Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Thursday, 23 March 2017

Pengertian Andropause Mekanisme Penyebab Terjadinya Keluhan Perubahan Pria Pengobatan dan Penanganan

Pengertian Andropause adalah - Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah, andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria. Penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron, dan hormon lainnya terjadi secara parlahan (Simbar, 2008).


Andropause terjadi karena menurunnya hormon testoteron pada pria, sehingga terjadi keluhan pada pria yaitu menurunnya libido dan kegiatan seksual. Menurunnya ciri-ciri kejantanan seperti menipisnya rambut dan pertumbuhan janggut, berkurangnya masa dan kekuatan otot, kurang tenaga, keringat berlebihan serta muka menjadi merah dan panas (Hutapea, 2005).

Mekanisme Terjadinya Andropause
Mekanisme terjadinya andropause  adalah karena menurunnya fungsi dari sistem reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testoteron sampai dengan dibawah angka normal. Hormon yang turun pada masa andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu penurunan hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs  (Insulin Like Growth Factors). Oleh karena itu banyak pakar yang menyebut andropause dengan sebutan lain seperti adrenopause (deficiency DHEA/DHEAS), Somatopause (deficiency GH/Insulin Like Growth Faktor), PTDAM (Partial Testoteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial Androgen Deficiency in Anging Male), Viropause, climakterium pada pria, dan sebagainya (Nugroho, 2004)

Testosteron adalah hormon laki-laki yang menjadikan laki-laki berfungsi menjadi seorang laki-laki. Kekurangan testosteron menyebabkan berkurang rambut ketiak, atau rambut kemaluan, kulit menjadi tipis dan kering, tulang menjadi keropos, masa otot berkurang, jumlah lemak tubuh bertambah, testis menjadi kecil, libido menurun, dan berkurangnya kemampuan ereksi (Prawirohardjo, 2003).

Dengan bertambahnya usia, produksi hormon berkurang. Mulai usia 50 tahun berkurang sampai dengan 50% dibandingkan pada waktu pubertas, dan paling rendah pada usia 80 tahun. Penurunan ini terjadi bertahap dan perlahan-lahan sehingga yang bersangkutan kurang mengeluh dan dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi (Yatim, 2004).

Kadar hormon testosteron sampai dengan usia 55-60 tahun relative stabil dan baru setelah usia 60 tahun terjadi penurunan yang berat. Testosteron bebas, dehiroepiandrosteron (DHEA), dan DHEA-S kadarnya turun secara kontinyu dengan meningkatnya usia (dapat dilihat pada grafik)

Grafik 1.  Penurunan Kadar Hormon Pada Laki-laki

Pada wanita dengan keluhan klimakterik, seperti sindrom vasomotorik, segera muncul begitu kadar esterogen darah turun. Akan tetapi, pada laki- laki sedikit berbeda. Meskipun kadar testosteron turun, keluhan tidak segera muncul. Keluhan dapat saja muncul beberpa tahun kemudian. Oleh karena itu para ahli berpendapat bahwa tidak ada hubungan langsung antara keluhan dengan kadar hormon. Meskipun sudah lanjut usia, orang laki-laki masih saja aktif baik secara fisik maupun seksual, bahkan tidak jarang masih dapat mendapatkan keturunan. Namun, perlu diketahui bahwa ada faktor-faktor tertentu yang dapat saja menyababkan produksi testosteron berhenti (Prawirohardjo, 2003).

Penyebab Andropause

Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan-lahan sehingga seringkali tidak menimbulkan gejala. Keluhan baru timbul jika ada penyebab lain yang mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Beberapa penyebab tersebut antara lain :

a. Faktor Lingkungan
Dapat bersifat fisik yaitu bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan dalam bidang pertanian, pabrik, dan rumah tangga. Faktor yang bersifat psikis yaitu suasana lingkungan yang tidak nyaman, kebisingan dan perasaan tidak nyaman.
b. Faktor Organik (Perubahan Hormonal)
Penyakit–penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Penyakit tersebut antara lain : diabetes melitus (kencing manis), varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (infeksi pada prostat), kolesterol yang tinggi, obesitas, atropi testis.
c. Faktor Psikogenik
Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron (Nugroho, 2004).

Perubahan-perubahan Pria Pada Masa Andropause

a. Perubahan Fisiologis
1. Berkurangnya gairah seksual dan kualitas ereksi
Menurut  Dr. Carruthers, libido yang menurun biasanya terjadi berangsur-angsur selama beberapa bulan atau tahun, ketika kadar testoteron aktif menurun dalam badan, keadaan ini mempengaruhi setiap aspek dari kehidupan seks seorang pria, mengurangi frekuensi pemikiran fantasi bahkan mimipi seksual, dan merasa penurunan hubungan seksual

Adapun penyebab lain dari penurunan ereksi yaitu baik faktor psikis maupun faktor fisik:
  • Faktor psikis (kejiwaan) antara lain stres, rasa rendah diri, cemas, takut, lelah dan letih.
  • Faktor fisik antara lain penyakit, merokok, obat-obatan, minuman beralkohol, makanan yang mengandung kolesterol tinggi (Simbar, 2008)

2. Menurunnya Kekuatan Otot
Menurunnya kadar testoteron, masa otot akan mengecil, dan kekuatannya berkurang (Simbar, 2008).

3. Kulit Cenderung Kering dan Mudah Keriput
Hal ini terjadi karena berkurangnya serum dalam kelenjar sebaceus, kelenjar yang dalam keadaan normal di stimilasi oleh testoteron dalam darah, untuk menghasilkan semacam minyak-minyak yang menjaga kelembapan dan kesehatan kulit ( Simbar, 2008 ).

4. Penurunan Kepadatan Tulang yang akan Berakhir dengan Osteoporosis
Tulang paling kuat pada pria adalah pada saat usia 25 tahun, setelah itu terjadi penurunan progresif dan menuju puncak setelah 50 tahun. Untuk tulang testoteron juga berperan untuk menjaga keseimbangan otot dan tulang dengan menurunnya testoteron, kemampuan pembentukan kembali jaringan tulang akan semakin berkurang, sehingga ini  menunjukkan pola yang mirip dengan resiko osteoporosis.

Rendahnya kadar androgen ada hubungannya dengan berkurangnya masa tulang pada laki-laki. Telah ditemukan reseptor androgen pada osteoblas manusia dan lebih dapat dibuktikan pada percobaan in vivo, bahwa androgen menghambat aktifitas osteoklas.

Testoteron bekerja secara langsung terdapat reseptor androgen di tulang dan dapat juga bekerja melalui perubahan testosteron menjadi dehidrotestoteron oleh enzim 5 alfa reduktase. Dehidrosteron  memiliki ikatan yang lebih kuat terhadap reseptor dibanding testosteron. Pemberian testosteron meningkatkan densitas mineral tulang, baik tulang trabekular maupun kortikal (Prawihardjo, 2003).

5.  Bertambahnya Jumlah Lemak Tubuh
Penumpukan lemak didaerah tertentu misalnya daerah perut dan menggembung didaerah dagu, ini disebabkan karena penurunan hormon testosteron dan kadar SHBG yang rendah, hal ini juga menyebabkan mudah terkena resistensi insulin, henti nafas saat tidur dan sering tidur pada siang hari sangat erat hubungan dengan obesitas visceral (Prawirohardjo, 2003).

6. Resiko Penyakit Jantung
Atherosclerosis (Pengerasan pembuluh darah) terjadi dikarenakan penurunan hormon, proses ini akan berlanjut menjadi proses yang akan menghambat aliran darah, sehingga pada suatu saat dapat menutup pembuluh darah tadi. Pada tahap awal gangguan dari dinding pembuluh darah yang menyebabkan elastisitasnya berkurang akan memacu jantung bekerja lebih keras. Selanjutnya bila terjadi sumbatan maka jaringan yang dialiri zat asam oleh pembuluh infark, namun hal ini terjadi lebih ringan inilah yang disebut dengan angina pectoris (sakit pada daerah dada) khususnya pada orang tersebut melakukan kegiatan fisik (Nugroho, 2003).

7.  Resiko Gangguan Kelenjar Prostat 
Peradangan dalam sistem virogenital berupa peradangan kandung kemih sampai keperadangan ginjal akibat sisa air seni dalam vesika urinaria (kandung kemih) keadaan ini disebabkan berkurangnya tonus kandung kemih, hipertrofi prostat memyebabkan terdapatnya sisa air seni dalam kadung kemih, akibat lainnya adalah gangguan waktu buang air kecil, bahkan kadang-kadang terjadi secara mendadak air seni tidak dapat di keluarkan, sehingga untuk mengluarkannya harus di pasang kateter, selain itu mereka juga akan kerap buang air kecil pada malam hari (Nogroho, 2003).

b. Perubahan Psikologis
1. Mudah Tersinggung dan Marah
Pria yang mudah marah pada usia lanjut terjadi karena tingkat aktifitas testosteron yang rendah. Jika kadar testosteron ini dipulihkan ketingkat normal dengan pengobatan maka pria itu akan merasa lebih percaya diri dan hal ini dapat dihindari (Diamond, 2003).  

2. Depresi
Depresi adalah salah satu dari gejala-gejala yang paling umum dari menopause pada pria dan berkaitan erat dengan menurunnya keinginan dan fungsi seksual yang juga merupakan ciri khas menopause pria, seperti suasana hati murung terus menerus, berulang ulang memikirkan kematian, hilangnya kemampuan untuk berfikir konsentrasi, merasa tidak berharga, tidur terlalu banyak, kurang berenergi, hilangnya kesenangan dalam aktifitas hidup dan berat badan naik turun secara signifikan. Perubahan-perubahan ini dapat menimbulkan depresi pada pria  (Diamond, 2003).

3.  Kehilangan tujuan dan arah hidup
Seorang pria merasa kehilangan kekuasaan, tujuan hidup, antusias, dan potensi dalam masa hidup ini kadang-kadang merasa ini inilah awal dari akhir dirinya, dukungan dan orang terdekat itulah yang diinginkan dan ia butuhkan   (Diamond,  2003).

4. Merasa kesepian tidak menarik dan tidak dicintai
Perubahan paling menakutkan bagi pria adalah termasuk seksualitasnya, pria merasa mereka kehilangan dasar dari kejantanannya, karena pria tidak mengetahui bahwa perubahan seksual tidak sama dengan disfungsi seksual (Diamond, 2003).
5. Kehilangan rasa percaya diri dan kegembiraan

Keluhan Pada Pria Andropause

Ketika pria setengah baya berbicara mengenai kehidupan seks, mereka sering mengeluh mengenai hilangnya gairah atau kemampuan untuk mengembangkan dan mempertahankan ereksi, perut membuncit, energi menurun dan hilangnya potensi. (Diamond, 2003).

Keluhan lain yang akan di utarakan pria adropause adalah perubahan gejala fisik, misalnya mudah letih mengantuk berlebihan, rasa sakit atau kaku persendian tulang, penis mengecil, pertumbuhan jenggot dan kumis berkurang, penurunan frekwensi ereksi pagi hari (Setiawan, 2008)

Lebih spesifiknya lagi, seorang pria mengatakan citra kejantanan yang selama ini ia bangga-banggakan di depan istrinya, kini tidak lagi berguna, selain gairahnya sudah banyak berkurang, jika dipaksakan menyebabkan ereksinya tidak maksimal.

Keluhan-keluhan ini akan semakin membuat merasa kurang sempurna bahkan lemah nafsu syahwat hal ini akan membuat pria merasa tidak berguna (Diamond, 2003).

Pemeriksaan

Diagnosis andropause dapat ditegakkan dengan gejala klinis yang dikeluhakan/dirasakan dan pemeriksaan kadar biovailable testosteron (BT) dalam darah.

Gejala klinis dapat berupa
  • Gejala vasomotorik, berupa gejolak panas, berkeringat, susah tidur, gelisah, dan takut.
  • Gejala yang berkaitan dengan aspek virilitas, berupa kurang tenaga, kurangnya masa otot, bulu-bulu rambut seksual berkurang, penumpukan lemak di perut, dan osteoporosis. 
  • Gejala yang berhubungan dengan fungsi kognitif dan suasana hati, berupa mudah lelah, menurunnya aktivitas tubuh, rendahnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/intuisi, depresi, hilangnya rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri. 
  • Gejala yang berhubungan dengn masalah seksual, berupa turunnya libido, menurunnya aktivitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi, dan berkurangnya volume ejakulasi.
Dengan adanya keluhan-keluhan tersebut, dibuatlah sebanyak 10 pertanyaan. Jika jawaban no. 1 dan 7 adalah “ya”, atau ada 3 jawaban “ya” selain nomor tersebut, maka kemungkinan besar pasien tersebut telah mengalami andropause, atau ADAM (androgen deficiency in aging men).

Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: 

 

Langkah berikutnya adalah pemeriksaan kadar biovailable testosteron (BT). Bila kadar BT di bawah normal, dikatakan pasien tersebut mengalami defisiensi androgen. Bila kadar BT normal, keluhan yang ada perlu dikaji ulang dan kalau perlu pasien dirujuk. Kalau hasil pemeriksaan BT pada batas meragukan (borderline), perlu dilakukan pemeriksaan ulang BT, dan bila ternyata normal, sebaiknya pasian dirujuk (Prawirohardjo, 2003).

Pengobatan dan Penanganan Andropause

Pencegahan Andropause terutama ditujukan agar penderita dapat mengurangi keluhan maupun penderita saat memasuki masa andropause, dalam pencegahan ini faktor psikologis tampaknya mempunyai peran yang sangat penting, disamping itu memperbaiki faktor psikologis yang terganggu mempunyai arti penting pula mempertahankan kesehatan umum. Perlu diingat bahwa sebab dari sindroma andropause sendiri adalah bersifat multifaktorial dan gangguan penurunan hormon juga multi hormonal maka secara tidak langsung juga ada kekurangan multi enzim dan multi kimiawi tubuh dengan demikian ternyata pola pengobatan terbaik adalah secara sinkron dan sekaligus (Setiawan, 2004).

a. Pemberian Hormon Pemberian hormon testosteron sebagai pengganti (replacement therapy) ini digunakan untuk:
1. Mengatasi depresi.
2. Mengurangi kulit yang keriput.
3. Mengencangkan otot-otot yang kendor.
4. Meningkatkan kualitas hidup.
5. Melancarkan kualitas air seni.

Tindakan ini berhasil meningkatkan gairah seksual bagi penderita yang kadar testosteron dalam darahnya memang rendah. Penggunaan hormon testosteron ini perlu dipertimbangkan akibat buruknya pada penderita yang mempunyai kelainan hati karena testosteron dimetabolisme di dalam jaringan hati. Selain itu, perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya efek samping hormon, seperti:
1. Peningkatan jumlah sel darah (polisitemia vera).
2. Pembesaran buah dada (ginekomastia).
3. Pembesaran kelenjar mani (hipertropi prostat).
4. Penumpukan Na dan air, sehingga muka menjadi sembab (gemuk air).

Pada waktu pemberian pengobatan hormon testosteron, perlu dilaukan pula control pemeriksaan persentase jumlah sel darah merah (eritrosit) di dalam seluruh volume darah (hematokrit), fungsi hati, dan prostat setiap 3 bulan. Apabila hematokrut penderita mencapai >54%, sebaiknya pengobatan dihentikan (Yatim, 2004). 

b. Suntikan (Injeksi)
1. Penyuntikan hCG 
Biasanya  penyuntikan ini dilakukan dua kali seminggu, penyuntikan ini bertujuan untuk merangsang testis guna memproduksi hormon testosteron, namun suntikan hCG bukanlah jawaban–jawaban jitu untuk semua problem laki-laki, karena hCG hanya merangsang keberhasilanya tergantung bagaimana keadaan reseptor komandan sinyal produksi testosteronnya di testis (Hutapea, 2005).

2. Penyuntikan hGH (Hormon Pertumbuhan)
Growth hormon sebagai treatmen untuk gangguan seksual belum terbukti secara ilmiah bisa mempengaruhi libido maupun ereksi, namun treatmen ini memang bisa memperkuat otot, menambah kebugaran atau mengencangkan kulit hormon ini merangsang sel terus memperbaharui diri, yang menjadikan sel  dalam tubuh remaja terus dengan kata lain inilah hormon pencegah penuaan alias hormon awet muda.

Seiring dengan bertambahnya usia, kadar hGH mengalami penurunan akibatnya penuaanpun terjadi, maka mendorong kadar hGH dalam tubuh diharapkan mampu memperlambat proses penuaan, hal ini kemudian mendorong hadirnya suplemen yang dapat terangsang peningkatan kadar hGH tubuh (Hutapea, 2005).

Walaupun hasil riset belum lama dipublikasikan memberikan hGH pada pria andropause tampaknya memberikan hasil positif yang menarik. Dalam salah satu penelitian, dua belas pria usia andropause diberi hormon pertumbuhan. Setelah mendapat selama 6 bulan, lemak badan rata-rata menurun sebanyak 14%, sementara masa otot tanpa lemak naik 9%, mereka juga menunjukkan 7,1% kenaikan dalam ketebalan kulit (Diamond, 2003).

3. Penyuntikan DHEA (Dehidroepiandrosteron).
Penurunan kadar hormon ini, dalam darah sangat berpengaruh terhadap proses penuaan dengan pemberian DHEA akan mengakibatkan kenaikan energi dan tidur lebih baik, pria akan merasa lebih santai dan lebih mampu mengatasi stress. Dari 17 hormon yang ada pria hanya satu yang menunjukkan korelasi langsung dan konsisten dengan inpotensi kalau kadar DHEA menurun maka insiden impotensi naik (Diamond, 2003). 

Kadar DHEA ditemukan sangat tinggi di otak daripada dalam darah, pada sore hari kadarnya tingga dan mencapai puncaknya pada tengah malam, efek DHEA terhadap otak adalah melalui pemicuan pembentukan reseptor N-metil-d-Asparat. Reseptor ini membuka neuron agar kalsium dapat masuk sehingga meninggalkan daya ingat.

Pemberian DHEA dapat menurunkan komplikasi yang ditimbulkan akibat penyakit jantung peningkatan kadar DHEA sebanyak 1ng/ml telah dapat menurunkan komplikasi pascainfrak sebanyak 48% (Prawirohardjo, 2003).

Langkah-Langkah Melewati Andropause dengan Sukses

  • Makan makanan yang tepat
    Diet tradisional asia dengan makanan pokok nasi atau biji-bijian, sayuran, buahbuahan, kacang-kacangan (beans), tahu, daging, dan makanan binatang dalam jumlah terbatas. 
  • Jaga Kebugaran Fisik
    Melakukan olahraga secara teratur yang termasuk berbagai komponen sebagai ketahanan kardiorespiratori (aerobik), kekuatan otot, dan fleksibilitas.  
  • Minum Vitamin 
  • Makan Herba 
  • Memeriksakan kesehatan secara teratur 
  • Memeriksakan kadar hormon 
  • Kurangi stres dan kekhawatiran dalam hidup 
  • Mempersiapkan diri memasuki usia lanjut 
  • Bergabunglah dengan kelompok pria
    Pria dewasa memerlukan semacam dukungan dari teman sesama pria selama terus menerus.  
  • Jalani dan wujudkan pekerjaan atau panggilan hidup anda 
  • Menjadi penasehat bagi pria muda (Diamond, 2003). 

Daftar Pustaka Makalah Pengertian Andropause 

Victor Simbar, 2008. Pria dan Androapuse. http://victorhealth.blogspot.com/2008/10/pria-dan-andropause.html, diperoleh tanggal 31 Oktober 2008.
 

Hutapea, Ronald. (2005). Sehat Dan Ceria Di Usia Senja. Edisi 1. Jakarta: Renika Cipta.

Hutapea, Ronald. (2005). Sehat Dan Ceria Di Usia Senja. Edisi 2. Jakarta: Renika Cipta.
 

Nugroho Wahyudi. (2003). Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC
 

Prawirohardjo, Sarwono. (2003). Menopause Dan Andropause. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. 


Nugroho Setiawan, 2008. Solusi Cerdas Atasi Andropause & Tingkat Stamina. http://pikas.Bkkbn.go.id/gemapria/article-detail.php=60, diperoleh 14 Januari 2008.
Diamond, Jed. (2003). Meneopause Pada Pria (Male Menopause). Batam Center: Interaksara.

Yatim, Faisal. (2004). Pengobatan Terhadap Penyakit Usia Senja, Andropause & Kelainan Prostat. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Pengertian Andropause Mekanisme Penyebab Terjadinya Keluhan Perubahan Pria Pengobatan dan Penanganan Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

0 comments:

Post a Comment