Pengertian Metabolisme adalah berasal dari bahasa
Yunani yaitu Metabol yang berarti perubahan atau mengubah. Sedangkan
menurut Djoko Pekik Iriyanto (2006:35) metabolisme merupakan proses
perubahan kimiawi yang terjadi di dalam tubuh. Perubahan kimiawi yang
dimaksut adalah perubahan zat gizi makanan yang kemudian diolah oleh
sistem pencernaan dan melalui proses metabolisme yang akan diubah
menjadi energi yang digunakan sistem kontraksi otot atau kerja otot
yaitu berupa aktifitas.
Gambar 2.1 Alur Proses Makanan menjadi Energi
Sumber: Djoko Pekik Irianto.2007.35
Pendapat tersebut kemudian diperkuat oleh Briggs (1973:110) metabolisme is all the chemical changes that occur in living things in the course of their vital activities. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti metabolisme merupakan proses perubahan kimiawi yang digunakan untuk mempertahankan kehidupan yang berpengaruh dalam aktifitas yang penting.
Menelaah pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metabolisme dalam tubuh manusia bisa diartika proses kimiawi pemecahan zat gizi yang ada di dalam tubuh untuk menghasilkan energi atau untuk pembentukan struktur tubuh manusia yang digunakan sebagai sumbangsih tenaga untuk melakukan aktifitas dan untuk mempertahankan hidup.
Proses Metabolisme
Selama
proses metabolisme berlangsung reaksi kimiawi memungkinkan untuk
memerlukan, membentuk, dan mengeluarkan energi yang bersumber dari zat
gizi makanan yang masuk kedalam tubuh. Suatu rentetan reaksi kimia dari
awal hingga akhir yang terjadi dalam metabolisme dinamakan jalur
metabolisme.Menurut Joko Pekik (2006:36) Jalur metabolisme terdiri atas
reaksi anabolisme dan katabolisme.
1. Anabolisme
Menurut Djoko Pekik Irianto (2006:36) proses anabolisme merupakan proses sintesa atau pembentukan yang akan meningkat pada waktu tubuh istirahat, karena pada saat itu tubuh mengadakan proses respirasi yang berfungsi sebagai penyimpanan energi. Sedangkan menurut Sunita Almatsi (2007:105) mengatakan anabolisme merupakan reaksi metabolisme yang membangun dari ikatan yang sederhana menjadi ikatan yang lebih besar dan kompleks, dalam proses anabolisme diperlukan energi untuk mengubah ikatan tersebut, contohnya: glukosa menjadi glikogen, gliserol menjadi trigeserida, asam amino menjadi protein yang nantinya akan disimpan dalam otot sebagai cadangan energi.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan anabolisme merupakan proses metabolisme yang memerlukan energi untuk mengubah ikatan yang sederhana menjadi ikatan yang lebih besar yang nantinya ikatan tersebut akan dibawa oleh darah keseluruh jaringan tubuh yang kemudian melalui proses katabolisme diubah menjadi energi.
Menurut Djoko Pekik Irianto (2006:36) proses anabolisme merupakan proses sintesa atau pembentukan yang akan meningkat pada waktu tubuh istirahat, karena pada saat itu tubuh mengadakan proses respirasi yang berfungsi sebagai penyimpanan energi. Sedangkan menurut Sunita Almatsi (2007:105) mengatakan anabolisme merupakan reaksi metabolisme yang membangun dari ikatan yang sederhana menjadi ikatan yang lebih besar dan kompleks, dalam proses anabolisme diperlukan energi untuk mengubah ikatan tersebut, contohnya: glukosa menjadi glikogen, gliserol menjadi trigeserida, asam amino menjadi protein yang nantinya akan disimpan dalam otot sebagai cadangan energi.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan anabolisme merupakan proses metabolisme yang memerlukan energi untuk mengubah ikatan yang sederhana menjadi ikatan yang lebih besar yang nantinya ikatan tersebut akan dibawa oleh darah keseluruh jaringan tubuh yang kemudian melalui proses katabolisme diubah menjadi energi.
2. Katabolisme
Menurut Sunita Almatsi (2007:105) mengatakan pada reaksi katabolisme adalah proses yang memecah ikatan yang kompleks menjadi ikatan yang sederhana sehingga dalam proses ini terjadi pelepasan energi atau menghasilkan energi, contohnya seperti glokogen menjadi glukosa dan trigliserida menjadi gliserol yang selanjutnya akan diubah menjadi energi.
Pendapat ini kemudian diperkuat oleh Djoko Pekik (2006:36) yang mengatakan katabolisme merupakan proses metabolisme yang meningkat pada saat manusia melakukan aktifitas karena pada saat beraktifitas manusia membutuhkan energi. Energi yang dihasilkan proses katabolisme terjadi karena degradasi atau proses pemecahan ikatan kompleks menjadi ikatan yang lebih sederhana dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Phosphat). Satu mole ATP dapat menghasilkan energi antara 7-12 kalori yang dapat digunakan untuk melakukan kontraksi otot, penyerapan, sekresi pembangunan jaringan, sirkulasi, dan tranmisi syaraf. Adapun proses metabolisme perubahan makanan menjadi energi dalam bentuk ATP dipaparkan dalam bagan rangkaian struktur proses pembentukan ATP, sebagai berikut:
Menurut Sunita Almatsi (2007:105) mengatakan pada reaksi katabolisme adalah proses yang memecah ikatan yang kompleks menjadi ikatan yang sederhana sehingga dalam proses ini terjadi pelepasan energi atau menghasilkan energi, contohnya seperti glokogen menjadi glukosa dan trigliserida menjadi gliserol yang selanjutnya akan diubah menjadi energi.
Pendapat ini kemudian diperkuat oleh Djoko Pekik (2006:36) yang mengatakan katabolisme merupakan proses metabolisme yang meningkat pada saat manusia melakukan aktifitas karena pada saat beraktifitas manusia membutuhkan energi. Energi yang dihasilkan proses katabolisme terjadi karena degradasi atau proses pemecahan ikatan kompleks menjadi ikatan yang lebih sederhana dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Phosphat). Satu mole ATP dapat menghasilkan energi antara 7-12 kalori yang dapat digunakan untuk melakukan kontraksi otot, penyerapan, sekresi pembangunan jaringan, sirkulasi, dan tranmisi syaraf. Adapun proses metabolisme perubahan makanan menjadi energi dalam bentuk ATP dipaparkan dalam bagan rangkaian struktur proses pembentukan ATP, sebagai berikut:
Gambar 2.2 Rangkaian Proses Pembentukan ATP
Sumber: Djoko Pekik Irianto.2007.37
Gambar diatas menunjukan proses pembentukan zat makanan yang dirubah menjadi energi yang diubah dalam bentuk ATP. Kemudian akan disebarkan oleh darah ke seluruh tubuh yang memerlukan energi untuk melakukan aktifitas
Zat Gizi Yang Berperan Dalam Proses Metabolisme
Hasil
utama dari proses metabolisme adalah terbentuknya suatu tenaga atau
energi untuk melakukan aktifitas. Proses harus ada bahan yang diolah
atau diubah kedalam energi. Bahan dari energi tersebut bersumber dari
zat gizi makro yang kemudian dipecah melalui proses metabolisme menjadi
energi. Menurut Sunita Almatsi (2007:105) sumber energi terdiri dari
karbohidrat, protein, lemak, alkohol yang diolah oleh saluran pencernaan
menjadi molekul yang lebih kecil yaitu monosakarida, asam lemak bebas,
dan asam amino. Molekul kecil ini kemudian diangkut melalui darah ke
seluruh jarungan tubuh untuk segera digunakan atau disimpaan sebagai
glikogen, protein, dan trigliserida dalam jaringan tubuh.
Reaksi kimiawi matabolisme tidak lepas dari peran enzim. Enzim merupakan protein khusus yang berperan sebagai katalisator dalam reaksi kimiawi, tetapi tidak mengalami perubahan selama proses berlangsung. Untuk mengoptimalkan dan membantu kerja enzim diperlukan koenzim dan kofaktor yang merupakan zat organik bukan protein untuk membantu aktifitas enzim. Gizi koenzim dapat diperoleh dari makanan yang mengandung vitamin sedangkan kofaktor diperoleh dari makanan yang mengandung mineral. Sebagai pengontrol proses metabolisme agar dapat berjalan sesuai kebutuhan maka hormon terutama glukago, insulin, dan tiroid sebagai pengontrol utama agar proses metabolisme tetap berjalan sesuai dengan kebutuhan manusia. Jika salah satu produksi hormon terganggu maka metabolisme akan terganggu sehingga mengakibatkan penyerapan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh terganggu. Kondisi ini akan menyebabkan beberapa bagian tubuh akan bermasalah hingga terjadi kerusakan, jika dibiarkan maka manusia akan mudah terserang penyakit.
Reaksi kimiawi matabolisme tidak lepas dari peran enzim. Enzim merupakan protein khusus yang berperan sebagai katalisator dalam reaksi kimiawi, tetapi tidak mengalami perubahan selama proses berlangsung. Untuk mengoptimalkan dan membantu kerja enzim diperlukan koenzim dan kofaktor yang merupakan zat organik bukan protein untuk membantu aktifitas enzim. Gizi koenzim dapat diperoleh dari makanan yang mengandung vitamin sedangkan kofaktor diperoleh dari makanan yang mengandung mineral. Sebagai pengontrol proses metabolisme agar dapat berjalan sesuai kebutuhan maka hormon terutama glukago, insulin, dan tiroid sebagai pengontrol utama agar proses metabolisme tetap berjalan sesuai dengan kebutuhan manusia. Jika salah satu produksi hormon terganggu maka metabolisme akan terganggu sehingga mengakibatkan penyerapan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh terganggu. Kondisi ini akan menyebabkan beberapa bagian tubuh akan bermasalah hingga terjadi kerusakan, jika dibiarkan maka manusia akan mudah terserang penyakit.
Faktor Yang Mempengaruhi Metabolisme
Kebutuhan
energi setiap manusia berbeda-beda menurut Syaifudin (2006:211) proses
kecepatan metabolisme manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor,
diantaranya :
1) ukuran tubuh,
2) umur,
3) jenis kelamin,
4) iklim,
5)
jenis pekerjaan,
6) aktifitas tambahan.
Daftar Pustaka Makalah Metabolisme
Djoko Pekik Irianto.2004. Pedoman Berolahraga untuk Kebugaran dan Kesehatan. Yogyakarta: Andi Yogyakarta
-----2007. Panduan Gizi Lengkap untuk Keluarga dan Olahragawan. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Briggs.George M. 1966. Nutrition and Physical Fitness. New York: W B Saunders Company.
Sunita Almatsi. 2007. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Syarifudin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: EGC.
-----2007. Panduan Gizi Lengkap untuk Keluarga dan Olahragawan. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Briggs.George M. 1966. Nutrition and Physical Fitness. New York: W B Saunders Company.
Sunita Almatsi. 2007. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Syarifudin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: EGC.


0 comments:
Post a Comment