Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 26 March 2017

Pengertian Masa Nifas Senam Nifas Manfaat Cara Metode, Perubaham Anatomi dan Fisiologi

Pengertian Masa Nifas  - Pasca partum adalah masa kira-kira 6 (enam) minggu setelah kelahiran bayi, selama tubuh beradaptasi keadaan sebelum hamil, disebut dengan puerperium (Ladewig, Patricia W, 2005, hlm. 227).

Masa puerpurium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 (enam) minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 ( tiga ) bulan  (Sarwono, 2006, hlm. 237).

Pada awal tahun kehamilan dapat terjadi perubahan besar pada otot rahim yang mengalami pembesaran ukuran karena pembesaran selnya dan pembesaran ukuranukuran karena pertambahan jumlah selnya sehingga dapat menampung pertumbuhan dan perkembangan janin sampai cukup bulan dengan berat lebih dari 2500 gram. Berat rahim menjadi sekitar 1 kg , yang semula hanya 30 g setelah persalinan terjadi proses sebaliknya  yang disebut “involusi” ( kembalinya rahim keukuran semula ) dimana secara berangsur-angsur otot rahim mengecil kembali sampai berat semula pada minggu ke tujuh ( 42 hari )

Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapat perhatian para ibu karena sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan atau dokter yang menolong persalinan itu. Diantara masalah penting tersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim yang mungkin masih luka akibat proses persalinan.  Penyembuhan yang menyebabkan mulut rahim kaku, dan menyulitkan persalinan yang akan datang (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1999, hlm. 151).

Perubaham Anatomi dan Fisiologi pada Masa Nifas

Untuk memberikan perawatan yang menguntungkan ibu, bayi, dan keluarganya, seorang perawat harus memanfaatkan pengetahuannya tentang anatomi dan fisiologi ibu antara lain:

a.  Uterus 
Proses involusi ialah proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.

Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu (kira-kira sebesar grapefruit ( jeruk asam )) dan beratnya kira-kira 1000 g.

Dalam waktu 12 jam , tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan evolusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum. Uterus yang pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 g 1 minggu setelah melahirkan dan 350 g (11 sampai 12 ons) 2 minggu setelah lahir. Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50 sampai 60 g. Subinvolusi ialah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil. Penyebab subinvolusi yang paling sering ialah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi (Bobak, 2004, hlm. 493).

b.  Lokia 
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir seringkali disebut lokia, mulamula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat. Rabas ini dapat mengandung bekuan darah kecil. Selama dua jam pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu tersebut, aliran lokia yang keluar harus semakin berkurang.

Lokia rubra terutama mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik. Aliran menyembur, menjadi merah muda atau coklat setelah 3 sampai 4 hari (lokia serosa). Lokia serosa terdiri dari darah lama (old blood), serum, leukosit, dan debris jaringan. Setelah 10 hari setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi kuning sampai putih (lokia alba).

Lokia alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mucus, serum, dan bakteri. Lokia alba bisa bertahan selama dua sampai enam minggu setelah bayi lahir.

Lokia rubra yang menetap pada awal periode pascapartum menunjukkan perdarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membrane yang tertinggal. Terjadinya perdarahan ulang setelah hari ke-10 pascapartum menandakan adanya perdarahan pada bekas tampat plasenta yang mulai memulih. Namun, setelah 3 sampai 4 minggu, perdarahan mungkin disebabkan oleh infeksi atau subinvolusi. Lokia serosa atau lokia alba yang berlanjut bisamenandakan endometritis, terutama jika disertai demam, rasa sakit, atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran cairan. Bau lokia menyerupai bau cairan menstruasi; bau yang tidak sedap biasanya menandakan infeksi.

Perlu diingat bahwa tidak semua perdarahan pervaginaan post partum adalah lokia. Sumber umum lain ialah laserasi vagina atau serviks yang tidak diperbaiki dan perdarahan bukan lokia (Bobak ,2004 ,hlm. 493).

c.  Serviks
Servik menjadi lebih tebal dan lebih keras; pada akhir minggu pertama post partum, serviks masih akan berdilatasi sekitar 1 cm. involusi serviks yang lengkap bisa berlangsung 3 sampai 4 bulan. Kelahiran anak bisa mengakibatkan perubahan permanen pada ostium serviks dari bulat menjadi memanjang (Straight, Barbara R, 2004, hlm. 190).

Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas (18) jam postpartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan. Ektoserviks (bagian serviks yang menonjol ke vagina) terlihat memar dan ada sedikit laserasi kecil kondisi yang optimal untuk perkembangan infeksi. Muara serviks, menutup secara bertahap. Dua jari mungkin masih dapat dimasukkan ke dalam muara serviks pada hari ke-4 sampai ke-6 postpartum, tetapi hanya tangkai kuret terkecil yang dapat dimasukkan pada akhir minggu ke-2. Muara serviks eksterna tidak akan berbentuk lingkaran seperti sebelum melahirkan, tetapi terlihat memanjang seperti suatu celah, sering disebut seperti mulut ikan. Laktasi menunda produksi estrogen yang mempengaruhi mucus dan mukosa (Bobak, 2004, hlm. 493).

d.  Vagina dan Perineum
Segera setelah melahirkan, vagina tetap terbuka lebar. Mungkin mengalami beberapa derajat edema dan memar, dan celah pada  introitus.  Setelah satu hingga dua hari pertama pascapartum, tonus otot vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan vagina tidak lagi edema. Sekarang vagina menjadi berdinding lunak, lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. Ukurannya menurun dengan kembalinya rugae vagina sekitar minggu ketiga postpartum. Ruang vagina selalu sedikit lebih besar daripada sebelum kelahiran pertama. Akan tetapi, latihan pengencangan secara perlahan mengencangkan vaginanya. Pengencangan ini sempurna pada akhir puerperium dengan latihan setiap hari (Varney, Helen, 2007, hlm. 960).

Pada masa postpartum, kadar estrogen menurun mengakibatkan penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai 8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan semenonjol pada wanita nulipara. Pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat koitus (dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembli normal dan menstruasi dimulai lagi. Biasanya wanita dianjurkan menggunakan pelumas larut air saat melakukan hubungan seksual untuk mengurangi nyeri.

Proses penyembuhan luka episiotomi sama dengan luka operasi lain. Tandatanda infeksi (nyeri, merah, panas, bengkak, atau rabas) atau tepian insisi tidak saling mendekat bisa terjadi. Penyembuhan harus berlangsung dalam dua sampai tiga minggu.

Hemoroid (varises anus) umumnya terlihat. Wanita sering mengalami gejala terkait, seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan berwarna merah terang pada waktu defecator. Ukuran hemoroid biasanya mengecil beberapa minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2004, hlm. 495).

e.  Payudara
Ibu menyusui, untuk dua puluh empat jam sampai tujuh puluh dua jam pertama sesudah melahirkan, payudara akan mengeluarkan kolostrum suatu cairan kuning jernih yang merupakan susu pertama untuk bayi. Air susu yang lebih matang akan muncul antara hari kedua sampai kelima. Pada saat ini payudara akan membesar (penuh, keras, panas, dan nyeri) yang dapat menimbulkan kesulitan dalam menyusui. Menyusui dengan interval waktu yang sering akan dapat mencegah pembengkakan payudara atau membantu meredakan. 

Ibu yang tidak menyusui, payudara dari ibu yang tidak menyusui kemungkinan akan mengalami perubahan awal yang sama dengan ibu yang menyusui. Mengikat payudara, memberi kompres  es, dan menghindari stimulasi pada payudara adalah cara-cara efektif untuk mengurangi produksi air susu dan meningkatkan kenyamanan. Tindakan ini sama membantunya seperti penggunaan obat-obat penghenti ASI yang dahulu biasa diberikan, tetapi sekarang sudah dihentikan karena efek sampingnya serius (Simkin, Penny, 2007, hlm. 321).

Laktasi dimulai pada semua wanita dengan perubahan hormon saat melahirkan. Apakah wanita memilih menyusui atau tidak, ia dapat mengalami kongesti payudara selama beberapa hari pertama post partum karena tubuhnya mempersiapkan untuk memberikan nutrisi kepada bayi. Wanita yang menyusui berespons terhadap menstimulus bayi yang disusui akan terus melepaskan hormon dan stimulasi alveoli yang memproduksi susu. Bagi wanita yang memilih memberikan makanan formula, involusi jaringan payudara terjadi dengan menghindari stimulasi (Varney, Helen, 2007, hlm. 960). 

Pengertian Senam Nifas

Senam nifas adalah gerakan untuk mengembalikan otot perut yang kendur karena peregangan selama hamil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam melakukan latihan ini jika timbul rasa nyeri sebaiknya dilakukan perlahan tapi jangan tidak melakukannya sama sekali.

Senam ini dilakukan sejak hari setelah melahirkan hingga hari kesepuluh, dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap yang dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang dengan mengulang gerakan (Hariningsih, 2004) Senam nifas adalah senam yang dilakukan untuk mengembalikan kekendoran otot dinding perut dan mengembalikan kekencangan otot dasar panggul dan otot liang senggama (Mochtar, Rustam, 1998, hlm. 229). 


Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh. Tentu saja senam ini dilakukan pada saat sang ibu benar-benar pulih (Muhammad Taufik, 2008, Seputar senam nifas, 1, http://www.ibudananak.com diperoleh tanggal 19 September 2008).

Setelah persalinan seorang ibu baru memasuki masa pemulihannya dan perlahan kembali kekondisi semula, tindakan tirah baring dan senam pasca persalinan membantu proses fisiologis ini secara perlahan. Senam nifas adalah untuk mempertahankan dan untuk meningkatkan sirkulasi ibu pada masa post partum segera ketika ia mungkin beresiko mengalami trombosis vena atau komplikasi sirkulasi lain (Eileen Brayshaw, 2007, hlm. 105). 

Manfaat senam nifas

 Adapun beberapa manfaat senam nifas adalah :
a. Memperbaiki elastisitas otot-otot yang telah mengalami penguluran.
b. Meningkatkan ketenangan dan mempelancar sirkulasi darah.
c. Mencegah pembuluh darah menonjol, terutama di kaki.
d. Menghindari pembengkakan pada pergelangan kaki.
e. Mencegah kesulitan buang air besar dan buang air kecil.
f. Mengembalikan rahim pada posisi semula.
g. Mempertahankan postur tubuh yang baik.
h. Mengembalikan kerampingan tubuh.
i. Membantu kelancaran pengeluaran ASI (Huliana,Mellyana, 2003, Hlm. 95) 

Manfaat senam nifas adalah untuk membantu memperbaiki sirkulasi darah, memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan, memperbaiki otot tonus, pelvis, dan perenggangan otot abdomen atau disebut juga pasca persalinan dan memperbaiki juga memperkuat otot panggul (Muhammad Taufik, 2008, Senam Nifas, ¶ 4, http://www.ibudananak.com diperoleh tanggal 19 September 2008).

Umumnya, wanita yang habis melahirkan kerap mengeluhkan bentuk tubuhnya yang melar. Meski harusnya dimaklumi, akibat membesarnya otot rahim karena pembesaran sel maupun pembesaran ukurannya selama hamil. Selain otot perut pun jadi memanjang sesuai pertumbuhan kehamilan. Setelah melahirkan, otot-otot tersebut akan mengendur. Belum lagi kondisi tubuh yang kurang prima lantaran letih dan tegang. Sementara peredaran darah dan pernapasan belum kembali normal. Hingga untuk membantu mengembalikan tubuh ke bentuk dan kondisi semula, tak bisa lain harus dengan latihan senam nifas yang teratur .

Manfaat lain senam nifas juga untuk mengencangkan otot perut, liang sanggama, otot-otot sekitar vagina maupun otot-otot dasar panggul, disamping melancarkan sirkulasi darah. Senam nifas sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, lalu secara teratur setiap hari. Sayangnya, para ibu kerap merasa takut melakukan gerakan demi gerakan setelah persalinan. Padahal 6 jam setelah persalinan normal atau 8 jam setelah operasi sesar, ibu sudah boleh melakukan mobilisasi dini, termasuk senam nifas. Dengan melakukan senam nifas segera mungkin, hasil yang didapat pun diharapkan bisa optimal. Tentunya lakukan secara bertahap (Khasanah, 2008, senam nifas, http://www.tabloid-nakita.com diperoleh tanggal 2 September 2008).

Dengan melakukan senam nifas, kondisi umum ibu jadi lebih baik. Rehabilitasi atau pemulihan jadi bisa lebih cepat, contohnya kemungkinan terkena infeksi pun kecil karena sirkulasi darahnya bagus.

Selain menumbuhkan atau memperbaiki nafsu makan, hingga asupan makannya bisa mencukupi kebutuhannya. Paling tidak, dengan melakukan senam nifas, ibu tak terlihat lesu ataupun emosional. 

Bentuk latihan senam antara ibu yang habis melahirkan normal dengan yang sesar tidaklah sama. Pada mereka yang sesar, beberapa jam setelah keluar dari kamar operasi, pernapasanlah yang dilatih guna mempercepat penyembuhan luka. Sementara latihan untuk mengencangkan otot perut dan melancarkan sirkulasi darah di tungkai baru dilakukan 2-3 hari setelah ibu dapat bangun dari tempat tidur. Sedangkan pada persalinan normal, bila keadaan ibu cukup baik, semua gerakan senam bisa dilakukan.

Secara umum melahirkan adalah peristiwa berdurasi panjang, yang berarti bahwa ibu mungkin merasa lelah dan sakit serta sistem reproduksinya akan memerlukan waktu untuk pulih dari melahirkan itu sendiri  (Helen, Varney, 2003, hlm. 197)

Cara dan metode senam nifas

Umumnya, para ibu post partum takut melakukan banyak gerakan. Sang ibu biasanya khawatir gerakan-gerakan yang dilakukannya akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Padahal, apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisamemperlancar terjadinya proses involusi uteri (kembalinya rahim ke bentuk semula). Salah satu aktivitas yang dianjurkan untuk dilakukan para ibu setelah persalinan adalah senam nifas. Senam ini dilakukan sejak hari pertama setelah melahirkan hingga hari kesepuluh. Dalam pelaksanannya, harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan kontinyu. Tujuan senam nifas  ini di antaranya memperbaiki sirkulasi darah, memperbaiki sikap tubuh setelah hamil dan melahirkan, memperbaiki tonus otot pelvis, memperbaiki regangan otot abdomen atau perut setelah hamil, memperbaiki regangan otot tungkai bawah, dan meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot-otot dasar panggul. 

Ada beberapa cara senam nifas :
a. Asuhan senam nifas atau latihan fisik:
  1. Mengajarkan latihan ringan tertentu yang membantu memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul. 
  2. Menjelaskan pentingnya pengembalian otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa telah kuat dan menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. Jelaskan bahwa latihan atau senam beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti:
    • Latihan pernapasan dan otot perut:
      • Dengan tidur telentang
      • Lengan disamping
      • Menarik otot selagi menarik nafas
      • Tahan napas kedalam dan angkat dagu ke dada; tahan 1 hitungan sampai 5
    •  Latihan memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel)
      • Kerutkan otot vagina dan anus seperti menahan kencing dan buang air besar dan tahan sampai hitungan 5.
      • Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
      • Mulai dengan menggerakkan 5 kali latihan untuk setiap gerakan, setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak.
      • Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.

b. Menurut Mellyna Huliana :
  1. Pakaian dilonggarkan, tidur telentang dengan satu bantal kedua lutut lurus    dan    tangan disamping badan.
  2. Letakkan kedua telapak tangan diatas perut, yaitu di sekitar pusat sebagai perangsang.
  3. Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah tinggi dan telapak kaki rata pada kasur.
  4. Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah tinggi, lurus dan dirapatkan. Tangan terentang di samping dengan bahu lurus.
  5. Duduk tegak berdiri, kedua tangan saling berpegangan pada lengan bawah dekat siku. Angkat siku sejajar dengan bahu.
  6. Berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
  7. Tidur terlentang tanpa bantal dan tangan di samping badan, kerutkan pantat, kempeskan perut sehingga bahu menekan kasur, ulurkan leher dan lepaskan.
  8. Posisi duduk atau berdiri, kedua tangan diletakkan di atas sendi bahu.
  9. Berdiri dengan kaki sedikit direnggangkan. (Mellyna, Huliana, 2003, hlm. 96-103)

c. Menurut Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, latihan senam nifas terdiri dari :
  1. Latihan menarik nafas. Bantal kecil diletakkan dibawah bahu dengan kedua tangan dibawah kepala, wanita menarik nafas panjang dan pelan-pelan.
  2. Berulang-ulang  mengangkat dan menurunkan tungkai, untuk memperkuat  otot-otot perut.
  3. Mengangkat tungkai untuk kemudian secara pelan-pelan menurunkannya.
  4. Mengangkat kepala dan bahu untuk memperkuat tonus otot-otot perut.
  5. Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan meluruskan kedua lengan.
  6. Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan menarik kedua tangan dibelakang kepala (Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, 1997, hlm. 162163)

Latihan senam post partum harus dilakukan sesegera mungkin. Ibu harus mulai dengan latihan senam yang sederhana kemudian dilanjutkan dengan gerakan yang lebih berat, yang dijelaskan dalam bentuk lampiran. (Bobak, 2002, hlm. 533).

Daftar Pustaka Makalah Senam Nifas dan Massa Nifas 
 Ladewig, P. 2005. Asuhan Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC
Manuaba, Ida Bagus G. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan
Prawirohardjo, S. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Straight, Barbara R. 2004. Panduan Belajar Keperawatan Ibu-Bayi  Baru Lahir, Jakarta: EGC
Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Varney, Helen. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Vol-1. Jakarta: EGC
Simkin, Penny. 2007. Kehamilan, Melahirkan, Dan Bayi. Jakarta: Arcan
Eileen, Brayshaw. 2007. Senam Hamil dan Nifas. Jakarta: EGC
Khasanah, 2008, senam nifas, http://www.tabloid-nakita.com diperoleh tanggal 2 September 2008
Dinas Kesehatan Provinsi Riau. 2007. Profil Angka Kematian Ibu. Jakarta: USAID

Pengertian Masa Nifas Senam Nifas Manfaat Cara Metode, Perubaham Anatomi dan Fisiologi Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

0 comments:

Post a Comment