Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 4 October 2015

Sejarah Teknologi Nuklir IRAN di Dewan Keamanan PBB Resolusi dan Kontroversi

Sejarah Nuklir IRAN - Dalam peta perpolitikan global permasalahan tentang energi nuklir telah menjadi perhatian yang serius khususnya pasca perang dunia ke-2 semenjak AS menjadi pemenang ( the winner ) setelah meluluhlantakkan Jepang dengan bom Atomnya pada 6 dan 9 Agustus 1945.Bom atom yang dijatuhkan sekutu kejepang yaitu kota hiroshima dan Nagasaki menanadai berakhirnya perang dunia ke-2 ( world war II). Serta menandai berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia setalah Pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya Kejadian sesudahnya merupakan perkembangan terkini dari isu pengembangan senjata nuklir atau dari konflik perlombaan senjata nuklir oleh dua kubu yaitu barat (west ) yang diwakili oleh AS dan  kubu  timur  (  east  ) yang dikomandoi  oleh  Uni  soviet.Lebih jelasnya lihat Lynn H, Miller,1990, Agenda Politik Internasional,Yogya: Pustaka Pelajar

Yang akhirnya berkesudahan dengan runtuhnya Uni soviet dari pentas internasional.
Pasca perang dingin isu tentang teknologi nuklir ini juga selalu menjadi agenda hangat dalam berbagai perbincangan di forum-forum internasional karena keberadaannya ditakuti akan menghancurkan bukan saja manusia melainkan juga planet  ini sebagai tempat  tinggal  manusia.  Tentunya  perlombaan akan produksi senjata berbasis nuklir akan mengakibatkan perang yang dahsyat, karena secara khusus perang dapat digunakan untuk mempertahankan seluruh kesepakatan wastphalia sehingga pada masa depan perang akan berfungsi nyaris sama seperti fungsinya pada masa lalu. Karena sekurang-kurangnya dalam teori , perang mengagabungkan kekuatan militer sebuah negara dengan nilai-nilai penting keamanannya,  perang  dalam  defenisi  klasik  Clausewitz,  merupakan kelanjutan politik melalui cara yang lain. Lynn H, 1990, Agenda Politik Internasional,Yogya: Pustaka Pelajar., hal. 222

Di era kontemporer saat ini keberadaan negara-negara yang memiliki teknologi nuklir terpusat pada negara-negara besar saja. Diantara negara-negara dunia ke-3 mungkin Iran termasuk beruntung karena memilki teknologi  nuklir yang mumpuni. Isu nuklir Iran sebagai sebuah dilema tentang hak ( right ) sebuah negara di region timur tengah ( middle east ) merupakan perdebatan yang serius berkaitan tentang kelanjutan perdamain dunia. Adanya ketidakpercayaan (distrust) masyarakat internasional khususnya AS dan sekutunya menyatakan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh Iran untuk memproduksi senjata nuklir memaksa negara-negara dunia termasuk AS dan DK PBB menjadikan isu nuklir Iran sebagai agenda yang maha penting saat ini.

Di sisi lain, Keberadaan teknologi nuklir iran memiliki catatan panjang sejarah hingga hari ini. perkembangannya menglami pasang surut karena diakibatkan oleh persoalan domestik dalam negeri Iran.

Gawdat Bahgat, Director of the Center for Middle Eastern Studies di Indiana University of Pensylvania mengatakan bahwa pengembangan nuklir Iran tidak lebih disebabkan oleh 3 faktor: www.wikepedia.the free enxiclopedi: history of nuclear Iran, Diakses tanggal 2 Januari 2009
  1. Dilema keamanan ( perception of security ) Ancaman ( threat) yang berasal dari Iraq,Pakistan, Israel ataupun AS
  2. Dinamika Politik dan ekonomi dalam negeri ( domestic )
  3. Gengsi atau ambisi ( National Pride )


Akan dibahas tentang bagaimana awal mula perkembangan nuklir Iran hingga menjadi isu internasional sampai akhirnya sampai menjadi pembahasan sengit dan menjadi agenda maha penting di meja perundingan Dewan Kemanan Persatuan bangsa-Bangsa( DK-PBB ).

1. Dekade 60-an
Langkah awal pengembangan program nuklir Iran , sebenarnya sudah mulai dirintis pada dekade 60-an. Pada dekade tersebut Iran bersama beberapa negara Arab lainnya melakukan sebuah riset penelitian tentang pengembangan nuklir. Saat itu Iran mendapat bantuan dari Amerika Serikat. Bahkan Jerman berniat untuk membantu Iran membangun instalasi nuklirnya untuk tujuan damai.

Tujuh tahun kemudian tepatnya juni 1967 Iran mendirikan pusat  riset nuklir di Teheran yang memiliki reaktor nuklir berskala 5 megawatt,melalui  TNRC (Tehran Nuclear Research Center). Iran mendirikannya sebagai dasar riset ilmiah untuk membangun kapasitas reaktor nuklir yang jauh lebih besar, yaitu 20000 megawatt dibawah kepemimpinan Syah Reza Pahlevi.

Perkembangan teknologi nuklir Iran diawal –awal pengembangan membawa optimesme yang tinggi tentang keberhasilan proyek pengembangan nuklir Iran tersebut. Pada fase ini AS senantiasa selalu menjadi mitra yang baik bagi bagi Iran untuk bertukar pikiran mengenai pengembangan teknoligi nuklir yang sedang dikembangkan oleh Iran.

2. Dekade 70-an ( Pasca revolusi Islam)
Pada tahun 1979 usaha Iran untuk terus mengembangkan reaktor nuklirnya harus jeda sesaat diakibatkan terjadinya kemelut politik didalam negeri yang mengakibatkan timbulnya revolusi islam Iran dibawak tokoh besar ulama iran imam Khoimeni. Akibat peristiwa tersebu Iran harus merugi sekitar 6 miliar dolar-ongkos yang sudah dibayar kepada perusahaan Jerman Siemens.  Berhentinya kegiatan nuklir Iran ini disinyalir karena pengembangan nuklir Iran ( reaktor ) yang dilakukan pada masa syah terindikasi korupsi senilai 30 Miliar dolar.

Selain itu AS dan eropa barat juga menarik dukungannya pada Iran untuk terus mengembangkan nuklir.Sejak saaat itu program pengembangan nuklir Iran berhenti total.

Ketidak sukaan AS terhadap revolusi islam Iran membawa babk baru bagi hubungan kedua negara yang sebelumnya baik –baik saja namun pasca revolusi islam Iran AS memandang bahwa Iran adlah termasuk negara islam yang fundamentalis.

3. Dekade 90-an
Sampai pada akhirnya, ditahun 1990-an Rusia dan Cina bersedia membantu  untuk mengembangkankembali  aktivitas  riset  nuklir  Iran.   Ditahun yang sama rusia segera mengirimkan bebrapa bantuan tekhnis untuk pendirian fasilitas reaktor nuklir. Dan ditahun 1991 giliran cina mesdistribusikan  1.800 gram beberapa jenis uranium ke Teheran, dan selanjutnya dipakai untuk proses pengayaan bahan nuklir.

Di tahun 1995,pertemuan antara Rusia dan Iran kembali digelar.  Tujuannya untuk memantapkan kesepakatan ( deal) akhir mengenai proses penyempurnaan pembangunan reaktor nuklir milik Iran. Sedikitnnya lima institusi ( badan pengembangan teknologi nuklir) termasuk Russian Federal  Space Agency membantu Tehran untuk mengembangkan melepaskan misil.Stanislav Lunev. Through the Eyes of the Enemy: The Autobiography of Stanislav Lunev, Regnery Publishing, Inc., 1998. ISBN 0-89526-390-4, pages 19-22. Saat itu , reaktor yang sudah berjalan beberapa tahun telah mampu memproduksi energi nuklir 1.000 megawatt. Sesuai rencana , kemampuan produkdi tersebut akan terus ditingkatkan ,hingga mencapai angka 6.000 megawaat. Serta diperkirakan   akan selesai pada tahun 2020, dengan puncak produksi mencapai 23.000 megawatt, jumlah fantastis yang diharapkan dapat menutupi pasokan listrik Iran setiap tahunnya.

Sebenarnya langkah gemilang Iran sangat ditentukan oleh teknologi pemisahan dan pengayaan uranium yang mereka miliki. Dimana mereka mamapu melakukan penyempurnaan atas fuel cycle nuklir secara laboratoris melalui 164 perangkat sentrifugal, yang kemudian mampu menghasilkan uranium hingga level 3,5 % level minimum yang harus diperoleh untuk menghasilkan satu tegangan listrik. Sentrifugasi tersebut, mensuplai sejumlah reaktor untuk riset  dan    reaktor untuk tenaga di Mahathah, Posyar. Sedang untuk menghasilkan senjata atau bom nuklir.

Iran harus memproduksi 235 uranium yang tersenfugasi dengan level 9 %, serta membutuhkan sedikitnya 1.500 perangkat sentrifugal. Saat ini Iran memiliki tiga rantai perangkat sentrifugal. Setiap rantainya terdiri dari 1 64 perangkat tipe B1. selain itu saat ini Iran telah memiliki 110 ton uranium fluoroid level ke-enam, yaitu bahan mentah bagi uranium yang dikembangkan untuk selanjutnya dituangkan kedalam perangkat sentrifugal, untuk memisahkan gas dari uranium hingga  dihasilkan uranium    dengan  level  3,5  %.  Melalui  proses   sentrifugasi yangmenggunakan 235 uranium hingga level 9 % keatas. Maka akan diperoleh bentuk logam sebagai bahan inti pembuatan bom nuklir.Itu artinya Iran hanya butuh 25 Kg bahan logam untuk membuat satu bom nuklir kecil , seperti yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima, Jepang pada perang dunia ke-2

Kemajuan nuklir Iran ini juga tak lepas dari banyaknya insinyur Iran yang belajar diliuar negeri khususnya ke Amerika dan Inggris.

Dalam proses pengembangan nuklirnya kerjasama yang dijalinnya dengan institusi yang khusus mengani tentang nuklir juga berjalan dengan baik. Hal ini dapat dapat kita lihat di tahun 1992,dimana Iran memulai memasuki era baru pengembangan nuklir itu, IAEA, seperti yang diutarakan oleh Director General Blix  melaporkan  bahwa  seluruh  aktivitas  nuklir  yang  telah  diobservasi   tidak membahayakan dan bertujuan damai. Atomic Team Reports on Iran Probe; No Weapons Research Found by Inspectors - The Washington Post - HighBeam Research" (2008). Retrieved on 2008-02-24.

Hingga tahun 2002, Iran tetap melakukan program mpengembangan nuklirnya   dibawah   pengawasan IAEA.   Pada   tahapan   ini   Amerika  beserta sekutunya semakin gerah melihat program pengembangan nuklir Iran. Hingga menimbulkan sengit.

Nuklir Iran menjadi isu global dan Perbincangan hangat diawal dekade tahun 2000-an . Proses pengembangan teknologi yang mulanya mendapat restu dari masyarakat internasional mulai diusik dengan isu dapat  mengancam peradaban dan nilai-nilai perdamaian dunia. Walaupun pihak Teheran sendiri sudah berkali-kali mengatakan bahwa proyek pengembangan nuklirnya adalah murni bertujuan untuk damai, memasok energi bagi keperluan indusrtri dan listirk dalam negeri. Lihat misalnya pernyataan Mustafa Abdurrahman, dalam kolom kompas 7 April 2007, dalam forum internasional Ahmadinejad berkali-kali mengaskan bahwa pengembangan nuklir Iran murni bertujuan damai termasuk saat pertemuan dengan majelis umum perserikatan bangsa-bangsa, lihat juga Pernyataan Ahmadinejad tentang nuklir Iran, Hollocoust, Israel dalam Ahmadinejad,2008, Ahmadinejad menggugat, republik islam Iran mematahkanarogansi Israel dan Amerika, Jakarta: Zahra.

Masyarakat dunia dalam hal ini AS dan negera-negara eropa, khusunya eropa barat berkali-kali mendesak Iran untuk segera mengehentikan kegiatan pengayaan Uranium untuk keperluan teknologi nuklirnya.

Meski mendapat kecaman dari Amerika dan para sekutunya namun keinginan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklirnya tidak bisa dibendung Kecaman Amerika dan kroni-kroni-nya atas nuklir yang dikembangkan Iran tidak membuat Iran gentar sambil meyakinkan dunia bahwa nuklir Iran dimaksudkan untuk tujuan damai dan kemajuan bangsa Iran, bukan untuk dikembangkan menjadi senjata  pemusnah  massal  seperti  yang  digembar-gemborkan Amerika kepada masyarakat dunia. Menurut Ahmadinejad, nuklir adalah teknologi prestisius yang dapat membawa bangsa Iran melesat menjadi bangsa yang maju, karena apabila Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir nya tersebut berkembang, maka anggaran subsidi listrik nasional dapat dikurangi secara drastis yang berarti dalam jangka panjang Iran akan menjadi Negara yang mandiri disemua bidang. Dan dalam jangka pendeknya, devisa Negara yang sangat besar akan masuk ke dalam kas Negara Iran seiring meningkatnya harga gas dan minyak dunia, dan itu berarti kemakmuran akan segera datang menghampiri bangsa Iran.

Salah satu alasan di ataslah yang membuat Ahmadinejad (Iran) menolak segala bentuk usaha-usaha perundingan damai yang ditawarkan oleh negara- negara eropa (seperti Perancis, Inggris dan Jerman), yang pada intinya tetap menuntut Iran untuk menghentikan Program pengembangan nuklirnya.  Dan seperti layaknya sebuah sinetron,  Amerika  selalu  menyutradarai ketiga pemeran utama atas opsi damai dari pihak eropa tersebut. Begitu pula Israel (yang notabene juga sudah mengebangkan nuklir sejak 1952),Seperti yang dilansir oleh mantan presiden AS Jimmy Carter di di sebuah jumpa pers dalam festival sastra di Wales, Inggris, Hay Festival juga turut ambil bagian dalam setiap usaha menjegal nuklir Iran. Dan kesemuanya hanya dijawab dengan gelengan jari telunjuk yang teracung dari Ahmadinejad. Menurut  laporan  IAEA,  no  evidence  bahwa  Iran  mengembangkan  teknologi  nuklir   untuk keperluan perang, dan juga tidak terbukti Iranmemiliki teknologi nuklir yang tersembunyi.lihat laporan IAEA per 10 November 2003. implementation of the safeguards agreement in the islamic republic of Iran,IAEA 10 November 2003,www.iaea.org/publications/documents/board/2003- 75.pdf. 

Sikap ngotot Iran ini menjadikan isu nuklir Iran mengelunding seperti bola salju yang semakin besar hingga akhirnya isu nuklir Iran menjadi bahasan hangat di forum-forum internasional. Amerika secara tanggap membawa isu ini  kedewan keamanan PBB ( security council of united nations) sebagai isu keamanan dunia atau dunia sedang dalam ancaman.

Situasi ini semakin diperparah karena Iran tidak mau bekerjasama lagi dengan IAEA, karena Iran merasa bahwa IAEA berpotensi membawa isu nuklir Iran menjadi agenda untuk membawa permasalahan nuklir Iran ke DK PBB. maka Parlemen Iran mengeluarkan kebijakan untuk tidak mengizinkan IAEA untuk melakukan inspeksi ataupun pemeriksaan di Iran. Kebijakan tersebut disetujui mayoritas hampir dari seluruh anggota Parlemen Iran, di mana dari 197 suara 183 diantaranya mendukung pemberlakuan kebijakan tersebut. Sementara Amerika mengklaim bahwa program pengayaan uranium Iran adalah untuk memproduksi bom atom, namun Iran menyangkal dengan tegas hal tersebut dan menyatakan bahwa program tersebut digunakan untuk pengembangan tenaga listrik. Iran juga menyatakan bahwa seandainya negara mereka diserang, maka mereka pun tidak segan untuk melakukan penyerangan balik yang sepatutnya. Dikarenakan kondisi yang demikian, maka Cina dan Rusia tidaklah setuju dengan rencana dari  Amerika Serikat dan mereka menginginkan adanya solusi dip omatik dan   politik terhadap krisisberkepanjangan ini. www.google.com//Muhammad faiz,krisis nuklir Iran dalam tinjauan hukum, diakses tanggal  20


Nuklir Iran di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Pada tanggal 25 Februari 2005, Presiden Amerika Serikat, George W.  Bush memberikan pernyataan bahwa baik Amerika maupun Eropa keduanya telah sepakat program pengayaan uranium Iran haruslah sesegera mungkin dihentikan. Menanggapi hal tersebut, tanpa merasa tertekan oleh Amerika,    Iran menyatakan bahwa mereka mempunyai hak untuk menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai. Hal tersebut dinyatakan oleh Presiden Iran, Mahmood Ahmadinejad dihadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (General Assembly of the United Nations). Bahkan pada kesempatan itu pula Iran menjuluki Amerika sebagai agresor dan menuding Amerika telah membelah dunia terbagi menjadi “negara baik dan jahat”.

Sebulan berikutnya, tepatnya pada tanggal 24 Septemeber 2005, IAEA mengeluarkan resolusi bahwa isyu Iran akan dipercayakan kepada Dewan Keamanan. Resolusi ini dikeluarkan dan disetujui melalui 22 suara, sedangkan suara tidak setuju hanyalah satu suara dan sisanya sebanyak 12 negara memberikan suara abstain. Keluarnya resolusi ini ternyata juga  telah  menjadi saksi mata adanya pembagian antara negara-negara berkembang dan negara- negara maju. Berbagai negara, terutama Rusia, Cina, dan Afrika Selatan, tidak setuju dengan metode yang diinginkan oleh Amerika Serikat untuk menyelesaikan krisis Iran.

Dalam hal ini, India adalah satu di antara banyak negara yang berhasil ditekan oleh Amerika sehingga memberikan suara untuk resolusi tersebut. Sedangkan Rusia dan Cina tidak memberikan suara untuk resolusi tersebut dan abstain dari pemungutan suara.

Kelima negara anggota tetap PBB – Amerika, Inggris, Perancis, Rusia dan Cina – akhirnya melakukan pertemuan darurat pada tanggal 16 Januari 2006 dan hasil  pertemuan  tersebut  meminta  agar  Iran dapat  meyakinkan  dunia   bahwa program pengayaan uranium yang dikembangkannya itu benar-benar ditujukan untuk tujuan yang damai. Meskipun demikian, di dalam pertemuan tersebut, Uni Eropa tetap memberikan rekomendasi kepada PBB bahwa krisis Iran ini  sebaiknya dipercayakan kepada Dewan Keamanan. Hal tersebut dilatarbelakangi dari inisiatif Inggris, Perancis dan Jerman yang menggelar pertemuan dan menyimpulkan bahwa krisis Iran telah sampai pada kata akhir. Oleh karenanya, Uni Eropa meminta ke-36 negara anggotanya untuk melaksanakan pertemuan darurat.

Pertemuan IAEA mengenai isyu Iran yang seyogyanya diselenggarakan pada tanggal 3 Februari 2006 ditunda hingga hari berikutnya. Ketika pada hari tersebut, yaitu 4 Februari 2006, IAEA memutuskan untuk menyerahkan Krisis Nuklir Iran kepada Dewan Keamanan. Dua puluh tujuh negara, memberikan suaranya terhadap resolusi yang pada intinya menyatakan untuk  menyerahkan isyu Iran kepada Dewan Keamanan. Tiga negara, yaitu Kuba, Syiria, dan Venezuela, memberikan suara untuk menolak resolusi tersebut. Sedangkan Indonesia, Algeria, Belarus, Libya dan South Africa memberikan suara abstain. Setelah keluarnya keputusan tersebut, Iran tetap bertahan pada pendiriannya dan menyatakan bahwa mereka tidak akan berkompromi terhadap program pengayaan uraniumnya dengan Amerika ataupun negara-negara barat lainnya. Pernyataan ini kemudian diulangi kembali oleh Presidan Iran pada tanggal 10 April 2006.

Disela-sela pernyataan itu DK-PBB meminta Iran untuk menghentikan program pengembangan nuklirnya selama 30 hari dan memeinta Iran untuk kembali bekerjasama dengan IAEA,pernyataan DK itu dikeluarkan pada 5    April januari 2008

2006.Terhadap krisis ini, Iran sebenarnya telah menginginkan untuk melanjutkan perundingan mengenai konflik program nuklir tersebut, akan tetapi dengan syarat tanpa adanya pra-kondisi tertentu.ihat pernyataan Qolam Ali Hadad Adel, juru bicara parlemen Iran.dalam  CNN,2006 Bush: Iran’s defiance will bring concecuences Seiring dengan berjalannya waktu, pada awal bulan Juli 2006, kekuatan negara-negara barat dan Amerika kembali memutuskan untuk menggiatkan usaha-usaha untuk menghukum Iran melalui berbagai kemungkinan sanksi DK-PBB, kecuali Iran mau menghentikan program pengayaan uranium dan program nuklirnya hingga tanggal 12 Juli 2006.

Negara-negara tersebut menawarkan paket bantuan kepada Teheran berupa teknologi maju dan termasuk dengan reaktor penelitian nuklir. DK akhirnya kembali mengeluarkan resolusi bertanggal 31 Juli 2006 yang memberikan jangka waktu satu bulan kepada Iran untuk memberhentikan pengayaannya atau siap untuk menerima resiko penjatuhan sanksi. Dengan sengaja Iran tidak mengindahkan pernyataan tersebut. Iran juga sama sekali tidak mempedulikan terhadap paket bantuan yang telah ditawarkan dan dengan berani secara  berungkali menyatakan bahwa hal tersebut tidak akan menggangu program pengayaan uranium mereka di mana program tersebut dipergunakan untuk stasiun tenaga nuklir dan memproduksi energi listrik.

Hangatnya perbincangan dunia tentang nuklir Iran tidak semata menghadapkan Iran an-sich dengan Negara-negara maju seperti AS, Cina, Rusia, Inggris . tetapi lebih dari itu isu ini juga menjalar pada isu internasional seperti ketergantungan ( depedensi), serta isu klasik tentang Negara maju dan Negara berkembang. Hal ini dapat dilihat dari Peristiwa terakhir terkait dengan krisis   ini yaitu terjadi pada tanggal 16 November 2006, lebih dari 50 kepala negara dan pemimpin dari hampir 100 negara ketiga di dunia, termasuk Iran dan Venezuela, menolak penyebutan dan pelabelan “axis of evil” oleh Amerika Serikat dan kesemuanya memberikan dukungan penuh bagi Teheran atas haknya menerapkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Hal tersebut dilakukan dalam pertemuan Non-Aligned Movement di Havana pada tanggal 14 September 2006. Musuh terbesar Amerika dari komunis yaitu Kuba hingga Korea Utara meminta kepada negara-negara berkembang di waktu yang sama itu untuk menentang dominasi Amerika Serikat melalui peninjuan terhadap Non-Aligned Movement.

Dukungan yang terus mengalir dari Negara-negara berkembang lainnya menjadikan Iran setidaknya menjadi tambah yakin dan instiqomah untuk terus mengembangkan teknologi nuklirnya.

Walau dunia dalam hal ini DK-PBB terus memberikan resolusi serta tawaran berupa bantuan ekonomi dan insentif lainnya. Namun Iran tetap tak bergeming bahkan dalam suatu kesempatan Presiden Iran Mahmoud  Ahmadinejad, menegaskan bahwa Iran tidak mundur selangkahpun untuk mengembangkan teknologi nuklirnya.

Selain itu di kesempatan lain, jebolan doktor di bidang bangunan , rekonstruksi tata kota itu mengeaskan bila pihak yang tidak senang dengan Iran, terlebih Amerika sekalipun yang pada akhirnya mengambil opsi untuk menyerang Iran, maka Ia menegaskan bahwa Iran akan melawannya. Dan menjadikan pertempuran ini akan sangat berat bagi Amerika dan para sekutunya itu.

Bahkan pada fase—fase ketegangan kedua negara ini Amerika tiada hentinya menarik simpati dari warga dunia khusunya Timur tengah untuk berpartisipasi dalam melakukan invasi terhadap Iran. Termasuk juga dengan Inggris sebagai salah satu sekutu terdekat AS. Dalam suatu kesempatan presiden George.W Bush menegaskan keperihatinan ketika terjadi peristiwa penyanderaan 15 personel angkatan laut Inggris oleh oleh Garda Revolusi Iran di Shatt al-Arab (23 Maret 2007)

Berikaitan dengan krisis UK( united kingdom) -Iran Bush menyatakan:
“The British hostages issue is a serious issue because the Iranians took these people out of Iraqi waters, and it's inexcusable behaviour (isu sandera warga Inggris merupakan hal yang serius karena Iran menangkap mereka di perairan  Irak, dan itu merupakan tindakan yang tak bisa dimaafkan)

Dalam kesempatan itu Bush memanfaatkan situasi tersebut untuk  mengajak UK(united kingdom) bersama-sama mengempur Iran. Dimana Bush emang berambisi kuat untuk menguasai Iran sebelum ia turun tahta 2009 nanti. Selain karena faktor minyak, sebagaimana ditulis Scott Ritter dalam bukunya, Target Iran: The Truth about the US Government's Plan for Regime Change (2007), juga lantaran kuatnya tekanan lobi Israel di AS.

Resolusi DK PBB untuk Iran

Dalam menanggapi isu Iran yang tak kunjung usai DK-PBB melalui ototitasnya sebagai penjaga perdamaian dunia memberikan resolusi kepada Iran terkait dengan program penyaan Uranium untuk keperluan nuklirnya. Walau  Iran berdalih untuk tujuan damai namun DK-PBB selama rentang waktu 2006 -2008 telah mengeluarkan 4 resolusi kepada Iran.
Resolusi tersebut yaitu:


( Diolah dari berbagai sumber )

Berturut-turut sejak diangkatnya isu nuklir Iran di DK-PBB. Seejak tahun 2006  berturut  sampai tahun 2008  kemarin.  DK-PBB  memberikan ancaman dan sanksi tegas bagi Iran untuk mengurungkan niatnya mengembangkan teknoligi nuklir dimasa-masa yang akan datang.

Sampai tahun 2008 kemarin tidak ada resolusi yang dikeluarkan oleh DK- PBB. Namun ketegangan antara DK-PBB dengan Iran tidak berhenti dan mungkin masih menunggu perkembangan selanjutnya.

Namun sampai saat ini Iran tetap berpegang teguh pada  pendiriannya untuk mengembangan tekonologi nuklir yang bertujuan damai. Sebagai hak yang dimiliki oleh Negara-negara NPT.

Daftar Pustaka Makalah Sejarah Teknologi Nuklir IRAN di Dewan Keamanan PBB

Sejarah Teknologi Nuklir IRAN di Dewan Keamanan PBB Resolusi dan Kontroversi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment