Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 24 March 2017

Pengertian Ikterus Definisi Bilirubin, Jenis Fisiologis, Patologis dan Penyebab, Gejala Pengamatan, Faktor resiko

Pengertian  Ikterus adalah warna kuning yang dapat terlihat pada sklera, selaput lendir, kulit atau organ lain akibat penumpukan bilirubin. (Surasmi.2003.hlm 57) Ikterus (jaundice) diartikan sebagai perubahan warna kulit menjadi kuning akibat pewarnaan jaringan oleh bilirubin.(Farrer.1999.hlm.196)


Bilirubin merupakan zat hasil pemecahan hemoglobin(protein sel darah merah yang memungkinkan darah mengangkut oksigen). Hemoglobin terdapat dalam eritrosit(sel darah merah) yang dalam waktu tertentu selalu mengalami destruksi(pemecahan). Proses pemecahan tersebut menghasilkan hemoglobin menjadi zat heme dan globin. Dalam proses berikutnya,zat-zat ini akan berubah menjadi bilirubin  bebas atau indirect. Dalam kadar tinggi bilirubin bebas ini bersifat racun, sulit larut dalam air dan sulit dibuang.

Untuk menetralisirnya, organ hati akan mengubah bilirubin indirect menjadi direct yang larut dalam air. Masalahnya, organ hati sebagian bayi baru lahir belum dapat berfungsi optimal dalam mengeluarkan bilirubin tersebut. Masa matang organ hati pada setiap bayi berbeda. Namun umumnya, pada hari ketujuh organ hati mulai biasa melakukan fungsinya dengan baik. Itulah mengapa, setelah berumur 7 hari rata-rata kadar bilirubin bayi sudah kembali normal. Tapi, ada juga yang menyebutkan organ hati mulai biasa berfungsi pada usia 10 hari. (Satyawati,2006, Diagnosis klinis ikterus secara visual pada bayi berat bayi cukup di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, ,¶2-3, http://www.pediatric.com,diperoleh tanggal 17 oktober 2008). 

Pembagian Ikterus

 Ikterus dibagi menjadi dua yaitu ikterus fisiologis dan patologis
a. Ikterus Fisiologis 
1. Pengertian Ikterus Fisiologis
Adalah warna kuning yang timbul pada hari ke-2/ke-3 dan tampak jelas pada hari ke-5/ke-6 dan menghilang pada hari ke-10. (Ngastiyah,2005.hlm274)

2. Penyebab Ikterus Fisiologis
Adanya metabolisme normal bilirubin pada bayi baru lahir usia minggu pertama. Peningkatan kadar bilirubin pada hari-hari pertama kehidupan dapat terjadi  pada sebagian besar neonatus. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar eritrosit neonatus dan umur eritrosit yang lebih pendek(80-90 hari) dan fungsi hepar yang belum matang. Peningkatan bilirubin ini tidak melebihi 10mg/dl pada bayi cukup bulan dan 12mg/dl pada bayi kurang bulan yang terjadi pada hari 2-3, dan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7, kemudian menurun kembali pada hari ke-14.( Surasmi. 2003. hlm.59)

Karena kurangnya protein Y dan Z, enzim glukoronil transferase yang belum cukup jumlahnya.(Ngastiyah. 2005. hlm. 274). Selain itu  bisa karena pemberian minum yang belum mencukupi. Bayi yang puasa panjang atau asupan kalori/cairan yang belum mencukupi akan menurunkan kemampuan hati untuk memproses bilirubin. (Nursalam. 2005. hlm. 108)

3. Gejala Ikterus Fisiologis
Usia anak 2-3 hari, kadang-kadang timbul hari ke 4-5, apabila sebelum usia 2 hari timbul kekuningan,perlu dcurigai ikterus patologis. Pengamatan ikterus, kadang-kadang agak sulit apalagi dengan cahaya buatan. Paling baik dilakukan dengan cahaya matahari dan dengan menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna karena pengaruh sirkulasi. Uttley (1974) menyatakan bahwa ikterus baru dapat terlihat kalau kadar bilirubin mencapai 2mg%. Brown (1973) menyebutkan bahwa ikterus baru dapat terlihat jelas bila kadar bilirubin lebih dari 5mg%. Pengamatan  Monintja dkk, di RSCM Jakarta ialah bahwa ikterus baru terlihat jelas bila kadar bilirubin lebih dari 6mg%.

Pengertian Ikterus

Pengalaman juga membuktikan bahwa derajat intensitas ikterus tidak selalu sama dengan kadar bilirubin darah( Wahidiyat. 2002. hlm.1102). Kadar bilirubin diukur dengan mengambil beberapa tetes darah ditumit bayi (Sears. 2007 .hlm.73).

4. Penanganan Ikterus Fisiologis
Ikterus fisiologis tidak memerlukan penanganan yang khusus, kecuali pemberian minum sedini mungkin dengan jumlah cairan dan kalori yang mencukupi. Pemberian minum sedini mungkin akan meningkatkan motalitas usus dan juga menyebabkan bakteri diintroduksi ke usus. Bakteri dapat merubah bilirubin direk menjadi urobilin yang tidak dapat diabsorpsi kembali.Dengan demikian, kadar bilirubin serum akan turun. 

Meletakkan bayi dibawah sinar matahari selama 15-20 menit, ini dilakukan antara pukul 06.30-08.00. Apabila ikterus makin meningkat intensitasnya, harus segera dilaporkan karena perlu penanganan yang khusus (Surasmi. 2003. hlm. 61).

Selain itu ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan: Pengawasan antenatal yang baik. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi pada masa kehamilan dan kelahiran, misalnya sulfafurazole, novobiusin. Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatal. Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir. Pemberian ASI/PASI secara dini. Pencegahan infeksi (Wahidiyat. 2002. hlm. 1108).

Pengamatan Ikterus 

Secara klinis ikterus dapat dilihat segera setelah lahir atau beberapa hari kemudian. Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. Ikterus akan terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang kurang, terutama pada neonatus yang kulitnya gelap. Penilaian ikterus akan lebih sulit jika pasien sedang mendapat terapi sinar. Tekan kulit secara ringan memakai jari tangan untuk memastikan warna kulit dan jaringan subkutan. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting dalam diagnosis dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan kemungkinan penyebab ikterus tersebut.

Tabel 2.1. Perkiraan klinis derajat ikterus

 (Risa,2006,¶6,Hiperbilirubinemia Pada Neonatus,http://www.pediatrik.com, diperoleh tanggal 17 oktober 2008).

Tabel 2.2. klasifikasi ikterus
Pengertian Ikterus
(Dikutip dari Depkes.RI, 2006. Manajemen Terpadu Balita Sakit)

b. Ikterus Patologis  
1. Pengertian Ikterus Patologis
Ikterus patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus patologis juga bisa menyebabkan kernikterus yaitu suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin inderek pada otak. (Wahidiyat. 2002. hlm. 1101)

2. Penyebab Ikterus Patologis 
Keadaan ikterus patologis  dipengaruhi oleh: 

Faktor produksi bilirubin yang berlebihan melampaui pengeluarannya. Terdapat pada hemolisis yang meningkat seperti pada ketidakcocokkan golongan darah (RH, ABO antagonis, defisiensi G-6-PD dan sebagainya). Gangguan dalam ambilan dan konjugasi hepar yang disebabkan oleh imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi hepar yang disebabkan imaturitas hepar akibat asidosis hipoksia, dan infeksi, atau tidak terdapat enzim glukuronil transferase (G-6-PD). Gangguan transportasi bilirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian diangkut kehepar. Ikatan ini dapat dipengaruhi oleh obat seperti salisilat dan lain-lain. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat pada otak (terjadi kernikterus). Gangguan dalam ekskresi akibat sumbatan dalam hepar atau diluar hepar. Akibat kelainan bawaan atau infeksi, kerusakan hepar oleh penyebab lain. (Ngastiyah. 2005. hlm.275)

Faktor-faktor resiko untuk menimbulkan ikterus:
Faktor maternal yaitu  komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh),  ASI. Faktor perinatal yaitu trauma lahir (sefalhematome, ekimosis), infeksi (bakteri, virus,protozoa).  Faktor neonatus yaitu  Prematuritas dan BBLR, faktur genetik, polisitemia, obat(streptomisin, kloramfenikol, benzyalkohol, sulfisuxazol), rendahnya asupan ASI, hipoglikemia, hipoalbuminemia.   Beberapa riwayat keadaan yang menyebabkan ikterus patologis:

Riwayat kehamilan dengan komplikasi(obat-obatan, ibu DM, gawat janin, malnutrisi, intra uterin, infeksi intranatal). Riwayat persalinan dengan tindakan/komplikasi.Riwayat inkompatibilitas darah. Riwayat keluarga yang menderita anemia, pembesaran hepar, dan limpa. (Risa,2006,¶6,Hiperbilirubinemia Pada Neonatus,http://www.pediatrik.com, diperoleh tanggal 17 oktober 2008).   

3. Gejala Ikterus Patologis 
Ikterus terjadi pada 24 jam pertama. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar, letargi/lemas kejang, tidak mau menghisap, tonus otot meninggi, leher kaku, dan akhirnya opiscotonus. Bila bayi hidup pada umur lanjut dapat terjadi spasme otot, opiscotonus, kejang, mitosis, yang disertai ketegangan otot, dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental. Peningkatan konsentrasi bilirubin 5mg% atau lebih setiap 24 jam. Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10mg% pada neonatus kurang bulan dan 12,5mg% pada neonatus cukup bulan. Ikterus yang menetap sesudah 2 minggu pertama (Ngastiyah. 2005.hlm. 274)

4. Penanganan Ikterus Patologis
Setiap bayi kuning harus ditangani menurut keadaannya masing-masing. Bila kadar bilirubin serum bayi tinggi sehingga diduga akan menjadi kernikterus, hiperbilirubinemia tersebut harus diobati dengan tindakan berikut: Pemberian fenobarbital. Memberi substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi. Mengeluarkan bilirubin secara mekanik, yaitu transfusi tukar  (Surasmi. 2003. hlm. 62)

Daftar Pustaka Makalah Ikterus
Farer.H,(2001), Perawatan Maternitas, EGC:Jakarta
Surasmi,(2003), Perawatan Bayi Beresiko Tinggi, EGC: Jakart
Satyawati,(2006), Diagnosis klinis ikterus secara visual pada bayi berat bayi cukup di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, http://www.pediatric.com, diperoleh tanggal (17 oktober 2008).
Ngastiyah,(2005),Perawatan Anak Sakit, EGC: Jakarta
Nursalam,(2005), Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Salemba Medika: Jakarta
Sears.W,(2007), The Baby Book,  Ikrar Mandiri Abadi: Jakarta
Wahidiyat,(2002), Ilmu Kesehatan Anak, Infomedika: Jakarta
Risa,(2006),Hiperbilirubinemia Pada Neonatus, , http://www.pediatric.com, diperoleh tanggal 17 oktober  2008

Pengertian Ikterus Definisi Bilirubin, Jenis Fisiologis, Patologis dan Penyebab, Gejala Pengamatan, Faktor resiko Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

0 comments:

Post a Comment