Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 3 June 2016

Pengertian Sampah Rumah Tangga Jenis Pengelolaan Pengangkutan Pengumpulan Sampah menurut Para Ahli

Pengertian Sampah adalah telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Untuk memahaminya, ditelaah beberapa pengertian sampah. Menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat.


Definisi Sampah menurut Para Ahli

Dalam pengertian lain sampah adalah segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat, ada yang mudah membusuk terutama terdiri dari zat-zat organik, seperti sisa sayuran, sisa daging, daun dan sebagainya. Sedangkan yang tidak membusuk dapat berupa kertas, plastik, karet, logam, kaca, dan sebagainya. (Slamet, 1994)

Sehubungan dengan hal di atas, maka Leonardo (1990), mengatakan bahwa limbah padat merupakan salah satu bentuk limbah yang terdapat di lingkungan masyarakat, orang awam menyebutnya dengan sampah.

Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak dapat digunakan lagi, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang  sedemikian rupa sehingga tidak  sampai  mengganggu  kelangsungan  hidup (Riyadi, 1986). Selanjutnya Widyadmoko (2002) mendefinisikan sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga yang terdiri dari berbagai macam jenis sampah.

Sampah merupakan bagian yang tidak disukai dan secara ekonomis tidak ada harganya. Tergantung dari tingkat hidup masyarakat, sumber dan macamnya sampah itu berbeda-beda. Menurut Hamza (1987), mengatakan bahwa sampah baik kualitas maupun kuantitas sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dari taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas sampah antara lain:
  1. Jumlah penduduk, dapat dipahami dengan mudah bahwa semakin banyak  penduduk, maka semakin banyak pula sampah yang diproduksi. Pengelolaan  sampah ini berpacu dengan lajur pertambahan jumlah penduduk.
  2. Keadaan sosial ekonomi, semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat, maka semakin banyak pula perkapita sampah yang dibuang.
  3. Kemajuan teknologi, kemajuan teknologi akan menambah jumah ataupun kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang sangat beragam.


Secara umum dapat disimpulkan bahwa semakin majunya tingkat kebudayaan masyarakat, maka semakin kompleks dan beragam pula sampah yang ditemui.

Dari banyak pengertian sampah yang telah dikemukakan oleh beberapa pakar di  atas maka sebelum mengetahui pengertian sampah rumah tangga terlebih dahulu harus diketahui pengertian rumah tangga yaitu :

Pengertian Rumah Tangga

 Menurut UU. No. 23 Tahun 2004 dijelaskan bahwa lingkup dari rumah tangga terdiri dari:
  • Suami, isteri, dan anak.
  • Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga.
  • Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.


Dalam ilmu sosial, rumah tangga didefinisikan sebagai bagian terkecil dari masyarakat. Rumah tangga juga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap sosialisasi manusia.

Pengertian Sampah Rumah Tangga.

Menurut UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mendefinisikan sampah rumah tangga sebagai sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik (sampah yang mengandung bahan beracun).

Selajutnya Widyadmoko (2002), mengelompokkan sampah rumah tangga yaitu sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga yang terdiri dari bermacam-macam jenis sampah sebagai berikut:
  1. Sampah basah atau sampah yang terdiri dari bahan organik yang mudah membusuk yang sebagian besar adalah sisa makanan, potongan hewan, sayuran, dan lain-lain.
  2. Sampah kering yaitu sampah yang terdiri dari logam seperti besi tua, kaleng bekas dan sampah kering non logam, misalnya kertas, kaca, keramik, batu- batuan, dan sisa kain.
  3. Sampah lembut, misalnya debu yang berasal dari penyapuan lantai rumah, gedung dan penggergajian kayu.
  4. Sampah besar atau sampah yang terdiri dari bangunan rumah tangga yang besar, seperti meja, kursi, kulkas, radio dan peralatan dapur.

Jenis-Jenis Sampah.

Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:
  1. Sampah Anorganik/kering, contoh : logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dll yang tidak dapat mengalami pembususkan secara alami.
  2. Sampah organik/basah, contoh : Sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rempah-rempah atau sisa buah dll yang dapat mengalami pembusukan secara alami.
  3. Sampah berbahaya, contoh : Baterai, botol racun nyamuk, jarum suntik bekas dan lain-lain.


Berdasarkan jenis dan sumbernya sampah dapat dibedakan atas beberapa bagian. Menurut Murthadjo (1997), sampah diklasifikasikan atas sampah domestik, sampah komersial, sampah industri dan limbah. Secara rinci uraiannya adalah sebagai berikut:
  1. Sampah domestik, yaitu sampah yang berasal dari pemukiman masyarakat. Jenis limbah ini sangat beragam tetapi pada umumnya berupa sampah dapur.
  2. Sampah komersial, yaitu sampah yang berasal dari lingkungan perdagangan atau jasa komersial baik warung, toko maupun pasar.
  3. Sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari buangan proses industri. Oleh karena itu, jenis, jumlah dan komposisi limbah tergantung pada jenis industrinya.
  4. Limbah yang berasal dari selain yang disebutkan di atas, misalnya limbah dari pertambangan, pertanian dan bencana alam.


Selain mengelompokkan jenis – jenis sampah rumah tangga, Widyadmoko (2002) juga mengelompokkan sampah sebagai berikut:
  1. Sampah komersil yaitu sampah yang berasal dari pasar, pertokoan, rumah makan, tempat hiburan, penginapan, bengkel, kios, dan sebagainya.
  2. Sampah bangunan, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan termasuk pemugaran dan pembongkaran suatu bangunan, seperti semen, kayu, batu bata dan sebagainya.
  3. Sampah fasilitas umum, yaitu sampah yang berasal dari  pembersihan  dan penyapuan jalan, trotoar, taman lapangan, tempat rekreasi dan fasilitas umum lainnya.


Pengelolaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), kata pengelolaan berasal dari kata dasar ‘kelola’ yang artinya mengurus suatu bidang usaha (perusahaan, pertanian dan sesuatu yang mempunyai tujuan). Sedangkan pengertian pengelolaan adalah proses, cara, perbuatan mengelola; proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain; proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi;  proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan.

Pengelolaan Sampah

Menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2008, pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi perantara menyebarluasnya suatu penyakit. Menurut Poerdarminta (1991), bahwa pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan sampah.

Adapun usaha pengelolaan sampah menurut Slamet (1994) baik skala besar maupun skala kecil, apabila sudah tercapai tujuannya, yakni lingkungan dan masyarakat yang sehat, maka faktor yang paling utama, yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah peran serta masyarakat. Masyarakat harus mengerti dan mau berpartisipasi, bila perlu mengubah sikap sehingga bersedia membantu mulai dari pengurangan volume sampai perbaikan kualitas sampah, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan tempat sampah, sampai  kepada penyediaan lahan dan pemusnahan sampah.

Oleh karena itu, dalam menanggulangi sampah sudah merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dengan melakukan pengelolaan sebaik mungkin agar tercipta lingkungan yang sehat dan bersih. Partisipasi yang dapat dilakukan masyarakat pemerintah dalam menanggulangi masalah sampah yaitu dapat berupa memperbanyak tempat-tempat sampah yang besar dan dikelola dengan baik, sehingga hal-hal yang negatif bagi kehidupan tidak sampai terjadi.

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.

Pengelolaan sampah rumah tangga dapat dilihat dari pendapat beberapa ahli dan Undang – Undang No. 18 Tahun 2008 yang dapat dibedakan atas 2 bagian yaitu meliputi:
a. Pengurangan sampah
  1. Pengurangan sampah  meliputi kegiatan:
    • pembatasan timbulan sampah;
    • pendauran ulang sampah; dan/atau
    • pemanfaatan kembali sampah.
  2. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan pengurangan sampah dengan cara:
    • menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu;
    • memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan;
    • memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan;
    • memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang; dan
    • memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang.
  3. Pelaku usaha dalam melaksanakan pengurangan sampah menggunakan bahan produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna ulang, dapat didaur ulang atau muda h diurai oleh proses alam.
  4. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang atau mudah diurai oleh proses alam.
Sampah Rumah Tangga

b. Penanganan Sampah
Kegiatan penanganan sampah menurut UU No.18 Tahun 2008 meliputi:
  1. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.
  2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu.
  3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;
  4. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau
  5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.


Selanjutnya Pragoyo (1985), mengatakan bahwa penanganan sampah yang baik meliputi tiga hal yang penting yaitu:

Pengumpulan Sampah

Didefinisikan sebagai upaya pemindahan massa sampah dari sumber sampah (kawasan permukiman, kawasan perdagangan, kawasan industri, dan lain-lain), ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah. Pada sistem ini, umumnya dilakukan dengan menggunakan jasa Bestari (istilah untuk Petugas Sampah), yang dikelola oleh lingkungan sekitar sumber sampah tersebut. Retribusi yang  ditarik  biasanya  dibayarkan kepada  RT  /


RW lingkungan tersebut. Tentu saja biaya ini harus mampu untuk membiayai biaya investasi gerobak sampah, cakar, pengki, hingga seragam dan gaji Bestari. Adapun syarat tempat pengumpulan sampah yang baik adalah:
  • Dibangun di atas permukaan tanah setinggi kendaraan pengangkut sampah.
  • Mempunyai dua buah pintu, satu tempat masuk sampah dan yang lainnya untuk mengeluarkan sampah.
  • Perlu ada lubang ventilasi, bertutup kawat untuk mencegah masuknya lalat.
  • Tempat tersebut mudah dicapai, baik oleh masyarakat yang akan mempergunakannya ataupun oleh kendaraan pengangkut sampah.


Pengangkutan Sampah Dari TPS ke TPA.

Didefinisikan sebagai upaya pemindahan massa sampah dari Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) sampah. Lokasi TPS bila mungkin berada di dalam lingkungan lokasi sumber sampah. Namun, bila tidak memungkinkan maka harus diupayakan lokasinya berada di kecamatan. Setiap kecamatan sebaiknya memiliki 1 buah TPS ukuran 1.000 – 2.000 m2 yang dilengkapi oleh unit pengolahan sampah menjadi kompos (Sudrajat, 2007;56)

Di Medan, seperti juga di berbagai kota besar di Indonesia, umumnya menggunakan truk untuk mengangkut sampah. Tidak optimalnya manajemen transportasi untuk sistem pengangkutan sampah, seringkali menyebabkan TPA harus beroperasi penuh 24 jam sehari. Masih sering ditemukan truk sampah yang memasuki TPA pada pukul 2 atau 3 dinihari. Minimnya  kuantitas  truk  sampah  yang  baik  operasi,  volume  sampah  yang     melebihi kapasitas tampung truk sampah, serta penjadwalan dan rotasi pengangkutan sampah yang tidak ditentukan, mengakibatkan rendahnya kinerja pada sistem pengangkutan sampah.

Pembuangan Sampah ke TPA

Pembuangan sampah biasanya dilakukan di daerah-daerah tertentu, sehingga tidak mengganggu kesehatan masyarakat. Dalam pembuangan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain:
  • Tempat tersebut tidak dibangun dekat dengan sumber air minum atau sumber lainnya yang dipergunakan oleh manusia.
  • Tidak pada tempat yang sering terkena banjir.
  • Di tempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia. Adapun jarak yang sering dipakai sebagai pedoman adalah sekitar 2 km dari rumah penduduk, sekitar 15 km dari laut, sekitar 200 m dari sumber air (Azwar, 1990).


Dalam pembuangan sampah tersebut, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara yang lazim dipergunakan pada saat ini yaitu:
  • Open Dumping, yaitu membuang sampah secara terbuka di atas permukaan tanah.
  • Dumping in water, yaitu pembuangan sampah dimana sampah itu dibuang begitu saja di air yaitu ke sungai dan laut.
  • Burning in premise, yaitu pembakaran sampah di rumah-rumah.
  • Garbage reduction, yaitu pembuangan sampah dimana sampah basah diadakan pemecahan melalui proses pemasakan sehingga diperoleh bahan makanan ternak maupun untuk penyuburan tanah.
  • Hog feeding, yaitu pembuangan sampah yang sering dijadikan sebagai makanan hewan.
  • Grinding system, yaitu pembuangan sampah basah yang berasal dari sisa makanan dengan menghancurkannya terlebih dahulu kemudian dibuang ke selokan pembuangan air kotoran untuk mengalami pembusukan.
  • Incineration, yaitu pembuangan sampah dengan cara pembakaran.
  • Sanitary landfill, yaitu suatu cara pembuangan sampah ke tempat-tempat rendah  dan ditutupi dengan tanah untuk memenuhi persyaratan-persyaratan. (Depkes, 1987).


Menurut Sudrajat (2007) pengolahan sampah di TPA harus memenuhi syarat sebagai berikut :
  • Memanfaatkan lahan TPA yang terbatas dengan efektif.
  • Memilih teknologi yang murah, mudah dan aman terhadap lingkungan.
  • Memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat.
  • Produk harus dapat terjual habis.
  • Diupayakan jalan menuju TPA dibuat jalur sendiri dengan batas aman yang tidak boleh dibuat pemukiman selebar 100 m di kiri-kanan jalan.
  • Mulai jarak 1 km mendekati lokasi TPA di kiri-kanan jalan dijadikan tempat pemikiman pemulung. Hal ini untuk pengamanan dari protes masyarakat, mendorong bisnis di sekitar TPA, dan meningkatkan taraf hidup miskin.
  • TPA sebaiknya dialokasikan mengarah ke hilir, tetapi tidak terlalu dekat ke pantai karena untuk menghindari pencemaran perairan. Minimal jarak ke pantai adalah 10 km.


Proses pengelolaan sampah juga dapat dilihat melalui beberapa aspek atau segi  yaitu (Arianto, 2002):

1. Segi teknis :
a. Pewadahan
  • Pewadahan individual disetiap rumah (single house) terdiri dari 2 unit dengan volume 100 – 200 liter (2 warna yang berbeda, untuk  menampung sampah dapur dan sampah halaman)
  • Pewadahan komunal (container atau TPS) khusus untuk menampung berbagai jenis sampah seperti untuk sampah plastik, gelas, kertas, pakaian/tekstil, logam, sampah besar (bulky waste), sampah B3 (batu baterai, lampu neon dll) dan lain-lain.


b. Pengumpulan
  • Pengumpulan sampah (door to door) dengan compactor truck berbeda untuk setiap jenis sampah.
  • Waktu pengumpulan door to door 1 X seminggu
  • Pengumpulan sampah juga dilakukan secara perpipaan (single house, apartemen maupun fasilitas publik).


c. Daur Ulang

Contoh kegiatan daur ulang adalah antara lain adalah :
  • Pemisahan setiap jenis kertas (10 kategori ), kertas hasil daur ulang seluruhnya di ekspor keluar negeri
  • Ban bekas dihancurkan dan digunakan sebagai bahan bakar incinerator
  • Plastik bekas digunakan sebagai bahan baku pakaian hangat
  • Kulkas bekas di pisahkan setiap komponen pembangunnya dan freon di daur ulang
  • Komputer bekas dipisahkan setiap komponen pembangunnya (logam, plastik/kabel, baterai dll)
  • Gelas/botol kaca dipisahkan berdasarkan warna gelas (putih, hijau dan gelap) dan dihancurkan.


d. Composting
  • Composting dilakukan secara manual atau semi mekanis baik untuk skala  individual, komunal maupun skala besar (di lokasi landfill).
  • Sampah yang digunakan hanya sampah potongan tanaman dengan masa proses 3-6 bulan (windrow system).
  • Sampah dari rumah tangga tidak digunakan (kualitas kompos yang dihasilkannya tidak sebaik kompos dari potongan tanaman).


2. Segi Institusi.
Pada beberapa kota umumnya pengelolaan persampahan dilakukan oleh Dinas Kebersihan kota. Keterlibatan masyarakat maupun pihak swasta dalam menangani persampahan pada beberapa kota sudah dilakukan untuk beberapa jenis kegiatan. Masyarakat banyak yang terlibat pada sektor pengumpulan sampah di sumber timbulan sampah, sedangkan pihak swasta umumnya mengelola persampahan pada kawasan elit dimana kemampuan membayar dari konsumen sudah cukup tinggi.

Umumnya Dinas Kebersihan selain berfungsi sebagai pengelola persampahan kota, juga berfungsi sebagai pengatur, pengawas, dan pembina pengelola persampahan. Sebagai pengatur, Dinas Kebersihan bertugas membuat peraturan-peraturan yang  harus dilaksanakan oleh operator pengelola persampahan. Sebagai pengawas, fungsi Dinas kebersihan adalah mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan yang telah dibuat dan memberikan sanksi kepada operator bila dalam pelaksanaan tugasnya tidak mencapai kinerja yang telah ditetapkan, fungsi Dinas kebersihan sebagai pembina pengelolaan persampahan, adalah melakukan peningkatan kemampuan dari operator.

3. Segi Keuangan.
Pada kawasan perkotaan dimana Dinas Kebersihan menjadi pengelola persampahan, dana untuk pengelolaan tersebut berasal dari pemerintah daerah dan retribusi jasa  pelayanan persampahan yang berasal dari masyarakat.

Pada umumnya ketersediaan dana pemerintah untuk menangani persampahan sangat kecil, demikian juga retribusi yang diperoleh dari masyarakat sebagai konsumen juga sedikit. Jumlah perolehan retribusi tersebut masih jauh dari biaya pemulihan yang diperlukan untuk mengelola pelayanan sampah.

Secara umum alokasi dana untuk pengelolaan sampah baik berupa dana investasi maupun operasi/pemeliharaan sepenuhnya berasal dari dana masyarakat. Dana retribusi 100% digunakan untuk pengelolaan sampah.

Hasil retribusi yang diperoleh dari pelayanan pengelolaan sampah akan semakin kecil karena banyak retribusi yang tidak tertagih, hal ini menjadi semakin sulit karena denda terhadap penunggak retribusi tersebut tidak dilakukan, bila denda tersebut tidak juga dilakukan maka kecenderungan pelanggan tidak membayar akan meningkat.

4. Segi Peraturan.
Jenis Peraturan Pengelolaan Sampah :
  • Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  • Peraturan Daerah Kota Medan No.8 Tahun 2002 tentang Retribusi Sampah.



Partisipasi Masyarakat Dalam Mengelola Sampah Rumah Tangga

Mengubah perilaku masyarakat kita terhadap sampah bukan hal mudah, tetapi langkah ini harus segera dilakukan karena individu masyarakat sebagai penghasil sampah sebagai akibat dari aktivitasnya dan merupakan ujung tombak dari keberhasilan  penanganan masalah sampah tersebut. Hendaknya pemerintah terus-menerus mensosialisasikan dan memotivasi, memfasilitasi untuk menyadarkan masyarakat, secara langsung maupun tak langsung, mengenai perlakuan masyarakat terhadap   sampah sehari-hari di rumah-rumah agar dapat memilah dan memisah sampah organik (sampah hijau) bakal kompos dan  sampah non-organik (sampah biru) bakal bahan daur ulang.

Solusi dalam mengatasi masalah sampah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi terhadap semua program pengelolaan sampah yang dimulai pada skala kawasan (tingkat kecamatan), kemudian dilanjutkan pada skala yang lebih luas lagi.

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Cohen dan Uphof (1977) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam suatu proses pembangunan terbagi atas 4 tahap, yaitu :
  1. partisipasi pada tahap perencanaan,
  2. partisipasi pada tahap pelaksanaan,
  3. partisipasi pada tahap pemanfaatan hasil-hasil pembangunan, dan
  4. partisipasi dalam tahap pengawasan dan monitoring.


Masyarakat senantiasa ikut berpartisipasi terhadap proses-proses pembangunan bila terdapat faktor-faktor yang mendukung, antara lain : kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasarana, dorongan moral, dan adanya kelembagaan baik informal maupun formal.

Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu faktor untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan atau lingkungan pemukiman dari tahun ke tahun yang semakin kompleks. Pemerintah Jepang saja membutuhkan waktu 10 tahun untuk  membiasakan  masyarakatnya  memilah sampah.     Reduce  (mengurangi),     Reuse (penggunaan kembali), Recycling (daur ulang), Replace (mengganti) adalah model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah (Rancangan Undang – Undang Pengelolaan Sampah).

Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini.

Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah dengan cara membuang sampah sekaligus memanfaatkannya sehingga selain membersihkan lingkungan, juga menghasilkan kegunaan baru. Hal ini secara ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya (Murthadjo dan Said, 1987).

Partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan masalah sampah rumah tangga sangat diperlukan, dengan cara aktif dalam membuang sampah pada tempat atau tong  sampah yang telah disediakan. Sehingga dengan demikian tercipta lingkungan yang sehat, bersih dan nyaman bagi masyarakat itu sendiri.


Daftar Pustaka untuk Makalah Sampah Rumah Tangga

UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah 

Slamet, J.S. 1994. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Leonardo. 1990. Memerangi Sampah Dengan Sebuah Penghargaan. Bandung : PT.  Alumni.

Riyadi, Slamet. 1986. Pengantar Kesehatan Dimensi dan Tinjauan. Surabaya : Usaha Nasional.

Widyadmoko, H dan Sintorini. 2002. Menghindari, Mengolah dan Menyingkirkan Sampah. Jakarta : Abdi Tandur.

UU. No. 23 Tahun 2004 tentang Rumah Tangga

Mutardjo, Djuli dan Said, E.G. 1997. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Padat. Jakarta: Madyatama Sarana Perkasan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997. Pengelolaan. Surabaya: Kartika.

Sudrajat,H. 2007. Mengelola Sampah Kota. Jakarta : Swadaya.

Azwar, Azrul. 1990. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Mutiara. 

Depkes. 1987. Pembuangan Sampah. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitase Pusat.

Arianto. 2004. Penanganan Sampah Perkotaan Terpadu.

Pengertian Sampah Rumah Tangga Jenis Pengelolaan Pengangkutan Pengumpulan Sampah menurut Para Ahli Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment