Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 20 October 2015

Pengertian Subjek Hukum Internasional Definisi Perkembangan dan Macam Macamnya

Pengertian Subjek Hukum Internasional adalah Secara umum, subjek hukum diartikan sebagai setiap pemegang, pemilik, atau pendukung hak dan pemikul kewajiban berdasarkan atau menurut hukum. Dengan kemampuan sebagai pemilik, pemegang, ataupun pendukung hak dan pemikul kewajiban, secara tersimpul juga adanya kemampuan untuk mengadakan hubungan-hubungan hukum antara sesamanya. Hubungan-hubungan hukum itulah yang selanjutnya melahirkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang bersangkutan.


Secara umum, yang dipandang sebagai subjek hukum adalah:
  1. Individu atau orang-perorangan atau disebut juga dengan pribadi alamiah, yakni orang atau individu yang karena sifat alamiah dan sosialnya, dengan sendirinya berstatus subjek hukum.
  2. Badan hukum atau disebut juga sebagai pribadi hukum (legal person, rechtspersoon), yaitu suatu badan atau lembaga yang sengaja dibuat atau didirikan untuk suatu tujuan tertentu dan diberikan status sebagai subjek hukum sehingga  dapat mengadakan  hubungan-hubungan hukum  dan  memikul  hak dan kewajiban hukum secara mandiri, terpisah dari hak dan kewajiban hukum secara mandiri, terpisah dari hak dan kewajiban hukum dari para anggotanya. I Wayan Phartiana, Pengantar Hukum Internasional, (Cet. II; Bandung: Mandar Maju, 2003), hlm. 85.


Dengan berpedoman pada pengertian subjek hukum pada umumnya, maka dengan mudah dapat dirumuskan tentang apa yang disebut dengan subjek hukum internasional. Dalam arti yang sebenarnya subjek hukum internasional adalah pemegang (segala) hak dan kewajiban menurut hukum internasional. Kalau mau subjek hukum internasional demikian dapat kita sebut subjek hukum internasional penuh. Negara merupakan     subjek  hukum internasional dalam arti ini. Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, (Bandung: P.T. Alumni, 2003), hlm. 95.
7Ihblimd,. 96.

Di samping itu, dalam arti yang lebih luas dan lebih luwes (flexible), pengertian subjek hukum internasional ini mencakup pula keadaan bahwa yang dimiliki itu hanya hak dan kewajiban yang terbatas. Misalnya, kewenangan mengadakan penuntutan hak yang diberikan oleh hukum internasional di muka pengadilan berdasarkan suatu konvensi. Contoh subjek hukum internasional dalam arti terbatas demikian adalah orang perorangan (individu).

Di antara dua kutub yang ekstrim ini terdapat berbagai macam subjek hukum internasional yang memperoleh kedudukannya berdasarkan hukum kebiasaan internasional karena perkembangan sejarah.

Bagi pengamatan secara hukum positif tidak menjadi soal apa yang menjadi sumber hukum hak dan kewajiban itu. Ihblimd,. 96.

Perkembangan Subjek Hukum Internasional

Pada awal mula dari kelahiran dan pertumbuhan hukum internasional, hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum internasional. Hal ini bisa dimengerti, sebab pada masa awal tersebut tidak ada atau jarang sekali ada pribadi-pribadi hukum internasional yang lain selain daripada negara yang melakukan hubungan-hubungan internasional. I Wayan Phartiana, op cit., hlm. 87.

Secara   teoritis,   subjek   hukum   internasional   sebenarnya hanyalah negara. Perjanjian internasional seperti misalnya konvensi-konvensi Palang Merah tahun 1949 memberikan hak dan kewajiban tertentu. Hak dan kewajiban itu diberikan konvensi secara tidak langsung kepada orang- perorangan (individu) melalui negaranya yang menjadi peserta konvensi itu.

Melalui konstruksi demikian, banyak keadaan atau peristiwa individu menjadi subjek hukum internasional berdasarkan suatu konvensi dapat dikembalikan   kepada   negaranya   yang   menjadi   peserta   konvensi   yang bersangkutan. Contoh konvensi demikian adalah Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of other States dan The European Convention on Human Rights.

Pendirian yang mengatakan bahwa perjanjian internasional hanya berlaku dalam wilayah suatu negara yang menjadi pesertanya setelah diundangkannya undang-undang pelaksanaannya (implementing legislation) yang lazim dikenal dengan teori transformasi merupakan perwujudan lain dari teori bahwa hanya negara yang merupakan subjek hukum internasional. Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, op cit., hlm. 96.

Sejak    akhir    Perang    Dunia    II,    masyarakat    internasional telah mengalami perubahan yang mendalam. Transformasi tersebut terbagi dalam dua bentuk yaitu transformasi yang bersifat horizontal dan transformasi yang bersifat vertikal. Boer Mauna, Hukum Internasional, Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, (Bandung: Alumni, 2001), hlm. 49.

Transformasi horisontal adalah menjamurnya aktor-aktor baru sehingga komposisi masyarakat internasional sekarang tidak lagi bersifat homogeny seperti di masa lalu. Sedangkan transformasi vertikal karena tampilnya bidang-bidang baru yang beraneka ragam dengan jumlah yang banyak sehingga  telah  memperluas  ruang  lingkup  hukum  internasional itu sendiri. Gabungan dari kedua fenomena ini telah menyebabkan pengertian terhadap hukum internasional dan peranannya menjadi lebih kompleks. Boer Mauna, op cit., hlm. 49-50.

Berlawanan dengan teori transformasi di atas, ada teori lain yang menyatakan kebalikannya secara sangat ekstrim yaitu bahwa sebenarnya individu merupakan subjek hukum yang sessungguhnya dari hukum internasional karena dalam analisis terakhir individulah yang merupakan subjek segala hukum nasional maupun internasional.

Menurut teori ini seperti yang dikemukakan Hans Kelsen dalam bukunya “Principles of International Law” dengan logika dan analisis yang sukar dibantah, apa yang dinamakan hak dan kewajiban negara sebenarnya adalah hak dan kewajiban semua manusia yang merupakan anggota masyarakat yang mengorganisir dirinya dalam negara itu. Dalam pandangan teori Kelsen ini, negara tidak lain dari suatu konstruksi yuridis yang tidak  akan mungkin ada tanpa manusia-manusia sebagai anggota masyarakat negara itu. Hans Kelsen, Principles of International Law, (New York, 1952), hlm. 97.

Sebagaimana biasa dalam suatu adu pendapat antara dua sudut pandang atau teori, keduanya masing-masing ada bahkan banyak benarnya. Namun sebaliknya, apabila mau, dapat pula dibuktikan bahwa masing-masing teori ada kelemahannya. Bahaya suatu pembahasan teoritis yang terlalu konsekuen adalah bahwa fakta atau kenyataan sering hendak dicocokkan atau dipaksakan cocok dengan dalil yang hendak dibuktikan.

Lain halnya dengan suatu pendekatan praktis yang berpangkal tolak pada kenyataan yang ada, baik kenyataan mengenai keadaan masyarakat internasional pada masa sekarang maupun hukum yang mengaturnya. Fakta atau kenyataan yang ada bisa timbul karena sejarah atau desakan kebutuhan perkembangan masyarakat hukum internasional, atau apabila ia merupakan suatu fakta hukum bisa juga ada karena memang diadakan oleh hukum  sendiri. Bagi suatu pembahasan yang realisitis dan wajar dan secara hukum dapat  dipertanggungjawabkan  adanya  suatu  kenyataan  harus  diakui     dan diperhitungkan, asal saja diingat bahwa adanya fakta atau suatu kenyataan belaka belum dengan sendirinya menimbulkan hukum. Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, op cit., hlm.97.

Dalam perkembangan selanjutnya, pelaku-pelaku dalam hubungan- hubungan internasional tidak lagi dimonopoli oleh negara. Munculnya organisasi-organisasi dan pribadi-pribadi hukum internasional lain yang  secara aktif terlibat dalam hubungan-hubungan internasional, menjadikan hubungan-hubungan internasional mengalami pergeseran yang cukup fundamental yang tentu saja membutuhkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum internasional baru untuk mengaturnya. Dengan demikian hubungan- hubungan  (hukum) internasional semakin lama semakin bertambah luas   dan kompleks. Oleh karena itu, pandangan lama yang menyatakan, bahwa negara sebagai satu-satunya subjek hukum internasional harus sudah ditinggalkan. Boer Mauna, op cit., hlm. 87.

Secara ringkas dapatlah dikatakan:
  1. Bahwa berdasarkan praktek modern, telah berkembang sejumlah peristiwa kekecualian dimana individu-individu atau kesatuan- kesatuan non-negara menikmati hak-hak atau menjadi subjek kewajiban secara langsung menurut hukum internasional.
  2. Bahwa kekuatan doktriner konvensi procedural yang tidak memperkenankan individu-individu untuk mengajukan tuntutan berdasarkan hukum internasional kecuali melalui negaranya, sampai sebegitu jauh telah diperlunak.
  3. Bahwa kepentingan-kepentingan individu, hak-hak fundamental serta kebebasan-kebebasan mereka dan lain-lain, telah menjadi perhatian utama hukum internasional. J. G. Starke,Pengantar Hukum Internasional, (Cet. II; Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hlm. 90.


Macam-Macam Subjek Hukum Internasional

Dewasa ini, yang diakui sebagai subjek hukum internasional adalah:
A. Negara
Negara merupakan subjek hukum internasional yang paling tua usianya karena negaralah yang pertama-tama muncul sebagai subjek hukum internasional dan belakangan baru diikuti oleh kemunculan subjek-subjek hukum internasional lainnya. Demikian pula negara merupakan subjek hukum internasional yang paling utama, sebab negara dapat mengadakan hubungan-hubungan internasional dalam segala bidang kehidupan masyarakat internasional, baik dengan sesama negara maupun dengan subjek- subjek hukum internasional lainnya. I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 88.

Negara adalah subjek hukum internasional dalam arti klasik, dan telah demikian sejak lahirnya hukum internasional. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada anggapan bahwa hukum internasional itu pada hakikatnya adalah hukum antarnegara. Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, op cit., hlm. 98.

Sebagai konsekuensinya, negara yang paling banyak dan  paling luas dapat memiliki, memegang ataupun mendukung hak- hak dan memikul kewajiban-kewajiban berdasarkan hukum internasional jika dibandingkan dengan seubjek-subjek hukum internasional yang lain. Sedangkan subjek-subjek hukum internasional lainnya, kekuasaan atau kewenangannya baik mengadakan hubungan-hubungan hukum internasional maupun memiliki hak dan memikul kewajiban berdasarkan hukum internasional lebih terbatas jika dibandingkan dengan negara,  yakni terbatas pada apa yang menjadi kegiatan maupun maksud dan tujuannya. Kedudukan seperti ini, menjadikan negara   sebagai subjek hukum internasional yang memainkan peranan yang sangat dominan. Dominannya peranan negara dalam hubungan-hubungan hukum internasional juga tidak terlepas dari keunggulan negara, yakni negara memiliki apa yang disebut kedaulatan. I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 88-89.

Para sarjana hukum internasional tampaknya berusaha     untuk menghindari usaha merumuskan definisi tentang negara. Kebanyakan mereka hanya mengemukakan unsur-unsur yang  harus dipenuhi supaya suatu kelompok masyarakat dapat disebut sebagai negara. Hal ini tampaknya disebabkan karena apa yang disebut negara sudah demikian umum dan secara luas dikenal sehingga sudah demikian umum dan secara luas dikenal sehingga tidak perlu didefinisikan lagi. Dalam hubungan ini, perlu diketengahkan Konvensi Montevideo 1933 tentang Hak dan Kewajiban Negara yang diselenggarakan di Montevideo, Uruguay pada tahun 1933 oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisation of American States (Organisasi Negara-Negara Amerika). Konvensi Montevideo 1933 tidak mendefinisikan apa yang disebut negara, melainkan hanya mengemukakan unsur-unsur yang  harus  dipenuhi  suatu  negara  untuk  digolongkan    sebagai pribadi atau subjek hukum internasional.Ihblimd,. 92-93. Tegasnya, Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 menyatakan:

“The State as a person in international law should posses the following qualifications:
  1. a permanent population
  2. a defined territory
  3. government
  4. capacity to enter into the relations with the other states.”


Keempat unsur-unsur ini akan dibahas secara mendalam, sebagai berikut:

a. Penduduk yang tetap (a permanent population)
Penduduk merupakan kumpulan individu-individu yang terdiri dari dua kelamin tanpa memandang suku, bahasa, agama, dan kebudayaan, yang hidup dalam suatu masyarakat dan yang terikat dalam suatu negara melalui hubungan yuridis dan politik yang diwujudkan dalam bentuk kewarganegaraan. Penduduk merupakan unsur pokok bagi pembentukan suatu negara. Suatu pulau atau suatu wilayah tanpa penduduk tidak mungkin menjadi  suatu negara. Boer Mauna, op cit., hlm. 17.

Pada umumnya, penduduk suatu negara terdiri dari penduduk yang merupakan warga negaranya yang di setiap negara merupakan mayoritas dari jumlah penduduknya dan penduduk yang bukan warga negaranya yang pada umumnya merupakan minoritas. Yang pertama bermukim secara permanen di dalam wilayah negara yang bersangkutan serta memiliki hubungan yang khusus dan timbal balik dengan negara itu. Sedangkan yang kedua adalah orang asing atau orang yang bukan warga negara dari negara yang bersangkutan atau ada juga orang-orang yang tanpa kewarganegaraan. I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 95.

Penentuan kewarganegaraan seseorang biasanya merupakan wewenang dari suatu negara, hukum internasional sejak berakhirnya Perang Dunia II, memberikan perhatian khusus kepada individu-individu terutama yang menyangkut perlindungan atas hak-haknya sebagai warga dalam suatu negara. Khususnya mengenai kewarganegaraan, dalam berbagai instrument internasional sering    ditegaskan   hak    seseorang    untuk  memperoleh kewarganegaraan dan larangan mencabut semena-mena kewarganegaraan seseorang. Boer Mauna, op cit..hlm. 18.

Perlu diketahui bahwa hukum internasional tidak mengharuskan suatu negara hanya terdiri dari suatu bangsa. Hukum internasional tidak melarang suatu negara terdiri dari beberapa bangsa tetapi harus mempunyai kewarganegaraan yang sama. Cukup banyak contoh negara yang multinasional seperti Rusia, Cina atau sejumlah negara  di  kawasan  Afrika  dimana  berbagai  suku   hidup berdampingan di dalam negara yang sama. Ihblimd,. 20.

b. Wilayah yang pasti (a defined territory)
Dapat dikatakan bahwa tidak akan ada negara tanpa wilayah. Oleh karena itu, adanya suatu wilayah tertentu mutlak bagi pembentukan suatu negara. Wilayah yang pasti atau tetap adalah suatu wilayah sebagai tempat bermukimnya penduduk atau rakyatnya. Di samping itu, suatu wilayah tidak perlu luas untuk didirikannya suatu negara. Sejak dulu kita mengenal adanya negara-negara mikro dan keberadaannya tidak pernah ditolak oleh masyarakat internasional. Perubahan-perubahan tapal batas, baik yang mengakibatkan berkurangnya maupun bertambahnya wilayah suatu negara tidak akan mengubah identitas negara tersebut.

Pada umumnya wilayah tempat  bermukimnya penduduk adalah wilayah daratan, sesuai dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang hidup di daratan. Akan tetapi, wilayah suatu negara tidak hanya terdiri  dari wilayah daratan. Di samping wilayah daratan, wilayah suatu negara juga terdiri dari lautan dan udara di atasnya. Wilayah lautan dimana suatu negara mempunyai kedaulatan penuh biasanya terdiri dari perairan  daratan, laut pedalaman, dan laut wilayah. Sedangkan wilayah  udara adalah udara yang berada di atas wilayah daratan dan bagian-bagian laut tersebut.

Konferensi PBB III mengenai Hukum Laut mengelompokkan sebagian besar negara di dunia atas 3 kelompok yaitu kelompok negara-negara pantai (the  coastal states group), kelompok negara-negara tidak berpantai  (the  land-locked  states  group),  dan  kelompok negara-negara yang secara geografis tidak menguntungkan (the geographically disadvantaged group). Ihblimd,. 20.-21

c. Pemerintahan (government)
Sebagai suatu person yuridik, negara memerlukan sejumlah organ untuk mewakili dan menyalurkan kehendaknya. Bagi hukum internasional, suatu wilayah yang tidak mempunyai pemerintahan tidak dianggap sebagai suatu negara dalam arti kata yang sebenarnya. Namun, hukum internasional tidak mencampuri bagaimana seharusnya pembentukan suatu pemerintah karena itu adalah wewenang hukum nasional masing-masing negara. Yang penting bagi hukum internasional adalah adanya suatu pemerintah dalam suatu negara yang bertindak atas nama negara tersebut dalam hubungannya dengan negara- negara lain.

Yang dimaksud dengan pemerintah, biasanya badan eksekutif dalam suatu negara yang dibentuk melalui prosedur konstitusional untuk menyelenggarakan kegiatan- kegiatan yang ditugaskan rakyat kepadanya. Dalam hubungan antara pemerintah dan rakyat ini yang diinginkan hukum  internasional adalah  bahwa  pemerintah    tersebut mempunyai kekuasaan yang efektif atas seluruh penduduk dan wilayah negaranya. Yang dimaksud dengan efektif ialah pemerintah tersebut mempunya kapasitas riil untuk melaksanakan     semua     fungsi     kenegaraan    termasuk pemeliharaan keamanan dan tata tertib di dalam negeri dan pelaksanaan berbagai komitmen di luar negeri. Ihblimd,. 22.

Mengenai bentuk pemerintah itu, bisa saja berbeda antara pemerintah dari negara yang satu dengan pemerintah dari negara yang lain. Demikian pula sistem pemerintahannya. Rejim yang berkuasa sebagai suatu pemerintah suatu negara, bisa saja berganti-ganti dari rejim atau pemerintah yang lama kepada yang baru.

Hukum internasional tidak mempersoalkan bentuk dan sistem pemerintah suatu negara, sepanjang penentuan maupun proses pergantian pemerintah suatu negara, sepanjang penentuan maupun proses pergantiannya merupakan kehendak dari rakyatnya. Sepanjang pergantian pemerintah dalam suatu negara terjadi dengan cara seperti itu,   maka   dari   segi   hukum   internasional,   pemerintah tersebut akan diterima sebagai pemerintah yang sah dari negara yang bersangkutan. I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 98.

d. Kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara- negara lain (a capacity to enter into the relations with other states)
Unsur ini merupakan unsur non-fisik, yang menjadi penentu terakhir atas eksistensi suatu negara. Tegasnya, apakah rakyat atau penduduk yang bermukim di suatu wilayah dan mengorganisasikan diri di bawah satu pemerintah, dapat disebut sebagai negara ataukah tidak, tergantung pada ada atau tidak adanya kemampuan mengadakan hubungan dengan negara-negara lain. Jika tidak ada kemampuan mengadakan hubungan-hubungan dengan negara lain, maka penduduk dengan pemerintahnya yang bermukim di suatu wilayah itu tidak dapat disebut sebagai negara. Ihblimd,. 99.

Pada hakekatnya, kemampuan mengadakan hubungan dengan negara-negara lain dapat dipandang sebagai manifestasi dari kedaulatannya. Konvensi Montevideo ini merupakan   suatu   kemajuan   bila dibandingkan  dengan konsepsi klasik pembentukan negara yang hanya mencakup tiga unsur konstitutif. Bagi konvensi tersebut ketiga unsur itu belum cukup untuk menjadikan suatu entitas sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Oleh karena itu, diperlukan unsur tambahan yang tidak kalah penting yaitu kapasitas untuk mengadakan hubungan dengan negara- negara lain. Namun sebagai akibat perkembangan hubungan antar negara yang sangat cepat, ketentuan Konvensi Montevideo yang berisikan unsur kapasitas ini sudah agak ketinggalan dan diganti dengan kedaulatan sebagai unsur konstitutif keempat pembentukan negara mengingat artinya sangat penting dan ruang lingkupnya yang lebih luas.

Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh suatu negara secara bebas melakukan berbagai kegiatan sesuai kepentingannya asal saja kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan hukum internasional. Sesuai konsep hukum internasional, kedaulatan memiliki tiga aspek utama yaitu:
  1. Aspek ekstern kedaulatan, yaitu hak bagi setiap negara untuk secara bebas menentukan hubungannya     dengan     berbagai     negara    atau kelompok-kelompok lain tanpa kekangan, tekanan atau pengawasan dari negara lain.
  2. Aspek intern kedaulatan, yaitu hak atau wewenang eksklusif suatu negara untuk menentukan bentuk lembaga-lembaganya, cara kerja lembaga-lembaga tersebut dan hak untuk membuat undang-undang yang diinginkannya serta tindakan-tindakan untuk mematuhi.
  3. Aspek teritorial kedaulatan, yaitu kekuasaan penuh dan eksklusif yang dimiliki oleh negara atas individu-individu dan benda-benda yang terdapat di wilayah tersebut. Boer Mauna, op cit., hlm. 24.


Kedaulatan juga mempunyai arti yang sama dengan kemerdekaan. Bila suatu negara disebut berdaulat, itu juga berarti merdeka dan sebaliknya. Bila suatu negara yang baru lahir dan yang mengadakan kegiatan hubungan luar negeri, sering disebut negara merdeka ataupun negara berdaulat saja. Ihblimd,. 25.

Itulah unsur-unsur konstitutif yang diperlukan bagi pembentukan suatu negara dan gabungan unsur-unsur tersebut telah menjadikan negara sebagai pemegang penuh hak dan kewajiban dalam hukum internasional.

B. Organisasi Internasional
Organisasi internasional memang bukan merupakan suatu fenomena baru dalam tatanan masyarakat internasional. Organisasi internasional barulah muncul pada abad ke-19, yang ditandai dengan berdirinya International Telecommunication Union (ITU). Selanjutnya diikuti dengan berdirinya organisasi internasional dalam bidang-bidang lain sampai dengan berdirinya the League of Nations (Liga Bangsa-Bangsa) pada tahun 1919 yang kemudian pada tanggal 24 Oktober 1945 berdirilah the United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menggantikan kedudukan Liga Bangsa-Bangsa.

Berdirinya organisasi internasional pada hakekatnya didorong oleh keinginan untuk meningkatkan dan melembagakan kerjasama internasional secara permanen dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pelembagaan kerjasama internasional dengan cara mendirikan  organisasi  internasional  dalam beberapa hal memang lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan kerjasama internasional secara multilateral maupun bilateral saja. 0I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 102.

Menurut Pasal 2 ayat 1 Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian 1969, organisasi internasional adalah organisasi antar pemerintah. Definisi yang diberikan konvensi ini adalah sempit karena membatasi diri hanya pada hubungan antara pemerintah. Penonjolan aspek antar pemerintah ini kiranya dimaksudkan untuk membedakan antara organisasi-organisasi antar pemerintah (inter- governmental organizations – IGO) dan organisasi-organisasi non- pemerintah (non-governmental organizations – NGO). Definisi yang sempit ini tidak berisikan penjelasan mengenai persyaratan- persayaratan  apa saja  yang harus  dipenuhi oleh  suatu  organisasi untuk dapat dinamakan organisasi internasional dalam arti kata sebenarnya. Boer Mauna, op cit., hlm. 419.

Berbeda dari negara, organisasi-organisasi internasional yang merupakan himpunan dari negara-negara bukanlah subjek asli hukum internasional. Organisasi internasional adalah subjek buatan, subjek hukum yang diciptakan oleh negara-negara yang mendirikannya. Organisasi-organisasi internasional melaksanakan kehendak  negara-negara  anggota  yang  dituangkan  dalam   suatu perjanjian internasional. Oleh karena itu, organisasi-organisasi internasional melalui bermacam-macam ikatan, sangat dekat dengan negara-negara yang mendirikannya, dan dalam banyak hal sangat bergantung pada negara-negara tersebut. Ihblimd,. 420.

Menurut Ian Brownlie, kriteria kepribadian hukum bagi   suatu organisasi internasional, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Organisasi internasional itu merupakan suatu persekutuan antara negara-negara yang bersifat permanen dengan tujuan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, serta dilengkapi dengan organ-organnya.
  2. Adanya suatu pemisahan atau pembedaan dalam kewenangan hukum maupun maksud dan tujuan dari organisasi internasional itu sendiri pada satu pihak dengan negara-negara anggotanya.
  3. Adanya suatu kekuasaan hukum yang dapat dilaksanakan oleh organisasi internasional itu sendiri, tidak saja dalam hubungannya dengan sistem hukum nasional dari satu atau leih negara-negara, tetapi juga pada tingkat internasional. Ian Brownlie, Principles of Public International Law, (Oxford: Clarendon Press, 2003), hlm. 658.


Kedudukan  organisasi  internasional  sebagai  subjek    hukum internasional   sekarang   tidak   diragukan   lagi,   walaupun   pada mulanya belum ada kepastian mengenai hal ini. Organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan International Labour Organization (ILO) mempunyai hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam konvensi-konvensi internasional yang merupakan semacam anggaran dasarnya.

Dalam memberikan pendapatnya, Mahkamah Internasional menguji status kedudukan PBB menurut hukum internasional dan menyatakan dalam kesimpulan bahwa:

“In the opinion of the Court, the Organization was intended to exercise and enjoy, and is in fact exercising and enjoying functions and rights which can only be explained on the basis of the possession of a large measure of international personality and the capacity to operate upon an international plane…

Accordingly, the Court has come to the conclusion that the Organization is an international person. That is not the same thing as saying it is a State, which is certainly is not, or that its legal personality and rights and duties are the same as those of a State. Still less is it the same thing as saying that it is “a super-State”, whatever the expression may mean. It does not even imply that all its rights and duties must be upon the international plane, any  more that all the rights and duties of a State must be upon than plane. What it does mean is that it is a subject of international law and capable of possessing international rights and duties, and it has capacity to maintain its rights by bringing international claims…”.Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, op cit., hlm. 101-103. yang artinya, menurut pendapat Mahkamah, Organisasi itu dimaksudkan untuk latihan dan dinikmati, dan bahkan berolahraga dan  menikmati  fungsi  dan  hak-hak  yang hanya  dapat dijelaskan atas dasar kepemilikan ukuran besar kepribadian internasional dan kapasitas untuk beroperasi pada pesawat internasional ...

Dengan demikian, Mahkamah telah sampai pada kesimpulan bahwa Organisasi adalah subjek internasional. Itu bukan hal yang sama dengan mengatakan itu adalah negara, yang tentu saja tidak, atau bahwa kepribadian hukum dan hak dan kewajiban yang sama dengan suatu negara. Masih kurang apakah hal yang sama dengan mengatakan bahwa itu adalah "negara super", apa pun ekspresi ini mungkin berarti. Bahkan tidak berarti bahwa semua hak dan tugas harus atas pesawat internasional, lagi bahwa semua hak dan kewajiban suatu Negara harus berada di atas dari pesawat. Apa ini berarti adalah bahwa ia adalah subjek hukum internasional dan mampu memiliki hak internasional dan tugas, dan memiliki kapasitas untuk mempertahankan haknya dengan membawa klaim internasional ...

Dengan pendapat Mahkamah Internasional yang dinyatakan dalam Advisory Opinion ini kedudukan PBB dan organisasi serupa yaitu badan-badan khusus (Specialized Agencies) PBB sebagai subjek hukum internasional tidak usah diragukan lagi.

C. Palang Merah Internasional (International Committee for the Red Cross – ICRC)
Palang Merah Internasionalyang berkedudukan di Jenewa, Swiss mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah hukum internasional.Boleh dikatakan bahwa organisasi ini sebagai subjek hukum yang lahir karena sejarah.Ihblimd,. 101. Pada awal mulanya, Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional yakni sesuai dengan hukum nasional negara Swiss, didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss yang dipimpin   oleh   Henry   Dunant   dan   bergerak   dalam      bidang kemanusiaan yang bertujuan memberikan bantuan dan pertolongan yang berlandaskan dan berjiwakan kemanusiaan universal kepada setiap orang anggota pasukan yang menjadi korban dalam pertempuran yang sedang berlangsung tanpa memandang kawan maupun lawan, kebangsaan, etnis, agama, dan lain-lain.

Oleh karena kegiatannya dalam bidang kemanusiaan, lama kelamaan Palang Merah Internasional mendapat simpati dan sambutan positif, tidak saja di dalam negeri Swiss tetapi juga meluas ke berbagai negara yang diikuti dengan langkah yang nyata, berupa pembentukan Palang Merah Nasional di masing- masing negara bersangkutan, sehingga akhirnya berkembang pesat di seluruh penjuru dunia. Palang Merah Nasional dari negara- negara tersebut kemudian menghimpun diri menjadi Palang Merah

Internasional. Dengan demikian, keanggotaan dari Palang Merah Internasional bukanlah negara-negara melainkan Palang Merah Nasional dari negara-negara. Jadi Palang Merah Internasional sebenarnya dapat dipandang sebagai organisasi internasional non- pemerintah (non-governmental organization).

Dalam bidang-bidang kehidupan ataupun peristiwa-peristiwa yang berkenaan dengan masalah-masalah kemanusiaan universal, seperti peperangan dengan segala akibat-akibat lanjutannya, bencana alam, pengungsian dan lain sebagainya, peranan Palang Merah Internasional sudah tidak terhitung banyaknya maupun nilainya. Peranan langsung Palang Merah Internasional dalam pembentukan dan pengembangan hukum humaniter    internasional juga sudah banyak diakui. I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 123-124.

D. Takhta Suci (Vatikan)
Takhta Suci (Vatikan) merupakan suatu contoh dari suatu subjek hukum internasional yang telah ada sejak dahulu di  samping negara.Hal ini merupakan peninggalan sejarah sejak zaman dahulu ketika Paus bukan hanya merupakan kepala gereja Roma, tetapi memiliki pula kekuasaan duniawi. Hingga sekarang Takhta   Suci   (Vatikan)   mempunyai   perwakilan   diplomatik di banyak ibukota terpenting di dunia yang sejajar kedudukannya dengan wakil diplomatik negara-negara lain. Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, op cit., hlm. 100.

Berdasarkan Traktat atau Perjanjian Lateran (the Lateran Treaty) tanggal 11 Februari 1929 antara Italia dan Takhta Suci, pemerintah Italia menyerahkan sebidang tanah di Roma yaitu wilayahVatikan sekarang, sebagai tempat kedudukan Takhta Suci. Perjanjian Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Takhta Suci sebagai pribadi  hukum internasional yang berdiri sendiri. Tugas dan kewenangan Takhta Suci tidak seluas tugas dan kewenangan negara, sebab hanya terbatas dalam bidang kerohanian dan kemanusiaan, sehingga tampak hanya memiliki kekuatan moral saja, namun wibawa dan pengaruh Paus sebagai pemimpin tertinggi  Takhta Suci dan umat Katolik sedunia, sudah diakui secara luas di seluruh dunia. Dalam praktek hubungan internasional maupun diplomasi, negara-negara memperlakukan Paus sebagai pemimpin tertinggi Takhta Suci, sesuai dengan norma-norma hukum internasional maupun   norma-norma   sopan   santun   diplomatik,   sama seperti kepala-kepala negara dan pemerintahan negara-negara pada umumnya. I Wayan Parthiana, op cit., hlm. 124-125.

E. Organisasi Pembebasan atau Bangsa yang Memperjuangkan Hak- Haknya.
Sebenarnya pengertian organisasi pembebasan ataupun bangsa (yang sedang memperjuangkan haknya) itu sendiri, hingga kini masih sangat kontroversial. Hal ini disebabkan oleh karena pandangan atau penilaian masyarakat internasional tentang apa yang disebut organisasi pembebasan ataupun bangsa, lebih banyak ditentukan oleh faktor atau pertimbangan politik yang tentu saja konsekuensinya menjadi sangat subjektif.

Organisasi pembebasan atau bangsa yang sedang berjuang ini dapat diakui sebagai subjek atau pribadi hukum internasional, sifatnya hanyalah sementara waktu saja, yakni selama dia berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan tujuannya. Jika cita-cita atau tujuannya telah tercapai, misalnya telah berhasil berdiri sebagai merdeka, maka eksistensinya sebagai oraganisasi pembebasan atau bangsa yang sedang berjuang sudah berakhir, sebab sudah berubah menjadi negara baru. Jadi yang akan menjadi subjek hukum internasional adalah negara baru itu sendiri. Sebaliknya jika  ia tidak berhasil atau gagal, maka eksistensinya sebagai pribadi hukum internasional juga akan berakhir.

Untuk masa sekarang ini, kelompok atau organisasi pembebasan  yang  sudah  mendapat  pengakuan  secara  luas   dari masyarakat internasional adalah Palestine Liberation Organization (Organisasi Pembebasan Palestina). Kini sebagian besar Negara- negara ataupun organisasi-organisasi internasional  sudah mengakui eksistensi PLO sebagai wakil yang sah dari bangsa Palestina untuk memperjuangkan hak-haknya yakni mendirikan Negara Palestina. Selain itu, South West African’s People Organization/SWAPO (Organisasi Rakyat Afrika Barat Daya)  juga merupakan salah satu organisasi pembebasan atau bangsa yang sedang memperjuangkan hak-haknya yakni mendirikan negara Afrika Barat Daya atau lebih dikenal dengan Namibia, yang hampir selama Sembilan puluh tahun dikuasai oleh Afrika Selatan. Selama dalam perjuangannya itu, SWAPO mendapat  dukungan dan pengakuan internasional yang luas sampai akhirnya berhasil mencapai tujuannya yakni berdirinya negara Namibia. Dengan berdirinya  negara  Namibia,  maka  eksistensi  SWAPO     sebagai organisasi pembebasan tentu saja berakhir sebab tujuannya telah tercapai. I Wayan Parthiana, op. cit., hlm. 127-128.

F. Kaum Pemberontak (Belligerent).
Berbeda dengan organisasi pembebasan yang munculnya karena rakyat wilayah jajahan menghadapi penjajahnya atau bergolak   menghadapi   bangsa   lain   yang   menindasnya,   kaum pemberontak ini pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri suatu negara berdaulat. Sebagai contoh, pemberontakan bersenjata yang terjadi dalam suatu negara yang dilakukan oleh sekelompok orang melawan pemerintah yang sedang berkuasa.

Dengan demikian, hukum yang harus diberlakukan terhadap peristiwa pemberontakan dalam suatu negara adalah hukum nasional dari negara yang bersangkutan. Hukum internasional pada hakekatnya tidak mengaturnya oleh karena hal itu merupakan masalah dalam negeri suatu negara, kecuali melarang negara- negara lain untuk mencampurinya tanpa persetujuan dari negara tempat terjadinya peristiwa pemberontakan itu. Dengan kata lain, negara-negara lain berkewajiban menghormati kedaulatan teritorial negara bersangkutan termasuk menghormati haknya untuk menerapkan hukum nasionalnya terhadap peristiwa pemberontakan itu. Pemberontakan bersenjata yang terjadi dalam suatu negara dapat meningkat dan berkembang sedemikian rupa, dari yang semula kecil-kecilan kemudian semakin bertambah besar, sehingga tampak seperti perang antara dua kekuatan yang setara atau yang lebih dikenal dengan perang saudara. Ihblimd,. 129-130.

Menurut Oppenheim-Lauterpacht, suatu kelompok pemberontak dapat digolongkan memiliki kedudukan sebagai pribadi hukum internasional apabila memenuhi empat syarat berikut:
  1. Adanya perang saudara itu disertai dengan pernyataan hubungan permusuhan antara negara yang bersangkutan dengan kaum pemberontak tersebut.
  2. Kaum pemberontakan itu harus menguasai atau menduduki sebagian dari wilayah negara itu.
  3. Adanya penghormatan atas peraturan-peraturan hukum pernag oleh kedua pihak yakni negara yang bersangkutan dan kaum pemberontak itu sendiri.
  4. Adanya kebutuhan praktis bagi pihak atau negara-negara ketiga untuk menentukan sikapnya terhadap perang saudara tersebut. Ihblimd,. 131.


G. Orang Perorangan (Individu).
Kedudukan individu sebagai subjek hukum internasional sudah tidak perlu diragukan lagi. Dalam perjanjian Versailles tahun 1919 yang mengakhiri Perang Dunia I antara Jerman dengan Inggris dan Prancis, dengan masing-masing sekutunya, sudah terdapat pasal- pasal yang memungkinkan orang perorangan mengajukan   perkara ke hadapan Mahkamah Arbitrase Internasional, sehingga dengan demikian sudah ditinggalkan dalil lama bahwa negara yang bisa menjadi pihak di hadapan suatu peradilan internasional.

Dalam proses di muka Mahkamah Penjahat Perang yang diadakan di Nurnberg dan Tokyo, bekas para pemimpin Jerman dan Jepang, dituntut sebagai orang perorangan (individu) untuk perbuatan yang dikualifikasi sebagai kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan terhadap perikemanusiaan, dan kejahatan perang (pelanggaran terhadap hukum perang) dan  persekongkolan untuk mengadakan kejahatan tersebut.  Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, op. cit., hlm. 103-104.

Pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah hukum internasional yang memberikan hak dan membebani kewajiban serta tanggung jawab secara langsung kepada individu semakin bertambah pesat, setelah Perang Dunia II. Lahirnya Universal Declaration of Human Rights pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak-hak asasi manusia pada berbagai kawasan seperti di Eropa, Amerika, dan Afrika, kemudian diikuti pula dengan deklarasi, konvensi, maupun berbagai bentuk kadidah hukum lainnya yang lebih bersifat sektoral tentang hak-hak asasi manusia, semakin mengukuhkan eksistensi     individu     sebagai     subjek     atau     pribadi hukum internasional yang mandiri. Setiap individu tanpa memandang asal-usul, ras, etnis, agama atau kepercayaannya, serta paham politik atau ideologinya, diakui memiliki hak-hak asasi manusia.Setiap anggota masyarakat internasional, apakah negara- negara, organisasi internasional, bahkan juga sesama individu, wajib untuk menghormatinya. I Wayan Parthiana, op. cit., hlm. 141-142.


Daftar Pustaka Makalah Subjek Hukum Internasional

Pengertian Subjek Hukum Internasional Definisi Perkembangan dan Macam Macamnya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

1 comments: