Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 4 October 2015

Pengertian Teori Gerakan Sosial Definisi Sebagai Kekuatan Perubahan dalam Politik menurut Para Ahli

Pengertian Teori Gerakan Sosial adalah termasuk istilah baru dalam kamus ilmu-ilmu sosial. Meskipun demikian di lingkungan yang sudah modern seperti di Indonesia fenomena munculnya gerakan sosial bukanlah hal aneh. Misalnya ketika kenaikan tarif listrik sudah terlalu tinggi kemudian muncul nama seperti Komite Penurunan Tarif Listrik. Perlawanan atau desakan untuk mengadakan perubahan seperti itu dapat dikategorikan sebuah gerakan sosial.


Berbagai gerakan sosial dalam bentuk LSM dan Ormas bahkan Parpol yang kemudian menjamur memberikan indikasi bahwa memang dalam suasana  demokratis  maka masyarakat memiliki banyak prakarsa untuk mengadakan perbaikan sistem atau struktur yang cacat. Dari kasus itu dapat kita ambil semacam kesimpulan sementara bahwa gerakan sosial merupakan sebuah gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam usaha menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah. Di sini terlihat tuntutan perubahan itu biasanya karena kebijakan pemerintah tidak sesuai lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak sebagian rakyat. Karena gerakan sosial itu lahir dari masyarakat maka kekurangan apapun di tubuh pemerintah menjadi sorotannya.

Definisi Gerakan Sosial

Jika tuntutan itu tidak dipenuhi maka gerakan sosial yang sifatnya menuntut perubahan insitusi, pejabat atau kebijakan akan berakhir dengan terpenuhinya permintaan gerakan sosial. Sebaliknya jika gerakan sosial itu bernafaskan ideologi, maka tak terbatas pada perubahan institusional tapi lebih jauh dari itu yakni perubahan yang  mendasar berupa perbaikan dalam pemikiran dan kebijakan dasar pemerintah. Namun dari literatur definisi tentang gerakan sosial ada pula yang mengartikan sebagai sebuah gerakan yang anti pemerintah dan juga pro pemerintah. Ini berarti tidak selalu gerakan sosial itu muncul dari masyarakat tapi bisa pula hasil rekayasa para pejabat pemerintah atau penguasa. Jika definisi digunakan maka gerakan sosial tidak terbatas pada sebuah gerakan yang lahir dari masyarakat yang  menginginkan perubahan pemerintah tapi juga  gerakan  yang   berusaha mempertahankan kemauannya. Jika ini memang ada maka betapa relatifnya  makna gerakan sosial itu sebab tidak selalu mencerminkan sebuah gerakan murni dari masyarakat. The Wahid Institute, Gerakan Sosial Baru Di Indonesia, 2006. <http://thewahidinstitute.com/seeding-plural-and-peachful-islam. akses : 7  januari 2009>

Kebanyakan para teoritis sosial sepakat bahwa mode aksi kolektif ini melibatkan tipe relasi yang secara sosial mengandung konflik. Tipe klasiknya adalah gerakan buruh yang menandai masyarakat industry di abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Para sarjana berbeda pendapat mengenai apa itu gerakan sosial dan bagaimana kita mempelajarinya. Beberapa sarjana menekankan aspek organisasi dan tujuan dari gerakan- gerakan sosial. Michael Useem, misalnya, mendefinisikan gerakan sosial sebagai tindakan kolektif terorganisasi, yang dimaksudkan untuk mengadakan perubahan sosial. John McCarthy dan Mayer Zald melangkah lebih rinci, dengan mendefinisikan gerakan sosial sebagai upaya terorganisasi untuk mengadakan perubahan di dalam distribusi hal-hal apa pun yang bernilai secara sosial. Sedang Charles Tilly menambahkan corak perseteruan (contentious) atau perlawanan di dalam interaksi antara gerakan sosial dan lawan- lawannya. Dalam definisinya, gerakan-gerakan sosial adalah upaya-upaya mengadakan perubahan lewat  interaksi  yang  mengandung  perseteruan  dan  berkelanjutan  di   antara warganegara dan negara. Astrid S Susanto-Sunarto, Masyarakat Indonesia Memasuki Abad Ke Dua Puluh Satu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998, Hal.21.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gerakan sosial adalah tindakan atau agitasi terencana  yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat  yang  disertai program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan atau sebagai gerakan perlawanan untuk melestarikan  pola-pola  dan  lembaga masyarakat yang ada. http://globalisasi.wordpress.com/2006/07/10/Gerakan Sosial: Kajian Teoritis, Hal. 3-4.

Perlawanan  atau desakan untuk mengadakan perubahan dapat dikategorikan sebuah Gerakan Sosial. Gerakan sosial lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena adanya ketidakdilan dan sikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Dengan kata lain, gerakan sosial lahir sebagai reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan rakyat atau menginginkan perubahan kebijakan karena dinilai tidak adil. Berbagai gerakan sosial dalam bentuk LSM, Parpol dan Ormas yang kemudian menjamur memberikan indikasi bahwa dalam suasana demokratis, masyarakat memiliki banyak prakarsa untuk mengadakan perbaikan sistem atau struktur yang cacat.

Gerakan Sosial secara teoritis merupakan sebuah gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam usaha menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah. Di sini terlihat tuntutan perubahan itu biasanya karena kebijakan pemerintah tidak sesuai lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak sebagian rakyat. Karena gerakan sosial lahir  dari masyarakat maka kekurangan apapun ditubuh pemerintah menjadi sorotannya. Dari literatur defenisi tentang gerakan sosial, adapula yang mengartikan gerakan sosial sebagai sebuah gerakan  yang  anti pemerintah  dan  juga  pro  pemerintah.  Ini  berarti tidak selalu gerakan sosial itu muncul dari masyarakat tapi bisa juga hasil rekayasa para pejabat pemerintah atau penguasa. Juwono Sudarsono (ed), Pembangunan Politik Dan Perubahan Politik, Jakarta: Gramedia, 1976, Hal. 24-25.

Jurgen Habermas, sebagaimana dikutip oleh Pasuk Phongpaichit (2004) menyatakan bahwa Gerakan Sosial adalah Devensive relations to defend the publik and private sphere of individuals againts the inroad of the state system and market economy. (Gerakan Sosial adalah hubungan defensive individu- individu untuk melindungi ruang publik dan private mereka dengan melawan serbuan dari sistem negara dan pasar).http://pioner.netserv.chula.ac.th/~ppasuk/theorysocmovt.doc.

Anthony  Giddens   menyatakan  Gerakan  Sosial   sebagai  upaya   kolektif  untuk mengejar kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama atau gerakan bersama melalui tindakan kolektif (action collective) diluar ruang lingkup lembaga- lembaga yang mapan.Fadhillah Putra dkk, Gerakan Sosial, Konsep, Strategi,Aktor, Hambatan Dan Tantangan Gerakan Sosial Di Indonesia , Malang : PlaCID’s dan Averroes Press,2006, Hal.1. Sedangkan Mansoer Fakih menyatakan bahwa Gerakan Sosial dapat diartikan sebagai kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka tujuan sosial terutama dalam usaha merubah struktur maupun nilai sosial.Mansoer Fakih, Tiada Transformasi Tanpa Gerakan Sosial, dalam Zaiyardam Zubir, Radikalisme Kaum Terpinggir : Studi Tentang Ideologi, Isu , Strategi Dan Dampak Gerakan, Yogyakarta : Insist Press , 2002 , Hal. Xxvii.

Sejalan dengan pengertian Gerakan Sosial di atas, Herbert Blumer merumuskan Gerakan Sosial sebagai sejumlah besar orang yang bertindak bersama atas nama sejumlah tujuan atau gagasan.www.sastriomunandar.Multiply.comRobert Misel dalam bukunya yang berjudul Teori Pergerakan Sosial mendefenisikan Gerakan Sosial sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan dalam masyarakat.Robert Misel, Teori Pergerakan Sosial, Yogyakarta : Resist Book , 2004 , Hal.6-7.

Tetapi,  David  Meyer  dan Sidney Tarrow,  dalam  karya  mereka  Social Movement Society (1998). Memasukkan semua ciri yang sudah disebutkan di atas dan mengajukan sebuah definisi yang lebih inklusif tentang Gerakan sosial, yakni: Tantangan-tantangan bersama, yang didasarkan atas tujuan dan solidaritas bersama, dalam interaksi yang berkelanjutan dengan kelompok elite, saingan atau musuh, dan pemegang otoritas.David Meyer dan Sidney Tarrow. The Social Movement Society. 1998. <http://www.socialmovement.com//social movement society/akses 15jan2009>

Dua  fitur  tampil  menonjol  dalam  definsi  ini.  Pertama,  gerakan-gerakan  sosial melibatkan “tantangan kolektif”, yakni upaya-upaya terorganisasi untuk mengadakan perubahan di dalam aransemen-aransemen kelembagaan. Tantangan-tantangan ini bisa berpusat kepada kebijakan-kebijakan publik atau ditujukan untuk mengawali perubahan yang lebih luas dalam struktur lembaga-lembaga sosial dan politik, distribusi jaminan sosial, atau bisa juga menyangkut konseptualisasi mengenai hak-hak dan tanggung jawab sosial dan politik. Sedangkan Fitur yang kedua adalah corak politis yang inheren di dalam gerakan-gerakan sosial. Ini terutama terkait dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai lewat Gerakan-Gerakan sosial, yang secara tipikal mencakup perubahan di dalam distribusi kekuasaan dan wewenang. Tujuan-tujuan politis ini hanya mungkin dicapai lewat interaksi- interaksi yang terus-menerus, berkelanjutan, dengan aktor-aktor politik di luar Gerakan, yang terpenting di antaranya adalah sekutu-sekutu dan pesaing-pesaing politik dan pemegang otoritas kekuasaan.http://maulanusantara.wordpress.com/2008/04/18/sintesis-saling-menguntungkan-hilangnya- orang-luar-dan-orang-dalam/hal.1, akses: 17 january 2009.

Denny JA menyatakan adanya  tiga  kondisi  yang  lahirnya  Gerakan Sosial,   yang Pertama,  Gerakan Sosial dilahirkan dengan kondisi yang  memberikan kesempatan    bagi gerakan itu. Pemerintahan yang moderat misalnya, memberikan kesempatan yang lebih besar bagi timbulnya Gerakan Sosial ketimbang pemerintahan yang sangat otoriter. Kedua, Gerakan Sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Perubahan dari masyarakat Tradisonal ke masyarakat modern misalnya, akan menimbulkan kesenjangan ekonomi yang semakin meluas antara si kaya dan si miskin.

Perubahan ini juga dapat menyebababkan kritis identitas dan lunturnya nilai-nilai sosial yang selama ini di agungkan. Perubahan itu akan menimbulkan gejolak yang dirugikan dan kemudian meluas menjadi Gerakan Sosial. Ketiga, Gerakan Sosial semata- mata   masalah kemampuan kepemimpinan dari tokoh penggerak.  Sang tokoh   penggerak akan menjadi inspirator, membuat jaringan, membangun organisasi yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi untuk terlibat dalam Gerakan tersebut.Noer Fauzi, Memahami Gerakan–Gerakan Rakyat Dunia Ketiga, Yogyakarta : Insist Press ,2005, Hal.21.

Indikasi awal untuk menangkap gejala gerakan sosial menurut John Lofland adalah dengan mengenali terjadinya perubahan-perubahan pada semua elemen arena publik dan ditandai oleh kua litas "aliran" atau "gelombang". Dalam prakteknya suatu Gerakan Sosial dapat diketahui terutama lewat banyak organisasi baru yang terbentuk, bertambahnya jumlah anggota pada suatu organisasi gerakan dan semakin banyaknya aksi kekerasan atau protes terencana dan tak terencana.

Selain itu menurut Lofland dua aspek empiris gelombang yang perlu diperhatikan adalah, Pertama, aliran tersebut cenderung berumur pendek antara lima sampai delapan tahun. Jika telah melewati kurun waktu itu gerakan akan melemah dan meskipun masih ada akan tetapi gerakan telah mengalami proses 'cooled down'. Kedua, banyak organisasi kekerasan atau protes yang berubah menjadi Gerakan Sosial atau setidaknya bagian dari gerakan-gerakan yang disebut diatas. Organisasi-organisasi ini selalu  berupaya menciptakan Gerakan Sosial - atau jika organisasinya memiliki teori operasi yang berbeda maka mereka akan dengan sabar menunggu pergeseran struktur makro yang akan terjadi (misalnya krisis kapitalisme) atau pertarungan yang akan terjadi antara yang baik  dan jahat,  atau kedua  hal tersebut,  serta menunggu  kegagalan fungsi lembaga  sentral.   Kala itulah gerakan itu bisa dikenali sebagai gerakan pinggiran, gerakan awal dan embrio gerakan.Lofland, Protes, Studi Tentang Gerakan Sosial, Yogyakarta : Insist Pers, 2003, Hal.50.

Lebih lanjut dapat dirumuskan bahwa sebuah Gerakan Sosial terdiri dari:
  1. Lahirnya kekerasan atau protes baru dengan semangat muda yang dibentuk secara Independen.
  2. Bertambahnya jumlah (dan peserta) aksi kekerasan dan/atau protes terencana dan tak terencana (terutama kumpulan) secara cepat.
  3. Kebangkitan opini massa
  4. Semua yang ditujukan kepada oknum lembaga sentral
  5. Sebagai bentuk usaha untuk melahirkan perubahan pada struktur dari lembaga- lembaga sentral.


Dalam memahami dan menjelaskan fenomena Gerakan Sosial, para ahli ilmu sosial tersebut mengembangkan wacana sehingga pada tatanan teoritis telah melahirkan beberapa pendekatan untuk bisa lebih menjelaskan Gerakan Sosial. Paradigma teoritis dari   Gerakan Sosial mungkin bisa dimasukan dalam istilah yang berbeda-beda. Selain paradigma NEO- Marxisme, Pendekatan yang mendominasi hingga awal tahun 1970-an adalah konsep prilaku kolektif interaksionis dan konsep gerakan sosial mahzab Chicago, serta model struktural-fungsional. Paradigma yang terakhir ini merupakan perspektif yang paling luas dianut pada saat itu.

Pada 1970-an, Teori Mobilisasi Sumber Daya mengemukakan Pendekatan Neo- Utiliarian rasionalis untuk mempelajari Gerakan Sosial. Tetapi pendekatan-pendekatan itu dikritik keras oleh pendekatan yang berorientasi Hermeneutika yang mencoba mengkonseptualisasikan apa yang bari di dalam Gerakan Sosial Baru. Dan Pendekatan Sosiologis Tindakan menambahkan Perspektif Teoritis Komprehensif untuk studi Gerakan Sosial.

a. Pendekatan melalui Teori Marxist dan Neo-Marxisme
Teori ini menegaskan bahwa di masyarakat industri Gerakan Sosial dan revolusi berasal dari kontradiksi struktural utama antara kapital dan buruh.  Aktor-aktor  utama dalam Gerakan Sosial kelas sosial yang saling berseteru didefenisikan berdasarkan kontradiksi sistematik fundamental ini. Akan tetapi, mereka juga dianggap sebagai aktor historis, dan  mereka pasti akan menyadari peran dan takdir sejarah mereka.

Melihat dari dari perspektif Marxist, Gerakan Sosial dianggap sebagai gejala yang positif yang kemunculannya disebabkan oleh karena terjadinya proses eksploitasi dan dominasi satu kelas terhadap kelas yang lain. Gerakan sosial, dengan demikian, dipahami sebagai reaksi (perlawanan) kaum proletar terhadap kaum borjuis, merupakan ekspresi dari struktur kelas yang kontradiktif. Singkatnya, Gerakan Sosial adalah perjuangan kelas yang lahir karena adanya kesadaran kelas. http://globalisasi.wordpress.com/2006/07/10/Gerakan Sosial: Kajian Teoritis, Loc.Cit.

Mansoer Fakih manganalisis bahwa pandangan Marxistme Tradisional menegaskan beberapa ciri-ciri dari teori Gerakan Sosial, Pertama, Gerakan Sosial dilihat sebagai Gerakan Kelas Buruh dari buruh pabrik perkotaan atau buruh tani yang tak bertanah di pedesaan, yang berarti menitikberatkan kelas buruh sebagai pusat perubahan dalam teori perubahan tradisional. Kedua, sebagai akibat dari anggapan pertama, perjuangan atau gerakan non kelas, seperti Gerakan lingkungan, Gerakan Perempuan dan feminisme serta jenis gerakan nonkelas lainnya, berada diluar teori ini, Ketiga, titik perhatian utama teori- teori ini adalah terhadap  hubungan proletar  kelas  buruh dan kelas  kapitalis     ketimbang kepada hegemoni ideologis dan kultural, pendidikan, gender dan lingkungan. Teori kelas meletakan perjuangan kelas sebagai hal sentral dan menetukan perubahan sosial. Dari perspektif tersebut, Marxisme Tradisional menganalisis struktur masyarakat dalam Base dan Superstructure yang meletakan ekonomi menjadi faktor yang sangat essensial. Mereka meletakan pendidikan, kultur dan ideology sebgai Superstructure ditempat yang kedua. Dengan demikian, kaum Marxistme Tradisional cenderung memecahkan masalah masyarakat dengan mengubah aspek-aspek ekonomi. Merak tidak mementingkan aspek lainnya, seperti Hegemoni cultural dan politik, diskursus dan pengetahuan sebagai bentuk dominasi yang melanggengkan ekonomi. Lihat Mansoer Fakih, Op.,Cit, Hal.51.

b. Pendekatan Interaksionisme
Teoristis Symbolic Interactionism dari Mahzab Chicago mengadopsi pendekatan serupa untuk mempelajari prilaku kolektif dan Gerakan Sosial. Berdasarkan dari asumsi bahwa individu dan kelompok orang bertindak berdasarkan pemahaman dan eksperimen bersama, mereka berpendapat bahwa Gerakan Sosial muncul di situasi yang tidak terstruktur. Ini adalah situasi dimana hanya ada sedikit pedoman kltural bersama atau pedoman itu berantakan dan didefenisikan kembali. Gerakan sosial adalah ekspresi kolektif dari rekonstruksi situasi sosial tersebut. Gerakan sosial adalah usaha kolektif untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baru.William Outhwaite, Kamus Lengkap Pemikiran Sosial Edisi ke-2, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008,Hal.784.

Pendekatan Interaksionis simbolis untuk studi Gerakan Sosial tidak berhasil mengembangkan paradigma teoritis yang memadai. Secara keseluruhan, pendekatan ini masih mendapat perhatian, sebab pendekatan ini di satu sisi menekankan pada aspek sosial-psikologis dari aksi kolektif seperti emosi, perasaan solidaritas, prilaku ekspresif dan komunikasi, sedangkan di sisi lain menempatkan pada kemunculan gerakan sosial di dalam proses relasi dan interaksi yang terus berjalan.

c. Pendekatan Fungsionalisme Struktural
Pendekatan Struktural adalah konsep pertama yang relative sering dipergunakan oleh para akademis studi Gerakan Sosial dalam menjelaskan fenomena Gerakan Sosial. Konsep ini begitu popular, bukan dikarenakan kata “struktural” yang menjadi pembendaharaan kata dalam ilmu politik, tetapi karena istilah ini  telah berkembang     menjadi     Eponymous     School,     seperti     Struktural   Fungsionalisme, Strukturalisme dan Pasca Strukturalisme.Abdul Wahab Situmorang, Gerakan Sosial ; Studi Kasus Beberapa Perlawanan, Yogyakarta : Pustaka Pelajara, 2007, Hal.16

Dalam fungsionalisme struktural, istilah struktural dan fungsional tidak selalu perlu dihubungkan, kita dapat mempelajari struktur masyarakat tanpa perlu mengetahui fungsinya     begitu     juga     sebaliknya.     Fungsionalisme     kemasyarakatan    (Societal Functionalism), sebagai salah satu pendekatan fungsionalisme struktural, paling dominan digunakan para fungsionalis struktural. Perhatian utama dari fungsionalisme kemasyarakatan ini ialah struktur sosial dan institusi masyarakat secara luas, hubungannya dan pengaruhnya terhadap anggota masyarakat (individu/pemain).

Ada tiga varian di dalam model Gerakan Sosial Struktural-Fungsionalis. Meskipun sangat berbeda dalam pendekatan dasarnya dari logika Gerakan Sosial yang didasarkan pada interaksi, namun perbedaan itu tidak sejauh perberbedaannya dengan Marxisme dalam mode analisisnya Tiga varian tersebut adalah :
  1. Teori Masyarakat Massa.
    Teori Masyarakat Massa mempostulatkan individual yang teratomisasi. Karena tercabut dari akarnya akibat perubahan sosial yang cepat, urbanisasi dan hilangnya ikatan tradisional, terisolasi dari relasi kelompok dan kelompok referensi normative, maka individu dalam masyarakat massa adalah bebas dan cenderung berpartisipasi dalam jenis kelompok sosial baru, seperti Gerakan Sosial Baru
  2. Teori Tekanan Struktural
    Teori ini menekankan bahwa penyebab utama kemunculan Gerakan Sosial adalah terganggunya keseimbangan dari sistem sosial. Nonkorespodensi antara nilai-nilai yang dianut dengan praktik masyarakat aktual,   Tertutupnya    fungsi   institusional,   elemen   disfungsional    yang mengganggu kelangsungan system, semua itu dapat menggangu keseimbangan sosial, memicu ketegangan struktural dan kemudian memicu Gerakan Sosial.
  3. Teori Deprivasi Relatif
    Teori ini adalah sejenis varian Sosial-Psikologis dari teori Tekanan. Tekanan yang dimaksud bukan diakibatkan oleh diskrepansi struktural, tetapi berasal kondisi perasaan yang subjektif, orang merasa relative gagal menggapai harapannya. Kebutuhan yang terpenuhi tidak sesuai dengan  yang diharapkan. Perbaikan kondisi ekonomi dan politik, yang membesarkan harapan bagi beberapa kelompok, akan mudah memunculkan gerakan sosial apabila realitas tampak tidak sesuai dengan harapan. Ketidakpuasan dan frustasi akan bermunculan dan menyebabkan Gerakan Sosial.


d. Teori Gerakan Sosial Baru ( New Movement Social )
Gerakan Sosial Baru essensialnya merupakan perkembangan dari teori Gerakan Sosial sebelumnya. Teori ini berbasis di Eropa Barat. Sebagaimana Laclau dan Mouffe menganggap Gerakan Sosial Baru sebagai modal sebagai pencarian alternatif atas “ kemandekan” atau “kemacetan” dari pendekatan Marxist.Mansoer Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial, Pergolakan Ideologi LSM  Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Pelajar , 1996,Hal.46.

Dalam  Gerakan  Sosial  Baru,  terdapat  slogan  yang  berbunyi  “There  are   many Alternative”   (ada   banyak   alternative). Amalia Pulungan dan Roysepta Abimanyu , Bukan Sekedar Anti Globalisasi, Jakarta: IGJ dan WALHI, 2005, Hal.ix. 

Gerakan   Sosial   Baru   mulai   muncul   dan berkembang sejak pertengahan tahun 1960an. Gerakan Sosial Baru hadir sebagai alternatif lain dari prinsip-prinsip, strategi, aksi ataupun pilihan ideologi dari pandanagn-pandangan teori Marxist tradisional yang lebih pada menekankan pada masalah perjuangan kelas.

Gerakan Sosial Baru merupakan suatu gerakan yang terpisah dari Gerakan Sosial sebelumnya yang diwarnai politik kelas tradisional gerakan buruh. Perbedaan yang mendasar adalah dalam hal tujuan, ideologi, strategi, taktik, dan partisipan. Gerakan Sosial (lama) cenderung kental dengan dimensi kelas (Marxian) yang terbagi dalam dikotomi kelas borjuis dan proletar; Bergerak pada seputar masalah ekonomi / re-distribusi ekonomi yang erat kaitannya dengan masa-masa dimana dinamika perekonomian negara-negara Barat memasuki periode industrial serta kental dengan tujuannya untuk mengubah sistem (menggulingkan kekuasaan) secara radikal / revolusioner.

Apa yang membuat Gerakan sosial ini baru? Kebanyakan teoritis memandangnya dalam term prilaku kolektif konfliktual yang membuat ruang kultural dan sosial baru.  Claus Offe mengatakan bahwa Gerakan sosial Baru dilihat sebagai institusi masyarakat sipil yang dipolitisasi, dan karenannya mendefenisikan ulang batas-batas politik institusional, Alberto Melluci memandang Gerakan Sosial Baru sebagai cara baru memahami dunia dan menetang aturan kultural dominasi berdasarkan alasan simbolik;  juga sebagai panciptaan identitas baru yang berisikan tuntutan yang tidak bisa dinegosiasikan, seperti yang diungkapan oleh Jean.L.Coehan sedangkan Ulrich Beck menyatakan Gerakan Sosial Baru sebagai artikulasi sosial baru  yang    mengkristalisasikan pengalaman dan persoalan baru yang dialami dan dihadapi bersama, sebagai akibat dari disintegrasi umum pengalaman berbasis ekonomi.William Outhwaite, Ibid.,Hal.785.

Arti penting yang diberikan dari pengertian-pengertian diatas kepada Gerakan Sosial Baru adalah Gerakan Sosial itu mendapatkan kesadaran baru akan kapasitasnya untuk memproduksi makna baru dan bentuk kehidupan dan tindakan sosial yang baru.

Didalam kerangka teoritis ini, Gerakan Sosial diletakkan kedalam dua Perspektif. sebagai ekspresi rasionalisasi komunikasional , Gerakan Sosial Baru mempertanyakan Validasi pola kehidupan dunia yang sudah ada, seperti norma dan legitimasi, dan kemudian memperluas ruang publik. Pada saat yang sama, sebagai Gerakan Defensive, Gerakan Sosial Baru menentang gangguan patologis terhadap kehidupan dunia, yang dikolonialisasikan berdasarkan mekanisme politik dan ekonomi yang sistematik.

Paradigma Gerakan Sosial baru bertumpu pada dua klaim utama yaitu: pertama, Gerakan Sosial Baru merupakan produk peralihan dari perekonomian industrial menuju post-industrial. Kedua, Gerakan Sosial Baru bersifat unik dan berbeda dengan Gerakan Sosial di era industrial. Jika Gerakan Tradisional biasanya lebih menekankan pada tujuan ekonomis-material sebagaimana Gerakan Buruh, sedangkan Gerakan Sosial Baru cenderung menghindari tujuan tersebut yang menetapkan tujuan yang bersifat non ekonomis-material.

Offe menyatakan bahwa aktor atau partisipan dari Gerakan Sosial Baru berasal dari tiga sektor utama, yaitu :
  1. Kelas Menengah Baru
  2. Unsur-unsur  kelas  menengah  lama  (  petani,  pemilik  toko  dan penghasil karya seni), dan
  3. Orang-orang yang menempati posisi pinggiran yang tidak terlalu terlibat dalam pasar kerja, seperti mahasiswa, ibu rumah tangga, dan para pensiunan.Fadhillah Putra dkk, Op.,Cit, Hal.69-70.


e. Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory)
Teori Mobilisasi Sumber daya muncul sebagai antitesa dari pandangan yang mengatakan bahwa Gerakan Sosial Muncul akibat dari penyakit sosial. Dalam pandangan lama mengatakan bahwa Gerakan Sosial muncul akibat adanya dukungan dari pihak-pihak mengalami penindasan, teraliansi dan terisolasi dalam masyarakat, karena ini teori tersebut muncul kepermukaan untuk membantah pandangan tersebut.

Teori ini menyatakan bahwa Gerakan Sosial muncul karena tersedianya faktor- faktor pendukungnya, seperti adanya sumber-sumber pendukung, tersedianya kelompok koalisi dan adanya dukungan dana, adanya tekanan dan upaya pengorganisasian yang efektif serta sumber daya yang penting berupa ideologi.Mansoer Fakih, Op.Cit., Hal.xxvii. Teori ini lebih menekankan pada permasalahan teknis, bukan pada sebab mengapa Gerakan sosial muncul. Pada penganut teori Mobilisasi Sumber Daya ini memandang bahwa kepemimpinan, organisasi dan teknik sebagai faktor yang menentukan sukses tidaknya sebuah Gerakan sosial.www.sastriomunandar.Multiply.com.,Loc.Cit.

Lahirnya pandangan positif merupakan implikasi dari perkembangan gerakan sosial dewasa  ini,  yang dinilai telah  berhasil  mendorong  proses demokratisasi. Gerakan sosial yang dimaksud adalah gerakan perjuangan hak-hak sipil, gerakan anti kolonial, feminisme, gerakan hak asasi manusia dan gerakan anti-rasial.Noer fauzi, Op.,Cit, Hal. 10-11.

Varian yang berbeda didalam perspektif Mobilisasi Sumber Daya memiliki logika yang sama, para ahli berpendapat bahwa Gerakan Sosial menggunakan penalaran yang Instrumental-Strategis, Kalkulasi biaya, manfaat dan mengejar tujuandan kepentingan secara rasional. Mereka juga sepakat dalam poin pentong lainnya, bahwa Gerakan Sosial bukan sebuah kejadian yang abnormal, tetapi bagian dari kehidupan sosial yang normal, yang dianggap penuh potensi konflik. Karena tekanan tersebut, mereka menolak ide bahwa tekanan  atau  kekecewaan  dapat  menjelaskan  kemunculan  dari  Gerakan  Sosial, tetapi sebaliknya Gerakan Sosiallah yang memfokuskan ketegangan dan ketidakpuasaan.William Outhwaite,Loc.,Cit.

Teori Gerakan Sosial baru dan Mobilisasi Sumber Daya merupakan dua perspektif teori yang mendominasi studi-studi gerakan sosial kontemporer. Tidak hanya itu, kedua teori itupun memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan gerakan sosial di negara-negara dunia ketiga. Gerakan-gerakan untuk perubahan telah banyak bermunculan dinegara dunia ketiga. Terdapat pandangan yangan berusaha menilai hadirnya gerakan sosial ataupun kelompok aksi di dunia ketiga. Ada yang melihat gerakan sosial itu sebagai leluhur dari transisi ke sosialisme, dan yang lain melihat sebagai pendukung munculnya masyarakat sipil.

Dalam memandang gerakan sosial, kedua perspektif tersebut tidak melihatnya sebagai artikulasi dari aliran pemikiran atau ideologi tertentu, melainkan  sebagai tanggapan  terhadap  persoalan-persoalan sosial  secara  luas.  Hal  ini  dipengaruhi     oleh munculnya gerakan-gerakan sosial yang tidak mendasarkan gerakannya pada kesadaran kelas dan ideologi tertentu, melainkan pada identitas dan kesadaran/perhatian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat secara luas. Secara empiris, Gerakan sosial yang muncul pada periode ini dicirikan oleh kaburnya batas-batas ideologi, asal-usul dan latar belakang sosial, serta hal-hal sempit lainnya yang melekat pada seseorang, yang dapat merintangi upaya penyatuan kehendak untuk melakukan perubahan sosial.   Gerakan sosial yang dimaksud adalah gerakan lingkungan, gerakan perempuan, gerakan anti-nuklir, gerakan homo seks (gay), dan gerakan-gerakan lintas-batas kelas lainnya.http://www.socialmovement.com/”do we have a theoritical framework to explain social movement?

Fuentes dan Gunder Frank mendefenisikan kelompok aksi ataupun gerakan sosial tersebut sebagai akar rumput (bersifat lokal), transisional ke arah sosialisme dalm arti berusaha untuk memutuskan mata rantai kolonialisme dan bersifat antipolitik, yang artinya tidak  berusaha  untuk  memegang  kekuasaan di  tingkat  institusional,  tetapi  secara  luas merupakan  gerakan  demokratis.Jeyf  haynes,  Demokrasi Dan Masyarakat  Sipil  Dunia  Ketiga,  Gerakan  Politik  Baru   Kaum Terpinggir , Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000, Hal.27.

Kelompok  ini  merupakan  instrumen  dan pernyataan perjuangan rakyat terhadap eksploitasi dan penindasan yang sudah sangat tua serta upaya untuk bertahan hidup dan mempunyai identitas, mencoba untuk mencapai, dan menjadi instrumen dari pemberdayaan diri demokratis.

Disisi lain, terdapat pandangan mengenai munculnya kelompok aksi atau Gerakan- Gerakan Sosial Dunia Ketiga, adalah sebagai unsur utama dalam munculnya masyarakat sipil dengan berusaha untuk melindungi, memprotes dan meningkatkan kepentingan    para anggotanya, hal ini memberikan dukungan kepada munculnya proses demokratis yang perlahan dengan memperkuat dan memperluas masyarakat sipil.

Stepan mendefenisikan masyarakat sipil sebagai wilayah dimana terdapat banyak gerakan sosial (termasuk asosiasi kemasyarakatan, kelompok perempuan, badan-badan keagamaan dan arus intelektual) dan organisasi profesi (ahli hukum, wartawan, serikat pekerja wiraswastaan dan sebagainya) yang bertujuan membentuk diri mereka menjadi suatu kerangka bersama guna menyatakan diri dan memajukan kepentingannya. Jeff Haynes, Loc.,Cit. Dengan kata lain, masyarakat sipil berfungsi sebagai batu pembatas dari warga negara terhadap kekuasaan negara.

Masyarakat sipil tercakup dalam konsepsi asosiasi individu yang bebas dan tidak tergantung pada Negara, mengatur dirinya sendiri dalam sederetan aktifitas otonom dan signifikan secara politik. Masyarakat sipil hendaknya menjadi pelindung yang kuat terhadap dominasi negara, meliputi organisasi-organisasi yang membatasi dan mengesahkan kekuasaan negara. Perspektif teori-teori yang dikembangkan pada umumnya meletakan gejala gerakan sosial sebagai aktor penting yang berperan dalam proses perubahan dari otoritarianisme ke demokrasi.

Gerakan Sosial juga memiliki beberapa fungsi. Dapat kita  rangkum  dengan merujuk dari beberapa defenisi yang telah dipaparkan diatas. Beberapa fungsi dari Gerakan sosial tersebut adalah : (1). Gerakan Sosial memberi kontribusi dalam pembentukan opini publik dengan memberikan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik melalui penggabungan sejumlah gagasan-gagasan tentang Gerakan Sosial itu,  (2). Gerakan  Sosial menghasilkan pemimpin yang akan menjadi bagian dari elit politik dan mungkin meningkatkan posisinya menjadi negarawan penting. Sebagai contoh Gerakan-gerakan buruh sosialis dan kemerdekaan nasional menghasilkan banyak pemimpin yang sekarang memimpin negaranya.

f. Contentious Politics
Munculnya teori ini dikarenakan adanya anggapan bahwa beberapa teori dan pendekatan yang selama ini ada untuk menganalisa suatu Gerakan Sosial memiliki kelemahan dan keterbatasan dalam pengujiannya menganalisa Gerakan Sosial itu.

McAdam ,mengidentifikasikan bahwa terdapat empat kelemahan pada mekanisme teori-teori diatas, diantaranya , Pertama, Mekanisme-mekanisme tersebut terlalu statis dan tidak bersifat dinamis. Kedua, Mekanisme-mekanisme tersebut lebih relevan untuk menjelaskan Gerakan Sosial dalam bentuk tunggal dengan cakupan yang relative kecil sehingga tidak mencukupi untuk menjelaskan fenomena ketegangan politik yang terjadi pada suatu Gerakan Sosial dengan cakupan yang cukup besar dan luas. Ketiga, mekanisme-mekanisme tersebut muncul dalam konteks yang relative terbuka di Amerika, dengan organisasi Gerakan Sosial yang relative besar dan banyak secara quantitas dibandingkan Negara-negara selatan dimana Organisasi Gerakan Sosial-nya lebih    sedikit dan lebih tertutup. Keempat, mekanisme-mekanisme tersebut lebih memfokuskan kepada asal-asal gerakan daripada fase-fase perkembangannya.McAdam, Political Process And The Development Of Black Insurgency,1930-1970 dalam Abdul Wahab Situmorang.Op.Cit,Hal.23-24.

Oleh karena itu, untuk menjembatani kelemahan masing-masing dari mekanisme teori-teori diatas, maka pada tahun 1995 McAdam, Tarrow dan Tilly bertemu dan mencoba berkolaborasi mengintegrasi serangkaian seri-seri diskusi dan seminar menyerap pendapat dan kritik dari akademis Gerakan Sosial mengenai konsep yang telah ada dan juga konsep Contentious Politics yang akan mereka ajukan. Dan di Tahun 2001, karya mereka Dynamics of Contentious dipublikasikan. Dalam karya mereka tersebut, mereka menawarkan pendekatan yang sangat dinamis dalam menganalisa rangkaian besar peristiwa-peristiwa Gerakan, baik Gerakan sosial baru, Revolusi, Nasionalisme, maupun Demokratisasi dimanapun terjadi.

Dalam buku tersebut, komponen mekanisme dan proses seperti struktur  kesempatan politik, struktur mobilisasi dan sebagainya dijadikan sebagai subjek. Bukan objek. Dengan kata lain, komponen-komponen tersebut dijadikan sebagai kata kerja, bukan kata benda.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, ada beberapa hal yang perlu dicatat sebagai karakteristik yang melekat dalam Gerakan Sosial, yaitu :
  1. Gerakan sosial merupakan salah satu bentuk prilaku kolektif. Menurut para sosiologi, istilah perilaku kolektif secara harfiah mengacu pada perilaku serta    bentuk-bentuk    peristiwa   sosial    lepas    (emergent)    yang tidak dilembagakan (extra-institusional). Kalimat ini digunakan oleh Asosiasi Sosiologi Amerika untuk menyebut perilaku kolektif dan gerakan sosial.
  2. Gerakan sosial senantiasa memiliki tujuan untuk mmbuat perubahan sosial atau untuk mempertahankan suatu kondisi. Itu artinya, tujuan sekelompok orang untuk melakukan gerakan sosial tidak selalu disadari oleh motif perubahan, karena bisa saja di sadari atau tiidak, gerakan sosial dilakukan untuk “ mempertahankan” keadaan (status quo).
  3. Gerakan sosial tidak identik dengan gerakan politik yang terlibat dalam perebutan kekuasaan secara langsung.
  4. Gerakan sosial merupakan perilaku kolektif yang terorganisasi, baik formal maupun tidak.Gerakan sosial merupakan gejala yang lahir dalam kondisi masyarakat yang konfliktual.Artikel Sadikin, Perlawanan Petani dan Konflik Agraria Dalam Diskursus Gerakan Sosial, 2004, Hal.9.


g.   Teori Modren Tentang Agen Perubahan
Silsilah tentang teori modern agen perubahan modern dapat di runut kebelakang, melalui karya Buckley, Sosiology and Modren System Theory (1967). Bertolak ke tradisi berpikir fungsionalisme-struktural dan teori system umum, Buckley ingin merevisinya dengan menggabungkan wawasan teori lain ; Teori Pertukaran, interaksionisme-simbolik, teori permainan dan Model Prilaku Kolektif.

Masyarakat dan sejarah diciptakan melalui tindakan kolektif dan agen utamanya adalah Gerakan Sosial. Wujud agen ini dipahami sebagai bentuk-bentuk mobilisasi kolektif yang secara langsung menyerang landasan cultural masyarakat Agen Perubahan   terwujud dalam diri individu. Agen bukan lagi kecendrungan samar-samar dari system, juga bukan berasal dari kehidupan kolektif, kelas atau gerakan yang berorientasi perubahan. Agen perubahan dalah prilaku sehari-hari orang biasa yang seringkali tidak dimaksudkan untuk mengubah apapun tetapi justru membentuk ulang masyarakt manusia.Teori Agen Perubahan memusatkan perhatian pada pertentangan antara tindakan dan struktur, dan mencoba menjembatani pemikiran yang telah dikembangkan dan diperkaya. Realitas sosial mulai dipahami sebagai koefiseian dari agen. 

Teori agen perubahan dapat diringkas melalui enam asumsi ontologis:
  1. masyarakat merupakan sebuah proses  dan  mengalami  perubahan  terus-menerus,  (2).  Perubahan kebanyakan berasal dari dalam, berebntuk transformasi diri sendiri,
  2. Motor penggerak Perubahan adalah kekuatan agen individual dan kolektif, (4).  Arah, tujuan dan kecepatan perubahan di pertentangkan dikalangan agen dan menjadi  medan konflik dan perjuangan,
  3. Tindakan terjadi dalam suasana menghadapi struktur menghasilkan kualitas dualitas (yang membentuk dan yang dibentuk) dan dualitas kualitas aktor (yang menghasilkan maupun yang dihasilkan), dan
  4. Pertukaran tindakan terjadi pelan-pelan, dengan cara menukar fase-fase kreativitas agen dan kemapanan struktur.


Gerakan Sosial Sebagai Kekuatan Perubahan

Dalam suatu Gerakan. Ada yang dinamakan Agen. Wujud agen ini bermacam- macam. Perubahan sosial terjadi juga dikarenakan berbagai macam agen. Di era modren ini,  banyak  kita  melihat  perubahan  yang  dilakukan  agen  terlihat  menonjol.  Misalnya, kerumunan yang terjadi di alun-alun kota untuk menentang kebijakan pemerintah, demo buruh menuntut kenaikan upah, bentrokan mahasiswa dengan polisi anti huru-hara, kaum perempuan yang menentang perbedaan gender, dan kelompok petani yang selama ini merasa menjadi second class. Kesemuanya itu adalah bentuk dari Gerakan sosial.  Agaknya, dapat dilihat Gerakan Sosial merupakan kekuatan perubah paling manjur dalam masyarakat.

Banyak pakar yang menyimak peran khas gerakan sosial ini. Mereka melihat Gerakan Sosial sebagai salah satu cara utama untuk menata ulang masyarakat modren. Seperti Tourine menyatakan bahwa Gerakan Sosial adalah aktor historis. Sedangkan Eyerman dan Jamison menyatakan Gerakan Sosial sebagai agen Perubahan kehidupan politik atau pembawa proyek Historis.

Cara Gerakan sosial menyesuaikan diri dengan agen perubahan lain dapat dibedakan melalui cara agen mula-mula menggerakan perubahan sosial. Kriteria pertama, Perubahan berasal “dari bawah”, melalui aktivitas yang dilakukan oleh massa rakyat biasa dengan derajat “kebersamaan” yang berbeda-beda.

Perubahan lain mungkin berasal “dari atas”, melalui aktivitis elite yang berkuasa (penguasa, pemerintah, manajer, administrator, dan lain-lain) mampu memaksakan kehendaknya kepada masyarakat lain. Kriteria kedua, perubahan mungkin diinginkan, diinginkan oleh agen, dilaksanakan sebagai realisasi proyek yang mereka rencanakan sebelumnya. Perubahan lain mungkin muncul sebagai efek samping tak diharapkan , efek samping dari tindakan yang tujuannya sama sekali berlainan.

Agen perubahan ini menjadi pembahasan penting diantara para sosiolog. Jika melihat di tingkat individual, sosiaolog menggunakan teknik Otoriter dan Partisipatif. Sedangkan di tingkat kelompok, menggunakan stategi Elit. Elitnya mungkin ahli di bidang tertentu, misalnya Pengusaha, Intelektual, atau Politisi kawakan. Tugas elite adalah untuk mempengaruhi perubahan dengan atau tanpa keinginan orang lain yang terlibat dalam perubahan itu. Menurut strategi Demokratis, mungkin masih terdapat elite ahli, tetapi mereka bergabung dengan rakyat sehingga semua orang dipengaruhi oleh perubahan itu memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Untuk menganalisa perihal perubahan sosial, pertama-tama memerlukan suatu model yang lebih terperinci daripada teori-teori lain yang bersifat umum. Dalam buku yang berjudul Character and social structure, Gerth dan Mills mencoba untuk membuat suatu model yang mencakup enam pertanyaan atau masalah pokok menyangkut masalah perubahan sosial, yakni :
  1. Apakah yang berubah ?
  2. Bagaimanakah hal itu berubah ?
  3. Kemanakah tujuan dari perubahan itu ?
  4. Bagaimanakah kecepatan perubahan tersebut ?
  5. Mengapa terjadi perubahan ?
  6. Faktor-faktor penting manakah yang ada dalam perubahan ?


Menurut T.B Bottomore, untuk menjawab masalah diatas, maka haruslah merumuskan apa yang dimaksudkan dengan Perubahan Sosial. Bottomore menyatakan bahwa  Perubahan  Sosial  merupakan Sebuah  perubahan  struktur  (termasuk   perubahan masyarakat), atau fakta dalam institusi sosial dan juga hubungan antara institusi-institusi tersebut.Soejono Soekanto, Teori Sosial Tentang Perubahan Sosial, Jakarta: Ghalia Indonesia,1983, Hal. 24 dalam T.B.Bottomore, Sociology, A Guide To Problems And Literature, , London : George, Allen and Unwin Ltd,1972, Hal. 289.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menyangkut cara, arah, dan kecepatan perubahan, memerlukan penafsiran deskripsi historis. Misalnya, perubahan penduduk, meningkatnya pembagian kerja pada masyarakat-masyarakat industrial, perubahan pada keluarga dan peranannya, dan seterusnya.

Kecepatan perubahan sejak lama memang menjadi pusat perhatian para sosiolog. Ogburn misalnya, merupakan salah satu sosiolog yang pertama-tama meneliti gejala tersebut secara sistematis dan kemudian mengadakan studi secara kuantitaif pada  kecepatan perubahan itu. Tidak banyak penelitian yang dilakukan terhadap perbedaan antara masyarakat-masyarakat yang mengalami perubahan-perubahan cepat dan continue dengan masyarakat-masyarakat yang mengalami revolusi atau perubahan yang mendadak.

Masalah mengapa perubahan terjadi serta kemungkinan-kemungkinannya, biasanya berhubungan erat dengan faktor yang ada dalam perubahan, sehingga menimbulkan permasalahan yang kompleks mengenai penyebab perubahan. Gerth dan Mills menganalisa beberapa permasalahan mengenai perihal yang menjadi pelopor perubahan dan faktor- faktor material serta spiritual yang menyebabkan terjadinya perubahan. Di dalam artikel yang  berjudul Social Change  yang di muat  dalam British Journal Of  Sociology, IX    (3),

September 1958, Morris Ginsberg menganalisa faktor-faktor penyebab perubahan secara sistematis. Faktor-faktornya adalah :
  1. Keinginan-keinginan secara sadar dan keputusan pribadi individu.
  2. Sikap dan tindakan masyarakat secara individu yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang berubah.
  3. Perubahan struktural dan hambatan struktural.
  4. Pengaruh-pengaruh eksternal.
  5. Individu atapun kelompok-kelompok yang menonjol.
  6. Unsur-unsur yang bergabung menjadi satu.
  7. Peristiwa-peristiwa tertentu.
  8. Munculnya harapan dan tujuan bersama. Morris Ginsberg, ”Social Change” In British Journal Of Sociology, IX (3) London : September 1958,  dalam Soejono Soekanto, Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Ibid., Hal.26.


Sedangkan, untuk melihat arah suatu Perubahan Sosial dapat berlangsung secara Graduil atau cepat, Secara dami atau dengan kekerasan, secara kontiniu atau sekali-sekali, secara teratur atau dalam keadaan kacau. Kebanyakan teori mengenai arah Perubahan Sosial mempunyai kecendrungan yang bersifat kumulatif atau evolusioner. Walaupun berbeda, tetapi masing-masing teori tersebut memiliki kesimpulan atau asumsi, bahwa sejarah manusia ditandai dengan adanya gejala pertumbuhan.

Hubungan Gerakan sosial dengan Perubahan sosial memerlukan tiga penjelasan, yaitu:
  1. Perubahan  Sosial  selaku  tujuan  Gerakan  Sosial  adalah  dua  hal  yang   berbeda.
    Tujuan ini bisa positif, memperkenalkan sesuatu yang belum ada (pemerintah atau rezim politik baru, adat baru, hukum atau pranata baru). Sedangkan yang  bertujuan negatif; menghentikan, mencegah atau membalikan perubahan yang dihasilkan proses yang tak berkaitan dengan Gerakan sosial (misalnya, kemerosotan kualitas lingkungan alam, kenaikan angka fertilitas, peningkatan angka kejahatan.) atau dari aktivitas lain yang bersaing ( misalnya, UU anti aborsi yang diajukan dibawah tekanan dari gerakan pro hidup dan penentangan keras oleh gerakan propilihan bebas.)

  2. Gerakan sosial memiliki berbagai status penyebab yang berkenaan dengan perubahan. Di satu pihak gerakan dapat dikatakan sebagai penyebab utama perubahan dalam arti sebagai kondisi yang diperlukan dan cukup untuk menimbulkan perubahan. Hanya masalahnya, untuk berhasil gerakan sosial harus terjadi dalam lingkungan yang kondusif dan, berhadapan dengan struktur yang menguntungkan atau secara metafora “menunggangi” kekuatan sosial lainnya. Sedangkan dilain pihak, gerakan sosial hanya dapat dilihat sebagai dampak , ephifenomena atau gejala yang menyertai suatu proses yang diekmbangkan oleh daya dorongnya sendiri atau oleh momentumnya.
    Pendekatan yang masuk akal untuk mengkritik kedua pendekatan diatas bahwa Gerakan Sosial dilihat sebagai mediator dalam rangkaian penyebab perubahan sosial. Gerakan sosial dilihat sebagai produk dari perubahan sosial terdahulu dan sebagai produsen (atau sekurang-kurangnya sebagai co-produsen) transformasi selanjutnya. Disini, gerakan sosial dilihat sebgai wahana, pembawa atau pemancar perubahan terus-menerus ketimbang sebagai penyebab utama. Tom Burns memahami  status perantara gerakan  sosial  ini  dan  menyebutnya  sebagai  aktor sosial, kelompok, organisasi dan gerakan pengemban, pembuat dan perombak sistem hukum melalui tindakannya. Tom Burns, Metapower And The Structuring Of Social Hierarchies dalam Piotrz Sztompka, Tentang Perubahan Sosial, Jakarta : Prenada, 2004, hal. 328.

  3. Penjelasan ketiga berkaitan dengan tempat terjadinya perubahan sosial yang disebakan oleh gerakan sosial. Biasanya perubahan sosial yang disebabkan oleh gerakan sosial yang dilakukan oleh masyarakat yang lebih luas yang berada diluar gerakan itu sendiri. Kelihatannya, gerakan itu terjadi diluar masyarakatnya, tetapi jangan lupa bahwa setiap gerakan sosial merupakan bagian dari masyarakat itu juga yang mengalami perubahan termasuk segmen dan merembesi bidang tertentu lainnya. Gerakan sosial adalah unik dalam hubungan timbal balik antara yang internal dan eksternal. Keunikannya, gerakan sosial mengubah masyarakat dalam proses mengubah dirinya sendiri dan (memobilisasi, mengorganisir) untuk mengubah masyarakat secara lebih efektif. Perubahan dalam gerakan dan perubahan oleh gerakan berjalan secara bergandengan membuat hubungan yang saling   ketergantungan.    Gerakan    sosial    itu    adalah    perubahan    sosial Pra Excellence. Piotr Sztompka,Ibid.,Hal. 328-329.


Daftar Pustaka Makalah Teori Gerakan Sosial

Pengertian Teori Gerakan Sosial Definisi Sebagai Kekuatan Perubahan dalam Politik menurut Para Ahli Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment