Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 26 March 2017

Pengertian APN Makalah Asuhan Persalinan Normal dan Langkah Langkah Penatalaksanaan

Pengertian APN Asuhan Persalinan Normal adalah : asuhan persalinan yang bersih dan aman dari setiap tahap persalinan dan upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pascapersalinan dan hipotermia serta asfiksia bayi baru lahir (JNPK, 2007).

Fokus utama persalinan normal adalah : persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi, hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi, menjadi pencegahan komplikasi. Hal ini terbukti mampu mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.

Tujuan APN adalah

Menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui  upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal).

Langkah Asuhan Persalinan Normal

a. Melihat tanda dan gejala kala dua
1) Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
2) Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya.
3) Perineum menonjol
4) Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.

b. Menyiapkan pertolongan persalinan
  1. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap digunakan.
  2. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
  3.  Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
  4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribadi yang bersih.
  5. Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
  6. Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi  tabung suntik).

c. Memastikan pembukaan lengkap dengan janin baik
  1. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksamadengan cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminasi).
  2. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk   memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap, (bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi).
  3. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya di dalam larutan  klorin 0,5% selama 10 menit.
  4. Mencuci kedua tangan (seperti di atas)
  5. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk     memastikan bahwa DJJ dalam batas normal ( 100 – 180 kali / menit ).
    • Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
    • Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semu  hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.

d. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran
  1. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
  2. Membantu ibuberada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
    • Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. 
    • Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-temuan.
     
  3. Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
    Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu utuk meneran. (Pada    saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa      nyaman).
  4. Melakukan pimpinan meneran saat Ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran :
    • Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinganan untuk     meneran
    • Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
    • Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang)
    • Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
    • Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada    ibu.
    • Menganjurkan asupan cairan per oral.
    • Menilai DJJ setiap lima menit.
    • Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk segera.
     
  5. Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran
    • Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak kontraksikontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi.
    • Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera   setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera.

e. Persiapan pertolongan kelahiran bayi
  1. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
  2. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
  3. Membuka partus set.
  4. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

f.    Menolong kelahiran bayi g.      
1)  Lahirnya kepala
a) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kelapa bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat kepala lahir.
  • Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung setelah kepala lahir menggunakan penghisap lendir DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola karet penghisap yang baru dan bersih.
  • Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih.
  • Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi:
    • Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.
    • Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua tempat dan memotongnya.
    • Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara    spontan.

2) Lahirnya bahu
a) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan kearah keluar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior.

3) Lahir badan dan tungkai

4) Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.

5) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas    (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat panggung dari kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan hatihati membantu kelahiran kaki.

Makalah Asuhan Persalinan Normal

g.  Penanganan bayi baru lahir
  1. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan).
  2. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian pusat.
  3. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah ibu).
  4. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
  5. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, mengambil tindakan yang    sesuai.
  6. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk   bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.

h.  Penanganan bayi baru lahir
1)  Oksitosin
  • Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen      untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
  • Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
  • Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan     oksitosin 10 unit IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah      mengaspirasinya terlebih dahulu.

2)   Penegangan tali pusat terkendali
  • Memindahkan klem pada tali pusat
  • Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
  • Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, menghentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.
    • Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk melakukan rangsangan puting susu.

3)   Mengeluarkan plasenta
a)  Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.
  • Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5 – 10 cm dari vulva.
  • Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15 menit :
    1. Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM.
    2. Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih dengan       menggunakan teknik aseptik jika perlu.
    3. Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
    4. Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.      
    5. Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak      kelahiran bayi.
  • Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.
  • Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau forseps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan bagian selaput yang tertinggal.

4).   Pemijatan Uterus
a) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).

i.   Menilai perdarahan
1)  Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus.
  • Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik mengambil tindakan yang sesuai.
2) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.

j.   Melakukan prosedur pasca persalinan 
  1. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.  Mengevaluasi perdarahan persalinan vagina.
  2. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan    klorin 0,5 %, membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
  3. Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau   mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
  4. Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang berseberangan dengan    simpul mati yang pertama.
  5. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya ke dalam larutan klorin 0,5 %.
  6. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan    handuk atau kainnya bersih atau kering.
  7. Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.

k.  Evaluasi
1)  Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :
  • 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
  • Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.
  • Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan.
  • Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melaksanakan perawatan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan penjahitan dengan anestesia lokal dan menggunakan teknik yang sesuai.
2)  Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus.
3)  Mengevaluasi kehilangan darah.
4) Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
5) Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama     pasca persalinan.
6)  Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

l.   Kebersihan dan keamanan
  1. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk    dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi.
  2. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang       sesuai.
  3. Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai    pakaian yang bersih dan kering.
  4. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang    diinginkan.
  5. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan      klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.
  6. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan    bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama  10 menit
  7. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
m.   Dokumentasi
Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)


Daftar Pustaka Makalah Asuhan Persalinan Normal
JNPK. (2007).  Asuhan Persalinan Normal, Ed.3 (revisi), Jakarta

Pengertian APN Makalah Asuhan Persalinan Normal dan Langkah Langkah Penatalaksanaan Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

0 comments:

Post a Comment