu sebagai berikut:
  1. Lingkungan sebagai alat bagi individu: alat untuk kepentingan individu, kelangsunganhidup individu, dan untuk kepentingan dalam pergaulan sosial. 
  2. Lingkungan sebagai tantangan bagi individu.
    Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu harus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi dapat dikuasainya.
  3. Lingkungan sebagai sesuatu yang harus diikuti.
    Sifat manusia senantiasa ingin mengetahui sesuatu dan mencoba sesuatu dalam batas-batas kemampuannya. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan daya tarik kepada individu untuk mengikutinya. Individu peka akan perubahan lingkunga sehingga individu selalu berpartisipasi di dalamnya.
  4. Lingkungan objek penyesuaian diri bagi individu.
    Lingkungan mempengaruhi individu, sehingga ia berusaha untuk menyesuiakan dirinya dengan lingkungan tersebut. Usaha untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan terdapat dua bentuk, yaitu autoplastis dan alloplastis. Penyesuaian diri dengan cara alloplastis berarti bahwa individu berusaha agar lingkungan sesuai dengan dirinya. Sedangkan autoplastis penyesuaian diri di mana  individu berusaha agar dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang bersangkutan. (Purwanto, 1998:13-17)


Macam-macam Perilaku Manusia

Perilaku manusia terdapat banyak macamnya, yaitu perilaku refleks, perilaku refleks bersyarat dan perilaku yang mempunyai tujuan. Ada sejumlah perilaku refleks yang dilakukan oleh manusia secara otomatik. Perilaku refleks  di luar lapangan kemampuan manusia serta terjadi tanpa dipikir atau keinginan. Kadang-kadang terjadi tanpa disadari sama sekali.

Perilaku refleks bersyarat adalah perilaku yang muncul karena adanya perangsang tertentu. Reaksi ini wajar dan merupakan pembawaan manusia  dan bisa dipelajari atau di dapat dari pengalaman. Aliran behaviorisme berpendapat bahwa manusia belajar atas dasar perilaku refleks bersyarat yang berarti membuat penafsiran perilaku yang kompleks atas dasar satuan-satuan masalah yang sederhana.

Perilaku yang mempunyai tujuan disebut perilaku naluri. Menurut Spencer perilaku naluri adalah gerak refleks yang kompleks atau merupakan rangkaian tahap-tahap yang banyak, masing-masing tahap merupakan perilaku refleks yang sederhana. Akan tetapi pendapat ini dibantah bahwa perilaku refleks tanpa perasaan sedangkan perilaku naluri disertai dengan perasaan. Ada tiga gejala yang menyertai perilaku bertujuan, yaitu: pengenalan, perasaan dan emosi, dorongan, keinginan atau motif. (Purwanto, 1998:19-20)


Pengertian Perilaku Manusia

Hubungan Sikap dan Perilaku

Pada mulanya secara sederhana diasumsikan bahwa sikap seseorang menentukan perilakunya.(o.Sears, 1994:149)

G.W Allport (1935) mengemukakan bahwa sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya. (O.Sears, 1994:137)

Dalam hubungan dengan pembahasan sikap dan perilaku, para ilmuwan sosial sering kali menyebut sedikitnya terdapat empat pokok persoalan, yakni: (1)

Sikap dan perilaku tanpa adanya hubungan sebab akibat; (2) sikap yang menyebab perilaku; (3) perilaku menyebabkan sikap; (4) ada timbal balik antara sikap dan perilaku, misalnya sikap yang menyebabkan perilaku dan perilaku yang menyebabkan sikap.

Berbagai temuan penelitian tentang hubungan antara sikap dan perilaku memang belum konklusif. Banyak penelitian yang menyimpulkan adanya hubungan yang sangat lemah, bahkan negatif, sedangkan sebagian penelitian lain menemukan adanya hubungan yang meyakinkan.

Dalam hubungannya dengan hasil penelitian yang kontradiktif ini, Warner dan De Fleur mengemukakan tiga postulat untuk mengidentifikasi tiga pandangan umum mengenai hubungan sikap dan perilaku, yaitu:
  1. Postulat Konsistensi (Postulate of consistency)
    Postulat konsistensi mengatakan bahwa sikap verbal merupakan petunjuk yang cukup akurat untuk memprediksi apa yang akan dilakukan seseorang bila ia dihadapkan pada suatu objek sikap.

    Jadi postulat ini mengasumsikan adanya hubungan langsung antara sikap dan perilaku. Bukti yang mendukung postulat konsistensi dapat terlihat pada pola perilaku individu yang memiliki sikap ekstrem.

  2. Postulat Variasi Independen (Postulate of independent variation)
    Postulat ini mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa sikap dan perilaku berhubungan secara konsiten. Sikap dan perilaku merupakan dua dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah, dan berbeda. Mengetahui sikap tidak berarti dapat memprediksi perilaku. Postulat ini mengilustrasikan bahwa perilaku ditentukan oleh banyak faktor selain sikap,   dan faktor-faktor lain itu mempengaruhi konsistensi sikap dan perilaku. Salah satu faktor yang jelas adalah tingkat kendala dalam situasi: kita sering kali harus bertindak dalam cara yang tidak konsisten dengan apa yang kita rasakan atau yakini.

  3. Postulat Konsitensi Tergantung(Postulate of contingent consistency)
    Postulat konsistensi tergantung menyatakan hubungan sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu. Norma-norma, peranan, keanggotaan kelompok, kebudayaan, dan sebagainya merupakan kondisi ketergantungan yang dapat mengubah hubungan sikap dan perilaku. Oleh karena itu, sejauh mana prediksi perilaku dapat disandarkan pada sikap, akan berbeda  dari waktu ke waktu dan dari satu situasi ke situasi lainnya.


Daftar Pustaka Makalah  Perilaku Manusia

Purwanto, Heri. 1998. Pengantar Perilaku Manusia untuk Perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Pengertian Perilaku Manusia Macam Faktor yang Mempengaruhi Hubungan dengan Sikap Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment