Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Sertifikat Deposito Berjangka Definisi, Dasar Hukum dan Klausa

Pengertian Sertifikat Deposito adalah dapat berupa surat yang bersifat negotiable ataupun surat yang bersifat non-negotiable, sedangkan menurut Marcia Stigum dalam bukunya   “Money   Market”   yang   dikutip   oleh   Sutan   Remy  Sjahdeini yang menyatakan   bahwa   commercial   paper   bersifat   negotiable. Sutan Remy Sjahdeni, Pasar Uang, Media Cipta, Jakarta, 1995, hal 56.


Instrumen  ini mempunyai masa berlaku lebih dari 14 (empat belas) hari, dan beberapa diantaranya sampai  dengan  5  (lima)  tahun  bahkan  ada  yang  sampai  dengan  7 (tujuh) tahun. Namun demikian pada umumnya commercial paper mempunyai masa berlaku yakni antara 1 (satu) sampai dengan 6 (enam) bulan.

Pada dasarnya sertifikat deposito tidak berbeda dengan deposito berjangka yang sudah dikenal luas di masyarakat kita. Tingkat bunga pada sertifikat deposito yang ditawarkan suatu bank biasanya tidak berbeda dengan tingkat bunga pada deposito berjangka. Jangka waktu jatuh temponya biasanya bervariasi mulai dari satu sampai 12 (dua belas) bulan tergantung bank penerbitnya, yang juga tak berbeda dengan deposito berjangka.

Pajak atas pendapatan bunga kedua instrumen ini adalah sama-sama sebesar 20%. Jika deposito berjangka dicairkan sebelum jatuh tempo biasanya maka akan dikenakan biaya pinalti, hal ini juga berlaku pada sertifikat deposito. Selain itu kedua instrumen ini juga bisa dipergunakan sebagai agunan kredit. Adapun perbedaannya antara lain, 

  • Pertama pemberian bunga  pada sertifikat deposito dibayar dimuka berbeda dengan bunga deposito berjangka yang dibayarkan saat jatuh tempo. Sebagai contohnya, seseorang membuka sertifikat deposito  pada  suatu  bank  dengan  jumlah   sebesar   Rp   1.000.000.000,00   (satu milyar rupiah) yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun.  Misalkan  tingkat bunga yang ditawarkan bank tersebut adalah 8% per tahun, maka orang tersebut akan menerima bunga dimuka sebesar Rp 80.000.000,00 (delapan puluh juta rupiah) sebelum dikenakan pajak sebesar 20%. Jadi jumlah uang yang diinvestasikannya sebesar Rp 920.000.000,00 (sembilan ratus dua puluh juta rupiah). Dan pada akhir tahun saat sertifikat deposito jatuh tempo, dia akan memperoleh Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Bunga yang diterima di muka tadi tentunya bisa digunakan untuk investasi atau transaksi lainnya sesuai dengan kebutuhannya.
  • Kedua, sertifikat deposito bisa dipindahtangankan karena diterbitkan atas unjuk bukan atas nama seseorang. Jadi sertifikat deposito ini bisa diperjualbelikan kepada pihak lain. Dan bagi yang memegang sertifikat deposito tersebut berhak untuk mencairkannya saat jatuh tempo. Hal ini memberikan fleksibilitas dan likuiditas bagi seseorang untuk melakukan transaksi menggunakan sertifikat deposito, atau bisa digunakan sebagai pemberian atau hadiah dan digunakan  sesuai dengan keinginan  sipemegangnya.  Tentunya   harga  jual-belinya    harus diperhitungkan dengan tingkat bunga (tingkat diskonto) yang berlaku dan sisa waktu jatuh tempo sertifikat deposito tersebut. Ibid, hal 80.
  • Ketiga,  sertifikat  deposito  tidak  bisa  diperpanjang  secara  otomatis (auto rollover) seperti deposito berjangka. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki deposito berjangka dengan jangka waktu 1 (satu) bulan dengan fitur  auto rollover. Maka ketika deposito berjangka tersebut jatuh tempo, pihak bank bisa segera memperpanjang deposito tersebut untuk satu bulan ke depan tanpa harus dikonfirmasi terlebih dahulu. Sedangkan ketika sertifikat deposito jatuh tempo maka sipemegang harus segera mencairkannya atau mengkonfirmasikan kepada bank untuk memperpanjang jangka waktunya.
  • Keempat, sertfikat deposito diterbitkan atas unjuk dan bukan atas nama sehingga bank tidak akan menerima klaim apabila sipemegang sertifikat deposito kehilangan sertifikat deposito tersebut. Jadi sipemegang harus sangat hati-hati menyimpannya, karena apabila sertifikat deposito itu berpindah tangan maka pihak yang memegang sertifikat deposito inilah yang bisa mencairkan deposito tersebut.


Dari Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 21/48/KEP/DIR tertanggal 27 Oktober 1988 serta Surat Edaran Bank Indonesia No. 21/27/UPG tertanggal 27 Oktober 1989 dapat diketahui pula pengertian sertifikat deposito, yaitu surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang merupakan surat pengakuan hutang  dari  bank  atau  Lembaga  Keuangan  Bukan  Bank  (LKBB)  dan    dapat diperjualbelikan dalam pasar uang. SK DBI No. 21/48/KEP/DIR tanggal 27 Oktober 1988 dan SE BI No. 21/27/UPG tanggal 27 Oktober 1989


Menurut Pasal 1 angka 9 Undang-undang No. 7 Tahun 1992, yang disebut sertifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan.

Definisi Deposito Berjangka Menurut Undang Undang

Sedangkan, menurut Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. 7 Tahun 1992, deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpanan dengan bank yang bersangkutan.

Maka dapat disimpulkan dari pengertian diatas bahwa sertifikat deposito merupakan suatu surat hutang untuk suatu jangka waktu tertentu, dan setelah jatuh tempo bank yang bersangkutan wajib melunasi kepada pemegangnya sejumlah nilai nominalnya. Adapun bunga sertifikat deposito dibayar di muka, yakni dipotong dari harga nominalnya pada waktu pengambilan sertifikat deposito.

Dari pengertian yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat  diketahui beberapa sifat umum dari sertifikat deposito yang dikeluarkan di Indonesia, yaitu antara lain : Abdulkadir Muhammad, op.cit, hal 88.
  1. Pada dasarnya merupakan surat sanggup (promissory note) yang dikeluarkan oleh bank;
  2. Berbentuk atas unjuk (aan toonder) dan tidak ada yang berbentuk atas nama (op naam) atau atas tunjuk / atas pengganti (aan order);
  3. Karena bentuknya atas unjuk (aan toonder) maka dapat diperdagangkan;
  4. Sesuai dengan bentuknya seperti di atas maka pengalihannya mudah / sederhana, yaitu pengalihan di bawah tangan (dari tangan ke tangan); 
  5. Memperhatikan bentuk sertifikat deposito yang demikian, maka berbeda dari deposito berjangka yang bentuknya atas nama (op naam) sehingga tidak dapat diperdagangkan;
  6. Terikat kepada suatu jangka waktu tertentu;
  7. Dapat dijadikan jaminan suatu perjanjian kredit;
  8. Tidak dilakukan pengusutan fiskal terhadap asal usul uang pembeliannya;
  9. Sebagai halnya pihak yang mempunyai hutang, maka bank sebagai debitur menjamin pengeluaran sertifikat deposito dengan seluruh harta kekayaannya (sesuai Pasal 1131 KUH Perdata);
  10. Dibebaskan dari pajak atas bunga, deviden dan royalti (PBDR).


Mengenai surat berharga ini, Pasal 1 angka 9 Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, menyebutkan bahwa sertifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan.

Pengertian Sertifikat Deposito adalah

Dasar Hukum Ketentuan-Ketentuan Tentang Sertifikat Deposito

Pengaturan ketentuan-ketentuan mengenai sertifikat deposito  terdapat pada : Joni Emerzon, op. cit, hal 159.
  1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1065/KMK.00/1988 tentang Penerbitan Sertifikat Deposito oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank;
  2. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 21/48/KEP/DIR dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 21/27/UPG masing-masing tanggal 27 Oktober 1988 tentang Penerbitan Sertifikat Deposito oleh bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank.


Sesuai dengan ketentuan di atas, sertifkat deposito sebagai sarana usaha pengerahan dana dari masyarakat dan piranti uang bersama-sama dengan  Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), dapat diterbitkan oleh bank atau lembaga keuangan bukan bank tanpa meminta persetujuan dari Bank Indonesia.

Karena sertifikat deposito ini dapat diperjualbelikan dalam pasar uang, maka untuk melindungi pemegangnya diperlukan keseragaman bentuk, isi, dan redaksinya. Untuk itu warkat sertifikat deposito hendaknya memenuhi persyaratan berikut ini : Ibid, hal 160.
  1. Kertas   yang   digunakan   sebagai   bahan   blangko   sertifikat    deposito sekurang-kurangnya sama dengan mutu kertas untuk mencetak blangko cek, atau sesuai dengan yang telah ditentukan yaitu “The London Clearing Bank’s Paper Specification Nomor 1 (96 gsm)”;
  2. Dalam mencetak blangko sertifikat deposito dimaksud hendaknya memperhatikan benar insur-unsur pengamanannya, sehingga perlu diciptakan ciri-ciri pengamanan, misalnya bentuk tulisan, gambar dasar, tanda air, dan garis guilloche.
  3. Pada halaman depan sekurang-kurangnya dicantumkan :
    • Kata-kata “SERTIFIKAT DEPOSITO” dan “DAPAT DIPERDAGANGKAN” dalam ukuran besar sehingga mudah terlihat;
    • Nomor seri dan nomor urut;
    • Nama dan tempat kedudukan penerbit;
    • Nilai nominal dalam rupiah;
    • Tanggal dan tempat penertiban;
    • Tingkat bunga atau diskonto;
    • Pernyataan bahwa penerbit mengikat diri untuk membayar sejumlah uang tertentu dalam rupiah pada tanggal dan tempat tertentu.
    • Tanda tangan direksi atau pejabat yang berwenang dari penerbit ;
    • Tanda tangan pejabat dari kantor cabang di tempat sertifikat deposito diterbitkan;
  4. Pada halaman belakang dicantumkan klausula yang sekurang-kurangnya menyatakan bahwa :
    • Penerbit menjamin sertifikat deposito dengan seluruh harta dan piutangnya.
    • Sertifikat deposito dapat diperjualbelikan dan dapat dipindah- pindahkan dengan cara penyerahan;
    • Pelunasan dilakukan pada tanggal jatuh waktu atau sesudahnya dengan menyerahkan kembali warkat sertifikat deposito yang bersangkutan oleh pembawa.

Klausula-Klausula yang Terdapat Pada Sertifikat Deposito

Sebagai surat uang dapat diperdagangkan dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan dengan uang tunai, maka dalam bidang surat berharga dikenal 2 (dua) jenis klausula yaitu : Dahlan M.Sutalaksana, op.cit, hal 96.

Daftar Pustaka untuk Makalah Sertifikat Deposito

Pengertian Sertifikat Deposito Berjangka Definisi, Dasar Hukum dan Klausa Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment