Pengertian Daya Ledak Otot Tungkai - Tungkai
sebagai salah satu anggota gerak bawah memiliki peran penting dalam
unjuk kerja olahraga. Tungkai melibatkan tulang-tulang pembentuk otot
tungkai baik atas maupun bawah. Tulang-tulang pembentuk otot meliputi
tulang-tulang kaki, tulang-tulang tibia dan fibula, serta tulang femur
(Raven, 1981:14).
Anggota gerak bawah dikaitkan pada
batang tubuh dengan perantara gelang panggul, meliputi:
Otot-otot pembentuk tungkai yang terlibat pada pelaksanaan meloncat adalah otot-otot anggota gerak bawah. Otot-otot anggota gerak bawah terdiri dari beberapa kelompok otot, yaitu:
1) otot pangkal paha,
2) otot tungkai atas,
3) otot tungkai bawah dan
4) otot kaki ( Raven, 1981:14).
- tulang pangkal paha (Coxae),
- tulang paha (Femur),
- tulang kering (Tibia),
- tulang betis (Fibula),
- tempurung lutut(patela), tulang pangkal kaki (Tarsalia),
- tulang telapak kaki (Meta Tarsalia), dan
- ruas jari-jari kaki (Phalangea) (Syaifuddin, 1997:31).
Otot-otot pembentuk tungkai yang terlibat pada pelaksanaan meloncat adalah otot-otot anggota gerak bawah. Otot-otot anggota gerak bawah terdiri dari beberapa kelompok otot, yaitu:
1) otot pangkal paha,
2) otot tungkai atas,
3) otot tungkai bawah dan
4) otot kaki ( Raven, 1981:14).
Otot-otot
penggerak tungkai atas, mempunyai selaput pembungkus yang kuat dan
disebut fasia lata. Otot-otot tungkai atas dibagi menjadi tiga golongan
yaitu:
1) otot abduktor, meliputi
a) muskulus abduktor maldanus sebelah dalam,
b) muskulus abduktor brevis sebelah tengah,
c) muskulus abduktor longus sebelah luar.
Ketiga otot ini menjadi satu yang disebut muskulus abduktorfemoris, dengan fungsi menyelenggarakan gerakan abduksi tulang femur;
2) muskulus ekstensor, meliputi:
a) muskulus reptus femoris,
b) muskulus vestus lateralis eksternal,
c) muskulus vestus lateralis eksternal,
d) muskulus vestus inter medial;
3) otot fleksor femoris, meliputi:
a) biseps femoris berfungsi membengkokkan dan meluruskan tungkai bawah,
b) muskulus semi membranosis berfungsi membengkokkan tungkai bawah,
c) muskulus semi
1) otot abduktor, meliputi
a) muskulus abduktor maldanus sebelah dalam,
b) muskulus abduktor brevis sebelah tengah,
c) muskulus abduktor longus sebelah luar.
Ketiga otot ini menjadi satu yang disebut muskulus abduktorfemoris, dengan fungsi menyelenggarakan gerakan abduksi tulang femur;
2) muskulus ekstensor, meliputi:
a) muskulus reptus femoris,
b) muskulus vestus lateralis eksternal,
c) muskulus vestus lateralis eksternal,
d) muskulus vestus inter medial;
3) otot fleksor femoris, meliputi:
a) biseps femoris berfungsi membengkokkan dan meluruskan tungkai bawah,
b) muskulus semi membranosis berfungsi membengkokkan tungkai bawah,
c) muskulus semi
menyundul bola. tendinosus
berfungsi membelokkan urat bawah serta memutar kedalam,
d) muskulus sartorius berfungsi untuk eksorotasi femur, memutar keluar pada lutut mengetul, serta membantu garakan fleksi femur dan membengkokkan keluar (Syaifuddin 1997:56).
d) muskulus sartorius berfungsi untuk eksorotasi femur, memutar keluar pada lutut mengetul, serta membantu garakan fleksi femur dan membengkokkan keluar (Syaifuddin 1997:56).
Daya ledak merupakan kemampuan
olahragawan untuk mengatasi tahanan dengan suatu kecepatan kontraksi
tinggi. Daya ledak adalah kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang
untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu
sependek-pendeknya atau sesingkat-singkatnya. Suharno HP (1986:37)
mengemukakan bahwa “Daya Ledak adalah kemampuan sebuah otot atau
sekelompok otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi
dalam suatu gerakan yang utuh”. Daya ledak merupakan hasil perpaduan
dari kekuatan pada kontraksi otot (Bompa, 1983:231). Daya ledak
merupakan salah satu dari komponen gerak yang sangat penting untuk
melakukan aktivitas yang sangat berat karena dapat menentukan seberapa
kuat orang memukul, seberapa jauh orang melempar, seberapa cepat orang
berlari dan lainnya.
Berdasarkan beberapa pendapat
para ahli tersebut, dapat ditarik suatu pengertian bahwa daya ledak otot
tungkai adalah suatu kemampuan otot tungkai untuk melakukan aktivitas
secara cepat dan kuat untuk menghasilkan tenaga. Dengan tenaga yang
semakin besar dari tungkai saat meloncat, maka akan menghasilkan loncaan
yang maksimal.
Latihan kombinasi antara kekuatan dan
kecepatan merupakan latihan untuk meningkatkan kualitas kondisi fisik
dengan tujuan utama meningkatkan daya ledak. Latihan tersebut memberikan
pengaruh yang lebih baik terhadap nilai dinamis jika dibandingkan
dengan latihan kekuatan saja (Wieecrozed, 1975:33). Daya ledak selalu
diperlukan dalam praktik olahraga yang bersifat eksplosif. Pada
pelaksanaan menyundul bola dengan melompat, daya ledak otot tungkai
merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan.
1. Jenis Serabut Otot yang digunakan dalam Daya Ledak
Gerakan
akan terjadi karena adanya unjuk kerja dari serabut-serabut otot. Jenis
serabut otot yang menggerakkan anggota tubuh dikelompokkan menjadi dua
golongan besar, yaitu serabut otot cepat (fast twitch fibres = FT
fibres) dan serabut otot lambat (slow twitch fibres = ST fibres). Jenis
serabut otot yang digunakan dalam daya ledak adalah serabut otot cepat
(tipe II), karena jenis serabut otot cepat (tipe II) dapat menampilkan
kontraksi otot secara cepat dan kuat. Kedua jenis otot tersebut berbeda
dalam kecepatan kontraksi (Mc. Ardle, et. All., 1991:243-247).
Serabut
otot yang lebih kuat untuk bekerja secara aerobik disebut tipe I /
serabut otot merah / serabut otot lambat. Serabut otot yang lebih kuat
untuk bekerja secara anaerobic disebut tipe II / serabut otot putih /
serabut otot cepat. Pembagian jenis serabut otot menjadi beberapa macam
tipe didasarkan pada karakteristik metabolisme dan kecepatan kontraksi
(Mc. Ardle, et. All, 1981:243247). Serabut otot tipe I mempunyai lebih
banyak mithokondria dan enzim-enzim untuk memecah lemak dan karbohidrat
menjadi CO2 dan H2O. Penyediaan energi melalui proses metabolisme
aerobik berlangsung lama dan tidak cepat menimbulkan kelelahan. Serabut
otot tipe II banyak mengandung mioglobin, sehingga disebut juga serabut
otot merah. Serabut otot cepat mempunyai banyak retikulum sarkoplasma
lebih banyak dibandingkan dengan serabut otot lambat. Keadaan tersebut
menyebabkan proses pelepasan (re-uptake) ion kalsium berlangsung dengan
cepat sehingga proses kontraksi yang dihasilkan dapat berlangsung secara
cepat. Dalam serabut otot cepat proses penyediaan energi berlangsung
melalui metabolisme anaerobik. Kapasitas anaerobik jumlahnya sangat
terbatas / sedikit, sehingga akan cepat habis dan menimbulkan kelelahan.
Serabut otot putih memiliki ciri utama yaitu cepat dalam menjawab
rangsangan dan puncak kekuatan yang dihasilkan lebih besar dari otot
merah (Bompa, 1983:93-97).
Persentase otot cepat dapat
meningkat dan persentase otot lambat dapat menurun dengan melakukan
latihan anaerobik, tetapi sebaliknya dengan latihan aerobik persentase
otot lambat meningkat dan persentase otot cepat menurun. Namun jika otot
merah dilatih maka efek atau pengaruh dari latihan yang diberikan tidak
banyak berpengaruh pada serabut otot putih. Sebaliknya latihan tersebut
ditujukan pada serabut otot putih maka serabut otot merah ikut
terlatih.
Memahami tentang jenis dan sifat serabut
otot yang digunakan dalam aktivitas daya ledak dapat dijelaskan bahwa
jumlah serabut otot yang digunakan unjuk kerja daya ledak adalah serabut
otot cepat karena jenis serabut otot cepat dapat menampilkan kontraksi
otot secara cepat dan kuat.
Berdasarkan perbandingan
sifat otot lambat dan otot cepat maka serabut yang bekerja dalam daya
ledak adalah serabut otot cepat (Tipe II), karena jenis serabut otot
cepat dapat menampilkan kontraksi otot secara cepat dan kuat.
2. Setem Energi Utama Dalam Daya Ledak
Energi
adalah kemampuan untuk melakukan suatu usaha untuk menghasilkan suatu
perubahan. Semua energi yang digunakan dalam proses kehidupan berasal
dari matahari. Energi matahari tersebut diubah menjadi energi kimia.
Energi yang dihasilkan tumbuhan terutama berbentuk sebagai glukosa,
selulosa, protein dan lemak. Untuk mendapatkan energi tersebut, manusia
makan tumbuh- tumbuhan dan hewan (Soekarman, 1987:12). Energi yang
dihasilkan dari proses oksidasi bahan makanan tidak dapat digunakan
secara langsung untuk kontraksi otot, tetapi terlebih dahulu energi
senyawa kimia berenergi tinggi yaitu Adenosin Triphosphate (ATP).
Selanjutnya ATP yang terbentuk diangkut oleh darah keseluruh bagian sel
yang memerlukan (Bompa, 1983:97).
Otot merupakan salah
satu alat tubuh yang menggunakan ATP sebagai sumber energi dalam
melakukan kontraksi, sehingga menimbulkan gerakangerakan sebagai
aktifitas fisik. ATP paling banyak tertimbun dalam sel otot dibandingkan
dengan jaringan tubuh yang lain, akan tetapi ATP yang tertimbun dalam
otot jumlahnya sangat terbatas, yaitu sekitar 4-6 mili mol/kg berat
badan. ATP yang tersedia ini hanya cukup untuk aktifitas cepat dan berat
selama 8-30 detik, sehingga untuk aktifitas yang lebih lama dari waktu
tersebut perlu di lakukan pembentukan ATP kembali (resistensi ATP).
Penampilan
daya ledak terutama didukung oleh kontraksi dari serabut otot cepat dan
penyediaan energi melalui proses anaerobik. Kapasitas penyediaan energi
anaerobik sangat menentukan untuk penampilan atau unjuk kerja yang
cepat dan kuat. Dengan demikian kecepatan dan kekuatan yang merupakan
unsur utama dari daya ledak. Selain tergantung dari besar nya jumlah
otot cepat, untuk kerja daya ledak juga tergantung pada sistem
penyediaan energi anaerobik. Adapun penyediaan energi secara anaerobik
meliputi sistem ATP-PC (Phospagen Sistem) dan sistem glikolosis
anaerobik (Lactid Acid Sistem). Karena PC merupakan senyawa yang
mengandung fosfat dan tertimbun didalam otot seperti halnya ATP , maka
sistem ini disebut juga sistem fosfagen.
Reaksi
pemecahan ATP-PC berlansung secara cepat dan terjadi di dalam sel. Pada
saat ATP digunakan, maka PC akan segera terurai dan membebaskan energi,
sehingga terjadi resistensi ATP. ATP dipecah pada saat kontraksi otot
berlangsung, kemudian dibentuk kembali dari adenosin Diphosfate dan
piruvat (ADP +Pi) oleh adanya energi yang berasal dari simpanan PC.
Penyediaan energi dengan sistem tersebut hanya dapat dipergunakan atau
dipakai selama 3-8 detik (Soekarman, 1987:11).Adapun persamaan reaksi
peristiwa sistem ATPPC adalah sebagai berikut:
PC ----------------> Pi + C Energi
Energi ---------------> ATP (Fox, 1993:98)
Lebih
lanjut Bompa (1983:185) menyatakan bahwa kebaikan dari sistem ATP-PC
adalah: 1) tidak tergantung pada reaksi kimia yang panjang, 2) tidak
membutuhkan oksigen, 3) ATP-PC tertimbun dalam mekanisme kontraksi otot.
Selain Sistem ATP-PC yang digunakan dalam unjuk kerja daya ledak,
sistem yang digunakan adalah sistem glikolosis anaerobik. Sistem
glikolosis anaerobik sangat rumit jika dibandingkan dengan sistem
ATP-PC. Proses glikolosis anaerobik memerlukan 12 macam reaksi yang
berlangsung secara berurutan, sehingga pembentukan energi berlangsung
lebih lambat.
Proses pembentukan energi glikosis
anaerobik terjadi setelah cadangan ATP yang telah dipakai selama 3-8
detik habis dan tidak dapat dipenuhi lagi oleh sistem phospogen. ATP
dapat di bentuk kembali melalui pemecahan glikogen tanpa oksigen dengan
sistem glikosis (asam laktat). Adapun ciri dari proses glikosis
anaerobik adalah: 1) terbentuknya asam laktat, 2) tidak membutuhkan
oksigen, 3) hanya menggunakan karbohidrat, dan 4) memberikan energi
untuk resistensis beberapa molekul ATP.
Olahraga yang
memerlukan kecepatan, pertama-tama akan menggunakan sistem ATP-PC dan
kemudian sistem glikosis anaerobik.Sistem glikosis anaerobik sangat
penting dalam olahraga karena dapat memberikan atau menyediakan kembali
(resistensis) ATP dengan cepat. Untuk olahraga yang berlangsung selama
2-3 menit, energi yang digunakan terutama dari proses glikosis anaerobik
(Soekarman, 1987:8).
Daftar Pustaka Makalah Daya Ledak Otot Tungkai
Raven, 1981. Atlas Kinisioligi. Semarang:Dhahara.
Bompa, Tudor, 1983., theory and Methodology of traning: the key of Atheletic performance, Debique, Lowa : Kendall / Hunt Publishing Company.
Suharno HP. 1986. ilmu coaching umum. Yogyakarta; FKIP yogyakarta.
Raven, 1981. Atlas Kinisioligi. Semarang:Dhahara.
Bompa, Tudor, 1983., theory and Methodology of traning: the key of Atheletic performance, Debique, Lowa : Kendall / Hunt Publishing Company.
Suharno HP. 1986. ilmu coaching umum. Yogyakarta; FKIP yogyakarta.

Good article and knowledge for me! I found a lot of information here! This article is really good for all newbie here. Thank you for sharing with us!
ReplyDeletevex 3
Oh yes the problem i need to find. Your article provides useful information that i am looking for. I will often visit this site. bloxorz
ReplyDeleteThank for your post! It is easy to understand, detailed and meticulous! I have had a lot of harvest after watching this article from you! I feel it interesting, your post gave me a new perspective! I have read many other articles about the same topic, but your article convinced me! I hope you continue to have high quality articles like this to share with veryone!
ReplyDeleteusps tracking
This article helped me understand it all.
ReplyDeletepożyczka przez internet
wow, exercise is very good for your health, your post is very interesting, thank you happy wheels
ReplyDelete