Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 28 April 2017

Latihan Daya Ledak Otot Tungkai Pengertian dalam Kebugaran Jasmani Jenis Serabut Otot yang digunakan

Pengertian Daya Ledak Otot Tungkai - Tungkai sebagai salah satu anggota gerak bawah memiliki peran penting dalam unjuk kerja olahraga. Tungkai melibatkan tulang-tulang pembentuk otot tungkai baik atas maupun bawah. Tulang-tulang pembentuk otot meliputi   tulang-tulang kaki, tulang-tulang tibia dan fibula, serta tulang femur (Raven, 1981:14).


Anggota gerak bawah dikaitkan pada batang tubuh dengan perantara gelang panggul, meliputi:
  1. tulang pangkal paha (Coxae), 
  2. tulang paha (Femur), 
  3. tulang kering (Tibia), 
  4. tulang betis (Fibula), 
  5. tempurung lutut(patela), tulang pangkal kaki (Tarsalia), 
  6. tulang telapak kaki (Meta Tarsalia), dan 
  7. ruas jari-jari kaki (Phalangea) (Syaifuddin, 1997:31).

Otot-otot pembentuk tungkai yang terlibat pada pelaksanaan meloncat adalah otot-otot anggota gerak bawah. Otot-otot anggota gerak bawah terdiri dari beberapa kelompok otot, yaitu:
1) otot pangkal paha,
2) otot tungkai atas,
3) otot tungkai bawah dan
4) otot kaki ( Raven, 1981:14).

Otot-otot penggerak tungkai atas, mempunyai selaput pembungkus yang kuat dan disebut fasia lata. Otot-otot tungkai atas dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
1) otot abduktor, meliputi
a) muskulus abduktor maldanus sebelah dalam,
b) muskulus abduktor brevis sebelah tengah,
c) muskulus abduktor longus sebelah luar.
Ketiga otot ini menjadi satu yang disebut muskulus abduktorfemoris, dengan fungsi menyelenggarakan gerakan abduksi tulang femur;

2) muskulus ekstensor, meliputi:
a) muskulus reptus femoris,
b) muskulus vestus lateralis eksternal,
c) muskulus vestus lateralis eksternal,
d) muskulus vestus inter medial;

3) otot fleksor femoris, meliputi:
a) biseps femoris berfungsi membengkokkan dan meluruskan tungkai bawah,
b) muskulus semi membranosis berfungsi membengkokkan tungkai bawah,
c) muskulus semi
menyundul bola. tendinosus berfungsi membelokkan  urat bawah serta memutar kedalam,
d) muskulus sartorius berfungsi untuk eksorotasi femur, memutar keluar pada lutut mengetul, serta membantu garakan fleksi femur dan membengkokkan keluar (Syaifuddin 1997:56).

Daya ledak merupakan kemampuan olahragawan untuk mengatasi tahanan dengan suatu kecepatan kontraksi tinggi. Daya ledak adalah kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya atau sesingkat-singkatnya. Suharno HP (1986:37) mengemukakan bahwa “Daya Ledak adalah kemampuan sebuah otot atau sekelompok otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam suatu gerakan yang utuh”. Daya ledak merupakan hasil perpaduan dari kekuatan pada kontraksi otot (Bompa, 1983:231). Daya ledak merupakan  salah satu dari komponen gerak yang sangat penting untuk melakukan aktivitas yang sangat berat karena dapat menentukan seberapa kuat orang memukul, seberapa jauh orang melempar, seberapa cepat orang berlari dan lainnya. 

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik suatu pengertian bahwa daya ledak otot tungkai adalah suatu kemampuan otot tungkai untuk melakukan aktivitas secara cepat dan kuat untuk menghasilkan tenaga. Dengan tenaga yang semakin besar dari tungkai saat meloncat, maka akan menghasilkan loncaan yang maksimal. 

Latihan kombinasi antara kekuatan dan kecepatan merupakan latihan untuk meningkatkan kualitas kondisi fisik dengan tujuan utama meningkatkan daya ledak. Latihan tersebut memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap nilai dinamis jika dibandingkan dengan latihan kekuatan saja (Wieecrozed, 1975:33). Daya ledak selalu diperlukan dalam praktik olahraga yang bersifat eksplosif. Pada pelaksanaan menyundul bola dengan melompat, daya ledak otot tungkai merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan.

 Latihan Daya Ledak Otot Tungkai

1. Jenis Serabut Otot yang digunakan dalam Daya Ledak
Gerakan akan terjadi karena adanya unjuk kerja dari serabut-serabut otot. Jenis serabut otot yang menggerakkan anggota tubuh dikelompokkan menjadi dua golongan besar, yaitu serabut otot cepat (fast twitch fibres = FT fibres) dan serabut otot lambat (slow twitch fibres = ST fibres). Jenis serabut otot yang digunakan dalam daya ledak adalah serabut otot cepat (tipe II), karena jenis serabut otot cepat (tipe II) dapat menampilkan kontraksi otot secara cepat dan kuat. Kedua jenis otot tersebut berbeda dalam kecepatan kontraksi (Mc. Ardle, et. All., 1991:243-247).

Serabut otot yang lebih kuat untuk bekerja secara aerobik disebut tipe I / serabut otot merah / serabut otot lambat. Serabut otot yang lebih kuat untuk bekerja secara anaerobic disebut tipe II / serabut otot putih / serabut otot cepat.  Pembagian jenis serabut otot menjadi beberapa macam tipe didasarkan pada karakteristik metabolisme dan kecepatan kontraksi (Mc. Ardle, et. All, 1981:243247). Serabut otot tipe I mempunyai lebih banyak mithokondria dan enzim-enzim untuk memecah lemak dan karbohidrat menjadi CO2 dan H2O. Penyediaan energi melalui proses metabolisme aerobik berlangsung lama dan tidak cepat menimbulkan kelelahan. Serabut otot tipe II banyak mengandung mioglobin, sehingga disebut juga serabut otot merah. Serabut otot cepat mempunyai banyak retikulum sarkoplasma lebih banyak dibandingkan dengan serabut otot lambat. Keadaan tersebut menyebabkan proses pelepasan (re-uptake) ion kalsium berlangsung dengan cepat sehingga proses kontraksi yang dihasilkan dapat berlangsung secara cepat. Dalam serabut otot cepat proses penyediaan energi berlangsung melalui metabolisme anaerobik. Kapasitas anaerobik jumlahnya sangat terbatas / sedikit, sehingga akan cepat habis dan menimbulkan kelelahan. Serabut otot putih memiliki ciri utama yaitu cepat dalam menjawab rangsangan dan puncak kekuatan yang dihasilkan lebih besar dari otot merah (Bompa, 1983:93-97).

Persentase otot cepat dapat meningkat  dan persentase otot lambat dapat menurun dengan melakukan latihan anaerobik, tetapi sebaliknya dengan latihan aerobik persentase otot lambat meningkat dan persentase otot cepat menurun. Namun jika otot merah dilatih maka efek atau pengaruh dari latihan yang diberikan tidak banyak berpengaruh pada serabut otot putih. Sebaliknya latihan tersebut ditujukan pada serabut otot putih maka serabut otot merah ikut terlatih.

Memahami tentang jenis dan sifat serabut otot yang digunakan dalam aktivitas daya ledak dapat dijelaskan bahwa jumlah serabut otot yang digunakan unjuk kerja daya ledak adalah serabut otot cepat  karena jenis serabut otot cepat dapat menampilkan kontraksi otot secara cepat dan kuat. 

Berdasarkan perbandingan sifat otot lambat dan otot cepat maka serabut yang bekerja dalam daya ledak adalah serabut otot cepat (Tipe II), karena jenis serabut otot cepat dapat menampilkan kontraksi otot secara cepat dan kuat.

2. Setem Energi Utama Dalam Daya Ledak
Energi adalah kemampuan untuk melakukan suatu usaha untuk menghasilkan suatu perubahan. Semua energi yang digunakan dalam proses kehidupan berasal dari matahari. Energi matahari tersebut diubah menjadi energi kimia. Energi yang dihasilkan tumbuhan terutama berbentuk sebagai glukosa, selulosa, protein dan lemak. Untuk mendapatkan energi tersebut, manusia makan tumbuh- tumbuhan dan hewan (Soekarman, 1987:12).  Energi yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan makanan tidak dapat digunakan secara langsung untuk kontraksi otot, tetapi terlebih dahulu energi senyawa kimia berenergi tinggi yaitu Adenosin Triphosphate (ATP). Selanjutnya ATP yang terbentuk diangkut oleh darah keseluruh bagian sel yang memerlukan (Bompa, 1983:97).

Otot merupakan salah satu alat  tubuh yang menggunakan ATP sebagai sumber energi dalam melakukan kontraksi, sehingga menimbulkan gerakangerakan sebagai aktifitas fisik. ATP paling banyak tertimbun dalam sel otot dibandingkan dengan jaringan tubuh yang lain, akan tetapi ATP yang tertimbun dalam otot jumlahnya sangat terbatas, yaitu sekitar 4-6 mili mol/kg berat badan. ATP yang tersedia ini hanya cukup untuk aktifitas cepat dan berat selama 8-30 detik, sehingga untuk aktifitas yang lebih lama dari waktu tersebut perlu di lakukan pembentukan ATP kembali (resistensi ATP). 

Penampilan daya ledak terutama didukung oleh kontraksi dari serabut otot cepat dan penyediaan energi melalui proses anaerobik. Kapasitas penyediaan energi anaerobik sangat menentukan untuk penampilan atau unjuk kerja yang cepat dan kuat. Dengan demikian kecepatan dan kekuatan yang merupakan unsur utama dari daya ledak. Selain tergantung dari besar nya jumlah otot cepat, untuk kerja daya ledak juga tergantung pada sistem penyediaan energi anaerobik. Adapun penyediaan energi secara anaerobik meliputi sistem ATP-PC (Phospagen Sistem) dan sistem glikolosis anaerobik (Lactid Acid Sistem). Karena PC merupakan senyawa yang mengandung fosfat dan tertimbun didalam otot seperti halnya ATP , maka sistem ini disebut juga sistem fosfagen. 

Reaksi pemecahan ATP-PC berlansung secara cepat dan terjadi di dalam sel. Pada saat ATP digunakan, maka PC akan segera terurai dan membebaskan energi, sehingga terjadi resistensi ATP. ATP dipecah pada saat kontraksi otot berlangsung, kemudian dibentuk kembali dari adenosin Diphosfate dan piruvat (ADP +Pi) oleh adanya energi yang berasal dari simpanan PC. Penyediaan energi dengan sistem tersebut hanya dapat dipergunakan atau dipakai selama  3-8 detik (Soekarman, 1987:11).Adapun persamaan reaksi peristiwa sistem ATPPC adalah sebagai berikut:

PC      ---------------->  Pi + C Energi
Energi --------------->  ATP (Fox, 1993:98)

Lebih lanjut Bompa (1983:185) menyatakan bahwa kebaikan dari sistem ATP-PC adalah: 1) tidak tergantung pada reaksi kimia yang panjang, 2) tidak membutuhkan oksigen, 3) ATP-PC tertimbun dalam mekanisme kontraksi otot. Selain Sistem ATP-PC yang  digunakan dalam unjuk kerja daya ledak, sistem yang digunakan adalah sistem glikolosis anaerobik. Sistem glikolosis anaerobik sangat rumit jika dibandingkan dengan sistem ATP-PC. Proses glikolosis anaerobik memerlukan 12 macam reaksi yang berlangsung secara berurutan, sehingga pembentukan energi berlangsung lebih lambat. 

Proses pembentukan energi glikosis anaerobik terjadi setelah cadangan ATP yang telah dipakai selama 3-8 detik habis dan tidak dapat dipenuhi lagi oleh sistem phospogen. ATP dapat di bentuk kembali melalui pemecahan glikogen tanpa oksigen dengan sistem glikosis (asam laktat). Adapun ciri dari proses glikosis anaerobik adalah: 1) terbentuknya asam laktat, 2) tidak membutuhkan oksigen, 3) hanya menggunakan karbohidrat, dan 4) memberikan energi untuk resistensis beberapa molekul ATP. 

Olahraga yang memerlukan kecepatan, pertama-tama akan menggunakan sistem ATP-PC dan kemudian sistem glikosis anaerobik.Sistem glikosis anaerobik sangat penting dalam olahraga karena dapat memberikan atau menyediakan kembali (resistensis) ATP dengan cepat. Untuk olahraga yang berlangsung selama 2-3 menit, energi yang digunakan terutama dari proses glikosis anaerobik (Soekarman, 1987:8).  

Daftar Pustaka Makalah Daya Ledak Otot Tungkai 
Raven, 1981. Atlas Kinisioligi. Semarang:Dhahara.
Bompa, Tudor, 1983., theory and Methodology of traning: the key of Atheletic performance, Debique, Lowa : Kendall / Hunt Publishing Company.
Suharno HP. 1986. ilmu coaching umum.  Yogyakarta; FKIP yogyakarta.

Latihan Daya Ledak Otot Tungkai Pengertian dalam Kebugaran Jasmani Jenis Serabut Otot yang digunakan Rating: 4.5 Posted By: Daud Royyan, M.Pd

1 comments:

  1. Pertama Di Indonesia Di www(titik)id303(titik)com
    PINBBM-7-B-3-1-3-0-B-F

    ReplyDelete