Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 27 March 2017

Pengertian Budaya Patriarki Menurut Para Ahli dan Kesetaraan Gender di Indonesia

Pengertian Budaya Patriarki - “Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yakni buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi akal ” ( Hartomo et. al 2008, hlm. 38 ). Dalam bahasa Belanda, kebudayaan adalah cultuur dalam bahasa Inggris adalah culture dan bahasa Arab Tsaqafah yang diadopsi dari bahasa latin yakni colere yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dan berkembanglah cultur sebagai segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Prasetya. 2004. hlm 28)

Sumardi memberikan batasan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat (Hartomo et. Al. 2008,  hlm. 38).

Culture is that complex whole wich includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities acquired By man as a member of society. Yang maksudnya kebudayaan adalah suatu satu kesatuan atau jalinan kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, susila, hukum, adat istiadat dan kesanggupan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat. (Taylor, E. B. 1983, Prasetya, 2004. hlm. 29).

Menurut Gazalba kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu (Prasetya. 2004. hlm. 30)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebudayaan adalah: (1) Hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. (2) Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya untuk menjadi pedoman tingkah laku. (Salim. 2001).

Definisi Patriarki adalah sistem pengelompokan masyarakat sosial yang mementingkan garis keturunan bapak/laki-laki. Patrilineal adalah hubungan keturunan melalui garis keturunan kerabat pria atau bapak (Sastryani. 2007. hlm. 65).

Patriarki juga dapat dijelaskan dimana keadaan masyarakat yang menempatkan kedudukan dan posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi (Pinem. 2009. hlm. 42).

Di negara-negara barat, Eropa barat termasuk Indonesia, budaya dan ideologi patriarki masih sangat kental mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Bila dilihat dari garis keturunan, masyarakat Sumatera Utara lebih cenderung sebagai masyarakat yang patrilineal yang dalam hal ini posisi ayah atau bapak (laki-laki) lebih dominan dibandingkan dengan posisi ibu (perempuan). Contoh suku yang menganut faktor budaya patriarki adalah Batak, Melayu dan Nias (Syukrie, 2003, 2, http://www.Glosarium-. Syukrie.com, diperoleh tanggal 20 Oktober 2009 ).

Pada tatanan kehidupan sosial, konsep patriarki sebagai landasan ideologis, pola hubungan gender dalam masyarakat secara sistematik dalam praktiknya dengan pranata pranata sosial lainnya. Faktor budaya merupakan salah satu penyebeb meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan. Hal ini dikarenakan terlalu diprioritaskannya laklaki (maskulin).

Pengertian Budaya Patriarki

Perbedaan jender sebetulnya tidak menjadi masalah selama tidak melahirkan ketidakadilan jender. Namun ternyata perbedaan jender baik melalui mitos-mitos, sosialisai, kultur, dan kebijakan pemerintah telah melahirkan hukum yang tidak adil bagi perempuan. Pada masyarakat patriarki, nilai-nilai kultur yang berkaitan dengan seksualitas perempuan mencerminkan ketidaksetaraan jender menempatkan perempuan pada posisi yang tidak adil (Widiant. 2005. hlm. 10)

Sikap masyarakat patriarki yang kuat ini mengakibatkan masyarakat cenderung tidak menanggapi atau berempati terhadap segala tindak kekerasan yang menimpa perempuan. Sering dijumpai masyarakat lebih banyak komentar dan menunjukkan sikap yang menyudutkan perempuan (Manurung. 2002. hlm. 83).

Yang mengakibatkan timbulnya ketimpangan pada budaya patriarki adalah :
1. Maskulinitas
Maskulinitas adalah stereotype tentang laki-laki yang dapat dipertentangkan dengan feminitas sebagai steretotype perempuan maskulin bersifat jantan jenis laki-laki. Maskulinitas adalah kejantanan seorang laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual. (Sastriani. 2007. hlm. 77)

Hegemoni dalam laki-laki dalam masyarakat tampaknya merupakan fenomena universal dalam sejarah peradaban manusia di masyarakat manapun di dunia, yang tertata dalam masyarakat patriarki. Pada masyarakat seperti ini, lakilaki diposisikan superior terhadap perempuan di berbagai sektor kehidupan baik domistik maupun publik. Hegemoni laki-laki atas perempuan memperoleh legitimasi dari nilai-nilai sosial, agama, hukum tersosialisasi secara turunmenurun dari generasi ke generasi. (Darwin. 2001. hlm 98).

Laki-laki juga cenderung mendominasi menyubordinasi dan melakukan deskriminasi terhadap perempuan. Dikarenakan patriarki merupakan dominasi atau kontrol laki-laki atas perempuan, atas badannya, seksualitasnya, pekerjaannya, peran dan statusnya, baik dalam keluarga maupun masyarakat dan segala bidang kehidupan yang bersifat ancolentrisme berpusat pada laki-laki dan perempuan (Manurung. 2002. hlm. 95).

Darwin (2001, hlm.3) mengemukakan bahwa timbulnya kemaskulinitasan pada budaya patriarki karena adanya anggapan bahwa laki-laki menjadi sejati jika ia berhasil menunjukkan kekuasaannya atas perempuan. Sementara itu    Dalam budaya patriarki pola pengasuhan terhadap perempuan juga masih didominasi dan penekanan pada pembagian kerja berdasarkan jender (Sihite. 2007. hlm. 6).

Maskulinitas juga tampak dalam kelahiran, tindakan-tindakan masyarakat yakni dalam upacara kelahiran bayi (Jagong), kalau bayinya perempuan maka pemberian hadiah lebih sedikit kalo bayinya laki-laki. Banyaknya anak gadis usia sekolah putus sekolah disebabkan orangtuanya lebih memprioritaskan anaknya laki-laki karena pemikiran anak laki-laki nantinya harus menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah. Dalam mengerjakan pekerjaan rumah anak laki-laki mendapat bagian yang sedikit dari perempuan karena perempuan diwajibkan melayani dan mengerjakan pekerjaan rumah dan membersihkan rumah. Sehingga pengharapan mempunyai anak laki-laki tampak sangat jelas daripada perempuan pada unsurunsur budaya patriarki (Widianti,. 2005. hlm. 33).

2. Otoritas dalam pengambilan keputusan
Keputusan adalah suatu reaksi terhadap solusi alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa kemungkinan-kemungkinan dari alternatif tersebut bersama konsekuensinya. Setiap keputusan akan membuat pilihan terakhir dapat berupa tindakan atau opini. Itu semua bermula ketika kita perlu untuk melakukan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk itu keputusan dapat dirasakan rasional atau irasional dan dapat berdasarkan asumsi kuat atau asumsi lemah ( 4, http://www.teorikeputusan.co.id, diperoleh tanggal 20 januari 2008)

Kesejahteraan jender salahsatunya dapat diukur dari kesamaan hak pengambilan keputusan (Darwin. 2001. hlm. 88) dan masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan termasuk dalam mengambil keputusan dalam Keluarga Berencana (4, http://www.bkkbn.go.id, diperoleh tanggal 06 februari 2008).

Perempuan berada di strata bawah sehingga takut otonominya berbeda dalam keluarga sedangkan pengertian otonomi adalah kemampuan untuk bertindak melakukan kegiatan, mengambil keputusan untuk bertindak atas kemauan sendiri (Widianti. 2005,. hlm. 213).

Pada program keluarga berencana, perempuan harus diposisikan sebagai subjek, dan dengan demikian hak-hak reproduksinya termasuk hak dalam pengambilan keputusan harus dihargai. Dalam hal ini otoritas pengambilan keputusan masihlah berada pada suami. Salah satu indikasi dari lemahnya posisi perempuan dimasyarakat adalah dari tingkat perlindungan terhadap perempuan dalam proses reproduksi di Indonesia belum cukup (Darwin. 2001. hal. 125). 

Daftar Pustaka Makalah Budaya Patriarki
Widianti, Agnes. (2005). Hukum Berkeadilan Gender, Jakarta : Kompas
 
Darwin, Muhadjir. (2001). Menggugat Budaya Patriarki, Yogyakarta : Kerjasama Ford Foundation deengan Pusat Penelitian kependudukan
 
Prasetya, ST, dkk. (2004). Ilmu Budaya Dasar, Jakarta : PT Rineka Citra
 
Salim, dkk. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta
 
Sastriyani, S. S. H. (2007). Glosarium, Seks dan Gender, Yogyakarta : Carasuati Books
 
Pinem, Saroha. (2009). Kesehatan Reproduksi & Kontrasepsi, Jakarta : Trans Media
 
Syukrie, E. S. (2003). Pemberdayaan Perempuan Dalam Pembangunan Berkelanjutan, http:// www.glosarium-syukrie.com, diperoleh tanggal 20 Oktober 2009

Pengertian Budaya Patriarki Menurut Para Ahli dan Kesetaraan Gender di Indonesia Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

0 comments:

Post a Comment