Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 26 March 2017

Pengertian Sirkumsisi Pada Anak Perempuan Sunat Alasan dan Pelaksana Beberapa Pandangan Medis dan Kesehatan, Agama dan Budaya

Pengertian Sirkumsisi Pada Anak Perempuan - Sunat atau sirkumsisi pada laki-laki merupakan operasi pengambilan kulit yang menutup kepala penis. Sunat perempuan atau adalah pengoresan pada klitoris (Arta, 2008)



Secara medis dikatakan bahwa sunat sangat menguntungkan bagi kesehatan. Beberapa anak perempuan melakukannya saat bayi, usia 7-10 tahun, saat menikah dalam masyarakat yang mempraktekkannya atau seudah kelahirn anak pertama.

Sirkumsisi atau khitan berasal dari bahasa arab (khatana – yakhtinu, katana khitanan) yang berarti memotong. Secara terminologi pengertian khitan dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Khitan bagi laki-laki adalah memotong kyang menutupi ujung zakar, sehingga menjadi terbuka, disebut juga I’zar (Mahzab syafi’i)  ( Sukirman, 2007 ).

Alasan dan Pelaksana sirkumsisi

1.   Alasan Melakukan Sirkumsisi Pada Anak Perempuan
  • Psikoseksual mengurangi Diharapkan pemotongan lklitoris akan libido pada perempuan, mengurangi atau menghentikan masturbasi, menjaga kesucian dan keperawanan sebelum menikah, kesetiaan sebagai isteri, dan meningkatkan kepuasan seksual bagi laki-laki.
  • Sosiologi Melanjutkan tradisi, menghilangkan hambatan atau kesialan bawaan, masa peralihan pubertas atau wanita dewasa, perekat social, lebih terhormat.
  • Hygiene dan Estentik Organ genetalia eksternal dianggap kotor dan tidak bagus bentuk nya, jadi sunat dilakukan untuk meningkatkan kebersihan dan keindahan.
  • Agama Dianggap sebagai perintah agama, agar ibadah lebih diterima. (Arta, 2008)

2. Pelaksana Sirkumsisi Perempuan  Pelaksanaan sirkumsisi pada perempuan di Indonesia bervariasi, mulai dari : 
  • Tenaga medis (perawat, bidan maupun dokter)
  • Dukun bayi dan 
  • Dukun tukang sunat

Dalam melaksanakan sunat, biasanya pelaksana menggunakan alat modern dan tradisional. Alat modern seperti gunting. Sedangkan alat tradisional, seperti pisau, sembilu, bambu, jarum, kaca, kuku. Pelaksanaan sunat biasanya dengan atau tanpa anastesi. Usia pelaksanaan sunat biasanya dilakukan pada usia 0 – 18 tahun  (Khomar, 2007).

Beberapa Pandangan Sirkumsisi 

1. Sirkumsisi Pada Anak Perempuan Dalam Medis dan Kesehatan 
Bila ditinjau dari segi medis dan kesehatan, menurut dokter kandungan Italia,
Laura Guarenti yang mewakili LSM Jakarta, menyatakan sirkumsisi yang dilakukan pada anak perempuan tidak tidak memberikan keuntungan seperti yang dilakukan pada anak laki – laki. Karena bila dilakukan pada anak laki – laki dapat mencegah penyakit kanker bila anak perempuan tidak disirkumsisi dikemudian hari. Sementara untuk anak perempuan bila tidak disirkumsisi tidak akan menimbulkan dampak negative dikemudian hari. Bahkan dianjurkan untuk tidak melakukan penyunatan pada anak perempuan ( Arta, 2008 ).

Klitoris merupakan organ yang kaya akan persyarafan, sehingga sangat sensitive dan dinyatakan sebagai organ dimana perempuan dapat meresakan orgasme. Sehinga peniadaan klitoris dianggap oleh beberapa kalangan sebagai pemasungan hak reproduksi perempuan dalam kaitan perempuan tersebut tidak dapat merasakan orgasme ( Khomar, 2007 ).

Sirkumsisi pada perempuan dapat menimbulkan suatu trauma yang akan selalu ada dalam kehidupan dan pikiran wanita yang mengalaminya. Komplikasi psikologi dapat terpendam pada alam bawah sadar, dan dapat menimbulkan gangguan prilaku. Hilangnya rasa percaya diri dilaporkan sebagai efek serius yang bias terjadi. Dalam jangka panjang dapat menimbulkan perasaan tidak sempurna dan depresi. Hal – hal tersebut dapat menjadi konflik dalam pernikahannya. Banyak perempuan yang mengalami trauma dengan pengalaman FGM tersebut. Tetapi tidak dapat mengungkapkan ketakutan dan penderitaanya secara terbuka ( Khomar, 2007 ).

WHO secara konsisten dan jelas menyampaikan bahwa FGM dalam bentuk apapun, tidak boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan dimanapun, termasuk rumah sakitdan sarana kesehatan lainnya. WHO berdasarkan pada etika dasar kesehatan bahwa mutilasi tubuh yang tidak perlu tidak boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan. Medikalisasi sirkumsisi pada perempuan cenderung akan mempertahankan tradisi ini. Masyarakat akan lebih yakin dengan anggapan adanya dukungan dan legalitas oleh tenaga kesehatan. Berbeda dengan laki – laki, sirkumsisi pada perempuan tidak pernah diajarkan dalam pendidikan kesehatan, tidak ada standart dan prosedur tetap sunat pada perempuan secara medis ( Khomar, 2007 ).

Tipe- tipe Sirkumsisi Pada Perempuan 

a. Tipe Satu  :  Clitoridotomy, yaitu eksisi dari permukaan (prepuce) klitoris, dengan atau eksisi sebagian atau seluruh klitoris dikenal juga dengan istilah hooectomy

b.Tipe Dua  :  Clitoridektomy yaitu eksisi sebagian atau total dari labia minora, tipe yang lebih ekstensif dari tipe satu.Banyak dilakukan di Negara-Negara bagian Afrika Sahara, Afrika Timur, Mesir, Sudan, dan Peninsula.

c. Tipe Tiga  :  Infibulasi atau pharaonic circumcision atau khitan ra Firaun, yaitu eksisi sebagian atau seluruh bagian genetalia eksterna dan penjahitan untuk menyempitkan mulut vulva.Penyempitan vulva dilakukan dengan cara menyisakan lubang sebesar diameter pensil, agar jarak saar menstruasi dan urine tetap bias keluar

d. Tipe Empat  : Tidak terklasifikasi, termasuk disini adalah menusuk dengan jarum baik di permukaan saja ataupun sampai menembus, atau insisi klitoris dan atau labia : meregangkan (stretching) klitoris dan vagina : kauterisasi klitoris dan jaringan sekitarnya : menggores jaringan sekitar introitus vagina (angguria cut) ataumemotong vagina (gishiri cut), memasukkan benda korosif atau tumbuh-tumbuhan agar vagina mengeluarkan darah, menipis dan atau menyempit. ( Diah, 2006)         
 Sirkumsisi Pada Anak Perempuan

Komplikasi Sirkumsisi

Komplikasi sirkumsisi pada anak perempuan adalah terjadi resiko pendarahan , syok akibat kehilangan darah, nyeri, infeksi local, tetanus, trauma dari bagian-bagian seputar alat reproduksi, air seni tertahan, timbul kista yang nyeri, infeksi panggul, rasa sakit saat bersenggama , masalah infertilitas, infeksi saluran kemih yang berulang. ( Diah, 2006)

Kaitan sirkumsisi pada perempuan dari segi agama 

Bila ditinjau dari segi agama, banyak ulama berpendapat sunat pada perempuan tidak ada manfaatnya, hal itu dianggap merusak apa yang telah diciptakan Allah, berbeda dengan sunat pada laki – laki, bertujuan untuk menjaga kebersihan dari alat kelamin laki – laki bagian luar maka dari itu sunat pada laki – laki itu diwajibkan dan hanya dibolehkan bagi perempuan (Khomar, 2007).

Pada beberapa suku bangsa sirkumsisi merupakan bagian dari budaya, sedangkan dalam agama Islam sunat pada anak perempuan hanya dibolehkan (Meilani 2005)

Menurut Islam, sirkumsisi pada perempuan adalah dengan memotong sebahagian kulit paling bawah diatas vagina. Dari cara yang aman sampai cara yang membahayakan. Wanita yang disirkumsisi menurut Islam seksnya sedikit berkurang dibandingkan dengan wanita yang tidak disirkumsisi  ( Aziziqalbii, 2007 ).

Pendapat Imam Abu Hanifah mengenai berkhitan atau sunat yakni hukumnya sunat, beliau berpedoman pada sebuah hadist yang bermaksud : “berkhitan itu wajib bagi laki – laki dan penghormatan bagi perempuan. Kaum feminis menolak sunat pada perempuan dengan alasan sunat pada perempuan tidak dicantumkan dengan jelas di Al- Quran.  kasus infeksi setelah menjalani sunat, yang merenggut nyawa si gadis tersebut (Meilani, 2005 )

Tidak ada bukti yang sahih dari hukum – hukum Islam Al-Quran dan Hadist yang menyatakan hukum bersunat untuk wanita. Mayoritas sarjana – sarjana Islam berpendapat bahwa sirkumsisi pada perempuan tidak diwajibkan (Noor, 2008 ).

Para antropolog mengungkapkan data praktik sirkumsisi pada perempuan telah popular di masyarakat Mesir kuno. Dibuktikan dengan penemuan mumi perempuan pada abad ke – 16 SM. Yang memiliki tanda Cltoridectomy ( pemotongan yang merusak alat kelamin ). Menurut Hassan Hathout, pelaksanaan sirkumsisi pada perempuan telah berlangsung lama sebelum kedatangan Islam. Terutama di lembah Nil yakni Sudan, Mesir dan Ethiopia. Jadi tidak ada hubungannya antara sirkumsisi dengan perintah agama (Aziziqalbii, 2007 ).

Kaitan Sirkumsisi pada perempuan dari segi kebudayaan 

Beberapa kebudayaan menganggap sirkumsisi berguna untuk mengurangi libido seksual pada perempuan, agar perempuan tidak mengumbar nafsunya. Ada juga yang menganggap agar perempuan terhindar dari nafsu dan dosa, seorang perempuan yang disunat dapat menjaga kesucian dan keperawanan sebelum menikah. Dan ada juga yang menganggap segumpal daging sebesar butiran beras pada klitoris perempuan disebut sebagai titipan setan maka harus disunat ( Uci, 2007 )

Sebahagian  masyarakat  meyakini  perempuan  memiliki  nafsu  seksual  lebih tinggi dibanding laki – laki, maka menurut mereka cara efektif untuk mereduksi nafsu seksual perempuan  ini  adalah  dengan  melakukan  tindakan  sunat Rini (2006, dalam Diah, 2006. Khitan Untuk Anak Perempuan 2006) Islam hanya menganjurkan sirkumsisi pada laki – laki, tetapi tidak pada perempuan, Nabi Muhammad juga tidak menganjurkan anak – anaknya yang perempuan menjalani ritual sunat, selain itu ada juga gerakan wanita Mesir yang menentang ritual sunat pada perempuan. Beberapa hal yang memicu demonstrasi ini adalah karena adanya

Alasan lain masyarakat melaksanakan sunat pada perempuan adalah melanjutkan tradisi, menghilangkan hambatan atau kesialan, perekat sosial, lebih terhormat, meningkatkan kesuburan dan daya tahan anak. Diharapkan pemotongan klitoris akan mengurangi libido pada perempuan, mengurangi masturbasi, menjaga kesucian dan keperawanan sebelum menikah ( Khomar, 2007).

Survei epidemiologi WHO menemukan beberapa alasan melakukan sirkumsisi pada perempuan. Seperti identitas kesukuan, tahapan menuju wanita dewasa, pra-syarat sebelum menikah, juga pemahaman bahwa klitoris merupakan organ kotor, mengeluarkan secret berbau, mencegah kesuburan atau menghilangkan impotensi bagi pasangannya ( Uci, 2007 ).

Para antropologi dunia yang mempelajari kasus ini mengatakan bahwa asal upacara ini telah ada sebelum lahirnya agama Islam, dimana dari hasil penelitian tersebut dijumpai bahwa prakti – praktik penyunatan baik anak laki – laki maupun anak perempuan banyak ditemukan disetiap suku bangsa di dunia, bahkan menurut Atashendartii Hapsya, pemilik rumah sakit swasta, menyatakan bahwa kasus ini juga banyak dijumpai dikalangan agama Kristen di Pulau Jawa ( Sulaksono, 2008 ).

Selain alasan tradisi dan agama, ada juga alasan kebersihan dan mencegah perempuan mengumbar nafsu seksualnya. Sejauh ini tidak ada bukti medis yang membenarkan libido seks perempuan bisa tak terkendali karena tidak disunat. Disamping itu seolah ada kecurigaan atas seksualitas perempuan yang bahkan sejak bayi pun telah dituduh memiliki kecenderungan seks yang tak terkendali ( Meilani, 2005 ).

Di beberapa komunitas ada anggapan, perempuan tidak berhak menikmati kepuasan seksual, sebab wanita dianggap sebagai pelengkap kepuasan seksual laki–laki. Diluar masalah kultur, jika tindakan ini dilakuka dengan tidak tepat dan hati – hati, justru akan menimbulkan komplikasi baik akut maupun kronis ( Diah, 2006 ).

Rini (2006, dalam Diah, 2006. Khitan Untuk Anak Perempuan 2006) sebaiknya dilakukan program edukasi tentang sirkumsisi pada anak perempuan ini di masyarakat. Penjelasan secara rinci tentang anatomi genitalia perempuan eksterna maupun interna serta fungsinya, begitu juga dampak fisik dan psikologis jangka panjang dari tindakan FGM (Female Genital Mutilation ). Program ini memerlukan kerja keras bagi dokter anak dan seluruh tenaga medis pada umumnya.

Daftar Pustaka Makalah Sirkumsisi Pada Anak Perempuan
Arta, D, (2008), Adakah Sunat Perempuan?.http://www.SuaraKaryaonline.com/image/logo.gif.
 

Khomar, (2007). Kebijakan Departemen Kesehatan terhap medikalisasi sunat perempuan . http://wwwpdpersi.co.id./bannerbursa.jpg
 

Sukirman. (2007) Potong Klitorismu Segera. http//www.medicastore.com/images/news/contents/2.gif
 

Diah-a, 2006. Stop Sunat Anak Perempuan. http://Putinoviyrletti.multiply.com/journal/item/7/Stopsunatanakperempun
 

Meilani. L. 2005. (Wanita-Muslimah) info khitan/ Sirkumsisi Pada Wanita.
 

Aziziqalbiil, 2007, Problema Khitan Perempuan http://syariahonline.com 
 

Noor, 2008, Tujuan Sunat Pada Perempuan, http://tausiyah275.blogsome.com 
 

Uci, 2007, Artikel Medikalisasi Khitan Pada Bayi Perempuan,  http://www.mamkavin@yahoo.co.id
 

Sulaksono. Sonny, 2008, Pro Dan Kontra Sunat Genital Terhadap Perempuan. http://www.sulaksono.blogspot.com

Pengertian Sirkumsisi Pada Anak Perempuan Sunat Alasan dan Pelaksana Beberapa Pandangan Medis dan Kesehatan, Agama dan Budaya Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

0 comments:

Post a Comment