Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Teori Etnosentrisme Tipe dan Faktor yang Mempengaruhi Etnosentrisme

Pengertian Teori Etnosentrisme adalah William Graham Sumner menilai bahwa masyarakat tetap memiliki sifat heterogen (pengikut aliran evolusi). Menurut Sumner (1906), manusia pada dasarnya seorang yang individualis yang cenderung mengikuti naluri biologis mementingkan diri sendiri sehingga menghasilkan hubungan diantara manusia yang bersifat antagonistic (pertentangan yang menceraiberaikan). Agar pertentangan dapat dicegah maka perlu adanya folksways yang bersumber pada pola-pola tertentu.


Pola-pola itu merupakan kebiasaan (habits), lama-kelamaan menjadi adat istiadat (custom), kemudian menjadi norma-norma susila (mores), dan akhirnya menjadi hukum (laws). Kerjasama antarindividu dalam masyarakat pada umumnya bersifat antagonictic cooperation (kerjasama antarpihak yang berprinsip pertentangan). Akibatnya, manusia mementingkan kelompok dan dirinya atau orang lain. Lahirlah rasa ingroups atau we groups yang berlawanan dengan rasa outgroups atau they groups yang bermuara pada sikap etnosentris.

Sumner dalam Veeger (1990) sendiri yang memberikan istilah etnosentris. Dengan sikap itu, maka setipa kelompok merasa folkwaysnya yang paling unggul dan benar. Seperti yang dikutip oleh Levine dkk (1972) teori etnosentrisme Sumner mempunyai tiga segi, yaitu :
  1. Sejumlah masyarakat memiliki sejumlah ciri kehidupan sosial yang dapat dihipotesiskan sebagai sindrom,
  2. Sindrom-sindrom     etnosentrisme secara fungsional   berhubungan   dengan susunan dan keberadaan kelompok serta persaingan antarkelompok,dan
  3. Adanya generalisasi bahwa semua kelompok menunjukkan sindrom tersebut.


Ia menyebutkan sindrom itu seperti : kelompok intra yang aman (ingroups) sementara kelompok lain (outgroups) diremehkan atau malah tidak aman.

Zatrow (1989) menyebutkan bahwa setiap kelompok etnik memiliki keterikatan etnik yang tinggi melalui sikap etnosentrisme. Etnosentrisme merupakan suatu kenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya sebagai yang absolute dan digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak terhadap semua kebudayaan yang lain. Sehingga etnosentrisme memunculkan  komunikasi  antarbudaya  dapat  dijelaskan  dengan teori etnosentrisme seperti diungkapkan oleh Samovar dan Porter (1976). Katanya ada variabel yang mempengaruhi efektivitas komunikasi antarbudaya, misalnya terlihat dalam etnosentrisme, pandangan hidup, nilai-nilai yang absolute, prasangka, dan streotip.

Sebagai konsekuensi dari identitas etnis muncullah etnosentrisme. Menurut Matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia  hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan defenisi ini etnosentrisme tidak selalu negatip sebagaimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif, tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrime, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan saling mendukung satu sama lain. Salah satu contoh dari fenomena ini adalah ketika terjadi pengusiran terhadap etnis Madura di Kalimantan, banyak etnis Madura di lain tempat mengecam pengusiran itu dan membantu para pengungsi.


Tipe Etnosentrisme

Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling berlawanan yaitu antara lain :
  1. Etnosentrime Fleksibel
    Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan    bereaksi terhadap  suatu realitas didasrkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilsku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.
  2. Etnosentrisme Infleksibel
    Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.


Indikator terbaik menetukan tipe etnosentrisme seseorang dapat ditemukan pada respon orang dalam menginterprestasi perilaku orang lain. Misalnya, seorang etnis Minang makan sambil jalan digang rumah, maka kita memandang dari perpektif sendiri dan mengatakan "dia tidak sopan" atau "itulah mengapa dia tidak disukai" berarti kita memiliki etnosentrisme yang kaku. Tapi jika kita mengatakan "itulah cara yang dipelajari unuk melakukannya" berarti mungkin kita memiliki etnosentrime yang fleksibel.

Lawan dari etnosentrisme adalah etnorelativisme, yaitu kepercayaan bahwa semua kelompok semua budaya da subkultur pada hakekatnya sama ( Daft, 1999). Dalam etnorelativisme setiap kelompok dinilai memiliki kedudukan yang sama penting dan sama berharganya. Dalam bahasa filsafat, orang yang mampu mencapai pengertian demikian adalah oarnag yang telah mencapai  tahapan sebagai manusia sejati atau manusia humanis.

Sikap etnosentrik dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya tipe kepribadian, derajat identifikasi etnik dan ketergantungaan. Semakin tinggi derajat identifikasi etnik umumnya semakin tinggi pula derajat etnosentrisme yang dimiliki, meski tidak selalu demikian (Helmi, 1991) misalnya, menemukan bahwa generasi  muda etnik Cina memiliki sikap etnosentrik lebih rendah dari pada yang tua. Temuan ini membuktikan bahwa semakin terikat seseorang terhadap etniknya maka semakin tinggi pula etnosentrime yang dimiliki. Sebab generasi tua etnik Cina umumnya masih cukup kuat terikat dengan negeri leluhurnya dibandingkan generasi mudanya yang telah melebur dengan masyarakat mayoritas lainnya.

Mungkin kita menduga bahwa keterikatan yang kuat dengan budaya etnik akan menyebabkan rendahnya rasa kebangsaan. Sebuah penelitian yang dilakukan Panggabean (1996) membantah hal tersebut. Ia menemukan bahwa meningkatnya keterikatan seseorang dengan nilai budayanya akan diikuti dengan sikap kebangsaan yang positip. Sebaliknya menurunnya keterikatan seseorang dengan nilai budayanya akan diikuti dengan sikap kebangsaan yang segatif. Jadi tidak berarti seseorang yang sangat terikat dengan budaya etniknya lantas melunturkan sikap kebangsaannya. Etnosentrisme jelas bukan sesuatu yang harus dihilangkan sama sekali namun patut untuk dipelihara karena etnosentrisme memang fungsional. Dalam hai ini etnosentrisme fleksibellah yang harus dikembangkan. Dengan etnosentrisme fleksibel, kehidupan multikultur yang damai bisa berlangsung sementara masing-masing kultur tidak kehilangan identitasnya. 

Faktor yang Mempengaruhi Etnosentrisme

Ada tiga faktor yang mempengaruhi etnosentrisme, yaitu : (1) Prasangka sosial; (2) Streoritip; dan (3)jarak sosial.

1. Prasangka Sosial
Allport (1958) mengemukakan bahwa pengertian perasangka telah mangalami transformasi sejak dahulu sampai kini. Pada mulanya perasangka merupakan pernyataan  yang  hanya  didasarkan pada pengalaman dan  keputusan yang tak diuji terlebih dahulu. Pernyataan itu bergerak pada suatu skala suka dengan tidak suka, mendukung dengan tidak mendukung terhadap sifat-sifat tertentu. Namun pengertian perasangka kini lebih diarahkan pada pandangan yang emosional dan bersifat negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu. Effendy (1981) mengemukakan pengertian perasangka dalam hubungannya dengan komunikasi bahwa perasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi oleh karena orang-orang yang mempunyai perasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. Dalam perasangka emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar perasangka tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata.

Pengertian Teori Etnosentrisme

Menurut Jones (1972), prasangka adalah sikap antisipasi yang didasarkan pada suatu cara menggeneralisasi yang salah dan tidak fleksibel. Kesalahan itu mungkin saja terungkap dengan nyata dan langsung ditujukan kepada seseorang yang menjadi anggota suatu kelompok tertentu. Perasangka merupakan sikap yang negatif yang diarahkan kepada seseorang atas dasar perbandingan dengan kelompok sendiri. Pernyataan tersebut sebenarnya tetap berakar pada perspektif etnosentrisme yang telah diuraikan. Sehingga perasangka sosial diduga kuat sekali pengaruhnya terhadap komunikasi antaretnik.

Johnson (1986) juga mengemukakan, prasangka disebabkan karena : 
  1. gambaran perbedaan antar kelompok;
  2. nilai yang dimiliki kelompok lain nampaknya sangat menguasai kelompok minoritas; 
  3. karena adanya stereotif; dan 
  4. karena perasaan superior pada kelompok sendiri.


Sementara itu Zastrow (1989) menjelaskan bahwa prasangka dapat bersumber dari : 
  1. proyeksi ( usaha untuk mempertahankan ciri diri sendiri secara berlebihan); 
  2. frustasi, agresi, kecewa dan mengarah pada sikap menantang; 
  3. berhadapan dengan ketidaksamaan dan kerendahdirian; 
  4. kesewenang-wenangan; 
  5. alasan historis; 
  6. persaingan yang tidak sehat dan menjurus ke arah eksploitasi; 
  7. cara-cara sosialisasi yang berlebihan dan 
  8. memandang kelompok lain dengan pandangan yang sinis.


Secara umum dapat disimpulkan bahwa prasangka merupakan suatu sikap yang sangat negatif yang diarahkan kepada kelompok tertentu dan lebih difokuskan pada suatu ciri-ciri negatif ataupun lebih pada kelompok tersebut. Sikap demikian bisa dikatakan sebagai sikap yang menghambat efektivitas komunikasi diantara komunikator dengan komunikan yang berbeda etniknya.

Dalam kajian teoritis ini (Liliweri,1994) ada tiga faktor penentu perasangka yang di duga mempengaruhi komunikasi yaitu :
  1. Stereotip
  2. Jarak sosial
  3. Diskriminasi



2. Stereotip
Menurut Verdeber (1986) dalam Liliweri (2001), yang dimaksud dengan stereotip adalah sikap dan karakter yang dimiliki seseorang untuk menilai orang lain semata-mata berdasarkan pengelompokkan kelas atau pengelompokkan yang dibuatnya sendiri.

Johnson (1986) mengemukakan stereotip adalah suatu keyakinan seseorang terhadap orang lain (karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman). Keyakinan itu membuat kita memperkirakan perbedaan antarkelompok yang mungkin kelewat tinggi ataupun terlalu rendah sebagai ciri khas seseorang maupun kelompoknya.

Stereotip cenderung mengarah pada sikap yang negatif terhadap orang lain, menurut Gerungan (1988), stereotip merupakan suatu gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang golongan lain yang umumnya bercorak negatip. Selanjutnya kata Gerungan, stereotip mengenai orang lain sudah terbentuk pada orang yang berperasangka sebelum ia mempunyai kesempatan untuk bergaul sewajarnya dengan orang- orang lain yang dikenakan perasangka itu.

Stereotip juga dapat ditemukan dalam lingkup nasional. Dinegara kita misalnya terdapat stereotip-stereotip antarsuku. Tidak jarang kita mendengar bahwa orang Sunda suka basa-basi, lelakinya tukang kawin, wanitanya pesolek, orang Padang pelit, orang Jawa penganut aliran kepercayaan, orang Batak kasar dan sebagainya (Mulyana,1998:236).

Dapat disimpulkan, jika komunikasi diantara mereka yang berbeda etnik didahuli oleh sereotip yang negatip antaretnik akan mempengaruhi efektivitas komunikasi. Bahkan pada gilirannya akan menghambat integrasi manusia yang sudah pasti harus dilakukan lewat komunikasi, baik komunikasi verbal maupun komunikasi bermedia (massa). Dengan demikian, keberadaan stereotip-stereotip antaretnik di negara kita pun dapat pula menghambat integrasi suku- suku bangsa tersebut.


3. Jarak Sosial
Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi efektivitas komunikasi  antaretnik adalah jarak sosial. Menurut Deaux (1984), jarak sosial merupakan aspek lain dari prasangka sosial yang menunjukkan tingkat penerimaan seseorang terhadap orang lain dalam hubungan yang terjadi diantara mereka. Doobs (1985) mengemukakan jarak sosial merupakan perasaan untuk memisahkan seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan tingkat penerimaan tertentu.

Secara teoritis pengukuran jarak sosial temuan Emory Bogardus yang diikuti Gerungen (1988) itu mengukur penerimaan seseorang terhadap orang lain dalam unsur-unsur seperti :
  1. Kesediaan untuk menikah dengan orang lain
  2. Bergaul rapat sebagai kawan anggota dalam klubnya
  3. Menerimanya sebagai tetangga
  4. Menerimanya sebagai rekan sejawatnya
  5. Menerimanya sebagai pengunjung negaranya
  6. Menerimanya sebagai warganegaranya, dan
  7. Tidak ingin menerimanya dalam negaranya.


Berdasarkan skala Borgadus itu dapat diketahui derajat penerimaan seseorang terhadap orang dari kelompok lain, siapakah dari kelompok lain yang  paling dekat, sebaliknya siapakah yang paling jauh.

Liliweri (2001) berasumsi bahwa semakin dekat jarak sosial seseorang komunikator  dari suatu  etnik dengan  seorang  komunikan  dari etnik  lain, maka semakin efektif pula komunikasi diantara mereka. Sebaliknya jika semakin jauh jarak sosial maka semakin kurang efektif komunikasi.


Daftar Pustaka Makalah Teori Etnosentrisme

Liliweri, Alo, 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Citra Adity Bakti. Bandung. Lubis,  Lusiana.A,  2002,  Pengantar Komunikasi  Lintas  Budaya.  USU Press, Medan

Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat, 1998, Komunikasi Antarbudaya : Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Effendy,   Onong   Uchjana,   1992.   Ilmu   Komunikasi,   Teori   dan Praktek. PT.Remaja Rosdakarya,Bandung.

Liliweri, Alo, 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Citra Adity Bakti. Bandung. 

Pengertian Teori Etnosentrisme Tipe dan Faktor yang Mempengaruhi Etnosentrisme Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment